Cerpen Rifat Khan (Padang Ekspres, 28 Januari 2018)

Radio Bapak ilustrasi Orta - Padang Ekspres
Radio Bapak ilustrasi Orta/Padang Ekspres

BAPAK hanya lulusan SD, tak bisa membaca dan hanya bisa berhitung. Umurnya kini sudah 60 tahun. Setiap pagi Bapak duduk di beranda belakang rumah, menatap daun-daun kemangi. Daun yang harumnya akan sampai ke penciuman Bapak jika angin berhembus sedikit kencang. Biasanya adik perempuanku, Minah, akan datang menyuguhkan teh hangat untuk Bapak.

Tapi pagi ini Bapak menolak, gula darahnya agak tinggi. Bapak bicara pelan dan mengisyaratkan Minah untuk balik membawa teh itu. Minah pun dengan tersenyum membawa kembali segelas teh tadi ke meja dapur.

Sehabis meletakkan segelas teh itu, Minah kembali mendekati Bapak yang masih duduk seperti merenung. “Bapak baik-baik saja kan?” Minah bicara selepas duduk di kursi kayu samping bapak. Bapak hanya tersenyum. Sesaat Ia menatap jauh.

“Hanya sedikit pusing. Pusing biasa. Cuma tadi pagi Bapak cek gula darah dan agak tinggi,” Bapak menerawang jauh. Minah pun hanya terdiam menatap Bapak. Bapak biasa melakukan cek gula darah sendiri. Alat itu dibelikan oleh Alif, kakak lelakiku.

“Bapak yakin gak perlu kontrol ke dokter?” Minah mencoba memberi saran. Bapak hanya geleng-geleng. “Nggak perlu Minah, ntar juga denger radio, pusingnya hilang.” Bapak tersenyum dan meyakinkan Minah bahwa kondisinya baik-baik saja. “Kalo kolesterolnya berapa Pak?” Minah kembali bertanya. Aroma daun kemangi semakin menyeruak, sebab angin bertiup lebih kencang.

“Sudah normal. Pegal yang kemarin di leher Bapak sudah agak ringan,” Bapak menjawab dengan tenang. Sesaat Ia bersiul kecil saat dua burung hinggap di dahan mangga. Ada satu pohon mangga di belakang rumah, umur pohon itu sudah dua puluh tahun, sama seperti umur radio kesayangan Bapak. Begitu yang sering Bapak bilang. Pohon mangga dan radio itu sudah banyak menjadi saksi peristiwa di rumah ini. Mulai dari saat mendiang Ibu wafat sore hari saat adzan berkumandang dari musholla Baiturrahman. Juga peristiwa ketika Bapak memutuskan berhenti jualan sebab bangkrut.

Minah mengangguk, dan mohon pamit ke Bapak untuk kembali ke dapur mencuci piring. Belum sempurna Minah beranjak dari duduknya. Bapak bicara lagi.

“Bisa ambilkan radio kecil Bapak di samping ranjang!”

Minah mengangguk lagi dan segera ke kamar Bapak mengambil radio berukuran kecil itu. Bapak tak biasanya mendengarkan radio di beranda belakang. Biasanya sehabis duduk di beranda, sekitar jam 8 pagi Bapak akan masuk kamar dan mendengarkan radio. Radio Bapak akan terus berbunyi sampai menjelang adzan Zuhur. Kemudian Bapak sholat, makan siang dan masuk lagi ke kamar mendengarkan radio kesayangannya.

Tapi pagi ini Bapak ingin mendengar radio di beranda. Sesaat suara radio terdengar, sebuah lagu dangdut lawas yang penyanyinya sudah almarhum. Bapak terlihat khusuk mendengar lagu dangdut itu. Kepalanya sesekali mengangguk-angguk mengikuti irama itu. Gerimis tampak turun. Burung-burung beranjak mencari tempat berteduh. Bapak masih diam saja di Beranda. Aroma kemangi menembus ruang tengah rumah ini.

Aku ingat beberapa kisah tentang Radio Bapak dan apa yang sering Bapak bilang. Yang pertama kisah ketika aku pulang sekolah dan mencari makan di dapur. Aku tak memperhatikan Radio Bapak di pinggir meja makan. Aku tergesa sebab lapar dan tanpa sengaja menyenggol radio itu sampai jatuh. Antena-nya patah. Bapak marah bukan main. Satu jam Ia ngomel tak karuan sambil terus mengutak-atik radionya. Besoknya, Bapak bawa ke tukang servis. Si tukang servis menyarankan Bapak untuk beli radio baru saja. Bapak marah. Bapak mengambil radionya dan membawanya ke tukang servis lain. Lusa, radio itu kembali normal. Bapak tak keberatan saat tukang servis itu meminta bayaran yang lebih mahal dari harga radio itu sendiri.

Sejak kejadian itu Bapak menaruh radionya di kamar, tempat yang paling aman menurutnya. Bapak bilang, lewat radio itu Ia banyak belajar. Mulai tentang obat-obatan herbal untuk mengurangi penyakitnya, juga tentang berita politik di daerah. Bapak tau semuanya, meski hampir setahun terakhir Bapak tak pernah keluar rumah sebab kondisi tubuhnya semakin lemah saja.

“Han, radio ini adalah kehidupan. Radio ini banyak merekam peristiwa bersejarah. Bapak tidak tau musti ngapain jika saja radio ini tak ada. Dua puluh tahun radio ini setia menemani Bapak. Kau lihat Han, suara radio ini sangat bersih, meski cuaca apapun, saat badai sekali pun. Saat hujan lebat, angin kencang, suaranya tetap jernih Han”

Pernah Bapak bilang begitu, beberapa waktu lalu saat aku duduk di samping ranjangnya usai memberinya minum obat. Saat itu aku meminta Bapak mematikan radionya, namun Bapak malah ngomong panjang lebar. Omongannya terus memuji-muji radio kesayangannya itu.

Memang benar, radio Bapak gak ada matinya. Sejak aku kelas 1 SD dulu, suaranya tetap jernih, aku semasa kecil sering mendengar lagu India lewat radio itu. Pernah suatu hari, akibat letusan asap gunung agung, cuaca teramat buruk, bahkan sinyal HP sama sekali tak ada, namun radio Bapak suaranya tetap bening dan lantang. Bapak manggut-manggut, “kau dengar sendiri kan Han, radio Bapak tetap jernih” Kembali Bapak memuji-muji radionya.

***

Gerimis masih turun, Bapak masih duduk di beranda belakang. Suara radionya terdengar lantang. Kali ini yang terdengar adalah lagu Barat. Sebuah lagu tentang pertemuan dan kenangan di Tokyo. Bapak suka lagu itu, Ia bisa melantunkan iramanya meski tak akan pernah bisa liriknya. Aku mengintip Bapak dari ruang tengah. Minah yang duduk di sampingku pun tersenyum melihat gelagat Bapak. Bapak bersiul mengikuti irama lagu itu. Sesekali kepalanya digerakkan mengikuti irama. Kami terpingkal-pingkal tanpa sepengetahuan Bapak. Lima menit lagi azan Zuhur akan berkumandang, biasanya bapak akan mematikan radio dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu’.

“Bapak sepertinya keasyikan tuh, sampai lupa bentar lagi adzan,” Minah berbicara sambil menuangkan teh untukku.

“Biarkan saja. Bapak bahagia dengan kesendiriannya,” Aku menjawab Minah, mataku tetap memperhatikan gelagat Bapak. Bapak bersandar pada korsi kayu tua, mulutnya terus bersiul-siul. Tiba-tiba terdengar memutar tombol untuk mencari saluran lain. Terdengar lagi suara nyanyian pop lama, tembang miliknya Poppy Mercuri. Tangan Bapak berhenti memutar tombol radionya. Sesaat Bapak termenung, sepertinya khusuk mendengar lagu tadi. Minah masih saja tersenyum. Teh hangat aku seruput sebentar. Adzan terdengar menggema dari musholla Baiturrahman.

Bapak masih bersandar, diam. Minah beranjak dan berjalan pelan mendekati Bapak. Sepertinya Bapak ketiduran. Minah memegang pundaknya, menyebut namanya dua kali. Namun tak ada respon. Suara lagu pop tadi tiba-tiba mengabur, berganti suara gelombang angin yang cukup besar. Sepertinya sinyal tak ada, dan ini kali pertama aku mendengar suara radio Bapak hanya suara angin. Minah menggerakkan pundak bapak beberapa kali. Namun tak pernah ada jawaban. Aku pun berjalan mendekati Bapak. Aku memanggilnya berulang, memegang pundaknya dan mendekatkan wajahku di wajah Bapak. Tetap tak ada jawaban. Suara gelombang angin semakin besar. Ribut.

Mata Bapak tetap saja terpejam. Kami berdua terus memanggil sembari menggerak-gerakkan badannya. Tak ada respon sama sekali. Minah menangis, pikirannya mulai tak karuan. Sampai Ia teriak menyebut nama Bapak, Bapak hanya diam saja kaku.

***

Aku tak menyangka, Bapak pergi selamalamanya, menyisakan tangis kesedihan bagi kami yang menyayanginya. Sampai sekarang, radio Bapak masih terpajang di ruang tamu. Tiap kali aku nyalakan, hanya terdengar suara gelombang angin. (***)

 

Majidi, Januari 2018

Rifat Khan. Lahir di Pancor NTB pada tanggal 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat Metro Riau, Majalah Cempaka, Suara NTB, Radar Surabaya, Harian Waktu, Lombok Post, Harian Rakyat Sumbar, Satelit Post, Bali Pos, Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Riau Pos dan Republika. Bermukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.

Advertisements