Puisi-puisi Edy A. Effendi (Jawa Pos, 11 Februari 2018)

Jejak Malam ilustrasi Google.jpg
Jejak Malam ilustrasi Google

Jejak Malam

 

Jejak malam. Malam berjejak. Aku luruh dalam auman lukamu. Auman cinta

yang tak bertepi, tak berperi. Cinta yang kau tanam di gang sempit itu, tumbuh

subur jadi hama hidupku. Aku dan kamu, hanyalah bingkai-bingkai kecil yang

tak pernah tertata rapi. Tak pernah selesai dibangun oleh jiwamu dan jiwaku.

 

Di gang sempit itu, kau membisu, beku dan kelu. Bibirmu terpasung

kata. Sunyi adalah pilahan. Sunyi adalah pilihan. Pilahan dan pilihan itu,

mengusung jarak batas antarkita. Batas jasadku dan jasadmu yang tak

pernah berujung pada dipan panjang, tempat kita menabur benih cinta.

 

Di sini, di gang sempit, aku merindu lenguhmu. Merindu keluhmu. Merindu

desah napasmu ketika tubuhmu terbujur kaku tanpa busana di perjalanan

malam. Aku tetap mengenangmu dari jauh, di antara kepingan puzzle,

kepingan lego, yang tak pernah berhenti mencari batas kesempurnaan.

 

Percakapan Rahim 2

 

Larut di sela sujudku

Rambah kedalaman rahimmu

Rindu jalari tubuhmu, dekap tubuhku

 

Rambutmu luruh ketika airmatamu

jatuh satu per satu di atas sajadah.

Kau bicara soal sujud yang tertunda

dan malam yang tak lagi bercahaya.

 

Wajahmu kusam ketika hutan-hutan

terbakar di telingamu. Akar-akar

rumput dan warna tanah menangis.

 

Percakapan Rahim 4

 

sore hari, debu di Karbala dan Najaf,

seperti jejak kaki yang tak lagi tersisa

oleh mimpi-mimpimu. Jari-jemarimu abadi

ketika hujan tumbuh di lenganmu

aku menyelam di kedalaman rahimmu

menanam benih dari sudut-sudut kota

yang tak lagi alirkan gelombang laut.

 

bersama rumput-rumput laut,

ketika hujan jatuh di jalanan Kota Pompei

aku arungi rahimmu di bawah cemara yang patah

memeriksa tubuh yang makin memerah

hinggap di akar-akar laut

menuju pembaringan tidurmu.

 

Risalah Doa

 

Kepingan rohku, kepingan jasadku,

kepingan lukaku, adalah risalah doa

yang tak bertepi. Terbujur kaku di atas

sajadah panjang tanpa suara. Tanpa

bisik angin yang menyelinap dari

rongga hidupku. Aku menemukan

hening tanpa bening dalam

risalah doa-doa malamku.

 

Januari 2018

 

 

Edy A. Effendi, selain menulis puisi, juga seorang jurnalis. Kini mengelola sebuah portal online dan mengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Advertisements