Cerpen Emahan Jamil Hudani (Lampung Post, 04 Februari 2018)

Seorang yang Menunggu di Simpang Bunglai ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Seorang yang Menunggu di Simpang Bunglai ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

Kulipat dan kumasukkan kembali beberapa lembar kertas surat itu ke dalam amplop yang sudah terlihat lusuh. Ada perasaan sedih dan rasa bersalah yang begitu besar dalam hatiku. Aku lalu terbayang seraut paras lembut yang dengan setia duduk dan menunggu seseorang yang dicintainya di simpang Bunglai ini.

Mungkin benar juga jika ada yang mengatakan bahwa hidup ini adalah sebuah panggung sandiwara. Betapa kita terkadang seperti dipermainkan oleh cerita hidup yang begitu sederhana namun tak terduga. Hanya kadang ada hal yang tak bisa terlupa atau bahkan bisa terlupa begitu saja dengan mudahnya.

Dulu, ketika masih duduk di bangku SMA, aku pernah menjalin sebuah kisah cinta yang akhirnya sekarang harus kembali kukenang. Semua berawal di simpang jalan ini.

Simpang Bunglai adalah sebuah persimpangan yang berada di jalan lintas utama yang menghubungkan beberapa kota. Jika kita turun di simpang Bunglai, maka jalan yang  menuju masuk ke dalam dari simpang tersebut adalah belasan desa yang terletak di kaki pegunungan.

Inilah satu-satunya jalan masuk dan jalan keluar jika kita akan menuju ke kota. Ada beberapa mobil yang ngetem atau antre menunggu penumpang yang menuju ke desa-desa tersebut. Saat itu sangat jarang warga kampung yang memiliki sepeda motor atau mobil pribadi seperti sekarang ini, jadi bisa dipastikan para warga yang akan pulang kampung akan berhenti dan naik mobil umum dari simpang Bunglai ini.

Aku dulu selalu bertemu Widya di simpang ini. Ia adalah seorang perempuan yang tinggal di kampung yang berbeda denganku. Aku dan Widya menyelesaikan sekolah di kota yang berbeda pula, tapi setiap hari Sabtu sore saat akan pulang kampung, kami bertemu di simpang ini.

Pada awalnya, saat aku masih duduk di bangku kelas satu SMA, aku tentu belum begitu mengenal Widya, hanya sering melihatnya. Hingga suatu ketika saat kami sedang istirahat di simpang ini menunggu mobil berangkat dan membawa kami menuju kampung, kami berkenalan dan berbincang.

Aku dan Widya kemudian menjadi saling akrab dan bisa dipastikan kami akan saling menunggu di simpang Bunglai saat kami pulang kampung pada hari Sabtu. Tentu semua tak berjalan mulus. Pernah juga aku menunggu Widya di sini hingga mobil terakhir yang akan menuju kampung berangkat, ia belum juga tiba, itu artinya Widya tak pulang. Begitulah kami memulai cerita sederhana hingga pada akhir kelas satu SMA kami memutuskan untuk berpacaran.

Seringnya aku bertemu dengan Widya masih dalam balutan seragam sekolah. Kami biasanya pulang kampung memang seusai pulang sekolah. Hanya perlu waktu satu setengah jam naik bus dari kota di mana aku bersekolah menuju simpang Bunglai ini. Begitu juga Widya, hanya perlu waktu satu setengah jam dari kotanya menuju simpang ini, hanya Widya datang dari arah yang berlawanan.

Jika aku dan Widya tiba di simpang Bunglai saat hari belum sore, maka kami akan berbincang cukup lama hingga kadang kami membiarkan beberapa mobil terlewat dan kami akan naik mobil yang berangkat terakhir menuju kampung. Biasanya kami sering minum es campur di warung makanan dan minuman yang letaknya masih di bilangan simpang Bunglai tersebut.

“Setelah lulus SMA, aku akan kuliah ke pulau seberang, Wid,” kataku pada Widya saat kami telah duduk di akhir kelas tiga SMA.

“Orang tuaku tak cukup mampu membiayaiku kuliah. Aku sepertinya akan mencari kerja saja di kota tempatku bersekolah,” jawab Widya.

“Apakah kau bersedia menungguku hingga aku lulus kuliah, Wid? Setelah itu aku akan melamar dan menikahimu.”

“Tentu, tentu aku akan menunggumu, Mi. Seperti saat aku dan kau saling menunggu di simpang Bunglai ini.” Lalu Widya terisak. Untunglah ibu warung tempat biasa kami minum es campur seakan memahami perasaan kami.

Lalu setelah lulus SMA aku menuju pulau seberang untuk melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi. Berat sekali rasanya kutinggalkan Widya. Tapi kehidupan baru di dunia kampus ternyata membuatku begitu cepat lupa akan sosok Widya.

Sebuah kota besar dengan begitu banyak warna membuatku terlena. Aku hanya pulang kampung dua kali dalam satu tahun, saat libur panjang semester dan lebaran. Ketika pulang kampung dan melewati simpang Bunglai, aku juga tak pernah lagi naik mobil yang ngetem, tapi aku akan langsung naik ojek menuju kampungku.

Aku juga tak pernah mampir di warung tempat aku dan Widya sering minum es campur dulu. Sesungguhnya bukan aku tak ingat akan Widya dan ucapannya saat kami berpisah di simpang Bunglai waktu itu, tapi aku tak begitu yakin saja, terlebih di pulau seberang aku juga sudah punya kekasih baru.

Selulus kuliah, aku kemudian bekerja di pulau seberang. Kini saat telah menjadi karyawan sebuah perusahaan di pulau seberang, aku bahkan pulang kampung hanya satu kali dalam satu tahun, yaitu ketika hari raya Lebaran.

Enam tahun aku menjadi seorang karyawan, aku lalu menikah dengan Ida. Simpang Bunglai seperti terlewatkan saja bagiku. Aku benar-benar tak pernah lagi singgah di simpang itu karena saat pulang kampung pada masa Lebaran, aku mengendarai mobil bersama istri dan anakku yang kini berusia satu tahun.

Suatu ketika adik perempuanku akan menikah di kampung, aku mudik sendiri tanpa mengajak anak dan istriku karena aku hanya izin kantor beberapa hari saja. Aku pulang kampung naik bus karena pasti lelah jika berkendara sendiri selama kurang lebih empat belas jam.

Di simpang Bunglai, entah kenapa aku ingin sekali singgah dan minum es campur di warung dulu tempat aku biasa minum. Telah lama aku tak ke sana. Kulihat suasana warung sedang sepi. Penjual minuman dan makanan ternyata masih orang yang sama dan ia masih sangat mengingatku dengan baik.

Ia begitu terkejut dan menatapi sekujur tubuhku dalam waktu yang cukup lama, mungkin serasa tak percaya atau sekadar memastikan jika aku adalah salah satu pelanggannya dulu yang telah lama hilang. Setelah kami bercakap sejenak, ibu warung lalu bercerita tentang suatu hal yang tak pernah kuduga. Sungguh cerita yang dituturkan oleh sang tukang warung itu membuatku sangat terkejut.

***

Sejak kepergianku ke pulau seberang sekitar dua belas tahun yang lalu, Widya setiap pulang dari kota pasti akan singgah di warung ini. Ia pulang kampung hanya satu bulan sekali karena ia telah bekerja di kota. Hari Sabtu pada tiap pekan pertama seusai gajian. Ia duduk di pos gardu tempat biasa orang-orang menunggu mobil yang akan berangkat menuju kampung, tempat di mana kami dulu sering duduk di sana.

Baru belakangan ini ia naik ojek karena mobil yang ngetem sudah sangat jarang karena jumlah penumpang telah jauh berkurang, orang-orang kampung telah banyak yang memiliki kendaraan sendiri. Terkadang Widya juga singgah untuk minum es campur dan berbincang tentangku kepada ibu warung. Ia banyak bertanya pada sang tukang warung yang tentu saja tak mengerti sama sekali tentang keberadaanku.

“Kau tahu, Nak Fahmi. Lebih sepuluh tahun Widya bertanya tentangmu dan juga setia menunggumu. Ia belum menikah hingga terakhir kulihat ia singgah dan menunggumu di sini. Sungguh aku begitu terharu jika mengingat kesetiaannya padamu. Dua tahun yang lalu ia pamit untuk pergi jauh dan setelah itu ia benar-benar tak terlihat lagi. Ia menitipkan sebuah surat untukmu. Aku telah berjanji pada Widya dan diriku sendiri untuk menjaga dan menyampaikan suratnya padamu,” tutur sang tukang warung sambil memberikan sebuah surat yang ia simpan di dalam tas kecil di laci lemari tempat ia menaruh gelas dan piring.

Aku tak bisa menceritakan isi surat Widya yang begitu panjang, tapi biar kuceritakan hal itu sedikit saja.

Widya ternyata tetap setia menungguku di simpang Bunglai ini. Ia begitu berharap bisa kembali melanjutkan cerita cinta kami dan mewujudkannya dalam pernikahan. Meski ia begitu kecewa aku tak pernah singgah di simpang ini, ia masih tetap menunggu hingga lebih sepuluh tahun saat ia kemudian merasakan jika penantiannya telah menjadi sia-sia.

Widya menulis jika ia mengetahui juga aku telah menikah dengan perempuan lain tanpa menceritakan dari mana ia mendengarnya. Ia akhirnya mencoba untuk melupakan kisah dan segala kenangan itu dengan rasa kecewa dan sakit hati. Cerita Widya dalam suratnya, ia tak bisa melupakan begitu saja masa-masa indah kami di simpang Bunglai ini.

Widya akhirnya memutuskan untuk pergi jauh dari kampung. Ia melamar untuk menjadi seorang tenaga kerja di luar negeri sana, seperti banyak perempuan kampungku. Ia berharap bisa mengubur segala kenangannya bersamaku.

“Aku juga berharap aku menemukan jodoh di negeri rantau, seorang yang jauh dari kampung kita. Semoga ia yang menjadi suamiku nanti bisa membawaku ke kampungnya saat aku kembali ke negeri kita sampai aku benar-benar sanggup untuk melupakan dan melewati simpang Bunglai lagi,” tutup Widya. Dari tanggal yang tertera dalam surat itu kuketahui jika Widya menulisnya hanya berselang beberapa minggu setelah aku menikah.

Advertisements