Cerpen Muna Masyari (Kompas, 28 Januari 2018)

Pemesan Batik ilustrasi Andreas Camelia - Kompas.jpg
Pemesan Batik ilustrasi Andreas Camelia/Kompas

Kali ini, untuk menggarap batik pesanan lelaki itu, ia memilih saat malam buta, di sebuah kamar berhias sarang laba-laba. Kamar penyimpan langut dan kemelut. Sebelumnya, hampir lima tahun pintu kamar itu dibiarkan terkatup serupa kebisuan mulut disumpal ujung selimut.

Ditemani kompor kecil bertindih wajan berisi cairan malam, perempuan itu menggores kain putih yang serupa kafan dan dihampar di pangkuan dengan cantingnya. Menggambar pola. Dituntun suara yang memantul dari palung paling rahasia. Setiap celupan canting pada cairan malam adalah detak jantung si pemesan yang memantul ke palung dadanya.

Di luar, jerit jangkrik beradu dengan desah gesekan daun pisang.

Sebagai pembatik yang biasa menerima pesanan khusus, bagi perempuan itu, corak, warna, dan motif batik buatannya merupakan kesatuan rasa dan jiwa pemesan. Salah satu cara untuk bisa menjiwai saat menggarap batik pesanan, perempuan yang baru menginjak kepala empat itu mengajukan beberapa pertanyaan laiknya penjaga warung makan menanyai pelanggan.

Terlebih dahulu, ia bertanya, kain batiknya untuk siapa? Akan dikenakan sendiri? Dalam rangka apa? Acara keluarga, pesta atau dinas?

Atau, akan dihadiahkan pada orang lain? Istri? Suami? Teman? Orangtua? Saudara? Sahabat dekat? Atasan? Anak buah?

Dalam rangka apa? Kado pernikahan? Ulang tahun? Kenaikan pangkat? Hadiah prestasi?

Tak hanya itu. Ketika mengajukan pertanyaan, ia mencuri pandang pada kedalaman matanya. Memancing rasa yang menjalar dari palung dada. Mengaktifkan sinyal di dadanya sendiri seperti tangan seorang ibu ketika menyentuh buah hati.

Tak jarang ia menerima pesanan dari seorang karyawan untuk dihadiahkan di ulang tahun atasannya, dengan harapan gaji dinaikkan karena bahan pangan melambung tak terjangkau. Ia membuatkan batik bermotif padih kepa’ (gabah kosong) bertabur di tanah, serupa beras tumpah. Ditambahi anak-anak burung dengan paruh menganga dan sayap mengepak rendah. Sementara corak warnanya mengambil warna gelap dan gunungan bermotif tanah retak.

Ketika ada seorang guru hendak menghadiahkan kain batik pada anak didiknya karena meraih juara lomba mata pelajaran menjelang hari kemerdekaan, ia membuatkan batik bermotif Tabur Bintang dengan latar biru langit. Dari goresan canting, polesan warna, tercurah harapan masa depan secerlang bintang di gelap malam. Saat menggarapnya, ia pun memilih nuansa pagi ceria di bawah rindang pohon lengkeng tua, tempat di mana sewaktu kecil ia disuapi ibunya sambil melihat anak ayam ribut berebut makanan.