Cerpen Alif Bareizy (Suara Merdeka, 11 Februari 2018)

Suatu Malam di Rumah Sakit ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Suatu Malam di Rumah Sakit ilustrasi Suara Merdeka

Kalau tidak terlalu lelah, seseorang tak akan tidur di bangku panjang kayu jati tua itu. Tidur dalam posisi terduduk pula. Tak menghabiskan ruang karena kursi itu bisa diduduki empat orang dewasa.

Orang tak akan betah berlama-lama duduk di kursi model balok tipis panjang membujur itu. Kelewat lama duduk membuat pantat seseorang tercetak bergaris-garis, meski dia sudah lima langkah berlalu.

Namun bagi Uky, cukuplah tidur sejenak. Meski cuma tidur-tidur ayam, sambil doyong kekanan-kiri seperti cemara tertiup angin.

Jadwal hari ini padat. Selalu padat di stase bedah untuk dokter muda. Setiap hari adalah Senin dan tiap waktu adalah pagi. Begitulah kata kepala bagian bedah.

Subuh bersiap untuk visite dokter spesialis bedah, pagi periksa pasien, siang sampai sore kuliah, malam jaga. Itulah jadwalnya, sehingga dalam tidur pun dia tetap bermimpi mengenai tugas ilmiah.

Baca juga: Percumbuan Topeng – Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 02 September 2018)

Mimpi dikejar-kejar tugas. Apes, tugas itu berwujud makhluk hidup. Sang kakak yang menjadi akuntan bilang kadang bermimpi dikejar-kejar tagihan cicilan rumah. Lalu mimpi Uky berganti; melihat suami-istri menangis ditinggal sang anak yang baru berumur empat belas.

Dia terbangun karena mimpi itu. Potongan mimpi itu benar-benar terjadi minggu lalu. Seorang anak tanggung lunas nyawa. Meninggal, menabrak tiang listrik dalam keadaan mabuk oplosan. Kepalanya benjol sebesar bakpao. Namun dia meninggal karena luka di dalam tengkorak.

Meninggal di depan mata Uky, setelah diberi resusitasi jantung paru, seperti dalam film dengan menekan dada secara berirama dan sambil memberi napas buatan sampai setengah jam.

Advertisements