Cerpen Basuki Fitrianto (Lampung Post, 18 Februari 2018)

Sepatu itu Ada dalam Hatiku ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Sepatu itu Ada dalam Hatiku ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

 

Sepatu dengan ukuran 28 itu dulu milik anakku, bidadari kecilku. Warnanya pink, warna kesukaannya. Dia yang memilih sendiri ketika aku ajak ke toko sepatu pada suatu sore yang mendung. Entahlah kenapa dia suka warna pink, warna yang aku benci, warna yang menurutku terlalu lembek untuk ukuran lelaki pemarah seperti aku.

Ketika aku sarankan dan agak memaksa agar anakku memilih warna sepatu hitam atau merah, anakku menolak dengan wajah cemberut. Aku tak tahan jika melihat wajahnya menjadi begitu, meski aku kadang kasar padanya, kadang menampar pipinya jika dia rewel, hatiku akan bergetar jika dia diam dengan wajah menyimpan duka. Oh, anakku, apa kabarmu hari ini?

Sepatu itu kini tersimpan rapat dalam hatiku. Selalu terlihat bersih karena aku rajin membersihkan debu-debu yang menempel. Sesekali aku mencucinya dengan air mataku. Jika malam terasa ngelangut dan rindu menggebu-gebu, maka aku ambil sepatu itu dari dalam hatiku. Aku letakkan di atas pangkuan kedua tanganku. Aku pandangi sepasang sepatu itu. Aku belai-belai dengan lembutnya, penuh perasaan dan kasih sayang hingga air mata meleleh pelan. Kenapa semua ini bisa terjadi padaku, bidadariku? Apakah ini yang artinya takdir? Jika memang demikian, kenapa aku ditakdirkan jatuh ke dalam kelam?

Seperti malam ini saat di luar rumah hujan, aku rindu padamu. Rindu sekali. Aku keluarkan sepatumu dalam hatiku dengan sangat hati-hati. Aku letakkan di atas pangkuanku. Ah! Kau sungguh lucu dan menggemaskan saat kau mengenakan sepatu itu untuk pertama kalinya. Kau melenggak-lenggok seakan kau peragawati tercantik seluruh jagat raya ini. Rambut hitam panjangmu kau sibakkan ke kanan-ke kiri, lalu tersenyum padaku. Kau berjalan lagi. Aku menyaksikan semua gayamu dengan perasaan bangga sekaligus haru.

Kita berdua saat itu. Ibumu meninggalkan kita selamanya saat melahirkanmu. Itulah untuk pertama kali aku mengalami duka yang sungguh pedih.

“Selamat, anak sampean perempuan, tapi maaf, ibunya ndak ketulungan,” kata bidan puskesmas.

Terasa aneh memang, kabar gembira dan duka menjadi satu, lalu bagaimana aku harus menanggapi kabar seperti itu? Aku sangat sedih kehilangan ibumu, aku juga sangat gembira menerima kehadiranmu.

“Rawatlah anak kita baik-baik, Mas.”

Ah, aku teringat ibumu berkata seperti itu sebelum melahirkanmu. Betapa bodohnya aku, kenapa aku tak mempunyai firasat jika itu adalah wasiat terakhir ibumu? Aku hanya mengangguk dan membelai rambut ibumu ketika dia berpesan seperti itu.

Berhari-hari aku seperti anak kecil yang kehilangan kucing kesayangannya. Aku dan kau, anakku, mengurung di dalam rumah. Meski demikian aku harus tetap memperhatikanmu agar kau tetap bisa menghirup napas. Memberimu susu, memandikanmu, mengganti popokmu bila kau kencing dan buang air besar. Aku harus menjaga amanat ibumu, agar ibumu di atas sana tersenyum melihat kita saling mencintai.

Merawatmu sendirian tentulah tidak mudah, butuh kesabaran berlapis. Dan kadang persediaan sabar itu habis saat kau menangis tiada henti. Kepala seakan ingin meledak. Aku kebingungan kenapa kau menangis tiada henti? Lalu timbul niat ingin membunuhmu, mencekikmu agar suara tangismu hilang tertelan bumi, agar aku tak terganggu lagi dengan suara tangismu. Berkali-kali jika aku sudah muak dengan perjalanan hidup kita, aku selalu ingin mencekikmu, tapi berkali aku iba melihat wajah lucumu itu, iba melihat jari-jari mungilmu. “Oh, maafkan aku, anakku.” Aku lalu menciumimu dan kau seperti mengucapkan terima kasih ketika jari-jari mungilmu menyentuh wajahku.

***

Kesulitan demi kesulitan tak terasa berlalu, kesabaran demi kesabaran untuk merawatmu berjalan seiring dengan bertambah usiamu. Mawar itu tak lagi kuncup, kini sudah mekar dengan aroma memabukkan. Usiamu sudah enam tahun, kau mulai bisa menyanyi meski suaramu tak jelas dan aku tak tahu lagu apa yang sedang kau nyanyikan. Tapi semua tingkahmu itu sungguh menggemaskan.

“Ayah, aku mau nani.”

“Oh, ya? Mau nyanyi apa, Sayang?”

“Elangi…”

“Pelangi? Baik.”

Kau mulai menyanyi sambil berlenggaklenggok. Aku mendengarkan sesekali membetulkan kata-kata yang salah kau ucapkan. Lalu aku bertepuk tangan usai kau menyanyi.

“Suaramu bagus, kamu ingin jadi penyanyi?”

“Iya.”

Dan akhirnya kami berpelukan.

Kenangan yang mengharu-biru, kenangan yang selalu merobek-robek sekat hatiku. Kenapa aku tak bisa melepaskan semua kenangan itu? Kenapa aku tetap menyimpan sepatumu dalam hatiku, anakku? Bahkan selalu merawat dan menjaga sepatumu?

Kalian, kau dan ibumu adalah orang-orang yang sangat aku cintai.

“Napa Ayah nangis?” tanyamu dulu pada suatu malam.

Aku memelukmu erat. “Aku rindu Ibumu.”

“Ibu?”

Aku mengangguk dan menatapmu lekat.

“Aku unya Ibu? Pakah Ibu antik?”

“Iya, Ibu cantik sepertimu.”

Mengingat kenangan itu membuat aku bergetar. Sepatumu di atas pangkuan ikut bergetar. Aku merasa menjadi lelaki paling rapuh di jagat ini. Aku merasa sendirian menjalani hiruk-pikuk kekacauan jagat ini. Ah, anakku! Aku sekarang menjadi lelaki pembenci. Aku benci rumah sakit itu. Benci dengan orang-orang yang ada di dalam rumah sakit itu. Mereka bukan manusia, mereka setan berwajah manusia. Manusia harus punya hati, harus punya rasa iba, tapi sama sekali mereka tak punya!

Malam hari aku terbangun saat kau mengigau. Aku pegang keningmu. Panas! Kau mulai mengejang. Naluriku mengatakan ada yang tak beres dalam tubuhmu. Aku bergegas pergi ke tetangga sebelah minta tolong agar membawamu ke rumah sakit. Dengan menggunakan sepeda motor kita dan tetangga kita menerobos dinginnya malam menuju rumah sakit. Aku memelukmu erat sambil berdoa agar tak terjadi apa-apa pada dirimu. Sampai di rumah sakit aku langsung menggendongmu menuju UGD.

“Maaf, Bapak harus mendaftar dulu,” kata petugas rumah sakit.

Aku menyerahkanmu pada petugas rumah sakit dan langsung menuju loket pendaftaran pasien baru. Dan inilah malapetaka itu.

“Bapak harus membayar dulu biaya rumah sakit minimal separuhnya dulu.”

“Saya lupa bawa uang, Bu, nanti saya bayar,” kataku mengiba.

“Tapi peraturan rumah sakit seperti itu.”

“Tolonglah, tangani anakku dulu, suhu badannya tinggi.”

Mereka seperti robot, wajahnya polos tak punya empati sama sekali. Mereka tetap berpegang pada peraturan rumah sakit. Aku murka anakku! Sungguh keji mereka memperlakukanmu seperti itu.

“Anjing! Di mana hati kalian?!”

Aku kembali ke dalam dan mengambilmu. Bersama tetangga, kita berboncengan mencari rumah sakit lain. Aku lihat wajahmu semakin membiru. Laju motor seakan sangat lambat. Aku pegang keningmu. Dingin! Oh, apa yang terjadi pada dirimu anakku? Aku tak bisa mendengar suara napasmu. Berkali-kali aku berdoa semoga kau membaik. Aku kebingungan di atas jok motor, apa yang harus aku lakukan anakku? Dan saat itulah aku menangis. Aku memelukmu, inilah kali kedua aku merasakan pedih yang sangat dalam. Pedih yang tak mungkin bisa dihilangkan dari ingatan.

***

Sepatu berukuran 28 itu dulu milik anakku, bidadari kecilku. Warnanya pink, warna kesukaannya. Kini pemilik sepatu itu telah pergi menyusul ibunya di surga.

 

Solo, Rumah Mimpi, 2017.

Advertisements