Puisi-puisi Dedy Tri Riyadi (Koran Tempo, 27-28 Januari 2018)

Tentang Sancho Panza, Renjana Bejana ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Tentang Sancho Panza, Renjana Bejana ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Tentang Sancho Panza

 

Sometimes the horse is a disaster

or the horse is time in a trot or a canter.

—Jaswinder Bolina, Portrait of the Horse

 

Ia, Sancho Panza.

Perkataan sederhana

dan kewarasan

yang menjagaimu

dari perasaan nyaman

berimajinasi.

 

“Pergilah,” usirmu,”sebab puisi

ini gila meski begitu murni,

sedang niatan Benengeli tentu

bukan sekadar kelakar komedi.”

 

Namun ia Sancho Panza,

yang pada petualangan

mengarung padang bahasa

setia mengiring langkah Rocinante,

dengan bagalnya.

 

“Setelah 3.300 kali melecut diri,” tantangnya,

“kematian bagiku hanya hilang denyut nadi.”

 

“Mati dan berbahagialah,” katanya lagi,

“dunia bisa segera lupa siapa Alonso Quijano,

tapi bakal kekal kisah kekasih Dulcinea.”

 

2017

 

Renjana Bejana

 

…tetapi kami hanya

seperti bejana tanah liat …

—petikan Surat Paulus yang kedua

kepada Jemaat di Korintus pasal 4 ayat 7

 

Menatap lubang lambungnya, ia merasa

tajam dan dingin tangan maut sudah lama

dicabut. Begitu pula dinding ratapan

& korban bakaran bisa disentuh dengan ringan –

 

ini semacam rindu pada surga beraroma

rumput & embun. Yang pada suatu pagi

ia dengar ada yang berseru;Hosea!

anakmu itu akan diberi nama Lo Ammi.

 

Dia yang tak akan pernah jadi milikku.

 

Namun, pada lingkar lukanya, ia sudah pasti

tak bisa seperti pohon. Menautkan waktu pada

perut dan meninggikan tajuk harapan ini:

 

“Jangan tergelincir licin glasir, tapi pahamilah

dan yakini – sejakmasuk tanur, tugasnya

tak kurang sekadar menghibur.”

 

2017

 

 

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah. Sehari-hari bekerja sebagai pekerja iklan di Jakarta. Buku puisinya yang sudah diterbitkan antara lain Gelembung (2009), Liburan Puisi (2014), serta Petualangan Suara (2016).

Advertisements