Cerpen Elfi Ratna Sari (Lampung Post, 28 Januari 2018)

Rintik-rintik Kuning ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Rintik-rintik Kuning ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Ketika seekor merpati mengepakkan sayap lalu santai nangkring di kabel listrik, riang bercuit-bercuit dengan kawannya, aku sedang menikmati secangkir rosella yang asapnya mengepul. Mataku menatap lepas ke jalanan, memerhatikan lebih saksama dari bingkai jendela. Yang lama kelamaan malah memunculkan kenangan tentang hujan, kau, aku, dan sebuah janji.

Kutarik napas sejenak. Mengisi paru-paru dengan oksigen penuh. Biar nyaman. Biar tenang. Lalu mataku mengitar. Mamandangi segala sudut yang ada dalam ruangan. Dan ketika sampai pada satu sudut yang menghentikan korneaku untuk melanjutkan gerak, ada hasrat hebat yang memaksa memfokuskan pandangan ke tumpukkan buku berdebu di rak pojok kamar.

Kegiatan itu berlanjut pada keinginan untuk mendekati dan meraih buku bersampul batik cokelat itu. Aku tahu, jika membukanya, boleh jadi akan menggali sebuah luka baru dari kejadian yang sudah lama dikubur paksa. Tidak perlu ditanyakan itu buku apa. Jelas saja kau tahu jika itu berisikan coretan kisah antara kau dan aku dulu. Ya, kau dan aku yang sempat disebut kita.

Kubuka. Bau khas menyeruak, menggatalkan indra penciuman. Bersin sudah pasti tak terelakkan. Ah, memang sudah risikonya jika membuka buku yang bertahun-tahun hanya di tumpuk di rak pojok ruangan. Dibiarkan tidak tersentuh dan dikerubungi debu. Tapi keadaan itu sedikit pun tak membuatku mengurungkan niat. Aku tetap membukanya.

Tak lama setelah kubuka sempurna halamannya, yang kutemukan tidak lain hanya barisan tinta hitam yang telah menguning termakan waktu. Tentu saja. Apa lagi? Itu adalah buku dengan tulisan tangan, jadi tidak heran jika setelah bertahun-tahun akan seperti itu jadinya

Kubolak-balik pelan, memandangi jajaran tulisan di sana—yang lebih mirip sandi rumput. Tulisan seorang gadis yang pernah menjadi kekasihmu.

Kepada Diary yang senantiasa menemani. Jiwaku dikerubungi duka. Sebuah nestapa menyapa siang tadi, di saat sorot matahari kilaukan bekas hujan di jalanan. Aku teramat heran. November yang harusnya berduyun gerimis, kini terik. Walau begitu, hujan tangisku membanjir deras, teramat sangat deras. Aku masih diam, ketika pandangannya menunduk sendu dengan sepasang mata yang memerah. Tergambar jelas bekas air mata menggantung di sana.

“Ada apa? Mengapa wajahmu tak secerah biasanya, Syam? Padahal lihatlah! Matahari di atas sana riang sekali bersinar.”

Dia diam. Menunduk. Bahkan seolah tak berani membalas pandangan hangatku. Kau tahu mengapa, Diary?

Dia mengusap rambut dari dahi ke belakang. Aku paham betul, tindakan itu hanya dilakukan jika dia sedang sangat putus asa. Dan jelas saja, aku dibuat semakin bingung. Apa sebenarnya yang membuatnya putus asa?

Lemas dia berjalan menghampiriku yang duduk agak jauh darinya, kemudian menempatkan diri di sampingku. Kulirik wajah tertunduk itu.

“Apakah kau bertengkar dengan Kakakmu lagi?”pertanyanku selanjutnya.

Padahal, pertanyaan sebelumnya pun belum sempat dia jawab, atau barang kali malah takkan terjawab.

Dia menggeleng. Kemudian menghela napas panjang. Aku tambah khawatir akan sikapnya itu. Sikap yang begitu aneh. Sikap yang sangat membingungkan.

“Ra, apakah kau masih mencintaiku?”

“Tentu saja, Syam.”

“Kalau begitu, maafkan aku.”

Apa maksudnya? Kalimatnya semakin membuatku bingung. Tubuhku mematung menatapnya, ada banyak pertanyaan yang berloncatan di dalam kepalaku dan memaksa untuk keluar. Aku benar-benar butuh penjelasan.

“Maaf untuk apa, Syam? Kau adalah laki-laki terbaik yang pernah kumiliki.”

“Ma-maafkan aku harus meninggalkanmu.”

“Meninggalkanku?”

Dan untuk entah ke berapa kalinya, aku semakin bingung atas ucapannya—walau sebenarnya sebagian pikiranku yang lain sudah dapat mengartikan dengan baik ucapannya. Bersamaan dengan itu, tanggul air mataku jebol. Lantas tak menunggu lama, membanjirlah air mata membasahi pipi.

“Aku sangat mencintaimu, Ra. Tapi takdir harus menghentikan cinta kita, cukup di sini.”

“Apa salahku, Syam?”

“Kau tak salah, Ra. Hanya saja aku ingin mengakhiri hubungan kita. Hai! Sudahlah jangan menangis! Bukankah pacaran memang tidak boleh? Ra, percayalah! Kelak … bila kita berjodoh, sudah pasti akan ada jalan untuk pertemuan yang indah.”

Hendak dia usap genangan air di pipi, namun tersadar dengan ucapan ustaz dan ustazah yang pernah didengar, kita bukan mahram. Maka dia mundur. Menyodoriku sebuah sapu tangan putih.

Tapi apa balasanku? Bukannya meraih sapu tangannya, malah meraih pisau buah di meja. Aku tak rela hubungan ini karam begitu saja. Takkan kurelakan dia meninggalkanku.

Scrat …!!! Cucuran merah menetes. Kugigit bibir bawahku menahan perih. Dia menatap pasi. Wajahnya pucat seketika. Sama sekali tak sempat mencegah kelakuan di luar nalarku. Bahkan aku yakin dia tidak pernah berpikir aku akan segila ini.

“Hai, kenapa kau sakiti dirimu sendiri?”

“Ini hanya sakit fisik, Syam. Tak sesakit hatiku karena kau putuskan secara sepihak.”

Kuraih lantas kubentang sapu tangan miliknya di pangkuan. Tergoreslah ‘I Will Always Love You’ dengan telunjuk yang tadi kulukai. Tenang, Diary …. Aku tak segila itu sampai mau memotong urat nadi.

“Simpanlah! Ingat, bahwa kau akan kembali untukku. Benar-benar kembali untuk menjabat tangan ayahku dan diijabah sah oleh saksi,” ucapku lantang dan yakin. Yakin bahwa dia benar akan kembali. Padahal …. entahlah, aku tidak tahu. Siapa pula yang tahu apa yang akan terjadi di masa selanjutnya? Lagi pula, aku yang memintanya berjanji, bukan janji atas keinginannya sendiri.

Tak berselang lama, dia sudah tak peduli dengan dosa yang tadi dihindari. Kini jemariku yang memerah perih digenggamnya. Dia menyobek kemejanya untuk membalut lukaku. Lantas, jemarinya halus mengusap air mata yang menggenang di pipi.

“Maafkan aku telah menyentuhmu, Ra. Tapi aku merasa penting untuk melakukan itu. Kita sama-sama tahu hubungan kita masih haram. Mengapa keputusan yang sebenarnya baik ini malah kau tangisi? Terlebih malah membuatmu melukai diri sendiri. Kau terlalu jauh terperosok pada rayuan setan, Ra. Kau zalim. Tidak perlu seperti itu untuk menunjukkan perasaanmu padaku. Aku telah tahu kau amat cinta. Aku pun sama. Dengarkan, Ra. Kita akan bertemu lagi. Nanti … di saat jingga bercampur kuning di ufuk sana menghapus titik gerimis sesiangan. Di saat usia kita telah cukup untuk berumah tangga. Tanggal yang sama di tahun ke lima setelah kepergianku berlayar.”

Itu janjinya, janji yang akhirnya dia ucapkan atas keinginannya sendiri, bukan atas pintaku. Apakah aku masih pantas menangis, Diary? Kukira tidak lagi. Tentu dia akan kembali, bukan?

Kututup pelan buku yang masih kugenggam. Mataku kembali menyapu pendaran jingga di ufuk barat sana. Ini tahun kelima seperti yang kau janjikan. Akhirnya penantian panjangku selesai.

Kukenakan khimar, kini lengkap dengan cadarnya. Sudah kuputuskan, sejak kali pertama kepergianmu, aku memilih memantaskan diri. Tak ada kata pacaran dalam hidup. Cukup kau, kesalahan terindah yang mau kubenarkan. Dari yang awalnya hubungan haram tanpa ikatan, menjadi sebuah hubungan yang halal, yang sah secara agama dan negara. Iya, selayak janjimu.

Kini aku telah sampai, Syam. Di bawah gerimis kecil di ufuk senja. Di sebuah bukit yang akan mengikat cinta kita, tempat yang kita sepakati dulu untuk bertemu. Rona oranye menyemburat. Mengemaskan titik-titik air hujan sisa tadi siang. Aku juga heran, kenapa matahari mau muncul setelah mendung sesiangan. Seolah menghapus semua tangis yang ada. Tapi inilah yang kurindu, Syam. Suasana yang kutunggu selama ini. Menjalani hidup bertahun-tahun dalam kenangan, hanya demi satu pertemuan yang kau janjikan.

Gerimis sudah tak seperti awal kedatanganku. Walau sorot senja merona di ufuk sana, namun bersamaan pula, gerimis berganti nama menjadi hujan. Membuat tubuhku menggigil kedinginan. Entahlah apa namanya? Yang jelas matahari tidak mau kalah bersinar, walau hujan datang. Mungkin ini yang kau maksud dengan jingga yang bersatu dengan hujan, atau apa katamu dulu itu, aku sudah mulai sedikit lupa. Atau aku sudah lupa semuanya? Ini mulai terasa lucu. Iya, kan?

Namun tak berselang lama, langit mulai sendu, sungguh amat sangat sendu. Sesendu hatiku yang bertahun-tahun hidup dalam penantian. Dan aku mulai berpikir, seharusnya bila kau benar cinta, kau tidak akan menyuruhku menunggu selama itu. Yang boleh jadi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain. Tidak menjodohkan kita misalnya.

Sungguh aku lagi-lagi berbuat kesalahan. Harusnya tak kusandarkan harapan padamu. Dan apakah aku masih terlalu bodoh dengan keadaan menunggumu sampai masa megamerah datang? Yang boleh jadi takkan kentara karena hujan. Karena mentari mulai tertutup awan. Seperti senyum yang tertutup tangis. Karena nyatanya, belum ada tanda-tanda kedatanganmu.

“Mau pakai payung Sya?”

Korneaku menoleh. Gadis kecil berlesung pipi menyodorkan sebuah payung merah jambu miliknya. Sya? Nama yang cantik. Serta … entah mengapa sungguh mengingatkanku kepadamu. Ah, mungkin karena aku terlalu merindukanmu, jadi siapa pun yang kutemui mengingatkanku padamu. Masuk akal, kan?

Aku membalas ucapannya dengan senyum.

“Payung Sya dipakai saja. Tante suka hujan. Hujan selalu terasa menenangkan. Oh ya, Sya dengan siapa? Orang tua Sya mana?”

Sesingkat itu saja aku merasa begitu akrab dengan gadis bermata kejora ini. Seolah dia sudah lama sekali kukenal, dan matanya adalah bagian dari yang pernah kumiliki.

“Itu.”

Dia menunjuk seorang lelaki yang berdiri tegap di belakangku.

“Ayaaah ….”

Sya berlari memeluk sang Ayah. Aku terpasung ketika menolehkan pandangan untuk melihat rupa laki-laki pertama yang dikenal Sya itu.

“Ka-kau?” Gagap bibirku bertanya. Kaku hendak menyebut nama yang harusnya sangat mudah untuk kusebut.

Ayah? Kau dipanggil ayah oleh gadis kecil itu? Yang benar saja? Bukankah … bukankah itu artinya, kau datang namun ingkar? Ya Tuhan … kau datang untuk mengenalkanku dengan anak hasil pernikahanmu dengan perempuan lain? Tega! Benar-benar tega! Mana janjimu dulu yang akan datang untuk menikahiku di tahun kelima perpisahan kita? Mana? Kau memang datang, sungguh datang, tapi tidak dengan hatimu yang dulu utuh untukku. Kau jahat!

Aku menggeleng geram. Memilih hengkang dengan tangis berceceran. Tak kentara memang. Sebab sudah dari tadi pipiku basah oleh hujan.

Ya Tuhan … menyaksikan kepergianmu dulu saja aku sudah sangat sakit. Dan sekarang? Lagi-lagi kau membawa luka. Benar, seharusnya aku tak menyandarkan segala harapan padamu. Aku yang bodoh! Benar aku yang bodoh. Kau tidak pernah tahu, Syam, sudah berapa lelaki yang kutolak mempersuntingku, hanya karena aku terlalu yakin kau akan kembali untukku. Sungguh, penyesalan kini menyesak di hati.

“Ra!” teriakmu.

Tentu saja aku tidak akan memaafkanmu walau puluhan ribu kali kau mengatakannya. Tidak akan pernah.

***

“Ra, kau nampak lebih anggun dengan cadar di wajah.”

“Benarkah? Kau bergurau, Syam. Hahahaha …. Syam … Syam … nama yang bagus. Seperti seorang yang sudah lama kutunggu tapi tak datang-datang.”

Seseorang di dekatku yang mengaku Syam, ya Syam … namamu … itu menitikkan air mata didampingi gadis kecil bermata kejora yang kau ajari memanggilku Bunda, dan orang-orang berseragam putih. n

Advertisements