Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 18 Februari 2018)

Ibuku Perempuan Mong Kap San ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Ibuku Perempuan Mong Kap San ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

IBUKU, kau tahu, tidak bisa berbahasa Indonesia. Ia juga tidak menguasai bahasa Melayu lokal, kecuali hanya segelintir kosa kata umum. Itu pun—sebagian di antaranya—dengan ejaan dan artikulasi yang jauh dari sempurna. Maklumlah, selain bunyi huruf ‘R’ yang menjadi momok bagi banyak orang Tionghoa di Indonesia, lidahnya juga tampak begitu sulit mengeja kata-kata yang berakhiran ‘S’. Contohnya kata “pedas” yang selalu saja dilafalnya jadi “pedat”.

Tunggu, jangan salah menduga. Seperti yang telah aku ceritakan dalam kisah-kisah sebelumnya, ibuku sama sekali bukanlah China totok. Bahkan sebagai China peranakan yang lahir dan besar di Bangka sekalipun, silsilahnya sudah tak lagi terlacak. Sehingga, tidak seperti pohon keluarga ayahku yang masih rimbun sampai beberapa generasi ke atas, kami tak pernah tahu dirinya sudah terhitung generasi ke berapa dari leluhurnya yang bermigrasi ke Nanyang.

Kukira hal ini karena keluarga besar Mama bukanlah berasal dari kalangan yang cukup berpendidikan seperti halnya keluarga Papa yang datang sebagai pedagang. Kemungkinan besar—sebagaimana halnya kebanyakan nenek moyang orang Tionghoa di Bangka-Belitung—leluhur Mama adalah satu dari ribuan petani yang memutuskan meninggalkan China Daratan untuk mengadu nasib ke seberang lautan pada masa-masa sulit selepas Perang Candu dan Pemberontakan Taiping.

Barangkali kakek dari kakek ibuku ini datang ke Pulau Bangka sebagai kuli penambangan timah pada awal abad ke-19 atau akhir abad ke-18. Ia mungkin didatangkan dari pasar-pasar kuli di Singapura atau Penang, yang pada masa itu memang tercatat sebagai pusat perdagangan tenaga kerja yang tak hanya mengirim para calon buruh ke daerah-daerah koloni Barat di Asia Tenggara, tetapi juga ke Macao dan California. Atau, bisa jadi pula ia direkrut langsung oleh para agen kuli di desanya.

Toh demikian, aku ingat Mama pernah bercerita kalau salah seorang kakek buyutnya (entahlah kakek buyut yang ke berapa) memiliki pedati kerbau…

***

YA, ibuku memang berasal dari keluarga China peranakan telah lama beranak-pinak di pulau kecil kami. Karena itu, kendati masih memegang ketat berbagai tradisi Tionghoa, keluarga Mama juga memiliki kebiasaankebiasaan yang jauh berbeda dengan para pendatang baru seperti keluarga Papa. Mulai dari bahasa Hakka dan logat yang mereka pergunakan sehari-hari, pakaian keseharian, sampai pada masakan dan kue-kue.

“Makanan Mong Kap San,” begitulah kata Akong setiapkali ibuku memasak masakan masakan khas China peranakan atau masakan Melayu Bangka. Ia biasanya akan mencoba menikmati masakan-masakan yang pada mulanya begitu asing bagi lidah totoknya namun perlahan akhirnya ia akrabi juga itu tanpa banyak bicara. Lain halnya kalau yang dimasak oleh Mama tersebut masakan Hakka Jiaying Zhou, Akong bakal serta merta melontarkan pendapatnya: Tak pelit memuji jika enak, dan tak segan pula mengkritik jika rasa masakan itu kurang pas di lidahnya!

Tentu saja aku menyukai semua masakan peranakannya Mama, juga masakan-masakan Melayu. Lidahku kukira adalah lidah terasi (belacan, kata orang Bangka). Karena itu, seperti Mama, aku juga penggemar berat lalapan daun singkong dan kangkung rebus dengan sambal rusip dan calok. Namun begitu, masakan Mama yang menjadi kesukaan di masa kecil tetap saja sup daging babi yang dimasak dengan fung khiuk, yakni sejenis bumbu sup berwarna merah yang hanya bisa diperoleh di toko obat China. Sup ini konon merupakan resep khas keluarga Jiaying Zhou.

Mau tahu apa penganan buatan ibuku yang selalu membuatku ngiler? Tak lain adalah Nyong Theu Fu! Sayang sekali, tahu isi ala Hakka terkenal ini hanya dibuat setahun sekali, yakni pada setiap perayaan Cap Go Me.

Mama juga pandai membuat kue. Bermacam-macam kue. Dari kue-kue kering seperti kue semprit, kue rintak (ia menye butkan kek edung) nastar nanas, kue sagu, kue cokelat (alias bupan atau kue hitam!), kue semprong, kastangel, lidah kucing, sampai bolu gulung dan rajanya kue yaitu maksuba!

Empat belas hari menjelang Tahun Baru China, Mama biasanya sudah mulai membuat kue-kue Ko Ngian itu. Dan pada usia SD, aku paling suka “menganggu”-nya dengan alasan ingin membantu. Kerapkali Mama membiarkan saja aku ikut mencetak adonan kue yang sudah diratakannya di atas dampar kayu dengan cetakan-cetakan kaleng yang bermacam-macam bentuk (ikan, hati, burung, ayam jago, lingkaran berlubang, segi empat, mobil) atau mengolesi kue-kue yang telah tercetak di atas loyang dengan kuning telur menggunakan sehelai bulu ayam sebelum dipanggangnya dalam belanga tanah liat besar.

Tentu saja sambil membantu, tanganku juga seringkali memasukkan kue-kue itu ke dalam mulut. Terkadang Mama sampai mendelik jika memergokiku melahap kue-kue panas yang baru saja diangkat karena kuatir aku bisa sakit tenggorokan. Kalau sudah demikian, ia pun akan serta merta mengusirku keluar dari dapur atau berteriak memanggil Papa atau Akong agar segera “mengamankan” diriku. Bahkan ia sama sekali tidak mengizinkanku masuk ke dapur saat ia membuat kue maksuba. Maklum, jenis kue lapis dengan 20 butir telur ini membutuhkan konsentrasi cukup tinggi dan waktu yang panjang sampai delapan jam. Adonannya harus benar-benar terkocok rata, dan api belanga juga mesti benar-benar terjaga: tak boleh terlalu besar, tak boleh pula terlampau kecil.

Ya, itu semua adalah kue-kue kampung khas Melayu yang lazim tertata rapi dalam toples di atas meja ruang tamu setiap keluarga Tionghoa di kampung kami setiap kali Tahun Baru China. Yang niscaya juga bakal kau temukan di rumah-rumah Melayu ketika Lebaran.

Lantas, bagaimana dengan kue-kue China?

Seingatku, kue-kue khas China yang bisa dibuat oleh ibuku hanyalah Fat Pan alias kue apem dan kue Siak Jan yang kami santap dengan air jahe pada setiap perayaan Ko Tung alias Hari Raya Dong Zhi. Sementara kue keranjang untuk menambal langit pada setiap perayaan Tian Chuan Ngit biasanya jika tidak dibeli Akong di pasar, akan dipesan Mama dari seorang tukang kue kenalannya.

***

“BAGAIMANA cara ibumu berkomunikasi dengan orang-orang yang bukan orang Hakka kalau ia tidak bisa berbahasa Indonesia?” tanya seorang temanku di Taiwan yang merasa heran tatkala mendengar ceritaku. Ah, aku sudah lupa seperti apa persisnya jawabanku pada saat itu. Kurasa kalian yang tidak mengenal kampungku secara dekat pun mungkin akan menanyakan hal yang serupa, bukan?

Ya, dengan kosa-kata Melayunya yang amat terbatas itulah, selama bertahun-tahun Mama saling bertegur sapa dan mengobrol dengan para tetangga kami, kenalan, dan teman-teman Melayunya, atau kawan-kawan fan ngin-ku yang datang ke rumah.

“Seperti bebek dan ayam saja!” komentar ayahku nyengir. Tetapi, kau tahu, Mama akan terus menyerocos tanpa peduli apakah yang ia bicarakan dipahami orang atau tidak. Begitu santai, hangat dan akrab seolah-olah tanpa beban. Dan lawan bicaranya pun tampaknya juga tidak terlalu ambil pusing apakah ibuku mengerti kata-katanya. Toh, menurutku, umumnya mereka bisa saling memahami secara garis besar apa yang mereka percakapkan. Bahkan saat aku masih SD, Mama sempat berkawan karib dengan bibi seorang teman sekelasku yang nyaris tidak mengerti bahasa China. Keduanya selalu saling mengunjungi, apalagi pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Tahun Baru China.

Namun, untunglah di kota kecilku Belinyu, kau tahu, ada banyak orang Melayu yang bisa berbahasa Hakka, bahkan dengan logat yang lumayan bagus. Tentu bukan bahasa “Hakka murni” sebagaimana lazim dipergunakan oleh mereka yang memang berasal dari keluarga Hakka asli seperti keluarga besar ayahku, tetapi bahasa Hakka peranakan yang sudah umum dipakai dalam keseharian oleh sebagian besar orang Tionghoa di Bangka.

Ada sejumlah kenalan dan kawan akrabku orang Melayu yang boleh dikatakan cukup fasih bicara “baso Cin” ini. Bahkan ada satu keluarga Melayu tetanggaku yang hampir semua anggota keluarganya bisa bercakap-cakap menggunakan bahasa Hakka peranakan dengan lancar. Maklumlah, mereka memang sudah lama tinggal di Jalan Sriwijaya yang merupakan lingkungan Tionghoa, diapit oleh ruko-ruko; dan sejak kecil mereka berteman akrab dengan anak-anak Tionghoa. Dua anak perempuan keluarga pensiunan polisi itu, Yuk Jamilud dan adiknya Yuk Lili misalnya, saban sore kerap duduk-duduk di teras ruko kami dan mengo brol panjang-lebar bersama Mama memakai bahasa Hakka peranakan. Dan, kakak mereka, Kak Sir, yang sehari-hari berjualan mie lontong, sampai sekarang—lantaran ibuku tidak tahu cara menelepon—selalu membantu Mama menghubungiku setiap kali ada kabar yang ingin disampaikan beliau.

“Pun ti fa” atau bahasa setempat, demikianlah ayahku menyebut bahasa Hakka keluarga ibuku yang telah bercampur-aduk dengan bahasa Melayu dan memiliki sejumlah kosa-kata lokalnya sendiri ini. Bahkan banyak orang Hakka asli, terutama orang-orang tua yang merupakan pendatang dari China Daratan, enggan meng akui bahasa Hakka lokal yang dipergunakan di kampung halamanku ini sebagai bahasa Hakka. Paling banter, jika bukan pun ti fa, mereka akan menyebutnya sebagai tong boi (bahasa orang Tang), atau bahkan Blijong boi (bahasa Belinyu).

Ya, banyaknya orang Melayu yang bisa berbahasa Hakka peranakan di kampungku ini pun sempat membuat kawanku Wu Ting Kuan, seorang peneliti muda dari Taiwan, terkagum-kagum tatkala berkunjung ke sana pada tahun 2016 silam.

Ah, kukira sebetulnya bukan hal yang terlalu aneh jika ibuku tidaklah bisa berbahasa Indonesia atau Melayu. Ia memang tak pernah belajar bahasa Indonesia sama sekali, dan sejak kecil sampai akhirnya menikah dengan ayahku, ia pun lebih banyak berdiam di rumah kedua orang tuanya di perkampungan Tionghoa. Mama memang pernah bersekolah, tetapi di sekolah China (yang agaknya merupakan cabang dari Tiong Hoa Hwee Koan Belinyu). Itu juga hanya sampai kelas dua entah kelas tiga sekolah dasar.

“Aku sudah lupa,” demikianlah jawabannya setiap kali aku bertanya tentang apa yang ia pelajari dulu di sekolahnya itu.

“Nenekmu tidak mengizinkan aku dan kakak perempuanku meneruskan sekolah. Ia meminta kami mengurus rumah karena ia harus berjualan kain keliling setelah kakekmu berhenti bekerja karena sakit-sakitan,” lanjutnya sambil tertawa.

Kecuali angka-angka, Mama nyaris tidak bisa mengingat satu pun huruf hanyu kecuali namanya sendiri. Sementara alfabet yang bisa ia kenali hanyalah dari A sampai F, kendati pada usia yang lebih muda ia bisa menulis namanya dalam huruf latin berkat hafalan belaka.

Setahuku, hal yang paling diingat Mama dari masa-masa sekolahnya yang singkat itu adalah potret besar Sun Yat-sen dan Chiang Kai-sek yang tergantung di dinding kelas dan satu-dua lagu anak-anak yang diajarkan oleh guru-gurunya. Dan itu telah di ceritakannya berulang-ulang kepadaku.

Toh, ibuku bukanlah satu-satunya orang Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Indonesia di Bangka. Percayalah, apabila suatu hari kalian sempat bertandang ke kampung halamanku, niscaya akan kalian temukan banyak orang Tionghoa sebaya dengan beliau, apalagi yang lebih tua, di kampung-kampung Tionghoa yang tidak mengerti bahasa Indonesia.

Sin Palet. Begitulah Mama menyebut nama kampungnya yang sebetulnya hanya berjarak sekitar 5 km dari kota kecamatan Belinyu namun terasa begitu jauh di masa kanak-kanakku itu.

Setiap kali liburan sekolah dan pada hari ketiga Tahun Baru Imlek, kau tahu, kami wajib mengunjungi kakek-nenekku di sana. Tentu saja aku senang sekali bisa bertemu dengan sepupu-sepupuku, terutama bakal mendapatkan banyak angpao dari Ngoi Akong (kakek luar) dan paman-pamanku. Hanya saja aku tidak suka naik angkutan desa berupa pick-up yang bak belakangnya diberi atap itu; yang berbau solar dan amis oleh ikanikan belanjaan para penumpang sehingga kerap kali membuatku mabuk mobil.

***

AKONG—kendati bisa mengeraskan lidahnya untuk bertutur Hakka peranakan—kadangkala harus mengoreksi kosa-kata Mama yang membingungkannya. Hal ini lantaran Mama sering keliru mengeja sejumlah kata dan istilah. Contohnya, “cho-kin” (sambil) kerap dilafalnya sebagai “kon-kin” (mengawasi) dan koi (membuka) sering kali diejanya jadi hoi sehingga membuat kata itu kehilangan makna.

Ah, jika kupikir-pikir lagi sekarang, tampaknya keluarga Mama bukanlah keturunan Hakka. Mungkin leluhur mereka adalah orang Hokkien. Meskipun tidaklah sebanyak orang Hakka, catatan sejarah yang berhasil aku temukan toh menyatakan terdapat cukup banyak orang Hokkien, menyusul Tio Ciu dan Kanton, yang bertandang ke Pulau Bangka sebagai kuli penambang timah pada zaman kolonial.

Aku berani menarik kesimpulan demikian lantaran Mama dan paman-bibiku selalu memanggil Ngoi Akong dengan panggilan A Tia dan memanggil ibu mereka, nenekku yang berkebaya encim dan berkonde besar itu, sebagai A Bek yang kemungkinan me rupakan peralihan lafal dari A Bu.

Pada masa kecilku sampai pada tahun 90-an, penampilan perempuan Tionghoa mengenakan kebaya encim dan kain sarung dengan konde di atas kepala seperti Ngoi Apho (nenek luar)-ku ini memang bukanlah pemandangan yang langka di kampung kami. Sehingga mereka pun dengan mudah dibedakan dari perempuan Tionghoa dari keluarga totok yang selalu mengenakan busana tradisional China berupa baju piyama lengan panjang dan celana panjang ikat.

Ya, orang Mong Kap San. Begitulah para singkek seperti Akong menyebut kaum peranakan seperti keluarga ibuku. Namun sampai sekarang aku tidak pernah benar-benar paham apa makna sesungguhnya dari istilah ini. Dalam bahasa Hakka, Mong artinya memandang, Kap kemungkinan besar adalah Kap yang berarti “dan” atau “bersama”. Sedangkan San jelas berarti gunung. Menurut bibiku, sebutan ini ditujukan kepada semua orang Tionghoa yang telah lama beranak-pinak di Bangka, apa pun latar suku mereka. Tetapi ada pula yang mengatakan bahwa istilah ini memiliki kaitan dengan Laksamana Chengho yang melihat puncak gunung Maras dari kejauhan saat melintasi Pulau Bangka dalam pela yarannya ke tanah Jawa.

Kaum peranakan ini juga kerap disebut Pun Ti Ngin (atau orang lokal), bahkan kaum totok yang cukup fanatik dengan ketotokannya suka menyebut mereka sebagai Pan Tong Fan kendati mereka tidak memiliki campuran darah Melayu sedikit pun. Namun demikian, toh mereka tidaklah pernah dipanggil Kiau Sen yang lazimnya ditujukan kepada orang-orang Tionghoa di Sungailiat, Pangkalpinang, dan daerah sekitarnya yang sudah nyaris tidak bisa lagi berbahasa Hakka dan lebih banyak menggunakan bahasa Melayu Bangka dalam percakapan sehari-hari. Ya, persis seperti orang-orang Tionghoa di Pecinan Semarang yang selalu meng gunakan bahasa Jawa ngoko di rumah.

“Mama saya masih bisa berbahasa Hokkien dan sering berkomunikasi dengan kawan-kawannya menggunakan bahasa Hokkien. Tetapi anehnya, ia juga almarhum Papa saya tidak mau mengajari bahasa Hokkien kepada kami anak-anaknya dan lebih suka berbicara kepada kami memakai Jawa ngoko,” aku jadi teringat pada kata-kata buda yawan Tionghoa Semarang, Tubagus P. Svarajati belum lama ini saat berbaik hati menemaniku mengelilingi Pecinan Semarang.

Tentu… Tentu saja, ada banyak hal yang barangkali menjadi penyebab hilangnya bahasa China dari lingkungan masyarakat Tionghoa ini. Dilarangnya sekolah-sekolah China dan buku-buku berbahasa China dan dibatasi penerbitan beraksara hanyu hingga tinggal Harian Indonesia selama masa Orde Baru, kukira adalah pemicu utamanya. Demikian pula halnya dengan kecurigaan terhadap masyarakat Tionghoa dan berbagai peraturan diskriminatif lainnya yang terusmenerus dikembangkan secara sistematis oleh rezim Soeharto.

Tetapi dari pengamatanku, hilangnya kemampuan berbahasa China (terutama Mandarin) pada komunitas Tionghoa ini umumnya terjadi di kota-kota besar atau daerah yang jumlah populasi orang Tionghoa tidaklah sebanding dengan warga pribumi.

“Ape kelak luk, heu ko ta cung cuk!” begitulah dulu kami kerap mengolok-olok pemakaian bahasa Melayu oleh orang-orang Tionghoa Sungailiat dan Pangkalpinang. Dan, kau tahu, bahasa Melayu Bangka yang dipergunakan oleh orang-orang Kiau Sen ini pun memiliki keunikannya sendiri, yakni setiap kalimatnya kerap diakhiri dengan tambahan bunyi “wo”. Contohnya: “Ka nak ke mane wo?

Lalu, seperti pula halnya bahasa Hakka peranakan di kota kecilku, bahasa Melayu-Tionghoa ini juga bercampur-aduk dengan sejumlah kosa-kata Hakka dan segelintir istilah baru yang entah dari mana datangnya…

Ah, kukira olok-olokan kami tersebut tentunya cuma sekadar senda gurau anak-anak yang tak berpotensi menyakiti perasaan. Tidaklah seperti olok-olok “Tong ngin em hiau kong tong boi, em si ciu boi soi!” dari generasi ayahku terhadap mereka yang cukup sadis itu.

***

YA, dalam keluarga Tionghoa dengan orang tua yang cukup berbeda latar belakangnya seperti inilah aku dilahirkan dan dibesarkan.

Namun demikian, menurutku, kaum peranakan seperti keluarga Mama dan mayoritas orang Tionghoa di kampungku ini (utamanya mereka yang tinggal di desa-desa) seringkali jauh lebih kuat memelihara sejumlah tradisi China lama ketimbang orang-orang Tionghoa dari keluarga totok seperti keluarga ayahku yang merupakan pendatang baru, cukup terpelajar, dan hidup di bawah bayang-bayang revolusi Sun Yat-sen…

Meskipun selalu bergaul akrab dengan orang-orang Melayu, tidak seperti kaum totok yang cenderung tertutup, jarang ada di antara mereka mau berpindah agama. Kebanyakan kaum peranakan di kampung-kampung ini lebih memilih bersetia kepada kelenteng dan dewa-dewa China. Apabila kaum totok, terutama yang terdidik dalam pendidikan China modern ala Tiong Hoa Hwee Koan lebih suka menggunakan kalender Masehi atau kadangkala masih suka menandai beragam peristiwa penting dengan perhitungan Tahun Republik China yang dimulai dari 1911, kaum peranakan seperti Mama selalu loyal pada kalender lunar. Mereka juga akrab dengan fengshui dan hidup dalam banyak pantangan yang bersifat mistis.

Ah, ada satu pengalamanku sejak kanak-kanak di bawah asuhan Mama yang sulit untuk aku lupakan dan masih sulit aku pahami hingga kini. Yaitu, menyangkut keyakinan Mama bahwa pada setiap hari besar para dewa (entahlah itu hari ulang tahun atau hari moksa sosok-sosok suci itu), hujan dipastikan bakal tercurah dari langit.

Karena itu, pada masa-masa aku masih SD, tidak peduli langit tampak begitu cerah atau perkiraan cuaca di TVRI sudah menyatakan bahwa hari itu tidak akan turun hujan, ia tetap saja ngotot memaksaku membawa payung ke sekolah, bahkan menjejalkan jas hujan ke dalam tasku.

Kau tahu apa yang terjadi?

Mama ternyata jarang keliru! Walaupun tidak selalu berupa hujan deras, paling tidak pada hari itu, kau tahu, akan turun gerimis ala kadarnya yang cukup membasahi seragam sekolahku setiap kali aku mencoba membantah. Ya, begitulah! ***

 

Jogjakarta, Tahun Baru China 16 Februari 2018/Hari pertama bulan kedua 2569

 

 

*) Cerita ini adalah bagian dari himpunan cerita “Memoar Pulau Timah”.

 

 

SUNLIE THOMAS ALEXANDER Pengarang asal Belinyu, Pulau Bangka. Kini tinggal di Jogjakarta. Buku kumpulan cerpennya, Makam Seekor Kuda, akan terbit akhir Februari ini

Advertisements