Cerpen Liven R (Analisa, 28 Januari 2018)

Pilcasu ilustrasi Toni Burhan - Analisa
Pilcasu ilustrasi Toni Burhan/Analisa

BERAPA usiamu saat ini?”

“Apa pedulimu? Mamaku saja tak keberatan belum bercalon menantu!”

“Nah, itulah…, setiap kali datang, Tante Emi pasti tak lupa bertanya ‘Mandy, apakah Vana terlihat sudah memiliki teman pria?’, Uhh…! Kamu saja yang pura-pura tak tahu!”

“Begitu pun, jangan coba-coba memasang namaku di situs perjodohan mana pun. Usul gila!” kupelototi Mandy yang tengah bertopang dagu menatap layar laptopnya.

“Oow…! Terlambat!” Mandy memutar layar laptop menghadapku.

‘Vanadise, 29 tahun. Tinggi 170 cm. Berat badan: ideal. Mencari pria sepantar yang baik, rupawan, jujur, mapan, dan bertanggung jawab. Bagi yang serius ingin menjalin hubungan, SMS atau hubungi: 0052-13212369807.’

“Mandy, kamu percaya aku bisa membunuhmu malam ini?!” rasa frustrasi telah memuncakkan darahku demi iklan perjodohan yang dipasang Mandy disertai selembar fotoku di situs ‘Happy Jomblo’. “Hapus iklan itu, atau aku tak lagi mengenalmu!”

Mandy segera melindungi benda berlayar itu bagai melindungi nyawanya dari sambaranku.

“Vana… Vana…, please…!” Mandy menyembunyikan laptopnya di balik bantal, mendudukkan tubuhnya dengan santai di tempat tidurku. “Aku tak mau melihatmu renta dan kesepian di dunia ini kelak. Yaa…, kamu terlalu sibuk dengan kariermu hingga melupakan usiamu yang menuju kedaluwarsa. Aku harus menolongmu….”

“Kalau begitu kalengkan aku segera dan kirim saja ke luar negeri! Jangan lupa tuliskan ‘made in Indonesia’. Kupikir kamu, ya, kalian…, orang-orang Indonesia, entah mengapa begitu resek soal usia dan belum menikah!”

“Alaa…, kamu bukan orang Indonesia? Mentang-mentang bekerja di perusahaan internasional….” Mandy mengulum senyum.

Aku sungguh tak mengerti mengapa dua tahun terakhir ini, teman-temanku di negeri ini dan keluargaku jauh maupun dekat, begitu mempersoalkan statusku yang belum memiliki pendamping hidup di usia menjelang kepala tiga. Kata mereka, terlalu sayang jika aku menjadi bunga yang layu sia-sia. Aku akan sengsara tanpa kasih sayang anak-cucu kelak; akan renta dan masuk panti jompo. Ah! Padahal tadinya aku tak punya beban pikiran. Bagiku, jodoh suami-istri itu adalah akumulasi dari utang karma puluhan, bahkan ratusan kehidupan lampau. Jika tak saling berutang karma dengan pria mana pun, apa aku harus memasang karton bertuliskan ‘obral’ di depan dadaku? Uh, tidak akan!

Aku melirik ponsel di atas meja riasku yang layarnya tampak benderang tanpa jeda sejak tadi. ‘Hal baik’ yang dilakukan Mandy tampaknya sedang membuahkan hasil. Oh, pucink pala belbie! “Vana, serahkan kepadaku. Tenanglah…, biar kuseleksi mereka,” Mandy bangkit meraih ponselku penuh semangat.

***

“Nah, ini SMS ke-107….” Mandy mencomot sebuah roti dan mengunyah sambil membaca.

‘Hai, Sayangku. Serahkan hatimu kepadaku. Aku akan merangkulmu melewati hujan dan badai. Menemanimu di segala musim….’

“Oh, puitis sekali,” gumam Mandy.

“Chairil Anwar…,” balasku.

Mandy, teman terbaikku sejak SMA, pun yang kemudian bersama-sama denganku menyewa kamar apartemen ini bersebab terletak di inti kota dan dekat dengan tempat kerja kami, tampak menganggut-anggut sembari mencatat nama dan ciri-ciri dari para balon dan calon pasanganku dalam pilcasu pemilihan calon suami kali ini. Sesaat, dia kembali membacakan SMS.

‘Vanadise, kapan bisa bertemu? Bersamaku, tidak akan ada lagi kekhawatiran. Hidupmu akan aman. Hari esokmu pasti terjamin. Percayalah….’

“Agen asuransi!” pekikku.

Mandy mengangkat bahu sekali. Dilanjutkannya, “Hai, cantik! Aku pria mapan yang siap menikahimu. Aku akan menjagamu 24 jam.”

“Pasti dokter jaga UGD!”

***

Senin, pukul 18.30 WIB.

Sesuai apa yang diatur Mandy, aku telah tiba di Kafe Anomali limabelas menit yang lalu, dan duduk bersebelahan dengan pria berpakaian rapi, berdasi garis-garis, dan beraroma harum calon pertama yang lolos seleksi ala Mandy.

“Datang naik apa tadi?” tanya pria yang berjudul Mimo, mengawali percakapan, seraya meletakkan gawai canggih warna putih di dekat cangkir kopiku.

“Diantar teman,” jawabku dengan kejujuran pasti. Aku memang datang diantar Mandy yang masih menungguku di pelataran parkir.

“Oh, jadi belum punya kendaraan sendiri? Kenapa tak minta dijemput saja tadi?” Mimo berdeham sekali sebelum melanjutkan, “Sopir di rumahku nganggur. Mobil juga tinggal pakai….” Mimo kini mengangkat tangannya, memicingkan matanya menatap lama arloji berkilau keemasan di pergelangan tangan kirinya, “Maaf, aku lupa membawa kacamata. Sudah pukul berapa sekarang, ya?” disodorkan tangan ke wajahku.

“Setengah delapan?” Aku memeriksa arloji sendiri.

“Ah, ya, aku lupa menyetel kembali ke waktu Indonesia! Maklum, aku baru saja pulang dari Tiongkok, mengunjungi Tembok Raksasa…. Aku sudah ke sana empat kali. Sebelumnya, aku baru saja ke Belanda. Saat itu bunga tulip sedang mekar. Kamu tahu? Bunga tulip memiliki banyak jenis dan warna….”

Waktu akhirnya merangkak mengubah menit menjadi jam. Selama tak kurang dari dua jam ini, Mimo telah mengarungi Laut Tiongkok Selatan, menapaki benua Asia, mampir ke Eropa, pun Australia, bersama semerbak bunga tulip, sakura, mei hua, dan entah bunga apa lagi. Yang pasti, aku telah diam-diam ‘memanggil’ Mandy untuk segera menyelamatkanku sebelum jatuh pingsan.

Aku bernapas lega saat ponselku menjerit nyaring.

“Maaf, temanku sudah menjemput.” Aku segera bangkit usai menutup telepon Mandy.

“Eh, tapi…,” Mimo mencoba menahan langkahku, “Bukankah kita belum memesan makanan, kok, pulang secepat ini?”

***

Rabu, pukul 19.00 WIB.

Sonson menggeser kursi rapat di sampingku. “Mari kita wefie,” ujarnya dengan asap mengepul keluar dari kedua lubang hidungnya. Aku menahan napas saat wajahnya hanya berjarak sesenti dari wajahku. “Cheers…!

Susah payah menahan, akhirnya batukku meledak selama semenit.

Mandy! Aku tak ingin menikah dengan lokomotif…, eh, tak ingin mengidap kanker paru-paru…, uhuk-uhuk-uhuk…, please!

***

Kamis, pukul 19.00 WIB.

“Gajiku lumayan besar,” Lois menyebut sederet angka yang membuatku benar-benar tercengang. Gaji besar yang bahkan, jujur saja, tak cukup untuk menutupi setengah dari anggaran biaya kebutuhan kewanitaanku sebulan! Baiklah. Kumaklumi.

“Meski gajiku besar, tapi terus terang saja…, masa-masa pacaran, bayar masing-masing. Setelah menikah nanti, aku ingin biaya hidup kita tanggung bersama. Ya, saat ini aku sedang mencicil sebuah rumah dan mobil. Kelak cicilan itu kita bagi rata berdua, juga biaya listrik, telepon, air, dan biaya hidup juga sekolah anak-anak…. Kalau boleh tahu, berapa gajimu sebulan?”

“Maaf, Lois, aku baru ingat lupa mematikan kompor tadi. Aku harus segera pulang sekarang….”

***

Jumat, pukul 18.00 WIB.

“Mama menginginkanku segera menikah,” Landi menatapku dari balik kacamata minusnya. Dibanding yang sudah-sudah, Landi boleh jadi ‘cukup nyaman’ di hati.

“Mengapa?” Potongan daging bistik terakhir kujejalkan ke mulut.

“Papaku mengalami stroke dua bulan lalu, tidak ada yang membantu Mama menjaga Papa, aku sendiri sibuk bekerja di luar kota dan hanya pulang setengah tahun sekali….”

Aku melongo dengan pernyataan Landi.

“Ya…, selama ini sudah banyak tenaga suster yang dipakai. Tak ada yang betah.”

“Jadi kelak istrimu tidak ikut denganmu?”

Landi tampak berpikir sejenak. “Kurasa mamaku yang lebih butuh seorang menantu.”

Oh! Jadi aku akan menikah denganmu, atau dengan mamamu?

***

Sabtu.

“Hari ini aku tak bisa menemanimu,” Mandy sibuk mengoles kuteks pada sepuluh jari-jari kakinya. “Jadi, sudah kuatur. Kalian janjian saja di food court yang berjarak dua blok dari apartemen ini.”

“Bolehkah dibatalkan saja? Aku lelah dengan janji-janji temu ini….”

Mandy menggerakkan telunjuk tangannya ke kiri-kanan. “No…, no!

“Kali ini siapa lagi?”

Mandy meraih carik kertas di atas meja, mencari-cari di situ. “Danio. 34 tahun. Karyawan toko mebel,” melirikku sejenak, dia menahan tawa, “Semoga kali ini cocok denganmu, Tuan Putri!”

***

Bau itu sudah tercium semenjak aku duduk bersisian dengan Danio. Bau apa, sih?

Kegiatan bola mataku mencari di balik taplak kolong meja-terhenti oleh pelayan yang mengantar pesanan.

Tanpa sengaja, ekor mataku menangkap bayang telapak kaki kiri Danio yang terangkat bertumpu pada paha kanannya berada di sebelah kiriku.

“Silakan dimulai,” Danio berucap setelah pelayan berlalu. Kini, jari kelingking tangan Danio terlihat sibuk mengorek ‘tambang’ hidung sebelah kanannya, bergantian kemudian sebelah kiri. Setelah menjentik-jentikkan ‘hasil tambang’nya ke lantai, dia meraih centong. “Kuambilkan untukmu.”

“Tidak! Eh, maksudku, biar aku sendiri…,” menahan mual yang mendadak, aku mengambil alih centong dari tangan Danio. Ihh…!

Sembari makan, aku menahan napas sebisa mungkin. Jika lubang hidung memiliki penutup, alangkah baiknya!

Sementara sambil makan, Danio tampak memiliki kegiatan baru: menggosok-gosokkan jempol tangannya pada dinding telapak kakinya; menghasilkan serbuk hitam berjatuhan ke lantai. Oh, tidak! Sudah berapa lama makhluk ini difermentasikan? Aku tak tahan lagi!

“Maaf, aku mendadak tak enak badan,” ujarku seraya meraih tas tangan dan berjalan keluar dengan cepat. Persetan dengan teriakan Danio!

Di belokan jalan, di tong sampah samping trotoar, seisi lambungku tumpah demi ingatan-ingatan yang baru tercetak.

Dengan lunglai kulanjutkan langkah menyusuri setapak luar apartemen Blok C, menuju Blok A. Langkahku terhenti demi sebuah panci yang melayang, berdebum tepat di ujung kakiku, mengagetkan. Disusul kemudian piring terbang dan…, astaga kursi pun terbang!

Menghindarkan kepala menjadi sasaran lemparan, sebuah tangan tua telah menarikku ke pintu rumahnya.

“Nek Ailin, mereka?”

“Ah, sudah biasa, Nak Vana…. suami istri itu hampir setiap hari bertengkar. Ya…, meributkan suami yang pulang pagi…, uang susu anak. Dan, dua hari ini bertengkar hebat sampai menghancurkan barang-barang….” Nek Ailin menggeleng dan mendesah sembari melirik keluar. “Dengar itu…, katanya istrinya selingkuh, dan sekarang suaminya menggugat cerai,” bisik Nek Ailin lagi.

Dari balik pintu yang terbuka, suara teriakan, tangisan, dan nyaring barang pecah masih berbaur.

“Ah, kehidupan pernikahan yang menyedihkan….”

“Tapi, jika tidak menikah, saat tua akan kesepian,” desahku tanpa sadar.

Nek Ailin tertawa. “Siapa yang bisa menjamin?” ujarnya, “Kamu tahu? Nenek melahirkan tujuh anak, lima lelaki dan dua perempuan. Sekarang kamu lihat, bukankah Nenek tetap harus kembali sendirian saat mereka memiliki sayap yang cukup keras untuk terbang jauh dari sarangnya, pun membangun sarang sendiri?”

Aku tersentak. Benar! Siapa yang bisa menjamin pernikahan akan memberi kebahagiaan mutlak?

Ah, Mandy, mari hentikan pilcasu ini. Hentikan semua kegilaan ini. Terima kasih telah mengkhawatirkanku. Terima kasih telah memberiku pengalaman mengenal mereka di antara A hingga Z; mengenal segala rasa dan aroma mulai dari aroma tulip yang memicu sakit maag, aroma tembakau Deli yang terkenal, aroma kejujuran, hingga yang terakhir…. hueeerrggh!

 

Medan, Agustus 2017

Penulis adalah ghostwriter/co-writer; tenapa pendidik

Advertisements