Puisi-puisi Muhammad Irfan Ilmy (Media Indonesia, 28 Januari 2018)

Hilangnya Kata-kata, Abadi di Telapak Kaki, Tak (lagi) Menulis Puisi, dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Hilangnya Kata-kata, Abadi di Telapak Kaki, Tak (lagi) Menulis Puisi, dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

Hilangnya Kata-Kata

 

kata-kata surut dalam sunyi ingatan

kalimat seperti apalagi yang hendak kutulis

sementara langit menyerap semua pikiran

pada detak hidupku

menimbunnya di gudang memori

yang lain

 

pernyataan matang dari amatanku

tak mungkin bisa disampaikan

lewat sajak-sajak mistis yang manis

sebab kau telah membawa

seluruh kewarasanku

dengan lari yang tak mungkin

terkejar lagi

 

Bumi Siliwangi, 2018

 

Abadi di Telapak Kaki

 

pagi-pagi sekali

aku ingin mengitari jari-jari

dan memasrahkan diri ke dalam tubuh

untuk berpindah dari bagian kanan

menuju tanganmu yang kiri

melintas di sana dalam gua-gua tulang

yang ngilu dan lugu

menerjang erangan darah

yang anyir mengalir

hingga bermuara di telapak kakimu

yang firdaus

tinggal di sana selama-lamanya

 

Negla, 18 Januari 2018

 

Tak (lagi) Menulis Puisi

 

aku sudah lupa berapakali tepatnya

kuulangulang membaca puisi

yang kau kirimkan tempo hari

 

kau tidak menulis puisi, lagi

bahkan aku tak mendengar kabarmu

sejak aku pergi

dan kamu juga berpindah rumah ke pulau

sebrang

padahal semua yang ada padamu, bagiku

sangat puitis

amat manis

 

laut adalah pemisah

bagi percakapan kecil kita

bahkan saking kecilnya, tahun-tahun

perjumpaan itu hanya

disesaki keterdiaman

saat itu, aku sungguh tak tahan

 

aku tak mampu memanggil seluruh ingatan,

tentang

seberapa banyak kita bertukar tanya dan

berganti jawab

hingga kini, laut benarbenar menelan semua

ingatanku,

entah ingatanmu

mungkin pula sama

 

kita menjadi dua orang asing yang saling tak

mampu memahami bahasa masingmasing

 

kepala kita dijejali desing bising kalimat tanya

tentang apa yang melengkinglengking di

dalam kepala

 

aku ingin membaca puisipuisimu, lagi

hingga jika kau memutuskan hubungan

dengannya

izinkan aku tetap membacamu, sebagai

puisi

 

Bandung, 8 Agustus 2017

 

Mempertanyakan Banyak Hal

 

angin punya desir, pantai punya pasir

dan kau, punya

segalanya

 

aku seorang fakir yang hanya terusmenerus

berfi kir

mengotakatik kebenaran yang selalu

kusangsikan

selalu kupertanyakan tentang

benar dan tidaknya

 

seperti apakah kau benar-benar mencintaiku

kekasih?

 

Bandung, Agustus 2017

 

Kamu Puisiku (2)

 

kamu adalah puisipuisi multiinterpretasi

bagaimana mungkin aku sempat

menerjemahkan puisi orang lain

untuk mengais makna, sementara puisi

di hadapanku pun tak ada habisnya

ditafsirkan?

kamu adalah mahakarya Tuhan

yang tak akan usai untuk kubaca

 

menguraikan maksudmaksud di tiap bait

dirimu

adalah pekerjaan sepanjang hidup

karena makin aku tahu apa yang tersembunyi

padamu,

pekerjaanku bukannya berkurang, justru kian

terbentang

 

sepanjang pandang yang ada hanyalah

hampar misteri

tentang kamu yang tak kupahami

kamu makin sulit kumengerti dan

berlipatlipat tak kukenali

aku hampirhampir putus asa mengetahui

dirimu

yang tak kunjung mampu kurangkum ke

dalam sebuah defi nisi

 

kamu tetap ruang yang menyimpan

lapisanlapisan arti

kamu serupa samudra yang dalamnya tak

terkira

 

izinkan aku menjadi satusatunya penyelam

yang mengambil mutiara dari dasar dirimu

aku saja, jangan ada penyelam lain

 

Bandung, 18 April 2017

 

Sulit Kugapai

 

dalam penantian yang harus dibayar nanar

pelukku, adalah tindak kosong,

hanya lolong

kau tak kunjung kugapai

alihalih kumiliki

hanya remuk redam

di ruang jumpa

yang tak kunjung padam

 

Cikondang, 8 Januari 2015

 

Sesekali Berpaling dari Hujan

 

langit mending mendung

agar kita tak ke luar rumah

dan banyak obrolan lahir di bawah atap

bertahan dan lama menetap

 

tembok tua rumah kita,

kursi dan meja di ruang tamu,

karpet tempat membaringkan badan,

kasur butut

yang tak lagi empuk,

dan televisi kado pernikahan

dari sahabat lama

biarkan mereka menyaksikan setiap jengkal

perbincangan

menguping tanpa pernah kita merasa risih

berharap ia mengabarkannya

ke anak cucu dan penerus-penerus

masa nanti, kekasih

tentang kemesraan kita selagi muda

 

hujan memang mempesona

tapi kita sangat sering berlari ke tengah hujan

dan sama-sama memasrahkan diri pada

basah

apakah kau tidak bosan, sayang?

 

kupikir, harus juga kita mengakrabkan diri

di dalam ruang relung, merenung

menghabisi resah yang tumpah

 

aku ingin kita sering berpelukan

saling menghangatkan tubuh

dari gigil yang berhasil

menyerang ujung pertahanan kita

 

Bandung, 11 Oktober 2017

 

 

Muhammad Irfan Ilmy, lahir di salah satu desa di Kab. Tasikmalaya. Ia bergiat di komunitas Biblio Forum dan anggota Forum Lingkar Pena Bandung. Tiap Sabtu sore berbagi kebahagiaan di Komunitas Belajar dan Bermain anak Planet Antariksa, Gegerarum-Gegerkalong Bandung. Puisinya terhimpun dalam buku Geometri Kata Antologi Puisi 3 Komunitas Sastra Bandung.

 

Redaksi menerima kiriman puisi orisinal dan belum pernah diterbitkan media massa lain. Kirim ke: puisi@mediaindonesia.com

Advertisements