Cerpen Linda A. Lestari (Radar Surabaya, 11 Februari 2018)

Sumpah Maryam ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Sumpah Maryam ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Tujuh hari dalam satu minggu, waktu Maryam dihabiskan untuk keluarga Karsa, si tukang ojek kampung. Setiap pagi Maryam bangun pukul empat tiga puluh. Salat subuh, lalu memeras pakaian dalam yang kotor, menyikat lantai kamar mandi, memasang wajan. Dan hal terakhir yang dialakukan di pagi hari adalah menghidangkan sarapan untuk Karsa dan istrinya, Farida.

Banyak orang bertanya mengapa Maryam yang miskin bekerja pada orang miskin. Secara stratifikasi, Karsa memang bukan priayi. Majikan Maryam hanyalah tukang ojek yang biasa mangkal di pertigaan jalan pantura di malam hari. Tapi lain persoalan jika orang-orang membicarakan Farida, istrinya. Farida punya banyak warisan. Tanah peninggalan orang tuanya yang terletak di dekat ladang dibiarkan kosong. Dia bingung mau dibuat apa pekarangan sebegitu luasnya. Farida adalah seorang wanita yang hampir memasuki usia kepala tiga. Tubuhnya molek. Kulit wajahnya yang kuning langsat selalu dipolesnya dengan bedak dan pemerah pipi setiap hari. Di kampung, dia terkenal sebagai penjual emas imitasi yang dikreditkannya kepada ibu-ibu yang doyan rumpi di warung-warung. Selain berbisnis emas, dia juga gemar arisan. Tentu saja arisan yang diikutinya cukup merogoh kocek yang dalam.

Di hari Kamis, Farida akan menghabiskan waktunya seharian berada di rumah dan meneriaki Maryam dengan segala macam perintahnya. Meminta pembantunya itu untuk memijatnya, memoleskan pewarna di kuku-kuku kakinya, dan hal yang paling Maryam benci adalah dia selalu mengakhiri kalimat perintahnya dengan pertanyaan nyinyir. “Kamu ngebet kawin?”, misalnya ketika Maryam tengah sibuk memanaskan sayur di sore hari. Dia masuk melalui pintu dapur dan mengomel, “He, Maryam. Lain kali sayurnya jangan terlalu asin. Kamu ngebet kawin?” Terkadang, ketika Karsa pulang ngojek di pagi hari, Farida pernah memergoki suaminya memandangi Maryam yang tengah mengepel lantai. Lalu dengan muka sehabis bangun tidurnya, Farida menatap pembantunya itu dengan sinis dan mengatakan, “Kalau ngepel, debu-debu yang ada di pojokan dibersihkan juga. Kamu ngebet kawin, ya?” Farida hanya lupa bahwa Maryam masih perawan.

Di usianya yang masih lima belas tahun, Maryam bekerja keras untuk menyembuhkan ibunya yang sakit-sakitan. Entah apa yang membuat ibunya sakit terus-menerus. Maryam pernah membawa ibunya ke puskesmas. Tapi obat-obatan puskesmas justru semakin membuat ibunya sekarat. Maka, Maryam mengantar ibunya ke Nyai Ronde. Nyai Ronde adalah seorang wanita tua yang tinggal sebatang kara di ujung jalan. Rumahnya yang terbuat dari pelepah bambu berdeot ketika Maryam masuk, memapah ibunya menghadap Nyai Ronde.“Ibumu kena tenung, anakku.” Ketika mengatakannya, Nyai Ronde sama sekali tak menatap kedua tamu yang datang ke pelepah bambunya.

Advertisements