Cerpen Putu Wijaya (Suara Merdeka, 25 Februari 2018)

Zera ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdeka.jpg
Zera ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Bu Raka mengadu lagi pada Bu RT. Suaminya diam-diam punya wanita simpanan.

“Sudah lama uang belanja bulanan saya terus dikurangi. Turunnya juga seret. Kalau sudah saya ancam-ancam akan bunuh diri, baru dia membuka dompet. Tapi sudah siang. Mau masak apa coba. Akhirnya saya sering minta makan ke rumah tetangga supaya tidak mati. Eh, pulang-pulang, dia ngamuk, ribut tidak ada makanan. Padahal kalau ada juga, menoleh sebelah mata pun tidak. Segalanya jadi salah. Saya heran, dia sering marah-marah tanpa alasan. Segalanya dia gampar, tak terkecuali saya. Untung, anak saya Risky selalu melindungi. Dia tidak takut lawan papa tirinya yang kesetanan itu. Saya suruh Risky terus latihan fitnes supaya ototnya kuat. Nanti kalau tiba-tiba berantem supaya tidak kalah. Kalau mulut papanya pedas, harus dia jawab lebih pedas lagi. Kalau papanya banting kursi, Risky juga saya suruh banting kursi. Masa dia nuduh saya sudah morotin sampai dia bangkrut. Saya juga selalu dia tuduh bawa sial. Batu bara hancur, nyalahin saya. Gagal nyaleg, dia bilang saya tidak bawa hoki. Padahal yang selalu bikin perkara kan itu, si Riene anak kandungnya. Perempuan kegenitan itu maksa-maksa papanya menceraikan saya dan menuntut semua warisan jatuh ke dia. Anak saya jadi marah. Kalau saya tidak cegah dia sudah ngamuk. Untung, bisa saya bujuk. Lalu dia hanya mengadu ke LBH. Papanya kaget, mengeluarkan pistol. Entah dapat dari mana, entah ada isinya atau tidak. Tapi saya kan jadi stres. Akhirnya, saya…”

Putus. Bu Raka menyemburkan tangis. Dengan tangkas Bu RT menenangkan seperti biasa, sambil mengusap-usap. Tapi tangis tamunya terus mengucur. Baru setelah disuguh makan, ia anteng kembali.

“Makannya lahap sekali, seperti orang kelaparan, Pak. Masa sih orang kaya begitu kelaparan? Pulang juga minta dibawain, untuk makan malam, katanya!” lapor Bu RT kemudian entah sudah berapa puluh kali pada suaminya. “Kalau kelas dia saja kelaparan, bagaimana kita ini?”

“Ya betul, Bu RT, serius! Sudah enam bulan saya hanya makan mi instan. Yang lain tidak ada yang bisa masuk!”

“Jangan, Bu Raka! Kebanyakan makan mi instan sama dengan bunuh diri.”

“Tapi kan enak!”

“Semua yang enak berisiko tinggi. Enak di mulut, racun di perut!”

Advertisements