Puisi-puisi Irwan Segara dan F Aziz Manna (Kompas, 03 Februari 2018)

Kebersamaan ilustrasi Januri - Kompas.jpg
Kebersamaan ilustrasi Januri/Kompas

Perjalanan Menuju Mars

 

Pada langit matamu

Kulihat sebuah kota dibangun

Di planet merah yang murung

 

Aku melayang

Kutinggalkan rahim yang melahirkanku

Kutinggalkan putih awan

Kutembus gelap dan hampa

Kupijak kerlip bintang

 

Bumi biru menjauh

Gugusan pulau-pulau

Gedung-gedung pencakar langit

Mobil-mobil tercepat

Dan ponsel-ponsel terbaru

Bagian dari tubuhmu

Dunia kecil

Yang merenggut dan mengirim sinyal

Pada pikiranmu

Menjauh

 

Dunia maya yang dibangun

Dalam dunia nyata menjauh

Suara-suara bising penduduk Bumi

Mengucap salam terakhir

Bayang wajah seorang ibu

Bayang wajah seorang bocah

Silih berganti dalam kitab kenangan

Yang terbuka dan tertiup angin nasib

Berpisah adalah melepas dan

Mencintai dari kejauhan

Detik-detik bergeser

Pada jam yang mengikat nadimu

Segala peristiwa

Jadi tugu yang dipahat

Dalam goa ingatan

 

Duka ini milik siapa

Keheningan ini milik siapa

Kedalamannya mengubur degup jantungku

Dingin dan kelam

Merapat pada kuil jiwa

Tubuh yang mengembara

Mencari surga lain, menghindari neraka

Peperangan, penyakit, dan bencana

Menyeret jantung kita dalam kemusnahan

Namun kita hanya bergerak

Dari sunyi ke sunyi yang lain

Dari lembar khayali semata

 

Di keluasan ini

Kulihat masa kanakku

Bermain layang

Dalam terik

Bermain lumpur dalam hujan

Aku terbangun

Dari mimpi waktu

 

Di sini segalanya

Mengambang dalam hampa

Tak ada gema seperti di gunung-gunung

Tak ada jerit klakson

Dari sebuah kendaraan

Tak ada angin berembus

Tak ada cuaca

Tak ada udara

Aku rindu gemericik hujan

Yang membenturkan dirinya

Pada atap rumah ingatanku

Aku rindu pada tangis anakku

Pada senyum dan tawa istriku

 

Waktu perlahan menjauh

Setiap detak dari detiknya

Menekan jantung kesunyian

Betapa tipisnya selaput

Hidup dan mati

Ajal di segala penjuru

Mengintai

Hidup terkurung

Dalam pesawat angkasa

Kerlip bintang itu

Seperti mata perempuan jelita

Yang menggoda lelaki datang

Ke peluknya

 

Namun dalam setiap keindahan

Tersembunyi kematian

Di keluasan angkasa ini Tak ada yang lebih indah

Dari keheningan yang syahdu

Betapa aku sebutir pasir

Melayang

Dalam nafas Tuhan

Mu bergurau dengan-Nya

Tuhan yang bergurau dengan nasibku

Aku tersesat dalam pertanyaan-pertanyaan hening

Tuhan dalam bangunan

Apakah sama dengan Tuhan dalam dada?

Aku belum juga sampai

Namun pikiranku telah tiba

Barangkali planet merah itu

Adalah tanah yang dijanjikan

Dalam kitab rahasia-Nya.

 

Kota yang Kehilangan Salak Anjing clan Suara Jangkrik di Jantung Malam

 

1.

Di lengan jalan, kusaksikan

Masa depan kota ini

Didirikan dari mal-mal dan hotel-hotel

Serta kendaraan-kendaraan yang padat

Seperti kata-kata memenuhi buku-buku

Yang menyesaki rak-rak pikiranmu

Mobil-mobil merangkak di jalan

Waktu mengalir, tak ada yang mampu

Membendung lajunya

Langit mendekatkan matahari pada kita

Panasnya bergolak di punggung aspal

Membakar peluhmu.

 

2.

Kota ini seperti sebuah akuarium

Yang diisi ikan-ikan raksasa

Kota ini terlampau kecil

Bagi sebuah mal atau hotel

Atau bagi gerutu kita pada jam-jam kerja

Sementara sepeda-sepeda ontel meninggalkan kita

Mereka bergerak menuju masa lalu

Meninggalkan jalanan sesak

Meninggalkan matahari

Terbenam

Di balik punggung hotel.

 

3.

Di jantung malam

Tak kudengar lagi salak anjing

Atau suara jangkrik

Menembus nadi keheningan

Tanah ini perlalian kehilangan sunyi hutannya

Yang wingit

Aku ingin pulang ke candi-candi

Yang dibangun para pendahulu

Atau ke ritual-ritual di pegunungan

Demi menemu waktu

Seirama hati dan pikiran.

 

4.

Aku ingin pulang ke suatu zaman

Sebelum penjuru kota dikerubungi peminta-minta

Karena setiap orang tercukupi

Dengan penghidupan sehari-hari

Sebelum detik-detik dari sebuah jam

Mengalirkan keramaian yang lain

Sebelum waktu mencipta lebih banyak

Kemacetan dan mendirikan gedung-gedung

Yang lampu-lampunya

Perlahan menyingkirkan kerlip bintang

Dari jangkauan pandang kita.

 

Yogyakarta, 2017

 

 

Irwan Segara lahir di Malingping, Lebak, Banten, 17 April 1989. Puisinya termuat dalam beberapa antologi bersama, antara lain Baku Nasib (2016) dan Kavaleri Malam Hari (2017).

 

Di Pantai Itu

 

sepasang nyamplung terkelupas kulit luarnya, memampangkan tempurung keras mengayu seperti matamu mak, seperti matamu pak, memandangi anak-anakku belajar berenang di pantai itu.

 

sepasang kol buntet terseret gelombang, terdampar, nyungsep, separuh terkubur, separuh nyembul di padang pasir seperti matamu mak, seperti matamu pak, memandangi anak-anakku belajar berenang di pantai itu.

 

berpokok-pokok kayu (serupa lengan serupa torso serupa kaki) terserak di sekitar bundar batu karang seperti tubuhmu mak, seperti tubuhmu pak, memantau anak-anakku belajar berenang di pantai itu.

 

sedangkan aku (di mana aku?) hanya pikiran karam pada namlima mak, pada namlima pak, seperti hantu mengintai anak-anak belajar berenang di pantai itu.

 

(2017)

 

Jamur

 

berpegang ke gagang jamur aku berpayung melangkah memasuki bangunan-bangunan kota yang baur kabur lebur hancur terguyur hujan (langit adalah tumpukan jubah yang memburai benang-benangnya) november yang kacau

 

di pusat genangan timbunan kubur kegentingan ingatan tersisa kupanggil kubangkitkan ilusi purba di mana batu dan tanah kukuh bersekutu membentengi serbuan mata timah besi tembaga dari anak panah dan tubuh peluru

 

tubuhmu yang hampir bugil beku kuanyam kembali dengan berlembar kain hitam merah hijau bergambar pohon burung matahari serupa panji-panji perlawanan atas penaklukan

 

di titik lain di musim lain (mungkin) jamur-jamur baru menyembul serupa sigi, peli, korek api, dan kobaran lain yang mengancam dalam pikiran dan sewaktu mekar ia serupa ayoman di mana oase areola menyoklat hangat di pusat lingkar putihnya

 

di titik itulah aku berbaring melingkar serupa ular memamah ekor sendiri

 

(2017)

 

Jarak

 

/1/

aku hanya meminta sebuah kehendak (cinta!) tapi kau berikan tubuh, jurang jarak antara suara dan tatapan dan aku merayap dan meratap hingga kuasa berbalas perkabulan.

 

/2/

sejak itu aku telah jadi kelana (sewandana cum penjelajah?). tidak kukira, jarak adalah pikiran yang mencarimu, hingga kuabaikan, kubiarkan semua orang berebutan lahan, penampang, benda tinggalan, tilasmu, sedang aku hanya padamu terpaku dan ah, ratapan-ratapanku bukanlah bahan belas kasihan, perolokan orang lapar, gelandangan, buangan atau tundungan (dunia-menjijikkan sungguh-yang sia-sia) sebab perbekalan telah dicukupkan dalam perjalanan tanpa pertemuan ini.

 

/3/

cinta (cintaku!) telah dibelah dan aku tak bisa mengandalkan, tak butuh (kaki atau jalan) kehidupan untuk mencari untuk menemukan sebab cinta (cintaku!) telah sama bersetuju dalam jaminan perintahmu.

 

/4/

tapi masihkah kau bersamaku di antara kecabulan dunia kini? sedang aku mungkin lacur, nyunyut-hancur dalam umpatan dalam ancaman dalam kesombongan, di jarak ini telah kutanyai seluruh keturunanmu: mengapa cinta (cintaku!) tiada ketemu? serempak mereka ngakak, menudingku: kaspo, lantas ngelus gluteus maximus dan berjingkrak. krak.

 

(2017)

 

 

F Aziz Manna lahir di Sidoarjo. Jawa Timur, 8 Desember 1978. Di antara buku-buku puisinya adalah Playon (2015), yang mendapatkan Kusala Sastra Khatulistiwa ke-16, dan Dunia dari Keping Ingatan (2017).

Advertisements