Cerpen Kak Ian (Radar Surabaya, 28 Januari 2018)

Matinya Seorang Kuli Panggul ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Matinya Seorang Kuli Panggul ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Badrun mulai bergegas ketika pagi masih gelap, dan bau embun masih sangat menyengat segar saat tercium dari balik pucuk-pucuk dedaunan. Begitu pun dengan kabut yang masih terlihat menggumpal dan tebal, serta ditambah rasa dinginnya angin pagi menyelimuti kulit membuat ia tetap bertahan. Ia tidak memedulikan rasa sedikit apa pun pagi itu. Baginya, ia harus lekas tiba di tempatnya bekerja.

Lelaki berperawakan gempal, berisi, dan tinggi serta berotot itu ingin lebih awal sampai di tempat ia menawarkan jasa tenaganya untuk para pelanggannya. Di Pasar Pagi lah, tempat di mana ia menjajakan jasa tenaganya sebagai tukang kuli panggul.

“Abang, nggak sarapan dulu. Siti sudah masakin nasi goreng kesukaan Abang tuh dengan daun mengkudu. Ayolah, Bang, makan saja sedikit buat mengganjal perut,” Siti mengingatkan Badrun, suaminya yang saat itu ingin bergegas berangkat menuju ke Pasar Pagi yang tidak jauh dari rumahnya.

“Nanti sajalah! Atau, kasih saja ke Umar. Dia kan mau berangkat sekolah juga. Kasih saja sarapan abang untuknya,” jawab Badrun sambil terburu-buru. “Abang berangkat dulu ya, Ti! Doain abang biar dapat rezeki kali ini biar tidak beli nasi aking lagi,” lanjut Badrun tidak sehari-harinya ia berkata demikian.

Siti yang mendengarkan ucapan Badrun saat itu tidak menaruh firasat apa-apa. Memang begitulah yang dilakukan suaminya itu tiap pagi. Sebelum melangkah jauh meninggalkan dirinya beserta dua anak laki-lakinya yang masih bau kencur itu, Badrun selalu begitu. Lagi-lagi Siti tidak menaruh firasat apa-apa. Siti sudah terbiasa. Usai meminta pamit dan doa pada istrinya, Badrun baru melangkah ke Pasar Pagi.

Badrun akhir-akhir ini selalu berangkat pagi-pagi sekali. Entah, apa karena ia tidak ingin pelanggannya direbut oleh orang lain lagi. Atau, pendapatannya kurang? Tapi, itulah kenyataannya. Maklum sekarang banyak sekali wajah-wajah baru di Pasar Pagi itu—dalam memikat para pelanggan untuk menggunakan jasa tenaga mereka.

Jadi Badrun tidak ingin para pelanggannya itu direbut mereka kembali. Apalagi sudah beberapa hari ini para pelanggannya tidak menggunakan jasanya.

Setiba di Pasar Pagi Badrun sudah berdiri di muka jalan, di mana orang-orang hilir-mudik membawa karung—yang di dalamnya berisi berupa sayur-mayur, pakaian jadi maupun peralatan permainan anak-anak dan sebagainya. Sepagi itu ia sudah ada di sana sebelum azan subuh usai berkumandang.

Ternyata pikirannya salah. Badrun bukan orang pertama yang tiba di sana. Ada Pak Kodir, lelaki paruh baya yang masih kuat tenaganya mengangkat beban apapun. Badrun pun langsung berbaur dengannya beserta lainnya pula.

Kuli panggul itu ‘profesi’ yang Badrun ‘geluti’ selama 10 tahun lamanya. Ia menjadi kuli panggul karena kebutuhan yang mendesak dirinya saat itu. Apalagi sejak ia dirumahkan oleh pabrik yang memproduksi suku cadang motor, di mana dirinya bekerja sebagai seorang pengawas. Ia melakukan itu tidak ada pilihan lagi selain menjadi kuli panggul di Pasar Pagi. Lagi pula saat ia dirumahkan bertepatan Siti saat itu sedang hamil anak pertama. Tentu menjadi kuli panggul jalan satu-satunya Badrun untuk memenuhi kehidupan keluarganya itu.

Sebenarnya menjadi kuli panggul bukanlah cita-cita Badrun. Itu terihat seusai dirumahkan, ia langsung melamarkan diri kembali ke pabrik-pabrik lainnya. Sayangnya, mereka menutup diri Badrun. Alias, tidak ada lowongan pekerjaan untuknya. Akhirnya takdir pun ‘melemparkan’ ia ke Pasar Pagi.

Saat itu zaman lagi paceklik. Krisis moneter telah mempengaruhi segala produktivitas dan pendapatan para pabrik saat itu. Bukan hanya itu saja. Ada pula yang gulung tikar akibat dampak krisis itu. Salah satunya pabrik tempat Badrun bekerja tutup produksi. Gulung tikar. Dan menjadi kuli panggul mau tidaknya ia harus menerima itu. Masih untung di Pasar Pagi itu ia memiliki kenalan orang dalam, sehingga dapat bekerja di sana tanpa embel-embel. Lagi-lagi hanya sebagai seorang kuli panggul, Badrun bekerja.

“Tumben pagi-pagi sekali kamu sudah sampai, Drun?” tanya Pak Kodir.

“Iya, Beh! Habis beberapa hari ini saya nggak bawa pulang duit untuk anak dan istri saya. Kasihan mereka tiap hari hanya makan nasi aking saja,” jawab Badrun parau.

Pak Kodir—yang dipanggil Babeh pun paham apa dirasakan Badrun pagi itu. Memang semenjak krisis moneter banyak berdatangan wajah-wajah baru di Pasar Pagi itu, hingga membuat pendapatan hasil jasa kuli panggul sangat berkurang. Begitu pun yang dirasakan Badrun dan Pak Kodir pula.

“Sabar saja, ya, Drun! Rezeki nggak ke mana,” seru Pak Kodir memberi petuah sekaligus menghibur Badrun.

“Iya, Beh! Terima kasih.”

Belum lama Badrun berada di pasar itu mendadak ada seseorang yang melambaikan tangan ke arahnya. Orang yang melambaikan tangan itu ternyata seorang ibu muda. Ia memanggil-manggil Badrun dari jarak tidak begitu jauh. Ibu muda itu ingin menggunakan jasa tenaga Badrun. Tapi, ia tidak memerhatikannya ini malah sebaliknya Pak Kodir yang memberitahukannya.

“Ada yang memanggil kamu tuh, Drun,” Pak Kodir memberitahukan pada Badrun.

Ah, bukan kali, Beh! Mungkin itu pelanggan Babeh kali. Lagi pula Badrun kan baru sampai,” jawab Badrun lantang.

“Nggak itu pelanggan kamu, Drun. Babeh tahu kalau pelanggan Babeh sendiri. Ayolah ambil saja, angkat barang-barangnya itu. Kasihan Babeh lihat sudah setengah jam berdiri di sana sepertinya. Anggap saja ini penglaris kamu,” Pak Kodir kembali berujar sambil tersenyum dengan mengulumkan gigi gerahamnya yang sudah tanggal sebagian itu. “Rezeki jangan ditolak!”

“Ya, sudah saya ambil ya, Beh?” Badrun pun berpamitan.

“Iya, silakan! Hati-hati ya Drun angkat barang-barangnya.”

“Iya, Beh.”

Badrun akhirnya menghampiri ibu muda tersebut yang sejak tadi memanggilnya. Ia langsung bergegas mengangkat barang-barang yang dimiliki pengguna jasanya itu. Padahal sepagian itu ia belum menyentuh makanan apapun.

Usai itu Badrun kembali ke tempat semula. Di sana Badrun mengeluhkan rasa sakit yang mendadak dirasakan olehnya. Dan itu membuat perhatian Pak Kodir.

“Kamu kenapa, Drun?” tanya Pak Kodir.

“Ah, hanya sakit biasa. Nanti juga baikan, Beh,” jawab Badrun menghibur dirinya. Padahal rasa sakit yang dialami menyiksa dirinya saat itu.

“Maaf, Beh, Badrun kerja lagi ya. Itu ada pelanggan Badrun manggil-manggil lagi,” lanjut Badrun. Walaupun saat itu sakit masih ia rasakan.

“Ya, hati-hati, Drun!” tukas Pak Kodir masih menaruh curiga dengan rasa sakit yang dialami Badrun. Tampak terlihat jalan Badrun tidak seimbang.

Ah, mungkin perasaan ini saja yang terlalu mengkhawatirkan Badrun. Pikir Pak Kodir.

***

Tidak menunggu lama, satu, dua, tiga bahkan hampir lima pelanggan pengguna jasa tenaganya sudah Badrun dapatkan. Lumayanlah setengah pagi itu ia sudah mengatongi upah dari para pengguna jasa tenaganya. Dilihatnya saku bajunya sudah lumayan mengembung. Sudah mulai terisi.

Saat itu matahari sudah menampakkan diri dari ufuk timur, tapi mendadak Badrun sudah mulai merasa tidak beres pada dirinya. Kepalanya terasa berat. Pusing. Begitupun keringat dingin sudah mulai mengucur dan membasahi pelipis serta seluruh tubuhnya. Apapun yang dilihatnya saat itu sudah tidak lagi sempurna. Semua kabur. Lalu berubah gelap.

“Drun, kamu kenapa? Tu-tunggu dulu, Drun! Tu-tu…,” belum habis ucapan Pak Kodir usai itu tubuh Badrun terhempas dan jatuh di pelataran Pasar Pagi.

***

Pada masa kecilnya Badrun adalah seorang anak kecil yang suka sekali bermain layangan, kelereng, dan suka mencuri hasil panen ubi di ladang milik orang lain. Tentunya suka sekali berkelahi. Emak selalu bilang lebih baik bantu abah dan emak di ladang atau di sawah, tetapi Badrun kecil tidak pernah menurut.

Emak pernah suatu hari bertanya pada Badrun kecil saat ia sedang menghitung kelereng-kelerengnya hasil ia menang bermain. Emak selalu bertanya.

“Kamu itu mau jadi apa sih, Drun! Sekolah nggak mau. Disuruh mengaji sama Bang Rohman selalu aja banyak alasannya. Apalagi bantu Abah atau Emak nggak pernah mau. Mau jadi apa kamu besar nanti, Drun,” ucap Emak.

“Badrun mau jadi kuli panggul saja, Mak. Itu seperti Bang Tato di Pasar Senja. Lihat itu Emak badan Bang Tato gede dan besar kan? Badrun mau seperti itu, Mak,” jawab polos Badrun kecil saat itu.

“Masya Allah Drun, Badrun! Kenapa kepikiran seperti itu sih. Emak nyekolahin dan suruh mengaji biar kamu bisa jadi orang berguna nantinya. Jadi jangan ngomong begitu nanti malaikat lewat langsung dicatat, kamu baru tahu nantinya, Drun! Istighfar, Drun! Istighfar!” Emak Badrun berapa kali menyadarkan ucapan Badrun kecil saat itu.

Tapi, ucapan Emak dianggap seperti angin lalu saja oleh Badrun kecil. Masuk ke kuping kanan dan dikeluarkan dari kuping kiri. Dihempaskan begitu saja.

***

Benar. Ucapan itu adalah doa. Badrun baru menyadari ucapan emak saat itu. Kenapa saat itu ia tidak mendengarkan kata-kata emak dulu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur tak akan bisa menjadi nasi lagi. Hanya ada rasa penyesalan yang kini dirasakan Badrun saat nyawanya hampir sepenggal leher. Sebentar lagi Izroil akan menjemput dirinya.

Namun, sebelum itu Badrun ingat dengan Siti dan kedua anak laki-lakinya yang masih ingusan itu. Ia mencoba bertahan untuk hidup, walaupun sesaat hanya untuk memberitahukan pada Pak Kodir. Mungkin lebih tepat kata-kata terakhir yang akan disampaikannya. Supaya nanti ketika ia mati tenang bisa menyampaikan sesuatu pada Siti, istri dan ibu bagi anak-anaknya itu melalui perantara Pak Kodir.

“Beh, saya nitip Siti dan dua anak saya, ya. Tolong kasih uang ini sama Siti. Bilang sama dia hanya ini yang mampu saya dapat. Bukan hanya itu saja, bilang juga permohonan maaf saya padanya jika saya tidak bisa membahagiakannya…,” usai itu Badrun memejamkan matanya pelan-pelan untuk terakhir kalinya.

“I-iya, Drun! Innalillahi wainnailahi rojiun…,” ucap Pak Kodir terbata-bata sambil mengusap mata Badrun pagi itu.

Seketika itu Pasar Pagi pun geger. Semua ramai-ramai melihat kematian Badrun yang malang itu. Semua teman-teman ‘seprofesi’ pun ikut turut berduka cita. Dengan penuh kesetiakawanan mereka pun memberikan sumbangan kematian Badrun melalui pakaian ‘kebesaran’ kuli panggul yang ditaruh di dekat mayat Badrun. Itu pun atas inisiatif Pak Kodir pula. Sumbangan itu seikhlasnya bagi siapa saja yang mau ikut empati.

“Bagaimana, Beh, kita lapor saja ke kepala pasar biar bisa bantu mencari mobil jenazah untuk mengantar jenazahnya Badrun,” usul salah satu kuli panggul yang mengenal Badrun.

“Tidak usah. Tidak usah! Kita tidak perlu merepotkan orang-orang di Pasar Pagi. Biar kita usaha sendiri saja,” sergah Pak Kodir.

“Kalau hal seperti macam ini tidak ada yang direpotkan, Beh! Tapi wajib untuk membantunya,” timpal kuli panggul lainnya.

Pak Kodir berpikir panjang. Ia sesaat diam sejenak.

“Ya, sudah jika itu yang kalian inginkan. Silakan saja lapor pada kepala pasar ini ada kuli panggul yang mati mendadak,” akhirnya Pak Kodir menyerahkan semua itu pada sesama para kuli panggul.

“Lalu, bagaimana dengan istrinya apa kita kasih tahu langsung saja,” usul yang lain.

“Tidak usah, kita langsung antar saja jenazahnya agar istrinya tidak merasa kehilangan,” lanjut Pak Kodir.

“Iya, sudah kalau begitu, Beh,” kali ini ucapan Pak Kodir diiyakan oleh mereka.

Usai itu mereka sibuk mencari mobil jenazah. Pak Kodir masih menunggu jenazah Badrun di hadapannya.

Sedangkan Siti di rumah lagi mengeringkan nasi aking yang dibelinya tadi dari warung terdekat dari rumahnya. Padahal ia ingin sekali makan ayam goreng yang dijual di tepi-tepi jalan raya demi buah cintanya dan Badrun yang sudah tiga minggu tertanam di perut Siti. Siti menaruh harap penuh pada Badrun jika sepulang dari Pasar Pagi nanti, suaminya itu membawa uang agar bisa membeli ayam goreng walau hanya sepotong.

Tapi, Siti tidak tahu jika saat itu Badrun pulang bukan membawa uang, melainkan tubuh kakunya. Jenazah suaminya itu sedang diantar oleh Pak Kodir dan teman-temannya sesama kuli panggul yang masih berada dalam perjalanan menuju rumahnya. (*)

 

 Penulis adalah penulis fiksi anak dan remaja, aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta

Advertisements