Puisi-puisi Acep Zamzam Noor (Kompas, 10 Februari 2018)

Tiger ilustrasi Heri Winarno - Kompas.jpg
Tiger ilustrasi Heri Winarno/Kompas

Dodoku Ali

 

Kutulis gazal untuk pagi terakhir

Dan kuberikan padamu sebagai amsal

Tiba-tiba angin berhenti menderu

Dermaga lengang di antara kita

 

Kutulis rubaiyat untuk camar kecil

Kutulis di atas permukaan selat

Darahku yang beku kembali mencair

Ketika ruap kopi meluruhkan kabut sepi

 

2014

 

Siapakah

 

Siapakah yang menyiramkan hijau

Ketika punuk bukit kembali bersemi

 

Siapakah yang menumpahkan biru

Ketika ombak berkejaran dengan sunyi

 

Siapakah yang menggambari langit

Dengan kuas sehalus awan pagi

 

Siapakah yang mengukir udara

Dengan pahat selentur jemari

 

2015

 

Sesungguhnya

 

Andai jemariku mengelus rambutmu

Aku hanya mengelus rambut waktu

 

Andai hanya mengelus rambut waktu

Sesungguhnya aku mengurai rahasia rindu

 

Andai mengurai rahasia rindu

Aku hanya mengungkapkannya lewat lagu

 

Andai hanya mengungkapkannya lewat lagu

Sesungguhnya aku telah memeras seluruh jiwaku

 

2015

 

Anjung Cahaya

 

Ketika sunyi menyeberangi selat

Aku sendiri di dermaga biru

 

Ketika angin mengirimkan isyarat

Aku melihat sampan meninggalkanku

 

Ketika rembang menebarkan kesumba

Aku menjengkal jarak ruang dan waktu

 

Ketika senja mematangkan cahaya

Aku tenggelam di palung rindu

 

2015

 

Tapulaga

 

Langkahku berujung di sebuah dermaga yang menjorok

Ke dalam teluk. Tak ada kata-kata yang menggambarkan

Bahwa kehilangan merupakan bentuk lain dari penyerahan

Tiang kayu hanya menunjukkan di mana aku mesti berdiri

 

Sebuah pulau nampak seperti bangkai perahu di tengah laut

Pondok-pondok terapung di antara keheningan dan kebisuan

Jejak sunyi yang kautinggalkan berupa riak yang memanjang

Dan lenyap di kejauhan. Suaramu tersimpan di balik ombak

 

Aku berusaha mengingatmu dalam jarak yang masih terjengkal

Selat demi selat tidak pernah mengantarkan kita ke mana-mana

Hatilah destinasi paling akhir dari semua persinggahan di dunia

 

Kekasihku, tulisan di atas pasir ibarat artefak percintaan kita

Hikayat yang terpahat di udara akan segera dihapus cuaca

Sebagaimana pertemuan langit dan bumi yang selalu tertunda

 

2016

 

Bukan Destinasi Akhir

 

Pelan-pelan langkah fajar mendekati tembok dermaga

Menjelang subuh tiba. Perahu-perahu mulai berlabuh

Ufuk yang kemerahan menggeraikan rambutnya ke udara

Dan udara menyisir rambut itu dengan hembusan angin

 

Dari ujung teluk menyembul matahari yang berawan

Tirai-tirai cahayanya membayang pada permukaan laut

Seorang penyair telah berlayar dan lenyap di balik ombak

Tapi waktu tak pernah menyebutnya sebagai kehilangan

 

Kehilangan hanyalah jeda dari sebuah perjalanan panjang

Persinggahan di antara keberangkatan dan kedatangan

Yang terus berulang. Kematian bukan destinasi akhir

 

Seorang penyair adalah nelayan yang mengarungi malam

Dan bertamng melawan sunyi. Epitaf tak menulis namanya

Tak ada artefak yang mengisahkannya sebagai pemberani

 

2017

 

Sancang

 

Tanpa alas kaki aku berjalan memasuki hutan terlarang

Batu-batu padas menjadi nubuat yang berasal dari sunyi

Sebuah ukiran nampak pada tebing yang ditoreh belati

Ada lelehan darah. Tahun kelahiran kita tertulis di sana

 

Lalu kita berpisah dan menjadi bagian dari kitab semesta

Bagian dari buku yang tak henti-hentinya mendedahkan

Keajaiban rindu. Aku membacamu hingga lubuk bahasa

Sebelum kau menghilang ditelan keremangan kata-kata

 

Aku berjalan menanjak dan menurun sepanjang hutan itu

Ingatan ibarat sulur-sulur pohon yang beijatuhan ke bumi

Dan kenangan adalah bunyi serangga menjelang subuh tiba

 

Di sebuah muara aku melihat waktu mengalir begitu lambat

Menit-menit mengambang di antara cabang-cabang bakau

Yang rapat Aku tabu kematian menunggu kita di dermaga

 

2017

 

Batupacakop

 

Bibirku hanya mendarat di kening batu karang

Ketika angin mengabarkan seseorang pergi ke selatan

Dan menghilang di balik ombak. Maka kecupanku

Kecupan pertamaku sebatas menyentuh jejak

 

Jejak sunyi yang kemudian menjadi sangat panjang

Dalam ingatanku. Di sinilah akhirnya aku membuang diri

Menjadi layar bagi perahu, menjadi jaring bagi nelayan

Menjadi petunjuk jalan bagi peziarah yang kebingungan

 

Bertahun-tahun kurenungi waktu sambil memejamkan mata

Kuhayati kesementaraan dengan menyumbat kedua telinga

Terus berlari mengejar bayangan yang sebenarnya tidak ada

 

Utara dan selatan adalah satu dalam napas panjang waktu

Hulu dan muara adalah rangkaian niat, ucapan serta perilaku

Berabad-abad menunggu hingga rinduku sematang terumbu

 

2017

 

Sagaraanakan

 

Aku melihat ujung cahaya di balik keremangan

Sebutir bintang jatuh dan tenggelam di muara

Perahu-perahu yang berlayar menghilang

Di seberang nusa. Tumpalian tinta menodai segara

 

Aku memasuki celah di antara dua karang besar

Menyelinap ke dalam kerumunan sulur-sulur kiara

Rembang telah menjadi titik yang tak terjangkau

Oleh kata-kata. Lalu mataku padam bersama senja

 

Di manakah jalan setapak yang menuntun masa kecilku

Ke arah sendang? Setiap pengembaraan selalu melahirkan

Berbagai kemungkinan yang sulit untuk digambar ulang

 

Di manakah tembang asmarandana yang menenungku

Menjadi batu? Goa-goa seperti menyembunyikan masa lalu

Namun semadiku adalah perjalanan lain di luar waktu

 

2017

 

Karangtawulan

 

Sambil mengingatmu aku berjalan menuju perbukitan

Menapaki undakan batu yang menanjak dan berkelok

Seperti tangga usia. Kudengar angin bersahutan di udara

Dan pelahan-lahan rembang menurunkan layar petang

 

Di atas hamparan samudera nampak titik-titik cahaya

Langit tanpa mega bagaikan lukisan yang belum selesai

Tapi permukaan ombak seakan menunjukkan tekstur lain

Selalu ada ruang bagi sunyi. Bagi siapa pun yang menanti

 

Sambil mengenangmu aku memaknai setiap perubahan

Sebagai kehilangan. Di antara ketapang, bunut dan randu

Bayang-bayang menegaskan bahwa jarak kita bukan waktu

 

Mungkin setiap kehilangan menyisakan jejak yang dalam

Semacam luka yang tak kunjung kering. Tapi pulau karang

Adalah kesendirianku yang tegak di tengah ganasnya musim

 

2018

 

 

Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan. Death Approaching and Other Poems (2015) merupakan antologi puisinya dalam terjemahan Inggris dan Jer man, sedangkan Ailleurs des Mots (2016) adalah antologi puisinya dalam terjemahan Perancis.

Advertisements