Cerpen Zhizhi Siregar (Republika, 11 Februari 2018)

Rendang Batak Umak ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Rendang Batak Umak ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Ibuku orang Sunda. Ayahku orang Batak. Meski demikian, aku terlahir dengan wajah yang lebih mirip Ambon dilengkapi ikal-ikal yang nakal dan tak mirip keduanya. Biarlah, yang penting wujudnya masih sama-sama manusia. Entah bagaimana mereka bertemu di pulau Jawa dan saling membutuhkan di saat yang tepat, karena itu mereka pun memutuskan menikah.

Seumur-umur aku tahu Umak berlatih dan terus berlatih memasak semata-mata demi menjaga Ayah agar hatinya tak tercuri wanita lain. Ia taat sekali pada ajaran orang tuanya: cinta itu muncul dari perut ke hati. Bahagiakan perutnya, maka hatinya takkan kemana-mana.

Selama tiga puluh dua tahun, bisa dibilang berhasil. Buktinya tak pernah sekalipun seumur pernikahan mereka, Ayah makan di luar. Bahkan ia pernah terengah-engah hampir terkapar di depan rumah karena perkara sederhana: Ayah rapat seharian, karenanya pula ia tak makan seharian karena tak sudi menyentuh makanan yang bukan dari tangan Umak. Kadang kupikir masakan Umak adalah satu-satunya alasan mereka tetap menikah dan tinggal di atap yang sama, meski kamar sudah berbeda dan jarang sekali saling bercengkrama.

Kehebohan baru terasa setiap kali hari raya. Sebagai Batak Muslim, penganan khas Batak untuk kami memang sedikit terbatas, tapi tak lantas menghalangi Umak untuk berkreasi. Mulai dari arsik (ikan segar yang dibumbui kunyit, cabai, asam, andamalin serta bumbu lain), dan na tinombur (makanan khas Tapanuli berupa ikan lele atau ikan mas bakar berbumbu kacang).

Lainnya adalah lapet (jajanan Batak yang berbentuk segitiga runcing terbuat dari campuran tepung ketan dan beras yang ditambahkan gula merah) dan naniuar (ikan mas atau mujaer berbumbu. Tidak dimasak melainkan dibantu dengan air perasan asam selama 3-4 jam).

Satu hal yang tak pernah luput dari meja, bintang utama kebanggaan Umak: rendang Batak. Aku sungguh tak tahu pada bedanya rendang Batak dengan rendang Padang, tapi rasanya memang berbeda. Mungkin karena menggunakan daging kerbau. Bisa pula dari kelapanya yang disangrai terlebih dulu, atau prosesnya yang memakan waktu semalaman. Yang kutahu, proses pembuatan rendang itu dimulai sejak berhari-hari sebelumnya.

Mulai dari memilih bumbu-bumbu berkualitas yang Umak pelototi dengan seksama agar tak ada yang busuk atau terlalu muda. Dilanjutkan dengan memarut kelapa dengan tangan, karena menurut Umak, santan instan rasanya kalah gurih dibandingkan dengan santan yang diparut alami. Tak terhitung berapa oleh-oleh goresan dari papan parutan yang tercetak di jemariku. Hingga pemilihan daging kerbau yang terbaik di bagian yang terbaik pula, hanya bisa tercapai setelah Umak berkeliling pasar dari satu penjual ke penjual lainnya.

Tak selesai sampai di situ, ia sengaja mulai masak dari sore menembus malam dan subuh hingga pagi. Harus di atas tungku, tak boleh di atas kompor gas, yang entah bagaimana harus kucari-cari kayu bakarnya. Pada jaman dimana handphone bisa di-charge tanpa kabel, Umak masih bersikeras ingin memasak dengan tungku semalaman! Demi apa?

Demi senyum lebar di wajah Ayah. Ya, kaum pria di keluarga Batak di tengah perhelatan hari raya ini tugasnya cuma dua: berteriak, “Bikinkan kopi.” Lalu sesekali masuk dapur untuk bertanya apakah makanan sudah jadi. Biasanya setelah dijawab sudah, Ayah akan masuk, membuka tudung saji dan melahap bagiannya sambil sesekali curi pandang, bagian siapa yang belum habis.

Ayah yang pendiam sebenarnya tak pernah memuji masakan Umak enak. Ia pun tak pernah mengeluh kalau terlalu asin atau kurang rasa. Tapi Umak selalu menandai, kalau makanannya enak, Ayah akan menambah nasi. Sekali tambah tandanya sungguh nikmat. Dua kali tandanya luar biasa. Tiga kali tandanya Umak sudah jadi ciptaan Tuhan paling berbahagia: makanannya tak beda dengan makanan surga yang dijanjikan di sana. Umak akan tidur sambil tersenyum nanti malam.

Umak sering bercerita bahwa mencapai tujuan hidup itu selayaknya proses membuat rendang. Harus dengan susah payah, teliti dan mencurahkan niat sepenuh hati dari awal hingga akhir. Hasilnya pun akan luar biasa gurih, mengenyangkan perut hingga seharian ke depan. Kalau ada yang tanya siapa yang buat, kita akan menepuk dada bangga karena hasil jerih payah.

Berbeda dengan membuat kerupuk yang tinggal goreng begitu saja. Serba instan, mudah dan seadanya. Namun hasilnya tak beda dengan angin, dikunyah setoples pun sejam kemudian akan lapar kembali. Terlebih lagi, tak ada yang peduli siapa yang masak kerupuk, karena dibuat segudang pun, rasanya akan sama saja dengan kerupuk lainnya.

Sebenarnya tak cuma urusan makanan. Umak berusaha menjadi orang Batak sebaik-baiknya. Pernikahan selama tiga puluh dua tahun menjadikan Umak mahir berbahasa Batak, mulai dari bahasa formal hingga bahasa gaul. Mulai dari letak geografinya, hingga lagu-lagu daerahnya. Tak ada yang Umak tak ketahui, meski Ayah sendiri sebenarnya sudah jarang memakai bahasa Batak. Dinding kami dipenuhi jejeran koleksi ulos Umak meski Ayah tak pernah sekalipun meliriknya. Bahkan panggilan Umak yang merupakan panggilan Ibu khas Tapanuli sendiri digalakkan oleh dirinya sendiri, bukan oleh Ayah.

Umak berjuang keras menghapus jurang perbedaan yang ada antara Sunda dan Batak dengan menyebrangi jembatan itu tanpa ragu: ia menjadi Batak yang sesungguhnya. Termasuk pula karakternya, yang sedemikian keras dan tangguh, khas kaum wanita dari Batak. Tiga puluh dua tahun lamanya ibuku setengah mati menghilangkan kesundaannya agar menjadi Batak sejati, bahkan melebihi Bataknya Ayah.

Bagiku, tak ada yang lebih mengerikan dari cinta Umak pada Ayah. Demi mempertahankan pria yang ia cintai, Umak rela menghapus dirinya sendiri. Meski Ayah tak pernah meminta Umak untuk berubah menjadi apapun yang bukan dirinya.

Namun untuk mempertahankan sebuah perkawinan, sekadar rendang Batak takkan cukup. Meski itu rendang Batak legendaris buatan Umak sekalipun. Puluhan tahun hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan makan dari dapur yang sama, akhirnya mereka berdua sepakat untuk bercerai saja. Mungkin Umak sudah lelah memasak hanya untuk berdua. Mungkin Ayah punya mimpi lain dalam hidupnya yang tak melibatkan Umak di dalamnya. Mungkin pula ada hal lain. Yang pasti anak-anak Batak tak pernah tahu apa yang ada di kepala orangtua mereka, karena bagi Ayah dan Umak, orangtua ada untuk dihormati bukan untuk ditanya-tanyai.

Umak memutuskan tinggal denganku. Ayah pindah ke kota lain untuk hidup sendiri saja. Terakhir aku bertemu adalah enam tahun lalu. Aku nyaris tak mengenalinya. Pipi-pipinya tirus, dadanya yang tegap kini menyusut seiring dengan punggungnya yang merunduk bungkuk.Ayah, pahlawan Batak pujaan Umak, membiarkan dirinya tergerogoti waktu. Umak hanya mengalihkan pandangan seakan tak kenal.

***

Beberapa tahun kemudian, aku menikah dengan orang Jawa. Umak tak berkata apa-apa, tapi tak juga sembunyikan kecewanya karena aku tak memilih sesama Batak. Baginya pria Jawa sungguh tidak jantan. Begitu pula kesimpulanku setelah beberapa tahun kemudian pernikahan kami resmi dinyatakan kandas di Pengadilan Agama. Seolah untuk tahu kandas tidaknya, dua sejoli harus bertanya ke institusi pemerintah yang peduli nama kita pun mereka tidak. Terbukti dari salah ketiknya kedua nama kami oleh sang juru tulis di akta cerai.

“Pasti karena kamu tak pernah belajar Bahasa Jawa.”

Bisa jadi. Aku mengangguk-angguk biar Umak senang.

“Kamu sih, tidak belajar masak makanan Jawa dulu!”

Aku mendengus. Tak perlu kuceritakan kalau mantan suamiku lebih suka sushi Jepang ketimbang pecel, jadi cukup kujawab dengan senyuman.

Cecaran Umak yang tidak sensitif akan fakta kami baru pulang dari Pengadilan Agama untungnya terhenti. Kami akhirnya tiba di pasar. Ia segera sibuk sendiri mengumpulkan bahan untuk lebaran besok lusa.

Aku tersenyum menyaksikan ekspresi Umak yang sungguh menikmati proses pembuatan makanan yang sebenarnya toh hanya akan dinikmati berdua dengan anaknya yang kerempeng ini. Rendang Batak bukan lagi ia gunakan sebagai senjata untuk mempertahankan Ayah, kini ia hanyalah masakan terbaik yang bisa Umak sajikan dan banggakan. Bagian dari dirinya. Bagian dari masa lalu yang ia terima dengan lapang dada. Sesederhana itu.

Teleponku berdering. Senyumku raib, surut bersama darah di kepalaku.

Ayah meninggal.

***

Setelah beberapa tahun hidup sendiri meratapi meja makan di rumahnya yang kosong melompong, ternyata Ayah memutuskan menikah kembali. Lagi-lagi dengan wanita Sunda.

Aku melangkahkan kaki ragu-ragu ke rumah luas yang berada di Sukabumi. Seorang wanita bersahaja berparas cantik bergegas menghampiri.

“Neng Butet?” sapanya dengan logat Sunda yang kental dan asing di telinga. Aku berkesimpulan ia adalah istri Ayah. Aku mengangguk meski masih luar biasa bingung. Umak mengikuti di belakangku, menjaga jarak dan tetap waspada.

Aku memutuskan memanggil wanita itu dengan Teteh, karena usianya yang hanya berselang sepuluh tahun denganku. Teteh bercerita tentang Ayah yang kolesterolnya memang sudah tinggi sejak mereka bertemu. Berpenyakit jantung dan darah tinggi, Teteh menyebutkan penyakit-penyakit yang setahuku yang ilmu kesehatannya dangkal ini bisa jadi berasal dari konsumsi daging dan makanan bersantan berlebihan.

Seperti rendang Batak, misalnya. Aku menggigit bibir sambil sesekali melirik Umak yang mulai memucat. Keringat dingin menetes dari dahinya.

Teteh ini sedemikian santunnya, menunduk-nunduk sambil menabur senyum. Suatu sikap khas Sunda yang paling Umak tak suka. Ia kerap menyebutnya klemar klemer. Terlalu lembut, tak ada tangguh-tangguhnya. Sungguh tak adil membandingkan mereka, tapi sulit untuk tak menyadari perbedaannya: mereka selayaknya bumi dan langit. Namun kuamati dari foto-foto di dinding, senyum Ayah tak pernah selebar itu kala bersama Umak.

Tak hanya senyum, beberapa di antaranya bahkan menunjukkan tawa. Foto-foto itu bercerita betapa beberapa tahun terakhir ia berkeliling menjelajah tempat-tempat yang Umak tak pernah suka. Siapa pernah duga Ayah ternyata suka sekali dengan Bali yang menurut Umak disesaki terlalu banyak turis. Aku mengangkat alis ketika pandanganku menyapu sebuah lukisan megah beraliran post-impresionisme dengan inisial Ayah di bawahnya. Mana pernah aku tahu bahwa Ayah bisa melukis, seindah ini pula. Ia manusia yang sama sekali berbeda setelah keluar dari kepompong bernama pernikahan.

“Mangga, Neng, Teh,” Teteh mempersilakan aku dan Umak masuk ke ruang makan.

“Dicicipi, makanan kesukaan Aa,” Teteh kemudian menyusut airmatanya.

Kubuka tudung saji hanya demi mendapat senyum ramahku seketika hilang.

Pepes ikan nila ala Cianjur. Ternyata Ayah tak pernah cerita selama ini ia suka makanan Sunda.

Kurasakan tubuh Umak ambruk di sebelahku. ■

Advertisements