Cerpen Ferry Fansuri (Analisa, 25 Februari 2018)

Tiga Plot antara Mei dan Imlek ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Tiga Plot antara Mei dan Imlek ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Angpao Buat Aling

AIRMATA itu telah mengering di pelupuk mataku. Seiring luka menganga di hati reda saat memandang amplop Angpao berwarna merah ini. Imlek saat itu begitu meriah, tapi di sudut rumah tampak muram dan buram. Wajah-wajah murung itu bergetayangan tanpa henti. Teriakan Papa bercampur histeris. Koko Alim membahana, itu terjadi tiap kali mereka bertemu.

Aku hanya bisa menutup telinga rapat-rapat. Berharap kesunyian menemani, berdoa lenyap ketika membuka mata ini. Suara-suara itu tak pernah hilang, terus menelesup sela-sela gendang telinga. Adu mulut mereka berlangsung empat babak dalam satu malam.

Papa ingin koko Alim tak pergi dari rumah dan mau meneruskan usaha toko bangunan yang lama dirintis. Koko Alim menolak mentah-mentah. Dia tak ingin dagang, tapi masuk militer. Papa murka dan menampar koko Alim, orang Tionghoa itu harus dagang bukan jadi tentara. Apalagi koko Alim telah mengganti nama Tionghoa-nya menjadi Sanata.

“Kalo elu pergi dari rumah, garis keturunan dan warisan akan hilang!”

Koko Alim tetap pergi dan bersumpah tak akan kembali ke rumah ini, tak menengok sekalipun. Aku merasa kesepian dan merindu dirinya yang entah kemana dia. Hal yang tersisa dari dirinya hanya Angpao merah itu pemberian terakhir untukku.

“Kau pakai dan belanjakan, Ling.”

Kubawa Angpao itu untuk keluar ke arah pasar Santa. Tanpa rasa kuatir, biarpun Mei itu ibukota sedang membara. Kubelikan terusan rok dan sepatu warna merah kesukaanku. Bersama Kopaja itu aku menyusuri jalanan yang dipenuhi manusia-manusia garang berusaha memenuhi syahwat perutnya. Di depan sana sedang memerah dan berkobar, Kopaja itu terjebak dalam kerumunan yang tak mampu menggenggam kemaluan mereka.

Terasa gelap, kelam dan menyisakan pedih kala itu.

***

Kata orang, jangan berjalan malam di depan bekas Mall terbakar itu. Banyak penampakan. Konon korban-korban kerusuhan itu masih menderita dan tak mau pulang ke alamnya. Ada yang tidak sengaja pernah mendengar tangisan-tangisan serta jeritan semu dalam kegelapan saat melintas disana.

Saat malam-malam tertentu melintas Kopaja misterius di depan Mall bekas kerusuhan dulu. Ada yang melihat dalam Kopaja kosong melompong tanpa sopir, bergerak sendiri di tengah malam dan kemudian hilang diujung jalan.

Kabar burung menyebar, Kopaja hantu yang waktu itu terjebak dalam kerusuhan dan dibakar massa yang beringas. Berita beredar, ada korban malang di dalam. Seorang gadis mati terpanggang setelah diperkosa ramai-ramai oleh para penjarah. Cuma gara-gara melihat dia bermata sipit mungkin suka makan daging babi.

Mungkin itu hanya rumor belaka yang semata-mata dibuat sebagai pemanis basa-basi obrolan. Mengapa ketika malam itu saat naik Kopaja untuk pulang ke rumah, kudapati hanya diriku sendirian. Tanpa sopir dan penumpang lainnya melintas Mall tersebut lagi. Ditangan kananku masih menggenggam Angpao merah itu.

Wayang Potehi Koh Abun

Koh Abun tak pernah ketinggalan menonton wayang potehi, generasi kedua dari leluhurnya yang menyebrangi lautan dari Guandong ke Jawa Dwipa. Demi penghidupan lebih baik, lari dari peperangan saudara yang melanda dataran Tiongkok.

Menyaksikan wayang potehi tidak sekedar mengenang masa lalu para leluhur, tapi itu adalah jati diri seorang Tionghoa. Mau jauh kemana saja, budaya itu akan mengikuti sampai akar estafet generasi berikutnya.

Saat itu wayang potehi menggelar lakon legendaris Jenderal Sie Djien Kwie Tjeng See. Perayaan Imlek di Pecinan begitu semarak tapi koh Abun tampak layu. Pandangannya kosong menerawang dan menjelajah ruang waktu. Beberapa hari ini koh Abun tak fokus melayani pelanggan di toko bangunannya.

Koh, semen 1 sak”

Koh… koh?”

“Semen!”

Koh Abun mendadak budeg layaknya orang linglung. Terdiam lama sampai tetesan liur menetes di sela mulutnya. Semua pegawai takut untuk menegur dan dibiarkan berharihari, terulang dan lagi terulang.

Ini terjadi setelah peristiwa dia melakukan penamparan terhadap anak laki-lakinya-Alim. Minggat, hingga memutuskan tali anak dan bapak. Koh Abun menyesal akan sumpah serapahnya tidak mengganggap lagi Alim sebagai anaknya, karena tidak ada namanya mantan anak. Dia pergi dengan impiannya jadi tentara dan membawa impian koh Abun untuk meneruskan bisnis keluarga.

Sejak itu koh Abun mengutuk dirinya sendiri, kadang mengurung diri dikamar tak mau makan. Aling anak perempuan sempat kebingungan akan kelakuan Papanya dan tak tahu harus bagaimana. Seumpama pukulan godam yang menghantam kepala terus dan terus tak mau berhenti. Koh Abun hidup dalam kesunyian. Toko, rumah atau Aling tak digubris sama sekali. Dia jadi mayat hidup di rumahnya sendiri, mati rasa. Aling pun menangis meratapi nasib Papanya.

Semua tambah parah ketika koh Abun dikabari para tetangga. Aling terpanggang di bus Kopaja yang dibakar massa saat perjalanan pulang tak sengaja terjebak dalam kerusuhan. Bulan Mei jadi prahara bagi koh Abun, lengkap sudah penderitaannya. Toko bangunan dia tutup dan hanya berdiam diri di dalam rumah, tak sekalipun keluar.

***

Penjarahan itu terus merembet bagaikan epidemi penyakit menggeroti dikit demi dikit, Mei itu mulai membara menjalar. Tak kecuali rumah koh Abun habis dilalap kobaran api yang disulut para penjarah. Semua habis tak tersisa. Rumah dan toko luluh lantah. Rumor menyebar jika api yang tersulut bukan dari para penjarah. Ada yang melihat koh Abun menyiram bensin di sekujur tubuhnya dan membakar diri sendiri sebelum mereka tiba.

Imlek Terakhir

Gaduh dan riuh selalu memenuhi langit-langit rumah Koh Abun di seberang kampung ini. Pertengkaran demi percekcokan terus berlangsung. Adu mulut tak terelakkan. Suara keras cempreng Ko Abun bergesekan dengan nada menggelegar Sanata-anak lakinya.

“Lim, elu itu dari kaum minoritas dan harus dagang. Ini malah mau jadi tentara. Gila kau!”

“Pa, jangan panggil pakai nama Tionghoa itu lagi. Sanata, itu sekarang namaku.”

“Berani sekali elu tak menghormati adat leluhur kita dan sekarang berani merubah nama seenaknya. Mau jadi apa elu, Lim?”

“Aku malu Pa, pakai nama itu. Kaum kita selalu sembunyi dari mata sipit ini dan tak berani keluar membuat pembeda.”

“Apa salahnya kaum kita. Apa yang ada pada diri kita adalah hoki. Pokoknya kamu tidak boleh pergi dari rumah ini dan nerusin toko bangunan oei.

“Aku nggak mau, Pa. Besok aku harus berangkat pelatihan.”

Sanata tampak geram gigi gemeretuk menahan marah yang menelusup dalam ubun-ubun. Dia meraih tas ransel di kamar dan memasukkan seluruh pakaian di dalamnya. Di seberang daun pintu Aling mengendap-mengendap.

“Koko, mau kemana?”

“Jangan tinggalkan Aling sendirian!”

Sanata hanya terdiam layak disengat lebah. Dia hanya menatap adik perempuan satu-satunya. Sanata mengelus rambut poni Aling serta memeluknya seperti tak mau dilepas dan tak terasa airmata meleleh disela kelopak.

Di saat malam Imlek dimana keluarga Tionghoa berkumpul dan saling memberi angpao tapi ini Sanata harus pergi jauh. Keputusan untuk bergabung dalam militer ditentang Papa-nya keras, garis keturunan anak lelaki akan pupus. Penerus bisnis toko bangunan yang dirintis cucuran airmata dan darah, generasi ketiga musnah.

Diiringi langit pecah gempita petasan menyambut malam Imlek di kampung Pecinan-Jakarta, Sanata meninggalkan rumah kelahiran beserta kenangan di dalamnya. Semenjak itu, terhitung 5 tahun bergulir Sanata tak berucap satu kata pun dari mulut ke Papanya. Bagaikan ngilu menjalar di sekujur badannya. Rasa kangen akan Aling terus resah disesah gelisah, pulang malu dan tak pulang rindu.

***

Gemuruh asap membumbung di atas langit di bulan Mei itu. Di bawah gedung pencakar tampak gelombang panas bercampur racauan manusia-manusia yang ingin menumpahkan napsunya.

“Kapten Sanata, kami menunggu perintah!”

Suara diujung speaker handy talky terdengar serak parau dan nada bimbang.

Sanata berdiri di atas gedung beton tertinggi dari kota muram ini. Matanya memandang nanar ke bawah sana. Perihal yang terus diingatnya wajah Aling, pedih terasa saat menemukan mayatnya tersobek-sobek. Diperkosa ramai-ramai penjarah yang menyerbu rumahnya. Papanya terbakar hangus bersama puing-puing rumah itu tak tersisa. Perasaan kala itu terkoyak-koyak rasa bersalah tak bisa menyelamatkan mereka.

Terdiam beberapa detik di atas sana, Sanata mendekatkan mulutnya ke microphone itu.

“Eksekusi semua!! Lakukan tanpa jejak!!”

 

Surabaya, Februari 2018

Advertisements