Cerpen M. Giffari Arief (Rakyat Sumbar, 10-11 Februari 2018)

Nyawa Bapak Ada di Radio ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Nyawa Bapak Ada di Radio ilustrasi Rakyat Sumbar

APA itu yang namanya prihatin? Apa bisa mengembalikan keadaan Bapak seperti sediakala? Jutaan kali telinga ini dihujani lantunan rasa prihatin orang-orang yang mendengar cerita tentang Bapak sekaligus mereka berdoa dengan sungguh-sungguh untuk diriku agar cepat sembuh. Aku sakit? Mereka gila! Lain lagi jika mereka tidak mendengar cerita tentang Bapak. Mereka akan lalu begitu saja seperti melihat sampah. Dalam kehidupan yang katanya modern pada masa sekarang ini, aku melihat orang-orang begitu ketakutan dengan sampah dan berusaha melenyapkannya. Jika memang begitu arti modern, sunguh, itu sangat primitif! Ribuan tahun lalu orang sudah lebih maju. Mereka mendaur ulang sampah, bukan melenyapkannya! Aku hanya bisa menganga melihat semua ini dan berdoa untuk kesembuhan Bapak. Bapak harus sembuh.

Buih emas tidak akan mampu memecah ombak lumpur. Orang-orang hanya memandang aneh padaku dan juga Bapakku. Tentu tidak bisa anggapan mereka dibantah. Sementara ini, aku hanya bisa fokus terhadap kesembuhan Bapak. Ia sedang diambang kematiannya.

Pasti orang-orang senang dengan kematian Bapak. Sebab terlebih dahulu mereka akan menggelar gelak tawa teramat ketika mengetahui bahwa nyawa Bapak ada di radio, semua radio di Negeri ini! Jika radio musnah dan punah di Negeri ini, maka Bapak akan segera wafat. Jadi bisa dikatakan, Bapak ini adalah penghulu dari semua radio di Negeri ini. Ia hidup karena keberadaan radio-radio di seluruh Negeri.

Tidak ada yang perlu diganjilkan dan dibuat menjadi aneh. Wajar-wajar saja nyawa Bapak ada di radio. Selama hidup, tidak jarang aku melihat orang-orang yang memiliki Bapak yang nyawanya tidak bersatu dengan badannya. Contoh saja Walikota di Kota yang sekarang aku tinggal di dalamnya. Nyawa Bapaknya ada di dalam tindak korupsi. Tidak heran, seminggu yang lalu ia diciduk oleh pihak berwenang karena terlalu sayang dengan Bapaknya sehingga seluruh perintahnya dikerjakan dan seluruh larangannya ditinggalkan. Tentu saja, agar Bapaknya terus hidup.

Beruntung sekali—dan sejujurnya mungkin aku merasa sial—nasibku tidak sama dengan Walikota tersebut. Bapak tidak pernah menyuruhku menyengsarakan masyarakat luas secara massa, seperti tindak korupsi yang dilakukan oleh Walikota itu. Justru Bapak banyak berjasa besar dalam sejarah negeri ini. Tahu? Proklamasi kemerdekaan negeri ini bisa bergema sampai seluruh dunia tertegun kagum dengan perjuangan bangsaku, tidak lain karena radio yang tidak lain adalah nyawanya Bapak! Radio-radio tersebut berjasa besar menjadi perantara untuk menggemakan kemerdekaan negeri ini!

Kenyataan menyajikan hal yang pahit sekarang ini. Sungguh, banyak orang yang tidak tahu budi. Mereka memandang kecil Bapak dan mulai mencoba membunuh Bapak. Zaman modern sekarang ini, orang-orang sudah tidak lagi sering menggunakan radio. Padahal Bapak hidup dari situ! Sedikitnya radio yang dipergunakan menandakan napas Bapak yang semakin sedikit pula, dan apabila sudah tidak ada satu pun yang menggunakan radio, maka secara resmi Bapak akan berpulang ke alam kemudian.

Orang-orang yang katanya semakin modern semakin berperikemanusiaan nyatanya cuma diam. Mereka hanya bisa menonton kala bertahun-tahun atas nama kemajuan peradaban, Bapak semakin hari semakin tersiksa karena nyawanya semakin sedikit. Tidak ada yang sungguh-sungguh membantuku. Aku hanya jadi tempat penampungan bagi manusia-manusia modern untuk memamerkan molek indah rasa kemanusiaan mereka.

Begitupula kau, sama saja meski sedikit lembut dalam bertindak dan memberikan harapan padaku. Keras kau berusaha dalam merayuku agar dapat kuberi restu untuk terlibat dalam usaha penyembuhan Bapak. Sungguh, tidak ada yang bisa! Kau hanya ingin pamer pada dunia bahwa kau punya rasa kemanusiaan. Tapi baiklah, aku mengalah dan sebagaimana biasanya dan sudah kukatakan sebelumnya: Aku hanya jadi tempat penampungan bagi manusia-manusia modern untuk memamerkan molek indah rasa kemanusiaan mereka!

“Kau punya radio di rumah?”

“Punya.”

“Punya gawai? Benda yang katanya bisa mengakses dunia maya dengan kecepatan sangat tinggi itu?”

“Tentu. Itu kebutuhan masa kini.”

“Buang gawaimu dan utamakan penggunaan radio yang kau miliki. Bapakku bisa terus hidup karena itu.”

Mula-mula kau diam dengan ludah yang tenggelam begitu dalam di kerongkongan. Raut wajahmu sangat mudah diterka: Berat untuk setuju. Tapi, kembali aku menerka, pada akhirnya kau setuju setelah terlebih dahulu diam selama delapan detik. Aku juga bisa menerka berapa lama kesetujuanmu itu bertahan. Satu hari setelah pertemuan kita berlalu, dua hari, satu minggu, tiga minggu, sebulan, lima bulan, setahun.

Maaf. Aku lupa. Kau begitu lembut dan halus dalam menyembunyikan busuknya komitmen. Setahun berhasil kau lalui dan aku salut, perjuanganmu begitu keras dalam berkampanye pada masyarakat luas agar mereka sering-sering menggunakan radio ketimbang gawai. Setahun itu pula dunia semakin bergerak maju dan masyarakat semakin kencang membunuh Bapak. Lihat saja warga kota. Ketika mereka terjaga dari tidurnya, mula-mula yang dilihat bukanlah isi rumah. Mereka tidak peduli isi rumah berkurang atau bertambah. Gawai langsung diraih dan larut dengannya. Kemudian mandi, melahap sarapan, melangkahkan kaki menuju tempat kerja dan menyesaki pusat kota, gawai tidak lepas dari perhatian mereka. Selain gawai, tentu banyak sekali perkakas-perkakas teknologi yang begitu canggih dan warga kota begitu bergantung kepadanya. Sementara radio? Semoga cepat lenyap, mungkin begitu kata mereka.

Aku justru sedih dengan apa yang menimpa dengan warga desa. Mereka memang masih menggunakan radio. Namun, peradaban tidak memihak mereka. Dari delapan penjuru, mereka dipaksa secara halus untuk beralih ke sesuatu yang lebih modern, lebih instan, dan lebih beradab. Radio ditinggalkan dan semoga tenang di alam kemudian.

Dua, tiga, empat, dan pada akhirnya lima tahun berlalu. Kau semakin giat berusaha untuk menyelamatkan nyawa Bapak yang semakin sekarat. Hari-hari berganti dan waktu semakin berubah begitu modern. Masyarakat semakin keranjingan mencoba membunuh Bapak. Penggunaaan radio semakin jarang dan perkakas teknologi semakin banyak ragamnya dan semakin menenggelamkan radio untuk kemudian menjadikannya sebagai bangkai peradaban. Jangan lupa: Walaupun lima tahun berlalu, aku tahu kau tidak bersungguh-sungguh menyelamatkan Bapak! Kau membantu hanya untuk telanjang memamerkan rasa kemanusiaanmu.

Pada akhirnya, di sinilah ujungnya. Ajal menjemput Bapak. Perkampungan kumuh tempatku tidur untuk rehat dari aktivitas kriminal ringan menjadi saksi bisu yang melihat wafatnya Bapak. Ia secara tenang dikuburkan di sana. Apakah kau tahu? Tidak sama sekali. Begitu Bapak mati, maka selesai sandiwara yang ada. Kematian Bapak adalah momen yang tepat bagimu untuk mencari tempat baru untuk pamer rasa kemanusiaan. Kau meninggalkanku sendirian dan tiba-tiba saja terdengar kau mencalonkan diri sebagai Walikota di kota ini.

Terus terang, aku tidak heran bahkan bila kau jadi pemimpin Negeri ini. Aku bisa menerka, setelah terpilih jadi Walikota kau akan korupsi besar-besaran, segila-gilanya. Aku hampir lupa, Bapakmu itu adalah Walikota korup beberapa tahun lalu ditangkap. Kau pasti sayang Kakekmu. Kakekmu itu nyawanya ada di segala tindakan korupsi yang terjadi di Negeri ini. Tentu itu adalah momen yang baik untuk memamerkan rasa kemanusiaanmu pada Kakek, kan? Mana mungkin seorang cucu tega membunuh kakeknya. (*)

 

Lubuk Buaya, 2018

MUHAMMAD GIFFARI ARIEF. Lahir di Padang, 10 Juli 1998. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Aktif menulis cerpen, puisi, dan esai di beberapa komunitas siber.

Advertisements