Cerpen Anas S. Malo (Rakyat Sumbar, 10-11 Februari 2018)

Imajinasi-imajinasi Intim ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Imajinasi-imajinasi Intim ilustrasi Rakyat Sumbar

ANJING-ANJING liar itu terus menggonggong, memelototiku, seakan-akan hendak mencabik-cabik tubuhku. Sedangkan bocah di dekatku tidak menunjukkan rasa takutnya. Ia tetap pada posisi duduknya, bersandar di tembok kayu warung kosong. Ia terlalu sibuk dengan lamunan. Ia tetap diam. Matanya menerawang jauh menembus ranting-ranting pohon sampai ke bulan. Sementara hujan gerimis belum juga reda.

Bocah itu menatap bulan, seolah-olah ada sesuatu yang membuat ia tersenyum. Ia pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Bocah itu, tersenyum sendiri. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Sedangkan aku masih sibuk dengan menata napas dan jantungku. Keringat dingin mengucur. Malam, sunyi ditemani lolongan anjing liar adalah pengalaman pertama dalam sejauh umurku.

Malam bertambah dingin disertai selak anjing yang begitu mengerikan. Malam telah membakar rindu-rindu yang tak tersampaikan. Aku membeku, sementara anjing-anjing liar itu masih di depanku, berjarak beberapa meter dari tempatku. Anjing-anjing liar itu belum mau beranjak. Mereka melolong, ada juga yang berguling-guling.

“Hai… Bocah, memangnya kau tidak takut dengan anjing-anjing itu?” tanyaku.

“Namaku Alan. Hanya orang-orang penakut saja yang takut dengan anjing,” jawab bocah itu.

Ketakutanku semakin menjadi-jadi ketika terselip ingatan tentang aroma mistis membumbui malam itu. Kata kakek, ketika anjing-anjing melolong pertanda bahwa roh-roh halus akan muncul. Kata orang-orang tua dahulu, roh-roh halus itu akan bergentayangan untuk menakut-nakuti manusia. Roh-roh halus atau yang disebut oleh kebanyakan orang-orang hantu. Orang-orang takut dengan hantu. Aku sebenarnya belum pernah sekalipun melihat hantu. Hanya melihat di layar televisi hitam putih milik tetangga. Setiap malam Jumat terkhusus malam Jumat Kliwon akan sensasi yang berbeda. Biasanya aku dan beberapa tetangga lain duduk di tikar yang sudah disiapkan oleh Pak Sukmo.

***

Alan sering mendengar hikayat tentang bulan. Ibunya pernah mendongengi sejarah bulan kepadanya. Dongeng itu masih tersimpan rapi dalam ingatan bocah itu. Baginya melihat bulan adalah sesuatu yang membahagiakan, karena bulan tercipta dari keindahan. Bulan tercipta dari kebahagiaan. Kata ibunya, jika tak ada bulan maka malam akan gelap. Malam akan kelam. Kekelaman akan membawa kesedihan. Ibunya pernah mengatakan kepada bocah itu, jika bulan itu seperti kasih sayang seorang ibu.

Bocah itu hidup di sebuah rumah sederhana, bisa dibilang kecil dan kumuh bersama ibunya serta kedua adiknya. Sebagai seorang yang sulung, setiap hari ia membantu ibunya ke hutan untuk mencari kayu dan memetik cabai di ladang. Mencabut singkong dan memetik daunnya untuk dijadikan urap atau dijadikan sayur lodeh.

Biasanya mereka ke ladang ketika sore hari. Jalan kaki dua kilo meter. Alan memakai kaos hitam bergambar yang sudah pudar. Celana pendek berwarna cokelat. Jari kakinya menjepit sepasang sandal. Serampatnya sudah berganti-ganti. Sedangkan ibunya untuk melindungi kepalanya, ia memakai topi beranyaman bambu. Di balik topinya terpasang jilbab putih kusam, dipadu oleh kerut yang belum penyeluruh. Dengan memakai baju abu-abu lengan panjang. Bekas sobek pada ketiaknya terlihat jelas. Rok panjang hitam terlihat membelah rumput-rumput di pinggir jalan yang seperti garis, karena sering diinjak sehingga tidak tumbuh rumput. Dihias oleh peluh, sebutir-butir kacang hijau. Membawa tas berbahan karung goni. Terselip parang, tali dan air minum berwadah botol air mineral.

Terus menyusuri jalan setapak demi setapak. Untuk sampai ke hutan mereka berdua harus melewati jalan berbukit dan berbatu. Melewati Danau Sarean yang konon menurut cerita orang-orang, setempat mandi para bidadari. Tetapi itu hanyalah sebuah mitos, tak perlu dipercaya sepenuhnya. Tak percaya sedikit pun tidak berdosa. Airnya biru. Membuat semua orang penasaran akan ke dalaman danau itu. Agak membuat merinding ketika melihat air danau itu dari permukaan.

Bocah berusia 11 tahun itu terus menoleh ke arah danau itu, meskipun tetap berjalan beriringan bersama ibunya. “Kau sudah lelah,Nak?” suara itu terdengar pelan nyaris lirih, menusuk sunyi. “Kalau lelah, kita istirahat saja di bawah pohon beringin dekat sungai itu,” tawar ibunya.

“Tidak, Bu. Aku hanya penasaran dengan air Danau Sarean yang airnya biru,” jawab bocah kecil itu. Sesekali melemparkan kerikil ke arah danau itu, sambil mengira-ngira apa yang ada di dasar danau itu.

“Nak, jangan iseng begitu. Kita tidak boleh saling mengganggu,” tutur ibunya.

“Memangnya siapa yang terganggu, Bu?”

“Dulu kakekmu pernah bilang, jika danau adalah tempat tinggalnya para bangsa jin. Jadi ibu minta, jangan iseng atau terhadap apa pun yang ada di lingkungan sekitar kita. Siapa tahu ada yang terganggu,” lanjut ibunya.

Dalam diamnya, Alan menjelajah dengan imajinasinya yang tak terjangkau oleh logika. Ia terus menggali pikirannya untuk memecahkan misteri danau itu. Jika ia memandangi air danau itu, ia membayangkan bahwa di dasar danau itu terdapat istana para jin sama dengan apa yang sudah ditonton di televisi di rumah tetangganya.

Akhirnya mereka sampai di hutan setelah menempuh perjalanan dengan jalan kaki. Ibunya mencari ranting-ranting kering. Kalau pun ada jamur yang tumbuh, ia akan mengambilnya untuk dibawa pulang atau apa pun yang bisa untuk digunakan untuk memperpanjang hidup.

Sedangkan Alan, mengambil daun singkong untuk dijadikan sayur. Ia berjalan ke utara untuk mencari daun singkong sementara ibunya masih di tempat semula, mengumpulkan ranting-ranting kering untuk dijual atau untuk digunakan sendiri.

Alan telaten memetik daun singkong yang masih muda. Ia memilah-milah daun yang akan dipetik. Tiba-tiba ada suara jeritan. Memekik. Suara itu datang lagi dengan jeritan memanggil namanya. Ia bergegas kembali ke arah ibunya. Lari. Sendalnya putus. Terinjak duri, berlari terpincang-pincang. Ibunya sudah pucat dan membiru. Napasnya sesak. Ada bekas patokan ular di mata kakinya. Bocah itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan kecuali berteriak meminta tolong, tetapi mungkin jarang ada orang di hutan. Ia terus berteriak sampai seorang menolongnya. Sampai akhirnya ibunya dibawa pulang tetapi sesampainya di rumah, ibunya telah tewas.

Kedua adiknya ikut bersama pamannya di Bojonegoro, sementara Alan ikut bekerja di pabrik tempe di kampung seberang. Ia menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia selalu ikut di setiap kali para orang-orang dewasa berkumpul. Ngopi, bermain kartu, mendem. Adapun yang mereka bahas setiap kali berkumpul tentang pengalaman hidup atau wanita. Ia sering berbicara jorok yang tidak lazim diucapkan seorang bocah.

Setiap malam menjelang, ia selalu akan duduk di ruang terbuka, menatap bulan. Bulan pun seolah-olah mengayun mendekat, kemudian ia seperti ditarik oleh kekuatan yang mengajaknya melayang naik ke bulan. Ia pun bermandikan cahaya. Setiap ia melihat bulan, ia merasa dilihat oleh ibunya. Ia pun meyakini, jika ibunya berada di bulan. (*)

Advertisements