Cerpen Nabila Er Bakti (Analisa, 04 Februari 2018)

Danila ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Danila ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

INI hari yang indah untuk bersepeda. Meski langit tak begitu cerah, tapi kidungnya sangat menenangkan juga. Semilir angin meniup wajahku dan aku sangat suka itu.

Hai, namaku Danila. Aku tinggal bersama ibuku, meskipun dia tidak pernah melahirkanku. Dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan untukku, yang menjagaku dan merawatku, hingga kini aku beranjak dewasa. Kalian pasti bertanya dimana ibu yang telah melahirkanku, bukan?

Sebenarnya, bukan kalian saja punya pertanyaan itu, melainkan aku juga. Aku juga selalu bertanya-tanya dimana ibu yang telah melahirkanku? Semenjak bayi aku dirawat di sebuah panti asuhan, hingga aku berumur dua tahun. Hadirlah sesosok yang lembut bagai malaikat, dengan baik hati mau merawatku, hingga sekarang.

Maaf, aku sampai lupa memperkenalkannya kepada kalian. Namanya ibu Anna. Dia selalu bilang, aku adalah putri yang dia lahirkan dari hatinya. Dia juga bilang meski kami tak sedarah, tapi kami sehati. Tuhan aku sangat mencintainya.

Di hari ulang tahunku ke-15 dan bertepatan juga aku akan masuk SMA, merupahan hari yang mendebarkan untukku. Aku harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru dan teman yang baru pula. Aku suka dengan hal-hal yang baru, karena aku menganggapnya sebagai sebuah petualangan.

Aku mendayung sepedaku dengan kencang dan tak terasa aku sudah sampai di sekolahku yang baru. Sama seperti sekolah-sekolah lain, kami juga harus melalui masa orientasi siswa, sering disebut MOS yang membosankan seperti ini. Siswa yang dianggap senior, karena lebih tinggi tingkatan kelasnya diperbolehkan menjahili. Kami dianggap junior karena merupakan siswa baru, seperti mentertawakan juniornya. Huhhhh selalu saja seperti ini tidak ada yang berbeda.

Tiba-tiba seorang siswa mendatangiku sambil bertanya, “Apa kau merasa bosan?” Aku hanya menoleh ke arahnya tanpa menjawab pertanyaannya. Dia berbalik badan, sambil berjalan dia katakan:

“Jika kau ingin ke luar dari kegiatan membosankan ini ayo ikut denganku.”

Entah mengapa rasanya aku tak bisa menolak ajakan itu. Aku mengikuti langkahnya. Ternyata dia menuju ke sebuah kantin di belakang sekolah. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Dengan santainya dia memegang tanganku dan menyuruhku duduk di sebuah kursi yang ada disana. Kemuddian dia duduk di kursi tepat di depanku, sambil tersenyum dia mengatakan

“Hai, namaku Oza, namamu siapa?”

Sekejap waktu seakan berhenti saat aku menatap senyumnya. Senyuman itu seperti mempunyai magnet yang membuatku tertarik ke dalamnya. Matanya yang sangat menyejukkan hati membuatku terhanyut kedalamnya.

Semua perasaan itu membuatku tak ragu menjawab pertanyaannya. Aku perkenalkan namaku padanya. Dia hanya tersenyum, lalu berdiri. Kemudian memesankan minuman tanpa bertanya padaku ingin memesan apa.

Setelah itu dia kembali membawakan minuman jus strawberry untukku. Lagi dan lagi entah dari mana dia tahu, aku sangat menyukai jus itu.

Kami pun bercanda sambil menghabiskan minuman masingmasing. Dia begitu pandai membuatku tertawa, sehingga aku tak ingin waktu yang indah ini berakhir. Tiba saat bell pertanda pulang sekolah itu dibunyikan dan menghancurkan harapanku.

Esok harinya aku begitu bersemangat ke sekolah untuk bertemu dengannya. Kamipun kembali menghabiskan waktu bersama.

Oza anak yang pintar. Dia banyak mengajariku tentang pelajaran, tidak hanya pelajaran tentang sekolah, juga tentang kehidupan dunia ini. Aku semakin mengaguminya.

Hari demi hari berlalu aku menunggunya menyatakan perasaan kepadaku. Tiga tahun berlalu sejak perkenalan itu, dia tak kunjung menyatakannya.

Hari ini adalah hari perpisahan sekolah. Hari terakhir kami untuk menghabiskan waktu bersama di sekolah yang penuh kenangan. Baiklah jika begitu, aku yang akan menyatakan perasaanku kepadanya.

Aku mendatanginya dan langsung berkata. Selama ini aku mencintainya dan aku sangat ingin menjadi pacarnya. Mendengar perkataanku, dia langsung tertegun dan diam, sambil memegang tanganku dia berkata.

“Maafkan aku, Danila. Aku tidak bisa.”

Dia melepaskan tanganku untuk kemudian berjalan pergi meninggalkanku. Dengan air mata, aku menatapnya, hingga bayangnya pergi diantara kegelapan. Itu, adalah hari terakhirku melihatnya.

Itu ceritaku 10 tahun yang lalu. Selalu kukenang sampai saat ini, membuatku selalu menolak untuk jatuh cinta lagi. Meski satu per satu sahabatku telah menikah, aku masih saja dengan kesendirianku.

Hari ini, Yosi satu lagi sahabatku akan menikah. Aku pun mendatangi pesta pernikahannya. Sesampainya disana, aku dikejutkan dengan kehadiran Oza di pesta itu. Berulang kali aku mencoba untuk tidak melihatnya, namun tetap saja aku tak kuasa menahan mataku yang terus menatapnya.

Dia kini tumbuh menjadi pria yang berpenampilan dewasa. Tampak begitu sukses. Dia juga terus menatapku sambil tersenyum kepadaku. Sama seperti waktu itu, dia kembali mengajakku untuk meninggalkan suasana pesta yang membosankan itu.

Kami duduk di dekat kolam renang rumah Yosi. Berbincang layaknya teman, namun suasananya sangat berbeda. Pembicaraan kali ini sangat dingin. Oza seperti bingung, ingin bicara apa kepadaku. Dia terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba kulontarkan. Sebenarnya hanya ingin memecah suasana yang garing seperti ini.

“Oza, kenapa waktu itu kau tak menerima cintaku?” Kemudian dia pun perlahan menjawab dengan penuh keraguan

“Maafkan aku untuk waktu itu, Danila. Kali ini kau harus tau, pada saat itu aku tak bisa menerima cintamu karena aku adalah laki-laki pengecut.

Di masa laluku, aku pernah kehilangan seorang wanita yang sangat dekat denganku. Sangat aku sayangi, meskipun kami tidak berpacaran, kedekatan kami bagaikan saudara. Dia harus pergi meninggalkanku dan meniggalkan dunia ini.

Dia mengalami kecelakaan yang sangat mengenaskan saat bersamaku. Aku takut jika aku kembali menyayangi seseorang, dia akan pergi meninggalkanku lagi. Aku takut merasakan kehilangan lagi. Maafkan aku, Danila..”

Sambil menangis dia menceritakan semuanya kepadaku, lalu aku bertanya lagi.

“Apakah sekarang akan masih tetap sama? Kau masih tak mau menerimaku?”

Dia diam sebentar untuk kemudian dia jawab pertanyaanku itu.

“Setelah hidup rumit yang kulalui, aku tersadar. Masa lalu tidak harus selalu diingat sampai menimbulkan trauma, tetapi masa lalu harus dijadikan pelajaran. Aku telah menjadikan masa lalu yang menyedihkan menjadi cerita yang hanya bisa dikenang. Tidak untuk diingat setiap saat. Untuk jawabanku tentang pertanyaanmu itu, maaf Danila, aku tetap tidak bisa menerimamu sebagai pacarku.”

“Mengapa?” kutanya lagi padanya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Apakah kau tidak menyukaiku?”

“Tidak Danila, Tidak.”

Aku langsung tertunduk dengan air mata yang membasahi pipiku. Waktu itu rasanya aku ingin mati saja. Namun tiba-tiba…

“Karena aku ingin kau menjadi pendamping hidupku! Will you marry me, Danila?” Katanya sambil memegang tanganku.

Seketika itu aku langsung mengangkat wajahku untuk kemudian kutatap matanya. Dengan tangis haru aku menerimanya.

Hari yang benar-benar indah untukku.

Danila.

Advertisements