Cerpen Mahfuzh Amin (Banjarmasin Post, 11 Februari 2018)

Kakek Bertubuh Cerpen ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Kakek Bertubuh Cerpen ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group 

Gerimis siang itu membuat dedaunan basah kuyup. Seorang lelaki paruh baya dan remaja berusia tiga belas tahun masih berdiri menghadap sebuah gundukan tanah. Di salah satu ujung gundukan tertancap sebuah kayu ulin sebagai penanda bahwa ada seseorang yang berbaring di bawahnya, meski tanpa nama. Tidak ada air mata yang keluar dari kedua lelaki tersebut. Gerimis sudah cukup mewakili mereka.

“Jadi, kau pewaris yang dipilihnya?” tanya lelaki paruh baya setelah mereka bertahan lama dalam kebisuan. Ia masih memandangi gundukan tanah itu.

Tidak ada sahutan dari si remaja. Begitupun gerakan. Sejenak mereka kembali menikmati kebisuan.

“Kau lapar, Nak?” tanyanya sambil menoleh kepada si remaja. “Aku penasaran bagaimana kamu bisa bertemu dengan kakek.”

Lelaki paruh baya beranjak meninggalkan lokasi pemakaman, diiringi oleh si remaja. Mereka kemudian menaiki mobil sedan hitam yang parkir tak jauh dari pintu masuk pemakaman. Ini menjadi kali kedua si remaja masuk ke dalam mobil mewah tersebut.

Mereka singgah di sebuah rumah makan Padang dan memesan seporsi rendang. Mereka makan dengan sangat lahap, seakan baru saja menyelesaikan pekerjaan berat yang menguras banyak energi. Setelah mereka sama-sama menghabiskan minuman mereka, barulah lelaki paruh baya angkat bicara. “Tolong ceritakan bagaimana kakek bisa menjadikanmu sebagai pewarisnya?”

Si remaja tidak langsung bercerita. Ia terlebih dahulu mengatur ritme napasnya yang masih tak beraturan usai makan. Sebenarnya ia tidak mengerti bagaimana ia bisa dijadikan pewaris oleh kakek. Kalau bukan karena secarik kertas yang ada di genggaman kakek, ia tidak akan tahu tentang hal ini. Ia juga tidak tahu apa warisan kakek untuknya. Yang ia lahu, kakek hidup sebatang kara di sebuah rumah kecil yang terhimpit oleh pagar beton dua rumah mewah. Bahkan sebuah pohon besar berdiri tepat di depan lorong menuju rumah kakek, seperti sengaja ditanam agar tidak tampak rumah kumuh berdiri di antara rumah megah. Apa rumah itu yang diwariskan kakek padanya?

“Bukan! Bukan rumah itu!” sanggah lelaki paruh baya. “Rumah itu adalah rumahku yang kupinjamkan kepada kakek. Dulu aku tinggal di rumah besar yang ada di sampingnya. Tapi, rumah itu sudah kujual, kecuali rumah kakek. Sekarang, setelah kakek pergi, tentu aku akan mengambilnya kembali. Mungkin akan kujual ke pembeli rumahku dulu.”

“Jika bukan rumah itu, terus apa lagi?”

“Cerpen-cerpennya.”

Si remaja seketika mengernyitkan dahi.

“Kau tentu sudah tahu ke mana membawa cerpen-cerpen itu. Kakek pasti sudah memberitahumu.”

Si remaja menggeleng. Selama ini ia mengenal kakek sebagai penulis cerpen. Namun, ia tidak pernah sekalipun menemukan cerpen kakek terbit di koran-koran hari Minggu. Kakek hanya pernah bercerita padanya bahwa beliau menjual cerpen-cerpen itu tanpa pernah memberi tahu ke mana dan pada siapa beliau menjual. Pernah suatu ketika ia menanyakan mengapa kakek tidak mengirimkan cerpen beliau ke koran saja agar orang bisa mengenal kakek sebagai penulis cerpen. Kakek tertawa mengejek kemudian menjawab:

“Aku tidak perlu dikenal. Aku perlu makan. Kau pikir, penulis cerpen tidak bisa mati karena kelaparan?”

“Bukankah kakek pernah mengatakan kalau kakek sayang dengan cerpen-cerpen kakek. Kenapa kakek menjual apa yang kakek sayangi?”

“Karena cerpen-cerpen kakek juga sayang dengan kakek. Mereka ingin kakek tetap hidup dan melahirkan saudara-saudara mereka. Lagipula, mereka dijual bukan untuk dimusnahkan, melainkan agar bisa abadi. Kakek tidak mau mereka musnah dimakan cacing seperti kertas yang dimakan rayap.”

Dari berbagai cerita kakek tentang cerpen, si remaja pun akhirnya menjuluki kakek sebagai manusia bertubuh cerpen, karena setiap apa yang masuk ke dalam tubuh kakek berawal dari cerpen. Namun, ia juga berpikir, jika tubuh kakek adalah cerpen, berarti setiap cerpen yang dijual itu sesungguhnya adalah bagian tubuh kakek sendiri? Apa itu yang membuat kakek mati?

Selama ini ia tidak pernah mendapati kakek mengeluh akan suatu penyakit. Ia hanya sering mendengar kakek batuk-batuk, yang menurutnya lumrah dialami oleh orang setua kakek.

Namun, pagi ini kakek terlihat lemah. Dengan suara parau, kakek memintanya untuk menemui seseorang yang nama dan alamatnya sudah beliau tuliskan dalam selembar kertas untuk dibawa ke rumah beliau. Bergegas ia menuju alamat tersebut karena ia pikir itu adalah alamat seorang dokter. Tapi, ternyata bukan dokter. Lantas ia menyampaikan pesan kakek dan membawa orang itu—yang adalah si lelaki paruh baya—ke rumah kakek. Sayangnya, sekembalinya mereka di rumah kakek, kakek sudah ditemukan tak bernyawa dengan secarik kertas di genggamannya. Orang itu yang kemudian mengurusi jenazah kakek sampai pemakaman.

“Jadi, akan kau apakan cerpen-cerpen itu?” tanya lelaki paruh baya.

Si remaja hanyalah seorang loper koran yang setiap hari Minggu membawakan koran-koran yang memiliki rubrik cerpen untuk kakek. Selain itu, ia pun diminta kakek untuk membacakan seluruh cerpen yang termuat di koran-koran tersebut. Tentu ia mendapat imbalan untuk itu. Setahunya, hanya koranlah tempat berlabuh cerpen.

“Mungkin aku akan mengabadikannya bersama nama kakek.”

Si lelaki paruh baya merasa sudah cukup perbincangannya dengan si remaja. Ia lantas berdiri menuju kasir, kemudian mengantar si remaja kembali ke rumah kakek. Untuk kali ketiga si remaja menaiki mobil mewah dan ia merasa ini akan menjadi yang terakhir.

“Bagaimana Anda bisa mengenal kakek?” Si remaja memberanikan diri bertanya.

“Kakek adalah kakakku.”

***

“Berapa jumlah cerpen itu?”

Seorang lelaki tinggi kurus berjas hitam masuk ke rumah kakek tanpa permisi ketika si remaja tengah sibuk merapikan kertas-kertas cerpen yang sebagian masih berserakan. Sebatang rokok masih menempel di bibir lelaki tersebut.

“Se… Seratus,” jawab si remaja tergagap akibat kaget.

Lelaki berjas itu kemudian mengeluarkan buku dan pulpen dari saku yang ada di balik jasnya. Setelah selesai menulis, disobeknya kertas yang ia tulis itu dan disodorkannya pada si remaja. “Kuharap ini cukup untuk membeli semua cerpen itu.”

Si remaja seketika terperangah setelah menyambut kertas itu. Cek senilai seratus juta rupiah berada di tangannya untuk harga seratus cerpen yang sudah dirapikannva. Seginikah harga cerpen kakek? Seketika ia diliputi kebimbangan. Ia sudah bertekad mengabadikan nama kakek. Ia juga merasa tidak pantas menjual cerpen-cerpen itu, meski hak kepemilikan cerpen sudah ada padanya. Cerpen-cerpen itu adalah bagian tubuh kakek. Tapi, angka yang ada di tangannya sungguh menggiurkan.

“Maaf, Pak, sekarang penulis cerpen ini tidak akan kelaparan lagi. Biarlah cerpen ini membingkai namanya agar abadi,” ucap si remaja dan mengembalikan cek tersebut. Baginya, cerpen-cerpen ini adalah kakek, dan kakek tidak untuk dijual. ***

 

Mahfuzh Amin, lahir di Ujung Murung (HSU), 1 Mei 1990. Sekarang berdomisili di Tanjung, Kabupaten Tabalong.

Advertisements