Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 25 Februari 2018)

Kalah ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Kalah ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

PAKDE ELVIS yang masih kerabat jauh Bu Pao berkunjung. Ia curhat mengatakan dirinya kalah. “Aku ini pecundang yang mati separo, Pao!”

Lalu bertanya: “Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengurangi rasa kalah ini, Pao?”

Ia tak mengatakan, kalah apa. Pao pun merasa kurang sopan kalau menanyakan kalah apa.

“Ya, legawa saja, terima kekalahan itu, Pakde. Nanti Pakde perlahan-lahan akan menang.”

“Sudah, aku sudah menerimanya, bahkan 200 prosen, tapi mengapa aku tetap saja kalah?”

“Ya, itu berarti, maaf, Pakde belum cukup legawa, maksud saya masih belum cespleng tuntas rela ikhlas menerima kekalahannya. Jadi, sekali lagi maaf, tanpa mengecilkan upaya Pakde, tekad mengakui kekalahannya masih belum sungguh-sungguh tokcer afdol!”

“Jadi maksudnya aku harus menikmati kekalahan itu?”

“Betul. Persis! Kira-kira lebih kurangnya begitu.” Tiba-tiba saja Pakde marah. Ia berdiri sambil berkata ketus.

“Kau enak saja ngomong begitu, Pao! Coba kau sendiri yang mengalaminya, kalau kagak modiar, baru tahu rasa, nyahok bagaimana sakitnya kalah! Remuk hancur luluh sudah jadi bubur perasaanku, Pao! Tai kucing! Bangsat!”

Ia masih sempat memotong roti gambang yang dibawanya untuk oleh-oleh dan memakannya sebelum kemudian kembali menggebrak meja: “Tai kebo! Tikus celurut! Najis! Bangsat!” Dan pergi. Pao bingung. Hatinya ngedumel, “Aku kok merasa sudah mencoba menjawab sesuatu yang tak jelas, dengan ikhlas, kok malah disumpahi?” Bu Pao muncul bawa kopi.

“Lho, ke mana Pakde?”

“Bagaimana menjawab kalau kita tidak tahu apa kekalahannya? Dalam keadaan bagaimana, salahnya berapa fatal, kenapa, di mana, dan mengapa?”

“Ada apa sih kok berkicau?”

Advertisements