Oleh Bandung Mawardi (Jawa Pos, 04 Februari 2018)

Remah-remah Bahasa, Perbincangan dari Luar Pagar -2 ilustrasi Google
Remah-remah Bahasa, Perbincangan dari Luar Pagar ilustrasi Google 

Kejelian mencari masalah dan keampuhan memberi penjelasan berargumentasi menjadi kekuatan buku ini.

***

BUKU ini memilih judul remah. Tapi, isinya melebihi remah. Si penulis ingin santun, tak bermaksud pamer kepintaran membahas bahasa Indonesia.

Judul anggaplah tipuan kecil agar kita membaca secara serius, tanpa diselingi makan sepiring nasi dan tidur selama 3 jam. Bacalah untuk mengenali dan mengerti bahasa Indonesia! Buku ini berkhasiat, membuat pembaca waras meski dianggap menikmati remah-remah.

Di halaman 2–7, misalnya, tulisan berjudul “W.J.S. Poerwadarminta, Bapak Kamus Indonesia”. Tulisan dibuat Eko Endarmoko bersama Anton M. Moeliono.

Sebuah penghormatan kepada tokoh kamus, pembuka jalan pembuatan kamus-kamus penting di Indonesia. Poerwadarminta dipuji sebagai “ilmuwan swadidik bersahaja”.

Poerwadarminta mengerjakan kamus-kamus sejak masa 1930-an. Kedua penulis mengingat kamus-kamus awal garapan Poerwadarminta, sendirian atau dikerjakan bersama orang lain: Baoesastra Djawa I (1930), Baoesastra Walandi-Djawi (1936), Baoesastra Djawa II (1939), Kamoes Nippon-Indonesia, Indonesia-Nippon (1942), Indonesisch-Nederlands Woordenboek (1950), dan Kamus Latin-Indonesia (1969). Kita menduga Baoesastra Djawa I itu kamus “sulung” dalam ketekunan Poerwadarminta membuat kamus.

Di Bilik Literasi, Solo, Jawa Tengah, ada koleksi kamus lawas berjudul Zakwoorden-Boekje Nederlandsch Maleisch susunan W.J.S.P. Darminta. Kamus diterbitkan Tan Khoen Swie, Kediri, 1930. Penulis itu gampang dikenali sebagai “Bapak Kamus Indonesia” dengan cara penulisan lawas, sebelum sering mencantumkan nama W.J.S. Poerwadarminta.

Tulisan pendahuluan bertanggal 29 Juli 1929 memuat pengakuan penulis: “Adapoen maksoed penoelis, kitab ini hanja oentoek bangsa kita dan bangsa Tionghwa jang ingin mengetahoei bahasa Belanda. Dari sebab itoe barang apa jang mendjadikan kesoekaran kami boeboehkan. Walaupun begitoe, kitab ini akan bergoena djoega bagi bangsa Belanda jang ingin beladjar bahasa Melajoe.” Poerwadarminta masih memberi sebutan bahasa Melajoe, belum bahasa Indonesia. Apakah ia tak mengikuti keputusan kaum muda dalam kongres bersejarah pada 1928?

Kita mengingat kamus lawas berukuran kecil itu melengkapi informasi Eko Endarmoko dan Anton Moeliono. Di Indonesia, koleksi kamus-kamus hasil buatan para ahli atau sarjana Indonesia memang harus bersaing dengan kamus-kamus buatan sarjana asing, pegawai kolonial, dan pendakwah.

Kamus-kamus lawas mungkin sudah langka. Kita sulit menemukan di Indonesia. Di perpustakaan-perpustakaan beralamat di Belanda, Amerika Serikat, Inggris, Rusia, atau Jerman mungkin sekian kamus langka masih disimpan menanti kedatangan pembaca asal Indonesia.

Eko Endarmoko menulis tentang kamus, menggoda kita membuka ingatan dan membangkitkan gairah mencari kamus-kamus lama, sebelum punah dan dilupakan. Ia pun menulis perkara bahasa berbekal lagu lama.

Lagu berjudul “Delman” gubahan Pak Kasur. Esai berjudul “Mengendali” dimulai dengan kutipan lirik lagu dan keraguan pada penggunaan kata. Kutipan lirik lagu tak lengkap. Eko Endarmoko belum mencantumkan lirik akhir: Tuk-tik-tak-tik-tuk-tik-taktik-tiuk-tik-tak-tik-tuk/ tuk-tik-taktik-tuk-tik-tak suara s’patu kuda. Lirik akhir memang bukan masalah bagi Eko Endarmoko. Masalah terpenting adalah cara pemilihan kata “mengendali”. Pilihan kata itu sempat diragukan akibat kemunculan dua kata: mengendarai dan mengendalikan.

Eko Endarmoko memastikan Pak Kasur menulis lirik dengan mengendali meski tak ada pencantuman informasi penting agar pembaca bermufakat. Pada 1983, terbit buku berjudul Naik Delman, berisi lagu-lagu gubahan Pak Kasur. Buku diterbitkan Tarate, Bandung.

Kita membaca penjelasan Eko Endarmoko di halaman 88: “Sukar kita mungkiri mengendali nyaris tak terpakai dalam kita berbahasa. Seperti halnya melari, membunyi, memungkin, menduduk, atau memuntah, yang lebih biasa kita jumpai diikuti akhiran /-kan/.”

Pilihan mengendali membuktikan Pak Kasur mengajarkan bahasa pada kita, selain adonan lirik dan melodi gampang digandrungi bocah-bocah seantero Indonesia. Pujian dari Eko Endarmoko: “Maka, malah kita patut berterima kasih kepada Pak Kasur sebab dari mengendali itulah saya kira kita kini mengenal bentuk mengendara.” Lagu telah merangsang pembahasan bahasa. Kita membaca dengan takjub.

Kejelian mencari masalah dan keampuhan memberi penjelasan berargumentasi mewaraskan pembaca. Buku dengan sampul berwarna kuning sengaja mengajak kita waras dalam kecerahan ketimbang melanjutkan pusing sejak belajar bahasa Indonesia di sekolah dasar. Begitu. (*)

 

JUDUL: Remah-Remah Bahasa: Perbincangan dari Luar Pagar

PENULIS: Eko Endarmoko

PENERBIT: Bentang

CETAKAN: Desember 2017

TEBAL: 166 halaman

 

Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

 

Remah-remah Bahasa, Perbincangan dari Luar Pagar -1 ilustrasi Google
Remah-remah Bahasa, Perbincangan dari Luar Pagar ilustrasi Google
Advertisements