Cerpen Hernawaty (Analisa, 25 Februari 2018)

Sebuah Kejutan ilustrasi Toni Burhan - Analisa.jpg
Sebuah Kejutan ilustrasi Toni Burhan/Analisa

PENYAKIT kanker memisahkan Mama dariku dan Papa. Kami merasa sedih dan sangat kehilangan, terlebih Papa. Setelah Mama meninggal dunia, Papa pindah tugas ke Jakarta, saat itu aku berumur duabelas tahun. Karena Papa tak bisa menerima kepergian Mama, pindah ke Jakarta adalah jalan terbaik bagi kami.

Bagi Papa, Mama adalah segalanya. Mama cinta pertama Papa. Dengan kepergian Mama, Papa merasa dunia telah berakhir. Tetapi demi aku, Papa harus bangkit kembali dari kesedihannya. Papa teringat pesan Mama di saat-saat terakhirnya. Mama berpesan apa pun yang terjadi nanti Mama ingin Papa dan aku tetap menjalani hidup dengan bahagia seperti sebelumnya.

Awalnya aku tak ingin meninggalkan kota kelahiranku, tetapi Papa meyakinkanku ini adalah jalan terbaik bagi kami. Akhirnya kami pindah ke Jakarta dan memulai hidup baru tanpa Mama.

Kami tinggal di rumah dinas tempat Papa bekerja, sebuah rumah yang asri di kompleks perumahan. Aku merasa asing di tempat baruku, juga sekolah baru dan merasa tak nyaman, tetapi Papa sangat berharap aku bisa beradaptasi di tempat baru ini.

Karena sering sendirian dan tak ada yang mengasuhku, aku sering dititipkan Papa di rumah Tante Imah, tetangga kami. Om Darwin, suami Tante Imah adalah teman baik dan rekan kerja Papa di kantor. Tante Imah sangat baik dan sayang padaku. Aku seperti merasakan kehangatan Mama kembali.

Sejak dulu Tante Imah ingin punya anak perempuan karena dia telah mempunyai dua anak laki- laki, Hansen dan Vinsen. Hansen lebih tua setahun dariku sedangkan Vinsen sebaya denganku. Tante Imah sudah menganggapku seperti anak perempuannya sendiri. Demikian juga Hansen dan Vinsen, mereka sangat baik padaku dan menganggapku seperti adik perempuan mereka.

Mereka membuatku lupa akan kesedihanku setelah ditinggal Mama. Aku seperti menemukan sebuah keluarga yang hangat kembali. Aku sangat dekat dengan Hansen dan Vinsen. Kami pergi sekolah bersama, sering belajar bersama, main bersama, jalan bersama. Aku mulai bisa beradaptasi dan merasa nyaman di tempat baruku.

Seiring berjalannya waktu, kami tumbuh dewasa. Hansen sangat memperhatikanku sehingga kadang aku merasa hubungan kami bukan sekadar saudara tetapi seperti kekasih. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Dan parahnya aku menyukai dan menyayangi Hansen lebih daripada seorang saudara. Mungkinkah aku telah jatuh cinta pada Hansen?

Hansen dan Vinsen melanjutkan kuliah ke luar negeri. Sedangkan aku melanjutkan kuliah di Jakarta. Selama Hansen dan Vinsen di luar negeri, kami tetap saling berhubungan dan saling berbagi cerita. Kadang aku merasa kesepian dan merindukan mereka.

Saat liburan Natal, mereka pulang ke Jakarta, senang sekali bisa berjumpa dan berkumpul lagi bersama mereka. Kami merayakan Natal bersama Papa, Om Darwin dan Tante Imah. Berkumpul seperti satu keluarga dan makan bersama.

Di malam Natal, Hansen memberikan kejutan padaku. Kado natal, sebuah kotak kecil. Sebuah kotak cincin tapi tak ada cincinnya. Hansen menyatakan cintanya padaku dan akan memberikan cincin untuk melamarku setelah ia tamat kuliah nanti. Betapa senangnya hatiku ternyata perasaanku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata Hansen juga mencintaiku seperti aku mencintainya. Kami menjalani hari-hari penuh cinta.

Liburan Natal telah berakhir, Hansen dan Vinsen akan balik ke luar negeri melanjutkan kuliah. Aku mengantar mereka ke bandara. Di bandara, Hansen memberi kecupan di dahiku sambil berbisik, “Tunggu aku pulang ya, Sayang? Setamat kuliah nanti aku akan segera melamarmu.”

Selama dua tahun aku menjalani hubungan jarak jauh dengan Hansen, aku tetap fokus pada kuliahku. Di tahun terakhir perkuliahanku aku mulai bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai asisten manajer. Di sini, aku bertemu kembali dengan Iyan. Dia manajer di perusahaan ini. Iyan adalah asisten dosen yang pernah membimbingku di tempat aku kuliah saat tahun pertama aku masuk kuliah. Setelah tamat kuliah, Iyan bekerja di perusahaan ini.

Dulu Iyan pernah mengejarku tapi hatiku sudah berlabuh pada Hansen. Iyan masih seperti dulu penuh perhatian, ia mengajari dan membimbingku dalam pekerjaanku. Iyan mulai kembali mendekatiku dan menyatakan perasaannya padaku bahwa ia tak bisa melupakanku. Dan setelah kami berjumpa kembali, Iyan merasa ini takdir bahwa Tuhan mengirimku untuknya setelah sekian lama kami tak berjumpa dan akhirnya bertemu kembali. Aku hanya memberi jawaban sama seperti dulu, aku telah memiliki Hansen yang nanti akan melamarku setelah ia tamat kuliah. Tetapi kali ini Iyan bersikukuh, “Aku akan menunggu sampai hatimu terbuka untukku…”

Sudah tiga bulan Hansen tak memberi kabar, ia seperti hilang dari dunia ini. Aku terus berusaha mencari tahu kabarnya. Aku mencoba menghubungi Vinsen. Dari Vinsen, aku mendapat kabar bahwa Hansen sangat sibuk kuliah karena sudah tahun terakhir perkuliahan. Hansen ingin segera menyelesaikan perkuliahan agar bisa segera kembali ke Jakarta menemuiku. Padahal Vinsen tengah berbohong padaku, Hansen sebenarnya tak sibuk dalam perkuliahan tetapi sedang berjuang keras melawan kanker yang menyerangnya. Aku sangat senang mendengar kabar dari Vinsen dan merasa tenang.

Akhirnya aku mendapat kabar dari Tante Imah bahwa Hansen dan Vinsen akan pulang ke Jakarta. Betapa senangnya aku. Aku berdandan secantik mungkin, pergi ke bandara untuk menjemput mereka.

Setelah tunggu beberapa saat, hanya Vinsen yang keluar dari pintu kedatangan luar negeri. Jantungku mulai berdetak keras, kudekati Vinsen dan menanyakan di mana Hansen. Vinsen merogoh sesuatu di saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah cincin dan memberikan kepadaku. Dia bilang bahwa Hansen menitipkan cincin ini untukku dan menyampaikan permohonan maaf padaku karena tak bisa memakaikan langsung di jari manisku.

Aku mulai bertanya-tanya, ada apa ini? Aku menangis tersedu-sedu di pelukan Vinsen saat ia menceritakan bahwa selama tiga bulan Hansen mencoba melawan penyakit kanker yang menyerangnya. Demi aku, Hansen mencoba berbagai pengobatan tetapi akhirnya penyakit itu merenggut nyawanya. Hansen tidak ingin aku tahu, ia tak ingin aku bersedih. Dulu penyakit kanker merenggut nyawa Mama, sekarang giliran Hansen. Tuhan, tabahkanlah hamba-Mu ini…

Papa, Om Darwin, Tante Imah dan Vinsen terus menghiburku agar aku tidak larut dalam kesedihan. Setiap hari aku berkurung di kamar. Tak ingin bertemu siapa pun.

Tiba-tiba Papa mengetuk pintu kamarku, ada teman yang mencariku. Aku keluar dari kamar. Ternyata Iyan yang datang. Beberapa hari aku tak masuk kerja Iyan terus mencariku. Akhirnya Iyan tahu kejadian yang menimpaku. Iyan terus memberi semangat padaku. Ia tak ingin aku terus larut dalam kesedihan. Iyan terus menemaniku. Ia mencoba membuka hatiku untuk menerimanya.

Di hari Valentine Iyan mengajakku makan malam. Dia memberiku kejutan, ada Papa, Om Darwin, Tante Imah, juga Vinsen di sana. Iyan menyematkan sebuah cincin di jari manisku dan meminta izin pada Papa agar memperbolehkan dia menjagaku seterusnya.

Akhirnya aku menemukan pelabuhan terakhir hatiku. Bersama Iyan, aku menemukan hidupku kembali…

 

* Februari 2013

Advertisements