Cerpen Agus Salim (Lampung Post, 25 Februari 2018)

Patamburu ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Patamburu ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Semalam aku bermimpi. Aku ada di sebuah taman mahaluas. Seperti tak berbatas. Bersembunyi di balik pohon apel. Mengintip dua sosok manusia. Laki-laki dan perempuan. Berdiri sambil bergandengan tangan di depan pohon apel yang lain. Dari lagak-lagaknya, sepertinya mereka sedang merencanakan perbuatan dosa besar.

Siapa mereka? Apa hubunganku dengan mereka? Pertanyaan itu aku jawab dengan berpindah tempat sembunyi. Agar bisa lebih dekat dengan mereka. Sehingga mataku bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Setelah benar-benar dekat, aku terkejut. Rupanya mereka. Sudar dan Istriku. Emosiku langsung menyerang ulu hati. Darah langsung mendidih. Berebut naik ke ujung kepala. Udara yang sebenarnya sejuk, tak berguna lagi bagi tubuh. Aku segera bertindak.

Saat aku melepaskan tinju ke arah kepala Sudar, tinjuku mental. Aneh. Bahkan mereka sama sekali tidak terusik dengan aksiku. Aku ulangi sekali lagi. Tapi tetap mental. Sepertinya Sudar telah memasang perisai gaib untuk melindungi pertemuan mereka.

Aku tak menyerah. Mulutku membaca mantra untuk memusnahkan perisai gaib itu. Berhasil. Mereka mulai menoleh kepadaku. Aku segera tarik lengan istriku. Sudar memberi perlawanan. Aku hajar dia dengan pukulan dan tendangan, berkali-kali. Aku berlagak seperti aktor Donnie Yen saat melumpuhkan musuhnya dengan jurus wing chun.

Sudar terpental. Terjungkal dan berguling-guling. Aku kejar tubuhnya. Aku beri pukulan beruntun lagi ke arah wajahnya. Sampai akhirnya dia pingsan. Tapi keanehan terjadi. Istriku tidak mengenal diriku. Aku yakin dia telah dikuasai guna-guna. Aku segera bertindak. Aku tekan kening istriku dengan ujung jempol kananku. Aku baca mantra penghilang guna-guna. Dia meronta kepanasan. Keningnya berasap. Dan, syukurlah, dia akhirnya tersadar. Aku lega.

Begitulah mimpi yang terjadi di dalam tidurku. Mimpi yang terasa begitu nyata. Atas alasan itulah malam ini kami, aku dan istriku, bertemu di dalam kamar dengan pencahayaan remang. Dia sudah menangis sejak masuk ke dalam kamar. Aku yakin, dia menangis karena seharian penuh tidak aku acuhkan. Memang begitu kalau aku marah. Aku memperlakukannya seperti tidak ada. Dia paling tidak suka diperlakukan seperti itu.

“Coba kau katakan sejujurnya kepadaku. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Dia tak menjawab dan terus menangis. Aku yakin dia bingung. Mendapatkan pertanyaan semacam itu, tanpa petunjuk apa-apa, pasti membuatnya berpikir keras untuk memahami apa yang aku maksud.

“Lebih baik kau katakan sejujurnya sekarang. Ketimbang suatu hari nanti aku tahu dari orang-orang.”

Dia tetap tak menjawab. Sibuk mengatur ritme tangisnya. Aku pikir, mungkin dia perlu waktu untuk menenangkan diri. Jadi, aku putuskan meninggalkannya. Aku beranjak dan melangkah menuju kamar sebelah. Pintunya sengaja tidak ditutup. Aku nonton TV sambil tiduran di sebelah anakku yang pulas. Tapi, tak lama kemudian, dia aku lihat berdiri di dekat daun pintu kamar anakku.

Menatapku dengan tatapan menyedihkan. Lalu melambaikan tangan kepadaku. Mengajakku pindah ke kamar kami. Aku menurut. Menyusuli kakinya yang lebih dulu melangkah. Kami ada di kamar kami lagi. Dia juga sudah tidak menangis lagi. Sepertinya, dia sudah siap menjawab pertanyaanku.

“Sesuatu apa yang kau inginkan dariku?” ah, dia malah balik bertanya.

“Sesuatu yang kau sembunyikan,” jawabku.

“Kau kira aku memiliki rahasia?”

“Siapa tahu?”

“Selalu begitu. Aku yakin ini pasti gara-gara mimpi.”

“Kau benar. Semalam aku bermimpi. Di dalam mimpi itu aku melihat kau bersama Sudar di sebuah taman yang dipenuhi pohon apel. Kalian begitu mesra sekali.”

“Hanya itu?”

“Ya. Tapi aku belum tenang sebelum kau jawab pertanyaanku. Aku sangat khawatir kau sudah terkena mantra guna-guna Sudar. Kau kan tahu, Sudar ahli dalam perkara itu?”

“Lalu, kau suruh aku jujur dalam perkara apa?”

“Perkara yang tidak aku tahu. Siapa tahu kau dan Sudar main-main saat aku tidak ada di rumah.”

“Sangkaanmu terlalu merendahkan aku. Kau selalu begitu. Selalu berpikir yang yang bukan-bukan tantang diriku hanya karena mimpi.”

“Aku hanya butuh jawaban kepastian. Biar aku tidak menderita dalam prasangka.”

“Aku harus menjawab apa, Mas?!”

Suaranya mulai meninggi. Aku tidak bisa melanjutkannya. Karena bisa membuat aku terpancing untuk meninggikan suara juga. Bisa-bisa kami bertengkar dan membuat anak-anak kami terbangun. Aku meninggalkannya lagi.

Aku pindah ke ruang kerja yang ada di kamar depan. Laptop memang sengaja aku biarkan dalam posisi stand by tadi. Aku tekan sebarang tombol untuk menyalakannya kembali. Di depan layar yang menyala aku merenungkan peristiwa itu. Tapi malah Wajah Sudar membayang-bayang di mata. Seperti sedang mengejekku. Aku panas. Ingin rasanya aku mendatangi rumahnya malam ini. Menggedor-gedor pintunya dengan kasar. Lalu mengajaknya bertarung sampai mampus. Akan aku hajar dia seperti yang kulakukan di dalam mimpi. Tapi, aku sadar, cara semacam itu salah. Aku bisa diperkarakan jika memukul orang hanya gara-gara mimpi. Bahkan akan ditertawakan. Aku ingin masalah cepat selesai dan tidak berlarut-larut. Aku tidak mau menderita terlalu lama dalam lingkaran prasangka buruk.

Aku tinggalkan ruang kerja. Pindah ke ruang tamu. Duduk di sofa panjang. Menyalakan rokok. Udara dingin dari luar mengirim gigil ke tubuh. Celaka, hasrat untuk bercinta tumbuh. Tapi, bagaimana aku bisa bercinta? Aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Rokok yang masih panjang aku benamkan di asbak. Aku hampiri dia kembali di dalam kamar.

Dia berbaring menghadap dinding. Aku duduk di sebelahnya. Aku tahu dia belum tidur. Dia tahu kalau aku ada di sebelahnya. Tapi enggan berbalik badan. Aku juga belum berselera meneruskan percakapan. Aku pandangi bagian belakang tubuhnya dengan tatapan yang seperti ingin menembus sampai bagian terdalam. Tapi, entah kenapa, pada saat seperti itu aku tiba-tiba merasa bersalah.

Ya, aku merasa bersalah. Sebab bukan baru kali ini aku memperlakukannya seperti sekarang ini. Bahkan berkali-kali. Aku sering marah tiba-tiba dan tidak memedulikannya hanya gara-gara mimpi. Mimpi yang kerap menyuguhkan cerita tentang dia dan Sudar.

Pernah suatu waktu aku bermimpi tentang mereka yang bercumbu di kamar ini. Yang membuat aku kemudian terjaga tiba-tiba dan langsung marah-marah. Bagaimana tidak marah? Di dalam mimpi itu aku lihat istriku bercumbu dalam keadaan hamil. Lalu dia berkata kepadaku bahwa anak yang ada di dalam kandungannya bukan anakku.

“Ini bukan anakmu.”

“Lalu anak siapa?”

“Anak lelaki itu.”

“Kau bercinta dengannya?”

“Ya.”

“Kenapa kau tega berbuat seperti itu padaku?!”

“Karena aku tidak mencintaimu.”

“Kenapa kau tidak mencintaiku?!”

“Karena kau bukan lelaki pilihanku.”

“Sekarang, pilihlah. Kau ingin hidup bersamaku atau bersamanya?”

“Aku ingin hidup bersama dia.”

Begitulah perdebatan kami yang terjadi di dalam mimpi itu. Saat aku marah, dia menangis. Tidak aku beri kesempatan dia menjelaskan sebelum aku selesai bicara. Tapi setelah itu aku menyesal saat dia bicara: Hanya karena mimpi kau tega menuduh aku seperti itu? Tidak apa-apa. Aku tidak akan melawan.Tuduhlah aku sesukamu. Yang penting aku tidak seperti yang kau sangkakan.

Aku juga heran, kenapa selalu Sudar dan istriku yang hadir ke dalam mimpiku. Aku pernah bertanya pada diri sendiri. Apakah ini semacam petunjuk? Atau hanya sekadar fitnah iblis yang dikirim lewat mimpi? Meski pada akhirnya aku tahu jawabannya, bahwa itu hanyalah fitnah iblis untuk membuat rumah tanggaku berantakan, aku tetap saja mencemburui istriku. Menuduhnya telah berselingkuh dengan Sudar hanya berdasarkan mimpi. Mungkin ini keterlaluan, tapi beginilah diriku. Wajar jika istriku menyebutku patamburu (pencemburu).

Sambil menunggu dia berbalik badan, aku hidupkan lampu duduk yang ada di meja dekat kasur kami. Aku ambil buku The Consolation of Philosophy dan membacanya. Tapi belum sempat aku menghabiskan paragraf kedua pada bab 4, dia bersuara, tapi tidak berbalik badan.

“Kenapa kau selalu perlakukan aku seperti ini.”

“Sudah kukatakan, karena aku telah bermimpi.”

“Coba katakan, prasangka buruk apa lagi yang ada di dalam kepalamu sekarang?”

“Apakah benih yang ada di dalam perutmu adalah benihku?”

“Keparat kau. Kau kira aku hamil karena perbuatan Sudar?’

“Aku tidak menuduhmu. Hanya bertanya saja. Apa itu salah?”

“Salah. Itu sama saja kau menuduhku. Sampai kapan kau mau berhenti berprasangka buruk?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak menginginkan mimpi itu. Tapi mimpi itu datang sendiri.”

“Sekarang, buka telingamu lebar-lebar dan dengarkan baik-baik. Tidak mungkin aku menyerahkan tubuhku pada lelaki lain. Apalagi pada Sudar yang mulutnya monyong seperti kera itu. Aku milikmu. Berhentilah jadi lelaki patamburu dan berprasangka buruk tentang aku hanya gara-gara mimpi.”

“Maafkan aku. Entahlah, kenapa aku bisa sampai jadi lelaki seperti ini. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu. Maafkan aku.”

“Jika kau terus-terusan seperti itu, bisa-bisa aku tidak kuat dan meninggalkanmu sungguh-sungguh. Apa kau ingin itu terjadi?”

“Sudahlah, jangan mengancam seperti itu. Aku sudah minta maaf.”

“Kau selalu begitu.”

Aku membalik badannya.

“Aku memang begini.”

Aku berbaring. Wajah kami bertemu.

“Maka berhentilah menuduhku yang bukan-bukan.”

Aku memeluk tubuhnya.

“Aku selalu berusaha.”

Aku mencium keningnya.

“Kau selalu begitu.”

“Aku memang suka begini.”

Pertengkaran kami tutup dengan aksi berciuman. Tapi tidak sampai bercinta. Sebab setelah puas berciuman dia pamit tidur duluan karena tubuhnya kelelahan. Aku tidak mau memaksanya melayani berahiku.

Nah, pembaca yang budiman, begitulah akhir dari cerita ini. Aku memang sering mengalami masalah rumah tangga karena mimpi-mimpi. Aku menilai kalau diriku ini adalah lelaki yang sensitif. Tapi istriku bilang kalau aku ini patamburu. Apa pun istilahnya, aku butuh orang untuk menyelesaikan masalahku. Sebelum akhirnya bertambah parah dan berakibat pada perceraian. Sebab, tidak menutup kemungkinan, besok, atau besoknya lagi, atau entah kapan, aku akan bermimpi seperti itu lagi.

Aku sebenarnya kasihan kalau terus-menerus menuduhnya berselingkuh hanya karena mimpi. Jadi, apakah kalian bisa memberi saran atau masukan kepadaku? Jika ada, segeralah datang kepadaku. Aku akan beri imbalan besar jika saran atau masukan kalian berhasil menyelesaikan masalahku dan bisa melepaskan aku dari julukan patamburu. Aku janji.

 

Asoka J, 2018

Advertisements