Cerpen Daruz Armedian (Banjarmasin Post, 18 Februari 2018)

Kabar dari Semar  ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post.jpg
Kabar dari Semar ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group 

“Raden, saya benar-benar tidak tahu siapa yang menaruh pistol itu di meja ruang tamu rumah saya.”

Semar berkata seperti itu pada suatu ketika tuannya, Raden Said, bertanya muasal pistol dengan peluru yang tinggal tiga itu. Mendengar ucapan Semar sambil memelas, Raden Said cuma manggut-manggut, sesekali meneguk kopinya yang masih hangat. Lalu mencomot pisang goreng yang ada di nampan.

“Menurutmu, siapa?” kata Raden Said sambil menyalakan korek api yang kemudian digunakan membakar ujung rokoknya.

Semar hanya menggeleng. Menggeleng sambil menunduk. Sepasang matanya tidak berani sama sekali menatap tuannya.

Sebenarnya, ia juga ingin menyeruput kopi sambil makan gorengan. Terlebih lagi ketika membaui asap tembakau yang dilinting dengan klobotan, daun jagung kering. Akan tetapi, ia merasa hal itu tidak sopan. Maka, ia hanya menatap perutnya, yang walaupun besar seperti perut orang hamil, tetapi menanggung lapar yang amat sangat. Ia berharap si tuan menawarkan. Tetapi, belum tuntas ia berharap, harapan itu terkabul.

“Jangan takut begitu. Ini, makan dulu gorengannya.”

Raden Said berseloroh sambil menahan geli melihat Semar malu-malu tapi mau.

Dan sejurus kemudian, Raden Said merenung kembali. Ia bingung dan bertanya-tanya, siapa yang berani-beraninya membawa alat modern di zaman yang masih kuno? Perlu diketahui, di dunia, waktu itu, belum ada sama sekali yang namanya pistol. Tentara-tentara, bala perang, masih menggunakan tombak, pedang, panah, dan lain-lain. Lenin, Stallin, Hitler, Mao Zedong, Saddam Hussen, Bush, Osama Bin Laden, Imam Samudra, belum lahir.

“Raden, apa di pikiran Raden, saya yang sengaja menyembunyikan pistol itu?”

Semar memberanikan bicara lagi. Ia takut tertuduh. Takut sekali. Pasalnya, ketika bangun tidur dan beranjak dari kamar, tiba-tlba ia menemukan sebuah pistol teronggok di atas mejanya. Pistol itu masih hangat, seperti baru saja digunakan menembak.

Sebenarnya, kalau cuma pistol teronggok di meja begitu saja, tidak akan serumit itu. Masalahnya, bersamaan dengan pistol tergeletak di meja, ada kabar bahwa telah ditemukan: orang mati dengan kepala yang luka ditembus peluru.

Orang itu diketahul bernama Sengat Ibrahim. Rambutnya panjang, ia pintar dalam hal strategi peperangan. Tetapi, ia sangat miskin. Rumah pun tak punya. Makan di mana saja. Dan, hanya satu yang baik darinya: ia selalu membantu rakyat-rakyat miskin. Seperti namanya, kata-katanya selalu menyengat para penguasa, yang dalam hal ini, para raja.

“Aku tidak menuduhmu apa-apa. Aku hanya bingung, siapa pemilik benda berbahaya ini.” Raden Said angkat bicara lagi.

“Oh, baiklah kalau begitu, Raden!” Semar lega.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba mata Raden Said nanar. Ia dapat ide.

“Mari kita cari sama-sama siapa pemiliknya.” Dengan cepat ia menggenggam tangan Semar. Mereka meluncur ke masa depan. Ke dunia modern. Sebab, Raden tahu betul, pistol hanya ada di dunia modern.

Hanya sekejapan mata mereka sampai pada tempat tujuan.

“Di mana ini, Raden?” Semar mengatakan seperti itu karena terkejut.

Bagaimanapun, ia tidak pernah melihat hal-hal seperti ini: cuaca panas, udara abu-abu seperti berdebu, besi-besi berjalan dengan suara bising, besi-besi terbang bak burung, orang-orang lalu lalang tanpa menyapa sesamanya, dan lain-lain.

Entah bagaimana caranya, Raden Said bisa tahu di mana pistol itu dibuat. Ia langsung menuju ke sebuah tempat yang asing sama sekali bagi Semar. Pabrik pistol. Di sana, Raden Said langsung menemui pemilik pabrik itu. Seorang lelaki tua dengan uban di kepala, dengan penjaga di kanan dan kirinya. Setelah perbincangan agak lama, si pemilik pabrik memberi jawaban pasti mengenai pistol itu.

“Ini buatan tahun enam puluhan. Yang memesan adalah jendral bintang lima. Ya, aku masih sangat ingat hal itu. Tetapi sayang sekali, beliau sekarang sudah mati. Jadi kamu nggak mungkin mewawancarainya, kan?”

“Katanya, beliau butuh pistol yang bisa menembus masa lalu. Sebab, di masa itu ada orang bernama Ibrahim, yang dari keturunannya, akan menggagalkan semua rencana-rencana beliau. Beliau ingin jadi presiden.”

Mendengar penjelasan itu, Raden Said langsung paham. Ia berpikir: Jahat sekali orang yang mengirimkan pistol ini. Bahkan orang yang ada di masa lalu pun mesti dibunuh. Jabatan memang telah banyak membuat manusia jadi gila.

Di samping itu, Semar hanya melongo. Tidak mengerti maksud apa pun. Ia bingung dengan dunia masa lalu dan masa depan yang memang membingungkan itu. Akhirnya, yang ia pikirkan saat itu hanya pulang ke tempat yang teduh. Ngopi dan ngerokok. Ia tidak mau memikirkan kabar apa pun mengenai pistol itu, yang walaupun ia sendiri yang mengabarkannya pertama kali. ***

 

Daruz Armedian, lahir di Tuban, Jawa Timur. Penggiat Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ini tercatat sebagai mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Penulis tetap di tubanjogja.org ini tinggal di Yogyakarta.

Advertisements