Cerpen Mashdar Zainal (Lampung Post, 11 Februari 2018)

Ibu Pergi Memancing ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Ibu Pergi Memancing ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

PEREMPUAN tak pergi memancing. Mereka pergi ke pasar, berkerumun di arisan, dan kadang merumpi dengan para tetangga. Tapi ibuku tidak. Ibuku pergi ke kali. Menggendong adikku yang hampir dua tahun. Membawa tongkat pancing yang dibuatnya sendiri.

Sebelum sampai ke kali, ibu mampir ke sawah terlebih dahulu untuk mencari cacing-cacing kecil bakal umpan. Cacing-cacing itu ia kumpulkan dengan segumpal lumpur, lalu ia buntal sedikit renggang dengan selembar daun talas. Aku pergi ke sekolah, dan ibu pergi memancing.

Pada hari pertama ibuku pergi memancing, kawan-kawanku mengobral omong tak henti-henti. Membuat telingaku panas.

“Kulihat ibumu pergi ke kali membawa pancing,” kata yang satu.

“Perempuan kok pergi memancing, sudah besar pula. Aneh!” kata yang lain.

Lalu mereka tertawa bersama-sama. Mereka menertawakan ibuku. Kata mereka, ibuku kurang kerjaan, seperti anak kecil. Beberapa kawan yang lain bilang, ibuku seperti lelaki. Begitulah, kata mereka, perempuan memang tak pergi memancing, apalagi kalau ia ibu-ibu.

Pada hari pertama ibu pergi memancing itu, aku pulang sekolah dengan dada dongkol. Ingin rasanya kutumpahkan kedongkolan itu ke muka ibu, sesegera mungkin. Sampai di rumah, ibu menyuruhku berganti pakaian, lalu makan. Tapi aku tak menghiraukan, aku segera melabrak ibu, sambil berseru, “Ibu jangan pernah pergi memancing lagi. Jangan pernah.”

Ibu membalas seruanku dengan tatapan bingung, lalu geleng-geleng, kembali menyuruhku berganti baju, lalu makan. Tapi aku tidak menggubris. Aku langsung beringsut ke arah meja. Di atas meja makan tanpa kursi itu, sebakul kecil nasi terhidang, ditemani beberapa ekor ikan badar goreng, daun singkong yang direbus, serta sambal kemangi. Aku makan dengan lahap. Setelah makan, ibu menatapku dan berkata, “Ikan yang kau makan itu hasil dari ibu pergi memancing.”

Ibu berkata soal memancing, dan itu kembali mengingatkanku pada ejekan teman-teman. Dongkol di dadaku kembali.

“Tapi perempuan tak boleh memancing, apalagi ibu sudah besar,” tukasku.

“Seandainya ayahmu bisa pergi memancing, ibu tak akan pergi memancing. Kalau kau mau tahu, sejujurnya ibu lebih suka memasak dan membersihkan rumah sambil momong adikmu.”

Aku tak menjawab. Tentu saja ayah tak bisa pergi memancing. Sebab ayah sudah dikuburkan dua tahun silam, ketika usiaku masih delapan tahun. Kaki ayah terlindas mesin pembajak sawah, lalu bengkak, tak sembuh-sembuh, tak bisa jalan berbulan-bulan, badannya sering panas-dingin, hingga akhirnya sakit parah dan meninggal. Sejak itu, ibu bekerja keras seorang diri, kadang bantu-bantu cuci dan setrika di rumah Bu Haji. Kadang membantu Mak Siti memanen kangkung dan bayam, mengikatnya sampai bertumpuk-tumpuk lalu membawanya ke pasar dengan naik becak.

Waktu itu adikku masih dalam perut. Hingga adikku lahir, dan ibu tidak bekerja apa pun. Setelah adikku berumur beberapa bulan ibu kembali ke rumah Bu Haji, tapi Bu Haji sudah punya orang baru buat bantu-bantu. Tenaga ibu tak diperlukan lagi. Satu-satunya pekerjaan ibu adalah membantu Mak Siti berjualan sayur. Bila musim sedang baik, sayur-sayur itu pun akan tumbuh degan baik, bisa dipanen banyak-banyak, dan ibu juga bisa mendapatkan upah yang cukup. Namun, kata ibu, musim suka datang tak menentu. Hujan kerap turun di musim kemarau. Ladang Mak Siti yang di seberang sungai kerap terendam banjir, dan sayur-mayur tak bisa dipanen. Dan sebab itulah, ibu pergi memancing. Kata ibu, ketika sungai surut selepas banjir, ikan-ikan baru diantar Tuhan dari hulu.

“Tapi agak aneh ibu-ibu pergi memancing,” aku bersikeras, mempertahankan pendapat teman-temanku.

“Lebih aneh lagi, kalau seorang ibu tidak bisa memberi makan anak-anaknya,” balas ibu. Lantas ibu mengomeliku panjang-panjang. Kata ibu, di rumah cuma ada beras, itu pun tak sampai satu timba (ibu selalu menyimpan beras dalam timba). Dan semoga, beras itu cukup untuk makan sampai beras baru datang diupayakan ibu dan dikirim Tuhan.

Pundi ibu melompong, receh pun tak ada, yang artinya tak ada pula duit buat membeli tahu tempe, atau sekadar kerupuk. Ibu tak mau mengemis ke para tetangga. Apa-apa yang dimakan anak-anaknya, menjadi darah dan daging anak-anaknya, harus sesuatu yang bersih dan murni dari keringat ibu sendiri.

Ibu bisa memetik daun singkong di pekarangan belakang, menyayur pepaya muda, atau membuat botok kembang pisang. Tapi ibu juga mau sekali-kali anak-anaknya makan makanan amis yang jelas gizinya dan menyenangkan di lidah.

“Sambil meramban daun singkong di belakang rumah, ibu melamun, ibu melihat kali di kejauhan, dan ibu baru sadar, Tuhan menyuruh ibu pergi ke kali untuk mencari lauk yang pantas buat kalian.”

Hari itu, ibu menggeledah sisa-sisa senar kail milikku—yang pernah kupakai memancing. Jelang petang, sambil menggendong adik, ibu menyisik buluh dan membuat gagang pancing. Pagi harinya, ketika aku hendak pergi ke sekolah, ibu telah siap pergi ke kali. Ibu pergi memancing.

Mendengar penjelasan ibu, kedongkolan di dadaku mereda. Apa yang salah dengan ibu memancing? Aku memakan lahap ikan hasil tangkapan ibu, dan aku menyuruh ibuku berhenti memancing, kupikir itu kurang adil. Kata ibu, Tuhan menyuruh ibu pergi ke kali, mencari lauk-pauk yang pantas untuk anak-anaknya. Tuhan saja tak melarang ibu pergi memancing. Mengapa aku melarangnya.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, aku melihat seorang perempuan, paruh baya, menggendong bayi di punggungnya. Duduk di tepi kali. Menatap senar kail yang tak bergeming. Aku tahu kisahnya. Perempuan itu ibuku. Puluhan tahun lalu.

***

 

Malang, 21 Mei, 2017

Advertisements