Puisi-puisi Mardi Luhung (Jawa Pos, 28 Januari 2018)

52 ilustrasi Google
52 ilustrasi Google

Patah Hati

: di rumah gus minin giri

 

Memang, di hutan yang gelap, cahaya kunang-kunang

demikian kecil. Tapi meski kecil, ikutilah dengan rela.

Meski merangkak. Meski mengingsut. Dan meski

suara-suara yang ada memanggil-manggil. Seperti

panggilan yang menjadikan dadamu terhisap.

Keinginanmu terbetot. Sebab, sekali berbelok, kau

akan kesasar. Dan kami pun patah hati. Merindukan

kembalinya dirimu.

 

Gresik, 2017

 

Klangonan

 

Pada setapak dia membaca. Pada batu, tanah, rumput, dan tebing dia membaca. Dan pada semua benda yang ditemuinya dia membaca. Dan dia membaca dengan suara yang lembut. Selembut ricik sungai. Ricik sungai yang dulu melarungnya ke samudera. Dan disua si ibu dermawan yang punya kapal jangkung. Si ibu dermawan yang kerap berdoa:

“Jauhkanlah kami dari segala yang menggantung. Kecuali jika itu makin mendekatkan pada-Mu.” Doa yang kelak membuat gunung kapur menjelma jadi lawang agung. Dan pena kering yang dilempar menjelma jadi segerombolan tawon. Tawon yang mengusiri niat buruk yang ingin menyergap secara diam-diam atau sebaliknya.

Dia, dia, memang membaca pada semua benda yang ditemuinya. Seperti membaca pada kenangan lama yang dirindukan. Kenangan lama yang menyimpan aromanya. Aroma ketika dia masih hijau. Dan ketika masih menyukai teka-teki tentang bebuahan: belimbing, mengkudu, delima, dan sawo. Teka-teki yang meski rumit tapi gampang diterkanya.

Segampang dia ketika menghadapkan wajah ke arah kiblat. Sebab ingin selalu menatap sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang pernah membuat sebatang palem berhikmat. Dan sekian batang pohon lain merunduk takzim. “Wahai, Sesuatu Yang Ajaib, biarkan aku sentuh ujung bayanganmu,” begitu yang ditukasnya berulang-ulang. Juga di setiap usai membaca Kitab Pembeda miliknya.

 

Gresik, 2017

 

Langgam Umur 52

 

Berdikit-dikit aku makin sepi. Makin sendiri. Dan percaya, jika aku mesti kembali ke masa kecil. Ke tempat dulu aku berada di teras rumah pecinan. Membaca komik. Dan merasa, jika jalan di depan rumah akan menuju ke padang rumput hijau. Dengan sebentang sungai jernih di pinggirannya. Juga dengan sepasang kupu-kupu sebesar piring yang riang beterbangan. Kupu-kupu berwarna kuning berbintik merah. Kupu-kupu, yang jika senja turun, akan menjelma jadi sepasang kunang-kunang. Yang juga sebesar piring. Dan malamnya, sepasang kunang-kunang yang sebesar piring pun mengikut ke mana saja aku bergerak. Jadinya, jika kau lihat dari jauh, aku seperti anak mambang yang punya mata tambahan yang sebesar piring menyala yang melayang. Anak mambang yang berjalan, berlari, dan berlompatan. Anak mambang, yang jika mengantuk, pun langsung menggelosor. Dan besoknya, tahu-tahu sudah di ranjang. Ranjang masa kecil. Ranjang, yang ketika aku sentuh di umur 52 ini, terlihat berkarat. Dingin. Dengan kasur yang mengeras. Tapi, aku merasa. Di ranjang itu, aku masih menitipkan sebagian badanku. Badan yang lengket. Badan yang tersenyum saat aku tepuk. Lalu menimpal: “Pada akhirnya memang begini. Kita terbelah. Dan selalu ingin disambung.”

 

Gresik, 2017

 

Tugu

 

Aku memanggilmu. Meski tahu suaraku tak akan sampai. Cuma jadi gaung. Gaung yang didengar oleh setiap yang menyeberangi sungai. Dan menyangka, jika itu adalah deheman hantu yang berdiam di tempat yang jauh. Hantu yang pernah disekap di dalam guci. Lalu dilepas oleh si pengelana. Hantu yang ingin menyamarkan semua sumur di hutan. Hutan, tempat si raja pilihan mengasah ilmu membidik, menunggang, dan mengucapnya. Dan si raja pilihan, yang ketika memasuki ujian akhir, menukas: “Kini, aku bukan lagi yang dulu atau nanti. Aku adalah yang pergi, juga sekaligus yang datang.”

Sekali lagi aku memanggilmu. Meski sekali lagi, tahu suaraku tak akan sampai. Dan kembali cuma jadi gaung. Gaung yang mengitari si raja pilihan ketika kembali ke singgasananya. Dan menyadari, jika kepala-kepala yang ada di dekatnya adalah kepala-kepala yang dulu pernah ditemuinya di hutan. Kepala-kepala yang berbulu, bertaring, dan bermoncong. Kepala-kepala yang setiap melengos, setiap itu pula, pintu-pintu tertutup. Lampu-lampu kedap-kedip. Dan ketika lubang-lubang yang ada ditelusupi kunci-kunci. Terus diputar bersamaan. Tak dapat dibuka. Meski dipaksa berulang-ulang. Berulang-ulang.

 

Gresik, 2017

 

 

Mardi Luhung, lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Dia lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Buku puisi tunggalnya: Terbelah Sudah Jantungku (1996), Wanita yang Kencing di Semak (2002), Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007), Buwun (2010), Jarum, Musim dan Baskom (2015), Teras Mardi (2015), serta Cum cum Pergi ke Akhirat (2017). Sementara itu, kumpulan cerpen pertamanya berjudul Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011).

Advertisements