Cerpen S. Satya Dharma (Analisa, 28 Januari 2018)

Ros ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Ros ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

ROS sumringah. Wajahnya berbinar-binar. Di tangannya kini tergenggam kartu identitas baru. Kartu Tanda Penduduk tanpa tulisan WNI keturunan di dalamnya. Ros mendekap kartu itu di dadanya. Berkali-kali mencium kartu itu dengan bibirnya tanpa gincu. Meski matahari di atas Desa Sampali terik membakar, Ros tak peduli. Ini adalah buah manis dari perjuangannya yang cukup lama.

Ros pernah dihina karena kartu ini. Ditolak sana-sini. Dikata-katai. Ros tak patah hati. Bahkan ketika seorang petugas dinas kependudukan menghardiknya, Ros tetap tegar.

“Ini bukan soal kenapa saya, tapi siapa saya,” katanya.

Ros, satu dari ribuan, puluhan ribu warga Indonesia anak keturunan kuli kontrak asal China, kini menetap di Medan. Dia generasi kelima dari para kuli kontrak asal Tiongkok itu. Seperti kata Mr. J. H. Bool dalam bukunya “De Chineesche Immigratie Naar Deli”.

Nenek moyang mereka didatangkan dari Penang dan Singapura sebagai kuli kontrak untuk perkebunan Belanda Sumatera Timur pada 1864. Bukan karena kemauan mereka sendiri. Banyak di antaranya yang tertipu atau dipaksa oleh calo-calo pencari tenaga kerja yang dipercaya Belanda.

Barangkali karena itulah banyak orang China atau Tionghoa yang menjadi “koeli kontrak” di masa kolonial dulu membandel dan melawan. Ada yang melarikan diri, berkelahi, membunuh mandornya sendiri dan melakukan pemberontakan. Akibatnya Belanda tidak percaya lagi pada calo-calo yang mendatangkan mereka.

Sebagai gantinya, tahun 1880 Belanda membentuk Deli Planters Vereeniging. Bertugas menyeleksi dan mencari sendiri buruh China langsung dari daerah asalnya, daratan Tiongkok. Hingga Belanda memutuskan untuk mendatangkan kuli dari Pulau Jawa.

Ketika habis masa kontraknya, kuli-kuli asal Tiongkok itu ada yang kembali ke kampung halamannya. Sebagian besar tetap memilih tinggal di Sumatera Timur. Mereka menetap di kota-kota seperti Binjai, Tebing Tinggi, Lubuk Pakam dan Pangkalan Brandan. Paling banyak di Kota Medan. Minat mereka pun ternyata tetap di bidang perdagangan.

Oleh Belanda, minat ini dianggap menguntungkan, sehingga mereka diberi kesempatan untuk berkembang. Mereka diberi fasilitas menguasai perdagangan menengah sedangkan perdagangan kelas atas tetap dikuasai Belanda.

Ros, Rosnani nama lengkapnya, satu dari jutaan anak keturunan kuli kontrak asal Tiongkok itu. Kini 35 tahun usianya. Ros berkacamata minus dan berambut lurus yang dipotong pendek di atas bahu. Satu-satunya identitas fisik yang membedakan Ros dengan perempuan pribumi adalah kulitnya yang putih. Matanya agak sipit dan kemauannya yang keras. Selebihnya, Ros tak berbeda dengan perempuan pribumi lainnya.

Kakek buyut Ros, seorang imigran asal Tiongkok yang dulu menjadi kuli kebun di Onderneming Sampali. Kata Ros, sang kakek menikah dengan seorang perempuan Tionghoa asal Bogor yang dikaruniai lima orang anak. Salah satunya adalah ayah Ros. Kemudian menikahi seorang perempuan Tionghoa keturunan asal Bukittinggi.

Dari perkawinan itulah lahir Ros dan lima saudaranya. Ros anak ke empat dari enam bersaudara. Kelima saudaranya tidak ada lagi yang menetap di Medan. Semuanya sudah pindah ke kota lain. Ada yang di Jakarta, Semarang, Surabaya bahkan Singapura dan Taiwan. Di Medan hanya tinggal Ros seorang, meneruskan usaha keluarganya sebagai pedagang toko kelontong.

Ros bukan perempuan Tionghoa sebagaimana anak-anak Tionghoa lainnya. Ros bahkan terkesan lebih Indonesia ketimbang perempuan yang mengaku asli Indonesia. Toko kelontong Ros terletak di ujung jalan yang dulu masuk wilayah perkebunan PTP IX Sempali.

Di toko kelontong itulah para kuli kebun, kebanyakan orang Jawa, membeli barang kebutuhan sehari-harinya. Tak sedikit pula yang berutang. Dari beras, gula, kopi, rokok, hingga sabun mandi.

Ros tak menolak mereka yang datang untuk berutang. Ros tahu betul artinya tolong-menolong. Ros sadar betul kalau diapun berasal dari keturunan kuli kontrak. Setiap kali ada buruh kebon yang mengutang, Ros dengan ramah melayaninya.

Gak apa-apa, Wak. Asal jangan lupa bayar aja,” katanya setiap kali para pengutang itu berbasa-basi padanya.

“Enggaklah, Ros. Kalau udah terlalu banyak, Wak diingatkan ya Ros. Takut gak bisa bayar.”

“Iya, Wak. Utang Wak bulan ini belum sampai seratus ribu, kok,” jawab Ros.

“Makasih ya Ros. Kamu memang baik.”

“Wak bisa aja. Gak usah pakai muji segala, Wak.”

Begitulah selalu. Ros, perempuan Tionghoa itu tak pernah cemberut. Bahkan ketika pada akhir bulan para pengutang itu menunggak atau hanya membayar separoh dari utangnya, Ros tetap tersenyum. Tetap melayani mereka dengan ramah. Tetap tak merasa usaha toko kelontongnya bakal bangkrut.

“Kalau memang ada keperluan lain, pakai aja uangnya dulu, Bi. Utang belanjaannya dibayar nanti saja,” kata Ros pada bi Inah.

“Iya Ros. Ros ‘kan butuh modal juga. Gak apa-apa bibi bayar separuh dulu ya?”

“Sungguh Bibi cukup dengan uang itu?”

“Cukup Ros. Cuma untuk ngelunasi uang buku sekolah si Parmin aja kok.”

Ros mengambil buku besar para pengutang itu. Mencari nama bi Inah lalu menuliskan jumlah utang yang sudah dibayar. Menguranginya dengan utang lama, lalu menotalnya.

“Utang Bi Inah gak banyak lagi kok. Hanya tinggal 35 ribu.”

“O ya? Makasih ya Ros. Semoga Tuhan melindungi kamu.”

“Semoga Parmin sekolahnya baik ya, Bi?”

“Insya Allah, Ros. Semester ini dia dapat ranking tiga.”

“Bagus itu. Ini kasih ke Parmin, Bi. Hadiah dari Ros,” kata Ros sambil menyerahkan dua batang permen cokelat.

“Suruh dia rajin belajar, Bi.”

“Makasih Ros.”

Alangkah manisnya jika kehidupan dibangun dengan saling pengertian seperti itu. Alangkah indahnya jika semua di negeri ini seperti Ros. Penuh pengertian. Penuh kasih sayang. Penuh welas asih.

Sayang, pada kenyataannya tak banyak yang seluhur budi Ros. Kesuksesan mereka di bidang ekonomi seringkali menjadi jurang pemisah. Membuat jarak semakin lebar dengan warga bangsa lainnya. Akibatnya kecemburuan sosial acapkali merebak.

Ketika kemudian terjadi gejolak sosial, mereka pun menjadi sasaran empuk. Jadi tempat pelampiasan amarah warga pribumi. Harta mereka dijarah, rumah mereka dirusak dan bahkan perempuanperempuan mereka dilecehkan.

Sepanjang hidupnya, selama menetap di Sampali, Ros tak pernah mengalami nasib buruk itu. Setiap kali pecah kerusuhan sosial seperti tahun 1998 lalu, Ros tetap aman. Rumah dan toko kelontongnya tak tersentuh aksi massa. Sebab, begitu terdengar kabar ada gerakan massa, orang-orang kampung Sampali. Apapun suku dan agamanya, segera membentuk pagar betis melindungi rumah dan toko kelontong Ros. Menghalau siapapun yang coba-coba masuk dan merusak toko itu. Tanpa Ros perlu menuliskan kata-kata “Muslim” atau “Pribumi” di tembok tokonya.

“Kalian boleh rusak dan jarah toko milik Tionghoa yang mana pun. Jangan rumah dan toko ini. Ini rumah dan toko Ros. Siapa pun yang berani-berani merusak, bahkan hanya dengan melemparkan sebuah batu kecil, berhadapan dengan kami,” begitu teriak Rokimin. Pemuda kampung Sampali ketika kerusuhan Mei 1998 meletus. Peringatan itu ternyata sangat jelas di telinga kelompok-kelompok perusuh. Akibatnya, tak seorang pun berani menyentuh rumah dan toko Ros.

Ros sangat berterima kasih pada perlindungan yang diberikan orang-orang kampung kepadanya. Padahal Ros tidak pernah meminta. Sebagai imbalannya, Ros sadar dia harus terus membangun hubungan kekerabatan dengan semua orang. Tidak hanya dengan orangorang Sampali, juga dengan warga lainnya.

Ros, tanpa diminta, bahkan datang ke rumah-rumah penduduk yang sedang ditimpa musibah dan memberi bantuan. Meskipun dia Buddha, setiap bulan puasa Ros hampir setiap hari mengantar makanan ke masjid untuk orang-orang yang berbuka. Ros tak pernah merasa rugi dengan semua yang diberikannya itu.

“Aku juga anak keturunan kuli kontrak. Aku tahu sulitnya hidup nenek moyangku dulu. Aku lahir dan besar di sini. Aku hidup dan tinggal di tanah Indonesia ini. Aku adalah Indonesia. Aku memang keturunan Tionghoa. Sebagai warga negara Indonesia aku bangga dengan kecinaanku itu. Jadi jangan bedakan aku dengan warga yang lain,” katanya ketika datang ke kelurahan pasca peristiwa Mei 1998. Dia meminta pada pak lurah agar tulisan WNI keturunan di KTP-nya dihapus saja.

“Tidak bisa, Ros. Ini sudah aturan.”

“Aturan siapa?”

“Pemerintah.”

“Pemerintah siapa? Pemerintah Indonesia ‘kan? Aku orang Indonesia, kenapa harus ada catatan seperti itu?”

“Tapi Ros…”

“Bapak tidak baca berita koran? Bapak tidak tahu kalau Gus Dur sudah mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 yang mengekang itu?”

“Baca Ros, tapi kalau nanti…”

“Beranilah bersikap, Pak. Bapak ‘kan lurah. Kepala pemerintahan di sini. Kalau presiden saja sudah memutuskan, kenapa bapak ragu-ragu?”

“Bukan itu masalahnya. Belum ada intruksi dari walikota…”

“Kenapa bapak lebih takut sama walikota ketimbang melanggar instruksi presiden?”

Pak Simin, Lurah Desa Sampali itu lama terdiam.

“Baiklah, Ros. Nanti saya minta Herman untuk mengganti KTP kamu.”

“Nah begitu, Pak. Terima kasih. Jangan saya aja dong. Semua orang Tionghoa di Sampali ini harus diganti KTP-nya.”

“Wah kalau itu gak bisa Ros. Nanti saya dimarahi…”

“Siapa Pak? Siapa yang memarahin Bapak? Justru Bapak akan mendapat pujian karena melakukan itu. Sebab bapaklah lurah di Indonesia yang pertama kali melakukan itu. Mengganti KTP warganya dengan menghapus status WNI keturunan. Bapak akan jadi pelopor. Tak boleh lagi ada diskriminasi di negeri ini, Pak. Iyakan?”

“Kamu bisa aja Ros. Ya, sudahlah. Untuk yang lain-lain akan saya pikirkan dulu. Saya rundingkan dengan pak camat dan perangkat kelurahan lainnya.”

Ros sigap menjabat tangan Lurah Sampali itu. Dia mencium tangan lelaki setengah baya itu penuh sukacita. Tak lama diapun pamit. Pak lurah mengantarnya, hingga ke pintu kantornya.

“Kamu jangan bilang siapa-siapa dulu ya Ros?”

“Beres, Pak.”

Ros pergi meninggalkan kantor kelurahan. Di halaman dia berpapasan dengan Kirno, petugas Hansip di kantor itu. Ros memanggilnya. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Kirno. “Pak Kirno, ini bagi-bagi pada teman yang lain ya?”

Seperti mendapat rejeki nomplok, Kirno langsung menyambar pemberian Ros. Wajahnya tampak sumringah.

“Iya, Bu. Terima kasih Bu. Makasih…”

Ros berlalu. Kirno tersenyum lebar.

 

Medan, jelang 20 tahun reformasi, 1998 – 2018

Advertisements