Cerpen Ongky Arista UA (Radar Surabaya, 04 Februari 2018)

Duka Berkepanjangan ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Duka Berkepanjangan ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Aku sudah tak tahu lagi cara untuk menjadi waras. Kepergianmu terlanjur membawa duka. Duka yang membawa lupa tentang banyak hal selain gila, atau selain duka itu sendiri.

Duka ini akan berkepanjangan. Kupikir tak akan ada masa khidmat atasnya. Artinya, sampai kapan pun akan ada duka, yang benar-benar akan tiada habis, tiada hilang, dan mungkin hingga kematian datang menjemputku.

***

Aku baru saja menikahimu dua hari lalu. Kau tahu, aku belum menikmati cinta di malam pertama dan malam kedua. Kau belum kusentuh sama sekali. Terlalu banyak tamu yang datang hingga larut di malam pertama kita menikah dan hingga subuh, di malam keduanya.

Aku ingin meminta malam pertama itu di siang pertama, tapi kau menolak. Alasanmu sederhana, siang itu bukan malam. Jadi, tidak enak saja apabila malam pertama dinikmati di siang pertama.

Lagi pula, siang itu di rumah selalu ramai. Dan kita memang disibukkan oleh pekerjaan yang sesungguhnya tidak menyibukkan sama sekali. Hanya mencuci piring, bantu ibu memasak untuk para tamu, dan mengurus kebersihan rumah. Ya, kita memang selalu berpura-pura sibuk bekerja. Lebih-lebih kau dan lebih-lebih lagi aku sendiri.

Di hari ketiga, kau menghilang. Sekarang sudah tahun ketiga, genap di hari ini. Lihat saja kalender di kamarku, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan di halaman rumah, sudah ada tanda tanggal atas hilangnya dirimu. Dan tentu, kini, kami di rumah masih menganggapmu hilang. Dan tentu pula kau akan tetap ditemukan manakala dicari. Dan sayangnya, tak ada yang benar-benar peduli mencarimu selain aku.

Kata banyak orang, kau meninggal dunia. Ya, tentu aku tak percaya meski sudah ratusan orang menjelaskan kematianmu dan membawaku ke pemakaman, liang tanah tempatmu dikubur.

Tentu aku tak percaya. Orang-orang bisa berdusta, bukan? Pemakaman bisa direkayasa, bukan? Ah, semua hal di permukaan bumi ini bisa dijadikan alat untuk berdusta. Tapi kau, kau tak akan pernah berdusta padaku.

Kau sudah berjanji padaku untuk kembali saat pergi, dan aku ingat sekali janji itu dan aku tidak mungkin melepas kepercayaanku begitu saja kepadamu. Kuyakini hingga tiada lagi keyakinanku, kau akan benar-benar kembali.

“Percayalah, setiap kepergian pasti merindu kembali, dan aku, tentulah punya rindu untukmu.”

Sudah kutulis janji itu dengan ingatan yang tak mungkin kulupakan lagi. Saat kau benar-benar pergi, kuyakin seyakin-yakinnya bahwa kau akan segera pulang karena rindu mungkin telah siap-siap mengantarkanmu kembali kepadaku.

Aku harus tersenyum lepas hingga tertawa lepas. Inilah perayaan paling mungkin kulakukan untuk menyambutmu, dan kita akan melanjutkan cinta dan malam pertama kita yang tertunda selama tiga tahun.

Aku akan menyiapkan kata-kata paling manis untukmu. Dan nanti, setelah kau benar-benar kembali, malam pertama itu akan benar-benar datang dan cinta kita akan benar-benar datang. Menggantikan duka-duka yang berkepanjangan.

“Rindu telah berhasil membawamu sampai di sebuah tempat, di mana kita berjanji akan saling kembali.”

“Kau benar-benar perempuan penepat janji yang pernah kukenal selama ini. Sungguh, kau membuatku semakin percaya pada cinta. Cinta yang tak banyak membuat orang percaya.”

“Terima kasih kau telah kembali demi cinta dan malam pertama kita.”

“Kau terlalu berkuasa atas diriku. Aku tak sanggup menjadi penunggu jika bukan karena aku telah dikuasai olehmu.”

Pilihlah salah satu dari kata-kata itu. Aku akan memakainya di bibir, nanti. Segeralah datang. Benar-benarlah kembali untuk rindu, untuk janji, untuk cinta dan untuk malam pertama yang belum kita selesaikan.

***

Sepuluh tahun, tepat di hari ini. Kau masih belum pulang. Masih saja membuatku menyebutmu hilang. Kau lihat. Di seluruh kampung ini, semua kalender memiliki tanda atas kehilanganmu.

Sudah sepuluh kalender yang kau habiskan. Dan apa mungkin kau akan membuatku memasang kalender ke sebelas, ke dua belas, ke tiga belas dan seterusnya di rumah-rumah warga se-kampung di tahun berikutnya, hanya untuk meyakinkan warga jika kau tidaklah mati, hanya saja hilang?

Pikiranku sudah mulai curiga pada banyak orang. Barangkali ada orang yang menculikmu. Apakah mungkin seorang lelaki telah menyelinap dan mencurimu di atas ranjang? Apa mungkin ada seorang teman yang berkhianat dan membawamu pergi ke sebuah liang, dan menyetubuhimu di sana dan kau tidak kembali karena kau pikir lelaki itu aku? Aku tidak yakin.

Ah, aku benar-benar masih percaya kau tak akan pernah datangkan dusta untukku. Kau pasti masih mengumpulkan rindu. Membesarkan benih-benih di tubuh cinta dalam tubuhmu. Dan mungkin pula, esok atau barangkali dua jam lagi, kau akan datang, benar-benar akan datang. Atau, jika tidak, dan kau yang kupikir akan benar-benar datang tidak benar-benar datang, aku akan juga menghilang, menemuimu dalam cerita kehilangan. Barangkali, kita akan bertemu dalam rimbun kehilangan atau dalam duka-duka yang berkepanjangan.

Biarkanlah aku pergi. Tidak hanya menunggumu, tapi menjemputmu dalam cerita kehilangan ini. Biarlah orang-orang sibuk bertamu ke rumahku. Biarlah. Aku akan menemuimu di sebuah liang, di mana kau kupikir hilang. Sungguhpun ini hanya sebuah liang tanah, tapi mungkin, inilah tempat paling romantis bagi kita bertemu karena rindu, cinta dan penunaian malam pertama. Setelah itu, duka-duka akan segera hilang di antara kita yang telah menjalin temu.

***

“Mengapa kau lama sekali datang?” tanya perempuanku.

“Sulit kutemukan taksi menuju tempatmu. Lagi pula, mengapa kau tak menungguku di halte?”

“Sulit kutemukan taksi menuju ke sini. Aku takut kau masih sibuk melayani tamu-tamu.”

“Apakah ini malam pertama bagi kita?” tanyaku.

“Iya, tentu!” perempuanku berucap dengan pasti.

“Apakah tidak ada laki-laki lain yang menyentuhmu selama sepuluh tahun menunggu?”

“Tidak ada. Hanya dua orang lelaki. Itupun hanya tanya-tanya saja.”

“Baiklah. Mari kita mulai malam pertama kita!”

Dua orang lelaki tiba-tiba menyeretku dari belakang. Perempuanku menjerit histeris. Aku tak tahu apa salahku. Apa mungkin aku mesti menikah lagi dengan cara yang sah untuk mencintai perempuanku di tempat ini? Apa salahku? Apakah karena aku terlalu lama datang dan menyebabkan dua lelaki itu geram kepadaku?

Sampai pun aku dicambuk-cambuk seperti di neraka, aku masih tidak tahu apa kesalahanku. Rindu, cinta, dan malam pertama pun kembali tertunda dan ini telah membawa duka kembali. Semakin berkepanjangan.

“Mengapa kau disiksa?” tanya perempuanku setelah dua lelaki itu beristirahat menyiksaku. Aku sudah tak punya daya apa-apa lagi. Tubuhku tergeletak dengan penuh luka cambuk.

“Katanya, aku berzina dengan seorang perempuan selain kamu.”

“Mengapa kau lakukan itu? Apa kau sudah tidak mencintaku lagi?”

“Bukan begitu. Setiap ada acara pernikahan, aku datang dan membawa pergi pengantin perempuan. Aku menyetubuhinya dan kupikir, dan sungguh kupikir, itu adalah kamu. Sungguh adalah kamu!”

“Aku tidak percaya. Bagaimana mungkin aku yang telah pergi tiba-tiba kau anggap telah datang dan bersama lelaki lain di sebuah acara pernikahan. Sedangkan aku masih menyimpan rindu dan cinta demi malam pertama kita di tempat paling romantis ini?”

“Sungguh, percayalah!”

“Tiada malam pertama bagimu. Kau sudah bersetubuh dengan wanita lain. Dan aku akan memilih laki-laki lain yang bisa memberiku cinta malam pertama.”

Duka-duka kian berkepanjangan. Hilang dalam tubuh satu orang, dan tumbuh di tubuh yang lain. Hilang dalam satu tahun, tumbuh di tahun berikutnya. Kepergianmu ke penjara bawah tanah telah membawa duka berkepanjangan. Kepergianku pun membawa duka berkepanjangan bagi tamu-tamu di rumah. Duka membawa duka. Mengapa cerita hidup selalu penuh dengan duka?

Apa mungkin karena sebuah kesalahan, duka datang berkepanjangan? Aku tak tahu. Yang pasti, kau sudah tidak mencintaiku lagi. Dan sudah tak menginginkan malam pertama lagi. Dan kali ini, malam pertama bukan lagi cerita utama dari cintaku. Tapi duka, duka yang berkepanjangan. Aku menyesal telah menyusulmu ke liang ini. Akupun berduka, duka yang tiada pernah pendek, yang mungkin akan menjadi duka terpanjang di dunia.

***

Kau sepuluh tahun di penjara, dan bebas tepat di hari ini, lima tahun setelahnya. Tepat di hari pertama pernikahan kita. Patut kurayakan hari ini sebagai hari pernikahan. Hari penundaan malam pertama. Hari duka berkepanjangan. Dan hari dibebaskannya kau dari penjara.

Aku hanya bisa merayakannya dalam penjara dengan dua penjaga. Malam pertama kita pun benar-benar tertunda. Dan mungkin, tidak hanya tertunda, tapi binasa. Demi cerita duka yang berkepanjangan.

Adapun cerita ini adalah cerita gila. Cerita duka yang berkepanjangan hingga tiada lagi duka atau gila. Tapi dua-duanya, duka yang membawa gila. Duka yang membuatku lupa kepada banyak hal selain gila, atau selain duka itu sendiri. Kau mesti tahu, duka sungguh membawa kegilaan dan kegilaan bisa diceritakan dengan tidak jelas karena sifatnya yang gila. (*)

 

Penulis adalah asli Pulau Madura. Lahir di Giliraje, Sumenep. Kini tinggal di Desa Somalang, Pakong, Pamekasan.

Advertisements