Puisi-puisi Fariq Alfaruqi (Kompas, 24 Februari 2018)

Tilas Harimau, Langgam Harimau, Mengkaji Langkah Surut ilustrasi Google
Tilas Harimau, Langgam Harimau, Mengkaji Langkah Surut ilustrasi Google

Tilas Harimau

– untuk Raden Saleh

 

Kenapa kau biarkan air muka pagi tempias

mengasihani torehan luka di sekujur tubuhku

lambang tuah yang ditikamkan oleh seribu

ekor maut, sebelum aku memangsanya satu demi satu.

Lihatlah bagaimana ulur tangan cahayanya, justru

menumpas denyar gulita dari liang petilasanku

tentu juga merampas kilat-kilau ilahiah

yang bersemayam dalam relung suluk moyangmu.

Dengan udara seiris limau dan warna seragi kamboja

hendak ia tiriskan juga, derau cuaca pada pakis dan akasia

lembap waktu pada lumut dan batu.

 

Oh, hutan sungsang rimba suling

masih ada lagikah lurah, lereng, atau tebing

yang lena kelabu, bakal menyempurnakan belangku

yang haru biru, menyimpan kubur aib leluhurmu.

 

Jikalau sorot mata fajar budi itu

kau biarkan menghalau bantu gunung, arwah lembah

makhluk bingung, penghuni sekalian belantara lenyah.

 

Sementara di setiap penjuru pintu

jalan menuju ulu hati tali jantung belantara ini

kaum pemburu pirang jembut jagung

puak pengelana berkuncir akar gantung

tipak pedagang keling cangkang kenari

mengintai dengan tatapan bermata peluru

menunggu dengan dengus nafas asap mesiu.

 

Meskipun kau berusaha merintangi alur ke hulu

—di mana benih semesta ditanam dalam kelam—

dengan gelondong kayu, patahan dari pepatah dahulu

lembu tak bakal rebah di padang datar

rusa tak akan terkejar di semak belukar

pekik siamang di malam buta pertanda akan bala

keluang melintasi pagi alamat berkah sepanjang hari.

 

(Sembah salamku untuk gelagatmu)

 

Tapi hanya berapa kali kemarau lagi

sebelum cahaya belas kasihnya—yang kau puja dengan

kuas yang berlumur, tangan yang bersih—mulai menagih

buah jerih, hewan-hewan yang diberi pakan sekadar

untuk disembelih.

 

Hanya berapa selisih purnama lagi

sebelum kerontang mataharinya mendahagakan gelap

paling murni, muasal dari setiap denyut hutan rimba ini.

 

Dan mata peluru sedia menghunjam ke segala tuju

dan setiap jengkal tanah menguarkan aroma mesiu.

 

Pandanglah kini. Di luar bias waktu, batas pigura itu

betapa lembu rebah di padang datar

bagaimana rusa terkapar dalam semak belukar

siang malam siamang mengguncang pucuk ketapang

keluang membenturkan diri pada beringin gadang.

 

“Aku lupakan harum pandan yang tumbuh di halaman

untuk membilurkan hijau yang telah mengunjungi

setiap helai rumput dan dedaunan.

Aku lupakan bau tembikar yang menguar dari dapur

ketika menyusuri jalan setapak yang belum pernah

dilalui oleh pengembara manapun.

Jangan tanyakan kepadaku perihal hutan

yang tak lagi ramah pada benalu, sebab telah aku sisihkan

lena kelabu dan haru biru itu dari kilas masa laluku.”

 

Kalau begitu inginmu, biar aku balur bulu dan kuku

dengan abu sisa pembakaran, biar aku simpan

aum dan geram dalam selubung kain hitam

biarkan aku khalwat ke arah malam

haribaan yang tak terjamah

oleh pedih padanan warnamu itu.

 

(Sembah salamku, untuk anak-keturunanmu)

 

Mahali, 2017

 

Langgam Harimau

 

Jangan kau alamatkan lagi sirih pinang

bagi penjaga nadi air, untuk pengawal jantung angin

pada pengasuh lambung tanah.

Atau gelombang pitunang

untuk menziarahi kuntum rahasia

warna pasi kematian terkilas di pucat kamboja

aroma mabuk kesedihan tajam sengat lantana.

Atau decak tolak bala dan siulan tiga nada

sebab musim pancaroba menyeret jubahnya

demi mengunjungi kesepian yang meninggi

di pucuk akasia, menguji ketabahan

yang menebal pada kulit trembesi.

 

Demi degup rimba, lenguh gunung, desah padang sabana

yang sehembus setarikan nafas dengan aumku.

 

Jangan kau haturkan sembah seluruh salam

sebagai puja-puji pada denyut renik sekalian alam.

 

Ketika suluh pandangmu padam

tongkat langkahmu patah, kitab pikiranmu latah

memilih jalur mana menuju landai lembah

jalan mana ke arah curam lurah

membaca rusuh muara dari gelagat tenang hulu

memisahkan racun cendawan dan tawar benalu.

 

Semenjak jelujur akar dan sulur menjalar

putus tali rima dari sampiran pantunmu

mata air tak hendak menuntun mata kailmu

menemu insang ikan di balik batu-batu

tangan angin enggan membimbing anak panahmu

mendahului lesat tungkai rusa dan lejit waktu.

 

Sedan petuah rimba hilang rimbun

dalam pokok kecambah gurindammu

dendam babi tak menunggu gugur kamboja

untuk menyudumu dan menghantamkan taringnya

amarah cindu akan mencegatmu

dan menyabetkan kukunya

sebelum aroma lantana raenguap di udara.

 

Gelombang pitunang, sembah salam

tebu manis yang pemah tumbuh di bibirmu itu

kini hanya tinggal sepah serapah penyulut api jerubu.

 

Tak akan mampu lagi mengusik petilasanku

agar menyeberangkan nyawamu di musim bandang

tak bakal bisa lagi memanggilku untuk datang

dan mengalihkan topan dari jalanmu pulang.

 

“Semenjak benih hutan masih dikandung tanah

moyang kita telah saling bertukar cendera kata.

Pohon riwayat telah mencatat persetubuhan laknat

yang melahirkan anak-anak belang kala dilanda kesumat

Di lain bunga hikayat, arwah leluhurku

menunggangi jasad leluhurmu

menjaga malam kelat dengan pupil mata yang biru.

 

Jangan pisahkan usul arang dengan muasal abu

yang berbagi serat dalam satu jasad kayu.”

 

Demi gelap belukar yang bersekutu dengan belangku

jangan sebut lagi kisah-kisah lama perintang lengang itu.

 

Pulangkan sejumput bulu yang aku titipkan

jadi jalin gelang sumpah kita dahulu

kembalikan seruas kuku yang aku berikan

dan kau tanam dalam bandul perjanjian masa lalu.

 

Kemudian, hanya terkamanku

yang akan menyahut sirih pinangmu.

 

Padang-Depok, 2017

 

Mengkaji Langkah Surut

 

Kitab tebal yang kau kaji semalam suntuk

memang mampu menuntunmu membaca

jalinan pantun pengusir bala

untaian doa penolak hari buruk.

 

Ahli nujum yang kau panggil

dengan sekeping pinang dan selembar sirih

menerka takdirmu dari angka-angka ganjil

yang ia susun dari helai ubannya yang tersisih.

 

Beringin keramat tempat segala jihin bermufakat

dengan sebisik rayu boleh menyaru sebagai juru selamat

mengantarkanmu pada tinggi pucuk makrifat

 

Tapi tak sehelai bulu pun dari serimbun cara

menanam nasib dalam muslihat umpama

yang bakal mengajarimu siasat mengambil langkah surut

 

Langkah bijak lagi patut

bagi kaum yang tak ingin

mati oleh jatuhan mumbang kelapa,

oleh perangkap getah nangka.

 

Bagi golongan yang tahu cara berkilah

dari tudingan pepatah

bahwa harimau mati haruslah meninggalkan belang

gajah mati mestilah meninggalkan gading ganih lagi panjang.

 

“Hari-hari naas. Guru

telah aku tukar dengan derai pasir dari tujuh muara

kelopak kembang tujuh rupa

percik air dari tujuh sumur yang berbeda.

 

Malam-malam celaka, lihatlah Engku

sudah aku gadaikan pada empunya marabahaya.

Kepadanya segala sakit berhulu

segala pedih bermuara.

 

Serasa tak seujung kuku pun dari tikaman tangan maut

yang mampu menggoreskan kata takut dalam kitab

detak jantungku.”

 

Syair yang lebih ngilu dari lengking seruling manapun

pernah diuntai dari gelimang tubuh sahid di medan jihad.

 

Serangkaian epos dengan iringan tetabuh gendang

dikumandang untuk menyambut seorang panglima perang

yang pulang dengan panji-panji musuh dalam genggaman.

 

Tetapi betapa golongan yang selalu menumpang biduk ke hilir

tahu bahwa hidup paling lugu

adalah berserah pada arus dari hulu.

 

Betapa kaum yang lihai berenang-renang ke tepian

paham bahwa kematian lebih dingin

bahkan dari bebatuan yang berharap hanya

pada pelukan lumut dan belaian kerakap.

 

Jika kau rasakan sekerikil ragu

menyelip dalam alas kakimu

sehembus gamang meniup bulu remang di tengkukmu

tanpa mengucap dan melafal nama si anu

picingkanlah matamu.

 

Langkah surut, langkah bijak lagi patut ini

boleh kau ramu dengan siasat pepatah lama itu

kilik rusa mengelak dari sekawanan serigala

pekik beruk membangunkan seisi rimba raya.

 

Agar kau segera tunai mengkaji

langkah terakhir langkah para petarung yang berusaha mangkir

dari terkaman takdir.

 

Kandangpadati-Mahali 2016-2017

 

 

Fariq Alfaruqi lahir di Padang, Sumatera Barat, 30 Mei 1991. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di Komunitas Kandangpadati dan Lembaga Kebudayaan Ranah. Saat ini bermukim di Depok.

Advertisements