Cerpen Maya Sandita (Rakyat Sumbar, 03-04 Februari 2018)

Tanya di Sepanjang Sungai, di Rimbun Hutan ilustrasi Rakyat Sumbar
Tanya di Sepanjang Sungai, di Rimbun Hutan ilustrasi Rakyat Sumbar

SUDAH menjadi obrolan biasa di warung desa sebelah tentangku. Sebab mungkin menurut mereka aku tak istimewa. Biasa saja. Sama dengan apa yang ada di desa mereka. Ada air yang mengalir, bukit yang hijau, dan rumah-rumah panggung di kebun. Bukan sesuatu yang perlu diributkan mendengar aku diperkosa, karena itu hal biasa. Ya, aku diperkosa sampai retak seluruh tubuhku dan tangisku dari hulu menyambangi rumahmu. Aku yakin kau ingat. Kusapa kau ke darat, kutunggu kau bahkan jika nanti akhirnya hanya sempat melayat.

Hampir sewindu sejak saat itu. Barangkali kau butuh waktu untuk siap melihat rambut rontokku tersangkut di tepian mandi. Di mana anak-anak kecil melompat dari batu besar dan ibu-ibu dengan kain cokelatnya membilas cucian, baju kotor satu keluarga satu hari. Mereka adalah saksi yang—jika punya waktu untuk menghitung—bisa tahu jumlah helai rambut rontok itu.

Tahukah kau, suatu waktu pulanglah seorang anakku dari luar desa. Kusambut kakinya dengan haru lewat sejuk air mataku yang mengalir sepanjang hidupnya. Lewat telapak hingga mata kakinya yang buta, kubuat ia mengerti, aku sangat rindu padanya. Lama ia tertegun di tepian, menghirup napas dalam sambil bahunya naik dan kemudian dilepas bersama apa yang ada di dadanya. Aku tak tahu ada apa di sana, tapi jatuh alisnya menjelaskan sesuatu padaku.

“Aku selalu memaafkanmu, Nak. Sama seperti bagaimana aku merindukan kepulanganmu,” desau angin sore menyampaikan jawabanku untuknya.

Anakku lebih pendiam dari biasa. Jika dulu ia suka melompat dari batu, menyelam di sungai yang dalam, dan berenang hingga lupa waktu, kini ia hanya termangu sembari melempar satu dua kerikil. Padahal aku rindu suaranya, apalagi ketika ia bercerita tentang perempuan desa seberang yang membuatnya jatuh hati. Berbait-bait puisi dirangkainya, dibacakannya, dihanyutkannya jadi perahu.

Kupikir perempuan itu alasannya.

Tapi kemudian lirih suaranya terdengar, “Bu, selama aku di kota, aku menemukan tabib-tabib. Mereka punya penawar untuk sakit yang kau derita. Esok mereka tiba, Bu. Jangan menangis terlalu keras sebab bahagia, ia suka jika kau tenang-tenang saja. Pasang wajah ceria untuk menyambut mereka.”

Ia menyebut namamu dalam daftar tabib-tabib. Jadi merona pipiku. Bisa kaulihat dari langit senja yang kupantulkan. Itulah mengapa sejak kau datang sampai saat ini langit dan aku berwarna merah jambu.

Rambutku tak rontok beberapa hari, kupikir karena aku bahagia sebab kau dan kawan-kawanmu datang ke mari. Tapi maaf, aku belum sempat membersihkan yang sudah terlanjur tersangkut di tepian sungai. Ah, jadi tidak enak. Kau menemukan pemandangan tak elok dan segera tahu bahwa sakitku cukup parah.

Di atas perahu kecil dengan muatan lima sampai sepuluh orang, kau dan kawan-kawanmu duduk tenang. Beberapa kali perahu kandas di bagian sungai yang terlalu dangkal. Tapi tenang saja, Datuk yang jadi nahkodamu sudah paham medan. Aku sangat yakin kau bisa sampai di rumah dan menemui anakku yang menunggu.

Anakku sudah mempersiapkan yang terbaik agar kau dan kawan-kawanmu nyaman berada di rumah. Ia siapkan mesin pembangkit tenaga listrik dengan bahan bakar bensin agar lampu bisa menerangi malam panjang di desa. Ia siapkan banyak kayu bakar jika kau ingin duduk dan bercengkerama bersama di luar. Ia juga siapkan tenda di halaman jika dipan kayu kami tak cukup membuatmu nyaman.

Suatu kali, kau bicara pada anakku. Perkataanmu membuat malam jadi tak berujung.

“Selama ini pemerkosaan telah merusak tubuh ibumu seutuhnya. Rambutnya rontok, air matanya hampir kering, kulitnya keriput dan retak. Jika mengandalkan kami saja, sungguh, kami tak cukup menjadi obat. Sehebat apa pun kami para tabib ini dikatakan orang.”

Malam benar-benar jadi tak berujung meski pagi, siang, dan senja tetap datang keesokan hari. Selama jalan keluar belum ditemukan, tak akan ada terang. Anakku dan para tabib itu mencari cara agar tindak kriminal atas tubuhku diusut sampai ke akarnya. Mereka perlu tahu siapa dalang pemerkosaan, siapa germonya, dan kenapa tubuh ibunya yang dieksploitasi?

Sering kudengar anakku bertanya dalam doanya. Sajak untuk perempuan desa seberang yang kini entah di mana, berganti. “Bukankah ibuku telah berikan udara untuk napasmu? Bukankah ibuku telah berikan getah karet untuk jadi rupiah dalam dompet? Bukankah ibuku telah berikan ikan dari aliran air matanya?”

Sementara beribu pertanyaan muncul di kepala, cerita tentang tabib yang berusaha menyelamatkanku dari kematian, sampai ke telinga seseorang. Celoteh warga dari warung desa sebelah agaknya mengancam dirinya dan bos besar. Anakku tahu itu. Ia tahu dari Datuk pengemudi perahu yang singgah di tepian menambal papan yang rusaknya makin besar. Ia butuh bantuan anakku, tak ingin perahunya karam.

Subuh baru saja dijemput pagi, di sepanjang sungai, di rimbun hutan. Hampir terang. Tinggal kau sekarang, ingin pulang atau meneruskan perjalanan hingga benderang? (*)

 

Padangpanjang, 31 Januari 2018

(Selamatkan Hutan Rimbang Baling, Kampar, Riau dari pembalakan liar)

Advertisements