Cerpen Risda Nur Widia (Tribun Jabar, 11 Februari 2018)

Dua Tokoh Kesedihan yang Diciptakan Haruki Murakami ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Dua Tokoh Kesedihan yang Diciptakan Haruki Murakami ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

Terciptanya Bulan Lain di Hidupku (1)

KESEDIHAN menyeretku ke dunia yang sulit dipahami. Lengan kesedihan yang kokoh seolah merangkul tubuhku untuk tinggal di dalamnya. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia yang kusinggahi. Pun apa yang tampak dan sedang berjalan di sini seperti bukan dalam pengertian duniaku. Segalanya berjalan—baik atas ruang dan waktu—seolah memiliki cara pandang yang lain.

Secara dasar dan konsep aku memang tetap berada satu dimensi dengan manusia pada umumnya. Aku kerja, makan, dan mengantre bis di tempat yang sama seperti manusia pada umumnya. Bahkan aku tetap menjadi bagian dari kepadatan kota yang suntuk. Namun ada satu hal yang menjadi penanda duniaku dengan dunia normal pada umumnya. Di hadapanku—dan nyaris setiap malam—terdapat dua bulan yang menggantung di langit.

Satu bulan itu muncul begitu saja. Aku pertama kali melihat satu bulan yang lain itu setelah menyelesaikan buku bacaanku. Ketika itu aku membaca novel 1Q84 karya Haruki Murakami di beranda dengan terkantuk-kantuk. Sambil membaca aku terus menggerutui isi novel panjang itu. Sesekali aku berharap memiliki bulan tambahan layaknya novel itu. Paling tidak dengan tambahnya satu bulan, malamku tidak terlalu sepi karena patah hati ditinggal oleh calon istriku: selingkuh.

Kini yang aku dapat malah hal tak masuk akal. Karena malam itu setelah terus membayangkan satu bulan tambahan, bulan baru benar-benar muncul. Sebuah bulan baru yang bertengger sejajar dengan bulan lama. Mengetahui itu aku tidak begitu saja menerimanya. Namun aku juga tidak dapat mengelak dengan keberadaan bulan baru itu. Sosok bulan itu begitu nyata. Bulan itu bertengger dengan cahaya dan bentuk yang sama dengan bulan yang lama. Hanya saja, yang membedakan bulan baru dengan bulan yang lama adalah bentuknya. Bulan baru cenderung lebih kecil.

Begitulah. Setiap malam kini terdapat dua bulan di kehidupanku. Dua bulan itu bertengger sama persis menemaniku saat sepi.

“Apakah aku terjebak di novel tersebut?” Aku berpikir demikian. “Apakah ada seseorang lain yang bisa melihat bulan baru itu selain diriku?”

Hidupku yang sedang kacau karena cinta menjadi tambah babak belur. Otakku tak bisa berhenti untuk bertanya mengenai satu bulan yang lain. Bahkan aku mulai merasakan kesedihan tokoh-tokoh di novel 1Q84. Aku bisa merasakan bagaimana Tenggo, Aomame, Fukada Eriko, don Ushikawa saat menyadari dunia mereka terdapat dua bulan yang menggantung. Memahami hal ini, sering aku ingin mencari teman berbicang tentang bulan. Namun sulit menemukan seorang yang dapat menerima pengertianku mengenai dua bulan itu.

“Satu bulan tambahan mungkin cukup bagus bagi kehidupanku yang kesepian,” tambahku. “Paling tidak aku mempunyai satu bulan yang lain untuk menemaniku.

Kekasihku yang Telah Lama Mati Telahir Kembali Menjadi Bulan (1)

KEKASIHKU mungkin terlahir kembali menjadi bulan. Apa yang ia katakan dahulu sebelum meninggal karena penyakitnya telah menjadi kenyataan. Lima tahun lalu setelah membaca novel 1Q84 karya Murakami, kekasihku Karta, seorang penyair konyol, menyatakan ingin terlahir lagi menjadi bulan apabila meninggal di usia muda. Ia ingin menjadi satu bulan yang lain di dunia. Bulan yang sama persis dan menjadi satelit alami seperti bulan yang lama. Benar! Beberapa bulan terakhir aku melihat satu bulan lagi di langit. Sebuah bulan baru yang berjajar persis berdampingan dengan bulan lama.

Aku tidak kaget melihat dua bulan dalam satu malam. Pemadangan dua bongkohan bulan itu bahkan terkesan adalah pemandangan yang biasa. Karena seperti yang sudah dikatakan kekasihku dahulu: Ia ingin terlahir kembali menjadi bulan. Mungkin di kehidupan kedua kekasihku kini tidak dilahirkan melalui rahim seperti manusia pada umumnya. Namun ia dilahirkan dari rahim langit yang kelam. Kekasihku terlahir kembali menjadi sosok baru—hal yang ia inginkari— menjadi bulan. Malam ini ketika melihat dua bulan yang menggantung, ingatku seolah diseret pada percakapan kami dahulu.

“Terlahir kembali menjadi manusia adalah kutukan,” kata kekasihku.

“Lalu kau ingin terlahir kembali seperti apa bila hidup lagi?”

“Aku ingin menjadi bulan!”

Kekasihku telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Malam ini aku melihatnya lahir kembali dalam bentuk sebongkah bulan besar di langit. Bulan baru yang menemani bulan lama.

“Kau pasti sangat bahagia karena Tuhan mendengarkan doamu,” kataku.

Sejak membaca novel 1Q84 karya Haruki Murakami, kekasihku mulai memiliki impian yang cukup oneh. Sebagai penulis dengan kadar kemurungan akut, tulisannya semakin lengket oleh kesunyian. Ia tidak banyak bicara dengan orang lain. Ia lebih memilih memendam. Namun setebal ia membentengi dirinya, tetap saja ia bisa sedikit mengutarakan keinginannya kepadaku. Saat itu ia berkisah ingin mati dan hidup lagi menjadi bulan.

“Kau tahu arti bulan di novel 1Q84 karya Haruki Murakami?” tanyanya dahulu.

“Aku belum selesai membacanya. Apa arti dua bulan di novel itu?”

“Sebuah kehidupan baru,” balasnya. “Bulan baru di novel itu diartikan sebagai kelahiran baru bagi makhluk hidup.”

Kekasihku pun mengisahkan tentang Dotha dan Maza; tentang kematian dan kelahiran; tentang konsep tubuh sebagai reseptor dan perseptor; tentang ruang dan waktu; tentang hidup yang seolah seperti seremonia semata. Ia menceritakan segalanya seperti memahami: Suatu saat pada akhirnya hidup kita hanya perihal mengulang apa yang telah dijalani. Aku masih menengadah seorang diri melihat bulan. Kemudian tersenyum. Lalu aku menyeret leherku melihat jam tangan. Pukul 23.30. Kota masih sedikit ramai dengan kendaraan yang berisik. Mendadak terpikir: Apakah ada orang lain selain diriku yang bisa melihat dua bongkah bulan itu? Aku melempar sepasang mataku ke sekitar. Tak ada seorang yang termenung dan menengadah seperti diriku.

Terciptanya Bulan Lain di Hidupku (2)

DI bus kota yang melaju, sepasang mataku terus menerawang ke langit. Kedua mataku seakan menjebol bingkai jendela bus untuk meneliti dua bulan itu. Aku tak bisa melepaskan pandangan mata untuk mengamati sepasang bulan vang bertengger di langit. Dan—sejauh aku berusaha membuangnya—selalu tebersit pertanyaan di benakku: Apakah ada orang lain selain diriku yang bisa melihat dua bulan itu?

Mataku mengerling ke arah penumpang di bus. Mereka tampak sibuk dengan sesuatu. Misalnva pria paruh baya di sebelahku yang lebih khusyuk pada telepon genggamnya. Lalu seorang ibu yang berada di sebelah kiri agak ke belakang dari tempat dudukku, ia lebih memilih memejam mata. Dan mungkin apabila diperhatikan satu per satu, para penumpang bus ini tak ada yang penduli mengenai rembulan. Mereka sudah cukup lelah dengan kehidupan sehari-hari yang tak masuk akal.

Tidak ada orang yang bisa aku ajak bicara. Maka kuputuskan untuk turun dari bus kota. Aku memilih untuk menghabiskan malam melihat dua bulan itu di tengah kota.

“Mungkin hanya aku saja yang bisa melihat dua bulan itu!”

Orang-orang terus melangkah tanpa peduli dengan apa yang terjadi. Kehidupan kota seperti berdenyut dengan caranya sendiri. Sampai kemudian aku melihat seorang wanita di pinggir jalan tampak termenung dengan leher menengadah. Wanita itu berdiri sendiri di sana. Dari perangainya, ia tampak sedang mengamati sesuatu di langit. Akhirnya aku memutuskan untuk mendekatinya.

“Malam yang indah,” kataku.

Ia mengamatiku seperti menimbang. Ia berkata. “Aku sedang ingin melihat bulan!” Mendengar pemyataannya rasanya aku seperti menemukan seseorang yang dicari.

“Bulan yang indah.”

“Tentu!” balasnya.

“Malam ini aku juga sedang ingin melihat bulan.”

“Silakan!”

Aku tenang di sampingnya. Aku tidak berusah mendesaknya untuk berbicara mengenai sebongkah bulan yang lain itu. “Kau suka bulan?” Tanyaku.

“Sebelumnya tidak,” kalimat wanita itu terpotong. “Tapi karena dahulu kekasihku pernah berkata ingin menjadi bulan, kini hampir setiap malam aku selalu melihat bulan.”

“Kekasihmu ingin menjadi bulan?”

“Betul! Ia ingin mati dan terlahir lagi menjadi bulan!”

“Lalu?”

“Lalu kini ia terlahir lagi menjadi bulan!”

Aneh melihat gelagat wanita itu. Apakah wanita itu dapat melihat dua bulan malam ini?

“Kau pasti bisa melihat dua bulan, bukan? Makanya kau berjalan seorang diri tengah malam. Kita sama-sama membuntuhkan seseorang untuk memastikan: Kita tidak terjebak seorang diri di dunia yang tak masuk akal ini.”

Aku terdiam, lalu melanjutkan. “Seperti di novel 1Q84.”

“Betul sekali. Dua rembulan yang kita lihat sama seperti di novel 1Q84.”

“Tetapi kau tadi mengatakan satu bulan itu adalah kekasihmu yang terlahir kembali.”

“Betul!” Ia tersenyum. “Tapi mungkin kau menganggap arti bulan yang baru itu berbeda.”

Lalu aku menceritakan kepadanya bahwa bulan itu adalah penanda dari segala yang membuatku bersedih. Wanita itu mengangguk seolah mengerti apa yang aku katakan.

“Anggap saja kita sedang terjebak di novel itu. Lalu bulan baru yang kau lihat itu adalah segala rasa sedihmu. Tapi percayalah: kesedihan kadang menuntun kita pada kebenaran yang paling mutlak.” Wanita itu kemudian pergi meninggalkanku di tepi jalan. Namun aku sedikit lega karena ada seorang yang dapat memahami kesedihanku.

Kekasihku yang Telah Lama Mati Telahir Kembali Menjadi Bulan (2)

AKU masih termenung di pinggir jalan ketika dari arah barat ada seorang pria murung menghampiriku. Ia kemudian berdiri di sampingku. Ia pun membuka pembicara mengenai bulan. Kami akhirnya terlibat pembicaraan mengenai dua rembulan. Aku menjelaskan mengenai dua rembulan yang hampir setiap malam muncul di kehidupanku. Aku juga menceritakan kepadanya bahwa rembulan itu adalah jelmaan kekasihku yang mati. Namun aku memilih pergi meninggalkannya. Aku pikir, lebih baik kami menyimpan kesedihan kami masing-masing. (*)

 

Untuk Mario F Lawi, Rio Johan, dan Dewi Kharisma Michellia

RISDA NUR WIDIA, penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Meraih penghargaan pilihan buku sastra terbaik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta (2016 dan 201 7). Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Advertisements