Cerpen Yetti A. KA (Padang Ekspres, 18 Februari 2018)

Lus Senang Berlari ilustrasi Orta - Padang Ekspres
Lus Senang Berlari ilustrasi Orta/Padang Ekspres

LUS sangat senang berlari. Teman-teman meneriakinya, “Lus!” “Lus!” dan ia bersiaga untuk lari jika ada seorang guru yang mencoba mendekatinya. Kaki Lus panjang sekali. Mirip kaki burung bangau. Dengan kaki panjang itu ia tampak menjulang di antara teman seumurannya. Dan Lus hanya ingin berlari. Teman-teman Lus berada di kelas dan belajar matematika bersama bapak guru yang memegang rol kayu. Lus tidak suka rol kayu itu. Rol kayu bikin ia gemetar—kedua kakinya yang paling gemetar, padahal kaki itu harus membawanya terus berlari. Maka Lus tidak pernah mau masuk lagi ke kelas. Ia tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Lus anak bodoh, kata teman-temannya. Mulut Lus yang lebar tertawa. Anak-anak itu geram kepada Lus yang tertawa. Mereka melemparinya dengan kerikil atau potongan kayu dan Lus pun dengan cepat berlari dan berlari.

Teman-teman Lus tumbuh menjadi remaja. Dan Lus tetaplah Lus yang tidak akan pernah berubah. Ia mengenakan celana pendek dan itu terlihat tidak pantas lagi untuk kakinya yang panjang. Namun, Lus hidup dengan caranya sendiri. Ia tidak terikat dengan kepantasan atau ketidakpantasan. Lus tidak memikirkan apaapa selain kedua kakinya yang harus terus berlari. Dan mulutnya yang lebar itu semakin mudah tertawa. Teman-teman Lus yang sudah remaja itu makin senang mengganggu dan menjadikannya bahan lelucon dan hiburan. Lus senang diberi makanan. Lus pasti mendekat. Mulut Lus itu seperti tong sampah yang bisa diisi oleh apa pun. Teman-teman Lus memberi sebungkus roti. Lus menangkapnya dengan cepat dan setelah itu membawanya lari seperti seekor anjing mendapat sepotong tulang. Teman-teman Lus terpingkal. Mereka merasa itu lucu sekali. Cara Lus menangkap roti. Cara Lus membawanya lari. Di kelas, mereka jarang sekali bisa tertawa. Mereka tidak boleh membuat kegaduhan. Tugas-tugas harus dikerjakan tepat waktu. Jika tidak, mereka gagal naik kelas. Teman-teman Lus takut tidak naik kelas. Lus tidak pernah dihantui oleh ketakutan itu. Mulutnya yang lebar berdecap-decap menikmati roti. Muka teman-teman Lus di kelas mendadak pucat sebab kebanyakan dari mereka lupa belajar tadi malam dan tidak siap dengan kuis dadakan.

Lus memang paling suka bermain di sekitar sekolah. Selain karena teman-temannya berada di sana—sepanjang pagi hingga siang, Lus juga berkesempatan dapat makanan—baik itu makanan baru atau sisa-sisa orang. Lus tidak keberatan mendapatkan jenis makanan apa pun. Ia senang perutnya kenyang. Dan ia makin banyak tertawa. Tawa Lus bisa menghibur orang. Anakanak yang lebih kecil bersorak, “Orang gila!” “Orang gila!” Lus tidak gila. Ia hanya anak bodoh. Bukan karena ia tidak mau belajar, melainkan memang ada yang salah dengan isi kepalanya, sejak awal, sejak ibunya merasa ada janin Lus dalam rahimnya dan perempuan itu meninju-ninju perutnya sendiri dengan perasaan ngeri tanpa alasan yang terlalu jelas, tak terpahami, bahkan oleh suaminya sendiri.

Di rumah, saudara-saudara Lus sering menyebutnya idiot. Ibunya tidak pernah memarahi anak-anaknya yang bermulut kotor itu. Mereka tidak bersungguh-sungguh kok, pikirnya. Mereka hanya kesal saja karena Lus susah sekali diberi tahu tentang sesuatu. Kenapa kau ini, Lus? Lus terlalu sering bikin malu. Mereka juga punya perasaan dan apa yang mereka rasakan itu sebuah kejujuran. Memiliki saudara yang aneh memang sangat berat dan membebani. Mereka mesti menanggung ejekan.

“Jangan berisik, Idiot,” teriak kakak laki-laki Lus. Ia meluapkan kemarahan yang sudah menumpuk dalam dirinya.

Mulut Lus tidak bisa diam ketika berada di meja makan. Ia menggumam. Selalu menggumam saat mulutnya penuh makanan. Ibu mereka menatap lembut kepada anak laki-lakinya yang baru saja berteriak dan tak berkata apa-apa. Ia sudah lelah mengeluarkan suara, setiap harinya, setiap jam-jam yang penuh keributan, untuk enam orang anaknya. Mereka yang kadang melempar sesuatu sembarangan. Mereka yang ingin diperhatikan dengan memecahkan barang-barang. Enam orang anak—apa lagi yang ia miliki setelah itu selain tubuhnya yang makin kering dan runcing? Tubuh yang sewaktu-waktu menjelma gunting dan ia ingin memotong tirai-tirai, selimut, pakaian, handuk atau melubangi kain sofa. Ia ingin merusak apa saja yang ditemukan oleh matanya. Ia ingin hancur bersama kain-kain itu. Ia ingin dan ingin, tapi tak pernah mampu melakukannya.

Dan Lus tertawa mendengar teriakan kakaknya itu. Memang begitulah Lus. Ia tidak mengerti sama sekali kalau teriakan itu ditujukan kepadanya. Ia pikir kakaknya sedang meluapkan perasaan gembira sama seperti saat tim sepak bola kesayangannya baru saja memasukkan bola ke gawang lawan. Lus memang senang menonton bola—tentu bersama saudarasaudaranya. Dan ia selalu bersorak tiap tim mana pun yang memasukkan bola. Hidup Lus penuh kegembiraan dan seolah-olah tak ada yang bisa melukainya. Saudara-saudaranya tidak suka melihat Lus hanya bisa bergembira—bagaimana mungkin mereka terjerembap dalam rasa iri kepada Lus yang idiot itu? Mereka menggampar pipi Lus. Lus tentu tertawa-tawa. Mereka makin marah. Lus makin banyak tertawa.

Ibunya tetap hanya akan diam saja. Mulutnya yang kecil tertutup rapat. Ibunya tentu saja mencintai Lus—meski dengan caranya sendiri dan sulit dimengerti orang lain. Saat Lus lahir, ia menatap kedua mata yang ramah—mata bayi Lus—dan ia tahu anak itu seperti tengah membujuk hatinya. Dan di saat-saat tertentu ia hanya ingin mengingat mata bayi itu—terlebih ketika terjadi keributan di meja makan, sementara ia mengawasi di sudut dapur atau di dekat jendela. Anak sulungnya sekali lagi berkata, “Idiot!” Ia memejamkan mata—dan sebuah pertarungan terjadi dalam dirinya— dan sekuatnya ia tetap hanya ingin mengingat sepasang mata bayi itu agar ia tak perlu berkata apa-apa, agar ia tidak perlu menambah kemarahan dan membuat semua lebih buruk. Mata Lus mengerjap-ngerjap seakan mau berkata, “Lihat mataku yang sekarang, Ibu, jangan terus menatap ke masa lalu.” Itu sama sekali bukan suara Lus, melainkan suara dalam kepalanya—kepala Ibu Lus yang murung. Lus sendiri tak pernah meminta apa-apa. Lus tidak tahu apa-apa soal mata atau cinta. Satu-satunya suara yang paling sering keluar dari mulut itu adalah makan atau makanan atau gumamam yang tidak pernah jelas.

Lus tidak akan lama berada di meja makan. Setelah piringnya kosong, ia segera bangkit. Ibunya berkata, “Ini bukan saatnya lagi bermain.” Lus tertawa. Ia tidak pernah mengenal waktu yang tepat untuk melakukan ini dan itu. Kalau memungkinkan, dalam hidup ini, ia hanya ingin berlari—ditambah banyak makan. Ibunya tahu sekali soal itu. Namun, ia tetap saja ingin melontarkan sebuah nasihat tak berguna itu seakan-akan hari ini ia akan menemukan Lus yang berbeda dan sama sekali tidak dikenalnya. Dan ia tidak tahu apakah akan bahagia atau tidak jika itu terjadi.

“Idiot itu menyusahkan kita semua.” Terdengar lagi suara si anak sulung. Anak itu memang sangat mendominasi di meja makan setiap mereka makan bersama. Anak itu kadang sangat kelewatan. Ibunya tetap memilih tak bertindak apa-apa dan berkutat dengan apa yang ia ingin pikirkan saja. Ayah anak-anak itu sudah lama tidak ikut kegiatan makan malam bersama dalam rumah itu. Setiap sore ia berangkat ke peternakan ayam. Sepanjang malam ia menjaga ayam-ayam itu; memastikan listrik mengalir di tiap bola lampu. Ayam-ayam harus hangat sepanjang malam—terutama di musim hujan. Kalau tidak, ayam-ayam akan mati dan mereka bisa rugi besar dan tak mampu mengembalikan modal. Mereka bertahan hidup dengan usaha peternakan itu. Perut Lus yang lapar dan lapar dan minta diisi. Perut anak lelaki lainnya. Hanya saja, ayahnya paling tak suka perut Lus yang lapar itu. “Apakah di dalam perut itu ada seekor binatang?” hardik ayahnya. Bukan. Ibunya tahu ayah anak-anaknya itu bukan sedang mempermasalahkan berapa banyak Lus menghabiskan makanan yang mereka cari dengan susah payah, melainkan ia tak pernah bisa menerima dalam keluarganya ada seorang anak lelaki yang tidak beres. Lalu seperti ibunya, ayahnya itu juga memilih sendiri cara ia mencintai—tapi, sungguhkah itu cinta? Sungguhkah ini cinta, bisik ibunya mengembalikan pertanyaan itu ke dirinya sendiri dan ia begitu takut mendapati sebuah kenyataan paling jujur dalam hatinya.

Lus sudah pasti tidak mempermasalahkan apa pun. Itu sudah menjadi tabiat yang sama sekali tidak diragukan lagi. Ia mengabaikan teriakan kakak sulung atau seandai mendengarnya itu sama sekali tak penting baginya. Ia tak pernah memikirkan perasaan ibu atau ayahnya terhadap dirinya. Kaki Lus yang panjang melesat ke jalanan. Ia melewati anak-anak yang bergerombol di pinggir jalan—anak-anak yang, meski dilarang, kebanyakan tetap keluyuran di malam hari. Mereka berteriak, “Lus!” “Lus!” Lus bertambah gembira mendengar suara anak-anak itu. Waktu kecil, teman-temannya juga meneriakinya seperti itu. Sekarang teman-teman Lus sudah jarang berteriak. Mereka lebih senang melemparkan sesuatu dan Lus menyambarnya. Lus pun lebih suka permainan semacam itu. Sesuatu yang mereka lempar pasti sebongkah makanan—meski memang sesekali berupa benda yang sengaja dilempar untuk mempermainkan sekaligus menyakitinya. Anak-anak itu terus saja lupa bahwa Lus tak bisa disakiti oleh apa-apa. Anak-anak itu harus sering-sering diberi tahu. Maka ibu mereka berteriak dari teras meminta anak-anak itu berhenti mengurusi si idiot.

Di jalan, Lus berlari sendirian, tanpa ada lagi yang mengganggu. Ia berharap bertemu teman-teman remajanya yang melarikan diri dari kewajiban belajar menjelang ujian. Teman-temannya itu sudah lama tidak lagi bergembira bersamanya. Terakhir kali mereka melemparkan sebongkah roti kepadanya dan saat itu mereka terbahak-bahak. Hanya saja, itu sepertinya tak akan terulang lagi. Lus mulai belajar menyukai bintang-bintang di langit. Mereka adalah teman baru Lus. Sayangnya bintang-bintang yang ramai itu tak pernah melemparkan sebuah roti dan terbahak-bahak setelahnya seperti yang dilakukan teman-temannya.

Di rumah, ibunya menunggu Lus pulang. Dan ia bertanya kepada dirinya, “Sungguhkah aku menunggunya pulang?” Perempuan itu mencubiti kulit di tubuhnya, semua kulit di tubuhnya, untuk sesuatu yang tidak ia mengerti. Mulut Lus tertawa semakin lebar. Bintangbintang bertambah banyak di langit. Lus berlari sambil tertawa kepada bintang-bintang itu. Berlari tanpa henti. (*)

 

BRK, 2017

Yetti A.KA, buku kumpulan cerpen terbarunya, Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017).

Advertisements