Puisi-puisi Triyanto Triwikromo (Kompas, 27 Januari 2018)

Introspeksi ilustrasi Bambang Herras - Kompas.jpg
Introspeksi ilustrasi Bambang Herras/Kompas

Nabi

: cermin Cervantes, cermin Kundera

 

350 tahun ia bertempur

dengan kincir angin. 450 tahun

ia bersengketa dengan

sebongkah batu.

 

“Kematian telah memanggilku

dari gunung salju.” ia berkata.

“Kematian telah memanggilku.”

 

Ia tidak mengenakan topi

saat salju turun. Balkon

membeku. Kastil

membeku.

 

Museum menyimpan kisah

perang yang terlupakan

itu. Cermin menyimpan

kesedihan wajahnya

di bawah lampu.

 

Genta-genta berhenti

berbunyi. Genta-genta

hanya ilusi.

 

Ia tidak berkuda

saat berangkat

ke stasiun. Musuh

berada 15 mil

di luar Praha.

 

Ia berjalan kaki

tetapi membayangkan

terbang bersama gagak. Gagak

yang melupakan namanya. Gagak

yang melupakan sayapnya.

 

“Sejak kematian memanggilku

aku telah melupakan namaku. Melupakan

kotaku. Kota iblis. Kota hantu

dililit salju.”

 

Pada akhirnya ia harus bertempur

juga. Bertempur dengan waktu.

Jantungnya ditusuk. Kepala dipenggal.

Mata dicungkil. Telinga dipotong. Kaki

dipatahkan. “Tetapi aku tetap hidup, bukan?”

 

Maka, setelah itu

350 tahun ia bertempur

dengan kincir angin. 450 tahun

ia bersengketa dengan

sebongkah batu. Lagi

dan lagi.

 

Sejak saat itu, sejak Praha

dililit salju, mereka

menyebut ia sebagai nabi

di dunia yang terlupakan. Di dunia

tanpa kenangan.

 

2017

 

Makam Kita

 

Kita mulai dari makam. Kita mulai dari kematian. Tentu kita lewati keheningan tebing-tebing dulu. Kita lewati jernih sungai tanpa perahu. Kita abaikan ciuman perih yang hanya kita bayangkan terjadi di hijau hutan tanpa rubah. “Apakah kita akan menggunakan peta atau semacam petunjuk jalan?” “Tidak. Kita hanya akan membawa foto sepasang nisan dan seekor burung malam yang menolak terbang.”

 

Tetapi kita tak pernah sampai ke makam itu. Ada pagar besi menjulang. Badai datang dan lampu-lampu begitu cepat padam. “Ke museum saja. Mungkin kita bisa temukan jejak kematian di sana.” “Dan kita tetap berjalan tanpa sekali pun berciuman?”

 

Tak ada ciuman. Museum hanya menyimpan kesedihan. Hanya menyimpan sisa pengembaraan di bungker-bungker penuh ular. “Bagaimana kalau kita belajar mati dari orang yang tersalib di bukit bersalju?” “Bagaimana kalau dari area di pinggir jembatan saja?”

 

Rupanya kita tak memilih kematian dalam riuh gempa. Rupanya kita memilih kematian dalam riuh senja.

 

“Sebelum itu, apakah tak sebaiknya kita minum anggur putih saja. Anggur untuk hidup yang brengsek dan sia-sia.” “Setelah itu, apakah kau akan menciumku sekali saja?”

 

Tidak pernah ada ciuman. Tidak pernah ada kenangan. Waktu mencuri segalanya.

 

Juga hasrat terakhir mencari makam tua. Makam kita.

 

2017

 

Pencurian Sekarung Arloji

 

Burung-burung malam terbang dari kegelapan bukit

sebelum jembatan-jembatan diledakkan. Sebelum

seseorang disalib untuk kisah-kisah yang diracaukan

di taman-taman.

 

Saat itu ia memartil pintu kaca

toko tanpa penghuni. Menghancurkan

etalase. Mencuri

dan menenggelamkan sekarung arloji

ke sungai.

 

Tentu saja masih ada patung-patung iblis

dan singa di gereja. Seluruh kota belum

ditaklukkan. Orang-orang Yahudi

masih bisa bercakap tentang kabut

dan berdiang di keriuhan rumah.

 

Mungkin kereta-kereta telah berhenti

di stasiun paling sunyi. Mungkin masinis

telah menenggak anggur merah

dan memeluk kekasih. Mungkin

seseorang telah dicekik

dan museum-museum telah ditutup.

 

Tak ada yang pasti. Lonceng-lonceng

bisa berkeloneng pada pukul lima

dan bukan pada pukul lima. Gerimis

bisa reda pada pukul enam

dan bukan pada pukul enam. Senja

bisa terbakar pada pukul empat

dan bukan pada pukul empat Tak ada

yang pasti. Seseorang bisa memartil

dan tak memartil pintu toko. Menghancurkan

etalase. Mencuri

dan menenggelamkan sekarung arloji

ke sungai.

 

Apakah waktu mati setelah itu? Apakah

burung-burung terbakar

dan lampu-lampu

dipadamkan?

 

Ia tak peduli pada apa pun

yang gampang terbunuh.

Ia hanya ingin berdiri di jembatan

memandang Praha yang segera hilang

dari ingatan.

 

2017

 

Aturan Sewa Rumah

 

Menggunakan Kunci

Ia tahu agama hanyalah semacam jeruk. Bukan kunci

untuk membuka rahasia keheningan danau. Karena itu ia tak akan

menggunakan kode angka-angka ganjil untuk memahami

kehendak hujan. Tak akan.

 

Sarapan

Ia boleh melahap apa pun pada musim dingin. Ia tak boleh makan

apa pun saat tetangga bunuh diri. Pada pukul 8.00 hingga pukul

10.00 bom-bom diledakkan di dekat stasiun. Ia hanya

diperkenankan tidur.

 

Merokok

Ia berharap bisa melanggar perintah Tuhan kesebelas: merokok.

Tetapi tuberkulosis menghajar sepanjang waktu. Ia pun

mengulum permen dari Rusia dan merasa telah menelan semesta.

Ia tidak keberatan jika Tuhan menciptakan lagi perintah kedua

belas: dilarang merokok pada musim plankton dan ganggang

kawin-mawin sembarangan.

 

Mencuci

Ia diperkenankan mencuci baju pada malam-malam penuh

serangga. Ia tidak dizinkan mencuci hati dengan salju sembarang

waktu.

 

Memelihara Anjing

Ia tidak diizinkan memelihara binatang-binatang dari surga,

terutama anjing. Karena itulah ia ingin memelihara kecoa, babi,

dan belut.

 

Warga Negara

Ia dilarang menjadi Yahudi. Ia tidak boleh belajar bahasa Ibrani.

Ia diperkenankan menjadi monyet. Jika melanggar, ia akan

dibakar hidup-hidup di alun-alun.

 

2017

 

Danau Purba

 

Ia yakin apa pun yang berada di dasar Danau Wannsee adalah surga. Perahu-perahu putih yang ditambatkan hanyalah penjelmaan nabi-nabi terakhir yang mewartakan kebusukan neraka. Adapun burung-burung, angsa-angsa, dan itik-itik yang muncul dari balik kabut tak mempersoalkan apakah mereka berasal dari gua gelap atau bukit-bukit penuh pohon purba berembun.

 

Sebelum belajar memahami kilau daun-daun linde yang gugur perlahan ke pasir basah, ia tidak pernah berkunjung ke danau mana pun. Ia tidak pernah mengenal ikan-ikan kurus yang berenang sembarangan meskipun hanya dalam fantasi. Danau, baginya, adalah laut kecil yang asing. Hijau. Penuh ganggang yang berebut tumbuh.

 

Kadang-kadang ia melihat satwa lucu muncul dari keheningan danau. Ia pernah melihat ikan-ikan berkepala singa menyemburkan api ke arah kampung. Kadang-kadang ia melihat tumbuh-tumbuhan serbaungu gugur dari kehijauan langit. Ia melihat bunga-bunga berbentuk unta terbang terbawa angin ke tenggara.

 

Setelah surga, Tuhan memang menciptakan Praha. Akan tetapi baginya Danau Wannsee lebih dari sekadar surga. Iblis dan anggur sesekali menggoda. Tuberkulosis dan rindu bibir kekasih sesekali merasuk. Tak pernah ada badai kotoran kucing. Tak pernah ada serdadu-serdadu yang mencari Yahudi miskin dan kehilangan senja.

 

“Sebenarnya Tuhan ingin sekali menciptakanmu sebagai ganggang,” kata Danau Wannsee. “Tetapi aku tak menginginkanmu menjadi tumbuhan yang gampang membusuk. Lalu aku minta Tuhan menciptakanmu sebagai Narsisus tetapi kau lebih ingin menjadi Kafka. Apakah kau kecewa telah menjadi cermin neraka?”

 

Ia tak pernah kecewa menjadi Kafka. Tetapi ia sangat ingin menjadi danau. Danau tanpa kecoa. Danau tanpa ketakutan. Danau tanpa sinagog. Danau tanpa Sisifus yang berkali-kali ingin menghunuskan pedang ke jantung para dewa yang tak pernah membaca Kitab Kejatuhan Manusia.

 

2017

 

 

Triyanto Triwikromo menulis buku puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo (2015). Selain mempersiapkan novel Metamorkafka, ia juga menganggit antologi puisi Efek K, basil dari residensi sastra di Berlin, Jerman, belum lama ini.

Advertisements