Oleh Bandung Mawardi (Lampung Post, 04 Februari 2018)

Pembaca (Buku) Sastra ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Pembaca (Buku) Sastra ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengumumkan bahwa peminat atau pembaca sastra Indonesia cuma 6,2%. Laporan itu tidak perlu membuat kita khawatir dan bergegas mengadakan petisi meminta sokongan jutaan orang seantero Indonesia.

Penelitian LSI cuma melibatkan 1.200 responden, berusia dewasa alias di atas 17 tahun. Data diperoleh selama Desember 2017. Kita membaca laporan LSI secara tabah saja.

Curiga secuil pun boleh asal memiliki data atau argumentasi berbeda dan mendalam. Ketiadaan data bercap ilmiah bisa digantikan cerita-cerita biografis atau pengamatan kecil ke kampus, rumah, perpustakaan, toko buku, dan media sosial. Kita tidak usah menganggap kerja LSI memberi berita (paling) buruk dan peringatan menggunakan tiga tanda seru.

Sekian hari silam, Goenawan Mohamad sempatmeragukan sekian keluhan dan laporan mengenai pembaca di Indonesia. Pemerintah bermodal laporan-laporan institusi asing sering menganggap jumlah pembaca di Indonesia itu sedikit.

Angka kecil membuat pemerintah mengajak pelbagai pihak mengadakan upacara prihatin. Upacara itu menghasilkan seminar, lomba, sosialisasi, dan pemecahan rekor.

Goenawan Mohamad kaget mendapat penerbitan buku-buku terus melaju kencang tanpa keluhan-keluhan minta dikasihani. Buku sastra pun terbit menggoda kita lekas membaca dan menilai meski tidak serupa tugas dari A Teeuw dalam buku Membaca dan Menilai Sastra (1983).

Goenawan Mohamad tentu mesem masih melihat ada gairah orang menulis, menerbitkan, serta membaca sastra saat serbuan keluhan dan peringatan berdatangan tanpa henti. Buku sastra teranggap tetap memiliki pembaca tanpa harus dilaporkan dengan angka atau persen.

Peraguan dari Goenawan Mohamad bisa kita bandingkan dengan melihat jajaran buku sastra di toko buku. Penerbit-penerbit besar dan kecil belum kapok menerbitkan buku sastra berharga mahal atau murah.

Penerbit di naungan kelompok Kompas-Gramedia masih keranjingan menerbitkan novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi. Sekian judul buku sering cetak ulang: Ayu Utami, Eka Kurniawan, Leila S Chudori, Aan Mansyur, Joko Pinurbo, dan Triyanto Triwikromo.

Penerbit Republika, Naura, Bentang, dan Alvabet belum mau berhenti menerbitkan buku-buku sastra. Jumlah terbitan mereka disaingi penerbit-penerbit kecil bermarkas di Yogyakarta, Bandung, Solo, Surabaya, dan Makassar.

Buku-buku sastra terjemahan cenderung dipilih untuk diterbitkan oleh para penerbit di Yogyakarta. Sastra-sastra gubahan penulis Indonesia memang tetap diterbitkan meski tidak semelimpah sastra terjemahan.

Pada akhir 2017, buku-buku sastra dipamerkan dan diperdagangkan di acara sastra bertempat di Rumah JBS (Jualan Buku Sastra), Yogyakarta. Acara-acara sastra diselenggarakan berbarengan penjualan buku.

Idrian Koto, selaku gembong JBS, melaporkan nafsu dan selera membeli buku-buku sastra di Yogyakarta masih tinggi, tidak seperti gosip atau laporan resmi pemerintah. Penerbit-penerbit baru malah bermunculan turut meramaikan sastra.

Keluhan demi keluhan mengenai siapa dan jumlah pembaca ingin dihantam menggunakan tawa dan doa. LSI mungkin tak sempat dolan ke JBS untuk melihat kerumunan pembeli-pembaca dan jumlah penerbit ikut dalam acara di JBS. Penerbit-penerbit kecil justru memilih menerbitkan sastra ketimbang buku-buku petunjuk sukses, bahagia, masuk surga, mendapat laba besar, dan meruntuhkan hati perempuan.

Penghitungan jumlah pembaca pun bisa melihat gairah orang-orang di media sosial untuk memesan atau membeli buku-buku sastra terbitan Oaks, Marjin Kiri, Gambang, Banana, Mojok, Cantrik, dan Basabasi. Mereka juga berlagak laris, bersaing dengan cara penerbit besar (Republika dan Bentang) saat mengundang orang jadi pemesan buku sebelum terbit.

Dua penerbit itu memiliki andalan buku-buku Habiburrahman, Tere Liye, Dewi Lestari, dan Andrea Hirata. Konon, di dua penerbit itu jumlah pemesan puluhan ribu. Buku belum berhasil masuk ke toko buku, tetapi sudah ludes.

Novel-novel telah cetak ulang sampai lima kali sebelum dipajang di toko buku. Pengamatan sebarangan itu masih berurusan jumlah pembeli, belum sampai ke penetapan pembaca.

Pembaca sastra pun berjumlah besar melebihi penemuan LSI. Kita berlagak saja laporan itu meragukan. Di buku Gempa Literasi (2012) susunan Gol A Gong dan Agus M Irkham, terbaca cerita bahwa para pembaca buku sastra terus ada dan meningkat di pelbagai kota dan desa, tidak cuma dihitung di Rumah Dunia, Banten.

Buku-buku sastra telah menjadi menu keluarga, melampaui anggapan bahwa para pembaca sastra harus bercap mahasiswa. Buku-buku sastra di rumah mengartikan ada perbedaan dari tata cara pemerintah atau institusi-institusi formal mengharuskan buku-buku sastra ada di perpustakaan sekolah atau daerah.

Tempat buku sastra itu di rumah! Buku-buku memberi undangan orang-orang sebagai pembaca. Kini, keluarga-keluarga memilih menaruh dan membaca sastra di rumah, tidak wajib di sekolah, kampus, atau perpustakaan umum.

Nirwan Ahmad Arsuka pun melaporkan jika buku-buku sastra adalah menu besar dan lezat dalam Pustaka Bergerak. Para pembaca di pelbagai pulau menginginkan membaca sastra untuk mengetahui dan mengalami pelbagai hal. Mereka lapar cerita dan menginginkan buku-buku berdatangan ke desa-desa dan pulau-pulau masih jauh dari toko buku atau keberadaan perpustakaan.

Buku-buku sastra terus bergerak, mendapat pembaca secara bergantian atau bersambung. Penceritaan dan pemberitaan dari Nirwan Ahmad Arsuka-Pustaka Bergerak memicu gairah dan kemauan besar ketimbang kita dikhotbahi laporan-laporan buruk buatan pemerintah atau LSI saat mengumumkan jumlah pembaca sastra berangka kecil.

Pengamatan seru bisa diadakan di media sosial. Sastra bergerak cepat dan mengalami pelipatgandaan di media sosial. Sekian situs mengadakan rubrik-rubrik sastra, mengundang orang-orang jadi penulis dan pembaca. Mereka itu menulis bukan berwujud buku atau membaca dengan memegang buku.

Sastra itu membesar di tatapan mata untuk benda di genggaman. Sastra enggan berhenti atau tamat sebagai bacaan publik. Sekian tulisan sastra di media sosial itu perlahan menjadi buku atau tetap menghuni di jagat idaman kaum millennial. Pembaca pun berhak memutuskan tidak membatalkan diri menekuni sastra dengan cara berbuku atau bergawai.

Kita mending berpikiran bahwa penentu orang mau menjadi pembaca bukan pemerintah, sekolah, universitas, ormas, perpustakaan, atau lembaga riset dan survei. Penentu terpenting adalah keluarga. Pemberi gairah dan pelaporan girang membaca buku sastra itu bersumber dari keluarga, sebelum menjadi isu-isu politis dan bisnis.

Kita mencuplik dari novel Laut Bercerita (2017) gubahan Leila S Chudori mengenai keluarga berbuku sastra. Biru Laut dan Asmara Jati mengerti buku sastra bermula di keluarga: “Beliau mengajarkan kami berdua sejak kecil untuk mencintai bacaan.” Beliau itu bapak.

Buku-buku sastra masuk rumah, bacaan bermakna bagi keluarga. Buku selalu ada sampai keluarga itu kehilangan Biru Laut akibat keangkuhan rezim Orde Baru. Derita kehilangan dan penantian tidak berujung mengingatkan keluarga pada buku-buku sastra bacaan Biru Laut, sejak kecil sampai menjadi mahasiswa melawan kekuasaan Soeharto.

Di rumah, pembaca-pembaca sastra itu menjalani hidup dan memiliki tumpukan nostalgia setelah kepergian atau mati. Kita tetap memastikan Biru Laut adalah pembaca  sastra meski sudah tiada dalam novel. Biru Laut harus dicatat dan dihitung!

 

Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Advertisements