Cerpen Teguh Affandi (Kedaulatan Rakyat, 18 Februari 2018)

Kartu Kuning ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Kartu Kuning ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

MAUT datang menjemputnya. Bendri sendiri sudah mafhum bahwa Maut suatu waktu pasti akan datang, mengetuk pintu perlahan tapi memekakkan gendang telinga. Bendri yakin dia tidak seperti orang lain, dia bisa mengundur kedatangan Maut tidak hanya sedetik.

Sudah sering Bendri dengar, Maut menjemput dengan rupa yang berbeda-beda di setiap manusia. Bisa serupa raksasa, serupa ular naga, atau gadis semanis Nella Kharisma. Tapi, sebagai mantan wasit sekaligus penggila Manchester United garis keras, Bendri ingin Maut datang berwujud Setan Merah atau paling tidak salah satu legenda MU yang dia idolakan semenjak kelas dua sekolah dasar, Bobby Charlton.

“Tidak mungkin. Aku bakalan kesusahan. Aku tidak bisa bahasa Inggris,” Bendri menampik idenya sendiri. “Kalau aku kikuk dan tidak pandai berkelit, bisa-bisa Maut ngotot menjemput.”

Sore itu, selepas membersihkan badan, Bendri duduk di ruang tamu. Dan ketukan Maut mengagetkannya. Maut datang. Kali ini dia menyaru jadi apa, bisik Bendri.

“Mari masuk, Maut,” Bendri membuka pintu. Mata Bendri terbelalak. Maut yang menjemput kali ini adalah lelaki yang seumuran dengan Bendri, rambutnya putih acak-acakan seolah tak diumbah semingguan. Bukan legenda MU idola Bendri. Maut hanya memakai jersi MU, merah pudar dengan beberapa jahitan lepas, tanda jersi KW delapan atau sembilan.

“Saya berharap Anda datang sebagai Bobby Charlton,” Bendri menyilakan Maut duduk. Maut menyahut dengan tawa kecil.

“Saya dititahkan untuk menjemput Anda.”

“Sudah tahu. Namun, izinkan saya menjamu. Anda tamu saya hari ini. Teh atau kopi?” Ini adalah rencana Bendri untuk mengulur-ulur waktu Maut.

“Yang cepat saja. Air putih,” Maut menjawab.

Bendri masuk ke dapur. Di dapur, Bendri sengaja tidak menggunakan air panas di dispenser. Namun, menyalakan kompor dan mendidihkan air untuk teh Maut. Harus dibuat lama.

Bendri sengaja membuat suarasuara; panci sengaja dibenturkan di tepi nakas, suara tombol kompor, atau denting cangkir tersenggol sendok. Setelah setengah jam, Bendri keluar dengan dua gelas teh.

“Maaf, lumayan lama,” Bendri menyuguhkan teh. Maut menyeruput sedikit. “Tapi Saya suka sekali dengan jersi Anda. Pemain bola yang tua.”

“Sudah waktunya. Mari,” Maut berdiri dan meraih tangan Bendri.

“Tunggu! Begini-begini saya dulu wasit nomor satu di Indonesia. Saya beri kartu kuning!” Bendri mengeluarkan kartu kuning.

Maut tersenyum mengejek.

“Sekarang kartu merah! Kamu saya usir keluar! Saya ogah dijemput!” Bendri menyorongkan kartu merah di muka Maut.

Maut kembali tersenyum. “Saya ini orang tua yang buta warna, Bendri!”

 

Teguh Affandi, menulis esai, resensi, dan cerpen di berbagai media massa. Menerima Green Pen Award Perhutani, juara sayembara cerpen Femina, Pena Emas PPSDMS Nurul Fikri. Sekarang domisili Jakarta sebagai editor buku.

Advertisements