Cerpen Jeli Manalu (Padang Ekspres, 11 Februari 2018)

Akuarium Hati ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Akuarium Hati ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Jam delapan pagi ini aku pergi mandi. Kutarik pakaian dari susunan paling atas. Kututupi kantung mata meski tidak jadi memulas bibir karena lipstikku jatuh lalu berguling ke bawah tempat tidur—aku malas mencarinya. Sambil menyemprotkan wewangian dan membaui aromanya, di depan cermin, aku memikirkan akuarium berbentuk hati: apa tadi sungguh melihat seekor ikan hitam menabrak dua ekor ikan yang lagi bersama-sama.

Tapi aku harus gegas. Sekitar sejam yang lalu Mura menelepon dan memberitahukan sebuah alamat.

Aku menunggu. Rumahnya agak jauh ke tempat kami janjian. Kupesan lemon hangat dicampur sedikit gula serta serai yang dimemarkan. Ibu si pemilik lesehan bertanya apa aku sedang sakit kepala, kujawab dengan tatapan mata yang kupikir saat ini aku sedang dipahami.

Tak berapa lama Mura pun tiba. Dia melambaikan tangan ke arahku saat turun dari taksi. Cara berpakaiannya mengagumkan, aku terbayang pada drama-drama Korea yang menampilkan tokoh perempuan modis berkarier cemerlang. Rambutnya pendek berkilau. Senyumnya hidup. Langkahnya tak ragu menuju tempatku—terdengar bunyi sepatunya saat menyeberang dan aku tertegun merasakan auranya menembusku, mengalahkanku dari segi mana pun.

“Sudah lama?”

“Belum terlalu.”

Lemon hangatku datang. Tampak uap putih samar bergulung-gulung lalu hangus di udara. Mura memperhatikanku mendekatkan hidung ke cangkir. Kuambil serai, kugigit beberapa kali—aku mencoba mengingat lagi apa tadi ikan hitam sungguh-sungguh menabrak dua ekor ikan yang sedang bersamaan dalam akuarium. Ikan-ikan itu sudah lama tinggal denganku. Mereka terlihat berteman baik. Damai. Tenteram. Saling menghargai satu sama lain, dan air dalam akuarium belum pernah bergejolak sehingga muncrat mengenai keningku.

Advertisements