Cerpen Diyana Mareta Hermawati (Radar Surabaya, 25 Februari 2018)

Es Lilin Mbak Erna ilustrasi Fajar - Radar Surabaya
Es Lilin Mbak Erna ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Bagaimana kau merancang mimpi? Kau jelas tahu mimpi apa yang ingin diwujudkan. Semisal setelah besar nanti kau ingin menjadi dokter, guru, atau polisi. Kau juga tahu bagaimana mewujudkan mimpi itu. Mama akan menyemangati dan memintamu belajar dengan rajin sejak kecil. Ayahmu juga akan ikut serta walau sekadar memuji kehebatanmu di depan teman-temannya. Orang tuamu akan membiayaimu dengan susah payah. Namun, aku bukan kau yang dengan mudah mewujudkan mimpi. Mamaku seorang penyakitan. Beberapa penyakit bersarang di tubuhnya, seperti kolesterol dan diabetes. Ayahku bukan pekerja kantoran. Dia hanya seorang kuli bangunan yang pekerjaannya tak tetap. Bagi keluargaku uang adalah barang langka; untuk makan, bayar listrik, mengurusi mama yang penyakitan, mewujudkan mimpiku dan lainnya.

Bagiku, mewujudkan mimpi layaknya menggenggam langit ke tujuh. Mustahil. Meski pepatah mengatakan; tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina, tapi untuk menyelesaikan sekolahku saja tak mudah. Uang SPP tak kunjung lunas. Jadi, bagaimana mewujudkan mimpiku sendiri? Sulit! Perkara uang dan uang membuat keluargaku harus berpikir cepat. Uang keperluan ini dan itu. Semua melilit tubuhku. Sesak.

Barangkali aku harus bekerja membantu ayah, menghasilkan uang. Mama terobati dan mimpiku bisa terwujud. Namun, tak habis pikir jemari lembut mama mendarat kasar di pipiku. Sebabnya hanya es lilin buatan Mbak Erna tetanggaku. Kujual habis di sekolah setiap harinya. Es lilinnya manis dan enak. Tapi, bukan sebab rasanya yang membuat mama marah. Kami—orang tuaku—masih sanggup menyekolahkanku, katanya. Tapi, itu bohong! SPP-ku tak kunjung lunas. Surat peringatan sudah berkali-kali dikirim ke rumah.

Saat itu pikiranku tak bisa berpikir jernih. Lepas ditampar mama, aku lari dari rumah. Pergi tanpa bekal ke perbatasan desa. Di sebuah kolong jembatan rel kereta api, aku tertidur. Seharian tubuhku tergeletak. Lupa akan rumah. Lupa akan mimpi yang mengakar di tubuhku.

Suara jangkrik yang menemani mengingatkanku pada radio butut milik ayah yang disimpan di ruang tengah rumah. Suara air sungai yang mengalir lambat terdengar layaknya suara mama kala kesakitan sebab penyakitnya.

Aku membereskan pakaian yang lusuh. Beranjak, sesaat suara kereta api melintas di atasku. Decitan rel terdengar jelas di telinga. Lepas kereta berlalu aku, segera pergi. Perbatasan desaku dekat dengan lapangan luas. Setiap menjelang sore lapangan akan ramai oleh anak seusiaku. Bergerombol. Mereka membawa bola plastik dan bermain sampai magrib.

Tunggu!

Jika aku pulang. Akankah mama menerimaku lagi? Dia menampar sebab sekotak es lilin Mbak Erna yang kujual di sekolah. Padahal jika dihitung, menjual es lilin di sekolah bisa laku. Meski keuntungan yang kudapat tidak lebih dari sepuluh ribu. Namun, jika dikumpulkan mungkin bisa menutupi kekurangan uang di keluargaku.

“Woy!”

Suara keras menghentikan langkahku. Aku cukup mengenali suara itu. Suara tak asing yang sering kudengar setiap hari.

“Kamu miskin! Kamu tidak mungkin jadi dokter! Mimpimu terlalu tinggi.”

Batinku ingin memakinya. Namun, aku ingat perkataan ayah bahwa hidup itu keras. Sejauh mana kamu melangkah, pasti ada rintangan. Entah itu tanah yang tiba-tiba longsor sebab pohon yang gundul, hujan deras tanpa kita membawa payung, sandal yang putus di tengah-tengah jalan, dompet hilang, dan bahkan makian orang terdekat bisa jadi bumerang bagi kita, kata ayah begitu. Dia selalu berkata begitu saat aku muak akan kehidupan yang tak berbeda, seakan berhenti di satu titik, kekurangan, ya, kami memang miskin.

“Wah, kamu tidak mendengar perkataanku, ya?”

Dia terus memaki. Merecoki gendang telinga dengan perkataannya yang tak bermutu. Jika ada lagi kawannya yang memaki, telingaku bisa jadi panggung hiburan. Ramai dengan makian mereka. Memang bocah itu dari kalangan berada. Ibunya seorang bidan di desaku. Ayahnya seorang polisi. Dia benar-benar dari kalangan terhormat, sayang ucapannya tak dijaga, orang lain bisa sakit hati karena ucapannya.

“Kamu tuli, ya?”

“Woy!”

Kesabaranku hampir habis. Dia benar-benar membuat gendang telingaku ramai dengan perkataannya yang mengiang tak hilang.

“Kamu tidak akan menjadi dokter!” teriaknya sekali lagi.

Kubiarkan perkataannya jadi angin lalu. Langkah kakiku berhenti di ujung ubin rumah. Mama berdiri di pintu, kaget melihat

“Belajarlah dengan giat!”

Belajar dengan giat tak akan membuat SPP-ku terlunasi. Hanya uang! Uang yang akan membuat SPP-ku terlunasi. Diabetes mamaku tinggi lagi minggu lalu. Uang yang harusnya dibayarkan SPP dibayarkan obat mama. Sekolah tak butuh obat! Tapi, butuh uang.

Katanya, mimpi selalu indah dan akan lebih indah saat mimpi itu terwujud. Setelah kejadian mama menamparku sebab es lilin Mbak Erna. Keesokan harinya, aku masih menjual es lilin di sekolah. Namun, aku rahasiakan dari mama dan ayah dan buat perjanjian dengan Mbak Erna. Kubilang saja es lilin yang kubawa setiap hari akan habis. Sebab uang, dia sepakat. Terkadang uang membawa hal baik lainnya. Seperti, keberuntunganku menjual es lilin tanpa diketahui mama dan ayah.

Puluhan es lilin telah kujual. Recehan uang terkumpul. SPP bisa kucicil. Meski di setiap harinya tak sedikit es lilin yang mencair, sebab panas yang menyengat. Pernah sekali aku dimaki oleh seorang pembeli. “Kau jual es lilin atau minuman!” Sebab waktu itu tak seperti biasanya, hari benar-benar panas dan sebagian es lilinku mencair. Tapi, es lilin itu tetap habis juga.

Ketika mama memberikan uang yang katanya untuk bayar SPP. Aku tak memberikannya pada aparat sekolah. Aku masukkan uang itu pada toples bekas makanan. Diam-diam aku meminta toples bekas makanan dari Mbak Erna.

Kau tak akan tahan jadi aku, bocah yang dilahirkan dari rahim seorang ibu penyakitan dan ayah kuli bangunan. Setiap hari saat pergi ke sekolah tubuhmu akan menggigil kedinginan, sebab langit yang masih berkabut. Kau akan keberatan membawa sekotak es lilin. Pundakmu akan sakit sebelah. Di sekolah kau tak akan bisa bermain dengan kawanmu. Kau harus berteriak, “Es lilin! Es lilin!” saat menjajakan es lilin. Hanya demi mewujudkan mimpi!

***

Aku membenarkan jas putih yang kukenakan. Mengusap hidup yang terasa mampet sebelah karena pendingin ruangan. Kurapihkan meja kerja. Anak di hadapanku memandangiku. Wajahnya unik. Matanya kecil. Senyumnya manis. Dia memegang boneka beruang kecil di tangan kanannya. Perempuan di sampingnya tersenyum.

“Dok,” ujar perempuan di sampingnya.

Aku mengangguk, “Ya, Anda tidak apa-apa. Ini resep obat untuk Anda. Semoga lekas sembuh.”

“Setelah besar, aku ingin jadi dokter,” ujar anak itu.

Tiba-tiba dia mengingatkanku pada masa kelam bersama sekotak es lilin yang setiap hari memberikan sepeser uang untuk mencicil mimpi. Percayalah, keajaiban selalu datang pada orang yang mempercayainya. Barangkali mama di sana bilang padaku, “Sudah Mama katakan, Mama sanggup membiayaimu sekolah.” Kemudian, ingatanku mencair layaknya es lilin yang sempat mencair sebab terik mentari waktu itu. (*)

 

*Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Advertisements