Puisi-puisi Ivan Aulia (Media Indonesia, 11 Februari 2018)

Selimut Hitam ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Selimut Hitam, Dimensi Api Politik, Diorama Palestina, dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

Selimut Hitam

 

Membalut kejiwaan terpuruk

Selimut hitam akan membawa alam keburukan

Merendam di akhiratmu

Menilam mimpi tak kunjung tenang

 

Berisi suara berisik

Tak kemungkinan akan tersirah apa-apa

Mengucapkan deringan senja yang memukau

Dan menggejolak di pening asa

Sia-sia menggumam siasat

Dan memejam mata memungkiri selamanya

 

Surabaya, 2018

 

Dimensi Api Politik

 

Kubu berdatangan

Tersemu paruh nyawa

Di tengah nasib memimpin lima tahun

Untuk mempergoyahkan asa

Serasa membara di penjuru selasar

Kemudian menggeroti misi

Membangun sejahtera

 

Kadang menduga

Tersentuh pilu membengkam di kubu politik

Kini terpandang bulu

Tergumam silam membahana

Rakyat menunggu

Kemudian membelenggu jantung tanah air

Bersiap bernyawa risiko

Situasi tak genting

Hanya menghitung hari

Menjadi pemimpin masa depan

 

Surabaya, 2018

 

Sajak Pujangga untuk Asmat

 

Saat ini Asmat telah kelaparan

Semenjak lama terpuruk gizi

Salah satu wilayah cukup terparah

Betapa kasihan menderita campak berujung maut

Kelaparan hampir melanda dimana-mana

Tepian merendahnya ekonomi

 

Sajak pujangga untuk Asmat

Sengaja ku lukisan sebuah hidup sederhana

Jangan menganggap sajak sepenggal batasan

Hanya disirna ke penjuru nusantara

Selamatkan Asmat dari penyakit

Beserta kelaparan yang menimpanya

 

Surabaya, 2018

 

Diorama Palestina

 

Jelajahi bumi tak kunjung damai

Diorama di antara persaudaraan begitu rapuh

Runtuhan merujuk penyiksaan

Serasa mengundang kesedihan amat dalam

Membengkam di ujung kalbu

Memilu pada kekuasaan

Serasa ingin menduduki kembali

Dengan cara mengembalikan hak

Dipaksa untuk bergoyah di tanah Yerussalem

 

Surabaya, 2018

 

Selamat Jalan Ustadz Hilman

 

Tahun ini kehilangan pendakwah setia

Selalu membara pesan di penjuru umat

Apa jadinya telah kehilangan sisimu

Mengusap kenangan tak kunjung hampa

 

Membengkam di suluh pendam

Kemudian memancarkan air mata

Serasa mengimbang di kota santri

Tanpa sekata apapun

 

Membedah suluh dialirkan pancaran kalbu

Mungkin meninggalkan tetesan

Temui di surga nanti

Akan selamatkan hidup tanpa henti

Sampai jumpa pendakwah agung

Memilu senja di tengah kalam

Jangan meninggalkan umat

Tetapi mencintaimu penuh seutuhnya

 

Surabaya, 2018

 

Kedzoliman Preman di Ujung Malam

 

Masih saja berkelana pada kota pahlawan

Menyembara hati digusur emosi

Di antara kedzoliman yang dirasuk oleh Preman

Mengintip kemesuman

Telembuk porna mencuci moral

Malam sangat dangkal

Tiada daya memilah taubat

Setiap saat mati akan menjemput sakaratul maut

 

Surabaya, 2018

 

Memprotes Kembalikan Sawah Kami

 

Mengembalikan lahan

Membangun tol tanpa izin pengembang

Rakyat telah mengamuk

Memasang kalimat sedikit menyindir pengembang bangunan

Semuanya tanpa terkecuali

 

Memprotes kembalinya sawah

Tetapi menolak dan dilanjutkan proyek

Jika dibiarkan akan dilapor ke lembaga pimpinan daerah

Atas insiden yang menerjangi seenaknya sendiri

Tiada jawaban lain selain menyelaraskan peradaban

Satu kalimat tak bisa terlupakan

 

Jangan sekali merebut tanah hak milik tanpa izin

Jika dibiarkan akan kehilangan pekerjaan

Dan menendang wajah pembangun jika terpaksa

mempertaruhkan nasibmu

 

Surabaya, 2018

 

Menikmati Fajar Subuh

 

Saksikan dirimu di fajar subuh

Serasa tubuh meruyup sujud

Betapa menghinggap di udara

Kembalilah pada purnama yang telah lewat

Terkobar pada air mata

 

Menakjubkan sayap

Sementara menerbitkan fajar

Tunaikan keakraban di waktu syuruq

Mengembara pagi sungguh segar

Selamat mencicipi fajar subuh

Serta selamat menikmati pagi yang bahagia

 

Surabaya, 2018

 

Bersebrangan Lautan Malam

 

Menatap sebrang jauh di tepi lautan

Sunyi pada pantai begitu sepi

Menggelorakan selaras keajaiban

Melalui sebuah kejutan yang tak pernah ada

Terpendam selembut hangatnya kopi

Mendiami malam begitu indah

 

Belum terlepas melekat oleh perempuan belia

Tak terpenggal sebuah kalimat

Yang belum dituliskan

Sepulang di pantai sendirian

Akan terasa membawa keajaiban

Melalui sebuah sajak untukmu serta melembutkan

kehangatan hatimu

 

Surabaya, 2018

 

Belajar di Malam

 

Anak tak sempat belajar di malam hening

Malah bermain sana sini

Belajar menetes teori

Tetapi meresap pengetahuan

Endap menggelapkan asa

Serasa esok lebih cemerlang

Hanya dua jam telah merampung kata-kata

Siapkan di pagi gemilang

 

Surabaya, 2018

 

 

M Ivan Aulia Rokhman, Mahasiswa Universitas Dr. Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April 1996. Karyanya dimuat di koran lokal dan nasional. Beberapa puisinya juga dimuat dalam antologi Bukan Kita (2017), My Teacher (2017), Syair dalam Nada (2017). Bergiat di FLP Surabaya, dan UKKI Unitomo.

Advertisements