Cerpen Niken Kinanti (Lampung Post, 21 Januari 2018)

Yang Mereda ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Yang Mereda ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Sebentar lagi ia akan menuju empat puluh tahun. Menuju umur empat puluh, kali ini ia memperlihatkanku sebuah hadiah yang ia rancang sendiri. Ia menghadiahi dirinya sendiri dengan beberapa puisi tentang perjalanan hidupnya. Dalam percakapan kami di beranda, ia berapi-api bahwa buku yang ia tulis sekarang, akan menjadi tonggak puncaknya dalam merentang waktu kepenyairannya.

Saat itu aku membuatkannya secangkir the chamomille, dengan roti bakar yang berselai nanas. Aku selalu ingat kesukaannya mulai dari makanan, minuman, baju, musik favorit maupun buku bacaan. Buku itu masih di tanganku, berisi sampul warna kelabu dan sketsa-sketsa yang saling berselingan di antara kata-kata puitis yang ia sematkan.

“Buku ini isinya apa?” tanyaku kepadanya.

Ia mendekatiku dan membolak-balik bukunya sendiri, “Seperti himpunan dokumentasi perjalananku, kisah kita, dan beberapa cerita.”

“Apa kau yakin sudah menuliskan semuanya? Tentang kita?” tanyaku padanya.

“Ya, tentu. Aku tuliskan semua yang pernah kita lalui di buku ini. Menurutku, cara yang paling bagus menuliskan kisah kita adalah dalam bentuk puisi. Karena puisi banyak bercerita mengenai ruang, waktu, dan peristiwa yang berlalu, tetapi tak ingin kita lupakan. Bukankah kau setuju dengan ideku ini?”

Aku mengernyitkan dahi, “Kau ingat saat kita muda? Kau adalah lelaki yang nakal dan ugal-ugalan.”

Ia terkekeh, “Itu dulu, sayang. Sekarang aku adalah orang yang berbeda, sekarang aku romantis dan kalem.”

Aku membolak-balik buku itu. Dalam beberapa manuskrip sebelumnya yang ia tulis, ia menjelma menjadi remaja yang baru bangun di siang hari. Kata-kata yang ia tuliskan sebelumnya sudah cukup menjelaskan bahwa ia memiliki kehalusan rasa, gejolak darah muda yang membara, deru dan dendam, sentimentalitas yang masih ia pelihara dan beberapa keharuan serta airmata.

“Kau banyak memakai metafora,” kataku membuat pernyataan.

“Metafora inilah yang membuatku menjadi juara,” ungkapnya pelan lalu mencubit hidungku.

“Sudah kukuasai kata-kata yang menceritakan jagad pewayangan dan gemerlapnya Jakarta. Meski orang-orang malah mengkritik puisiku yang nakal dan banyak akal. Padahal sebenarnya puisiku adalah puisi lugu seperti kanak-kanak yang bertingkah menggelikan.”

Aku membuka baris pertama yang ia tulis di halaman dua. Di situ ia menyebut namaku berkali-kali. Kata-kata membuatku kembali pada masa lalu, pada awal kami saling jatuh cinta. Betapa menyenangkan saat-saat itu karena cinta datang dengan keberanian yang sungguh-sungguh dan geliat yang mesra. Ia melamar dan menikahiku dengan janji suci yang satu, yang tak akan terbilang dua. Rupanya begitulah caranya memberikan penghormatan dan persembahan kepadaku, sebagai yang pertama.

“Karena perempuan ibarat buku yang bisa ditulis di halaman pertama,” tambahnya ketika melihatku terpaku lama oleh tulisannya.

Kubaca lagi tulisannya mengenai perjumpaan kami di sebuah tempat, kafe di tengah kota. Ia memesan teh chammomille dan aku memesan jeruk hangat saat hari menuju senja. Ingatan itu kembali datang. Disela suara rintik hujan, ia memperkenalkan diri dan berjanji akan menemuiku lagi. Rupanya hari itu adalah tonggak kami berdua membina rumah tangga. Selebihnya, tersemai kisah dan kasih keluarga.

Hari berlalu dan pernikahan kami bukanlah untung rugi. Sebab jejak dan keceriaan anak-anak yang mengisi ruang-ruang kamar dan sering menggema itulah energi tak terperi dari perjalanan cinta. Kami tak pernah ingin beranjak meski nantinya akan melewati setengah abad. Kami selalu ingin bertemu dan saling menatap, menjadi puisi-puisi yang terus abadi.

“Apalah artinya sebuah nama, apalah artinya sebuah angka.” ucapku padanya.

Ia tersenyum padaku, “Angka itu hitungan, misalkan saja jumlah pelukanku padamu.”

Aku bernapas panjang, mengambil jeda. Ia selalu saja hadir dengan hati yang terbuka padaku, di tengah Jakarta yang macet dan sesak. Ia hadir dan mencipta cerita setiap hari. Ia berjanji akan selalu melangkah bersama untuk menapaki sisa hidup kami. Ia menggenggam tanganku untuk bisa melompat bersama setiap harinya. Betapa syahdunya.

“Buku ini membuatku terperangkap dalam kenangan,” katanya cepat. “Tapi menjadi terperangkap dalam kata-kata adalah hal-hal yang menyenangkan sekaligus menjadi siksa. Aku tak ingin menyesali perjalanan kita. Justru kita perlu merayakan, bukan malah ditangisi, disesali atau bahkan dimaki.”

“Apakah kau terperangkap karena berumah tangga?” tanyaku menyelidik.

“Bukan. Justru rumah membuatku kembali dan ingin menghuni di sana selamanya. Kalau aku pergi, aku tak akan meninggalkanmu. Kalau aku pulang, aku akan dengan senang hari rebahan di dalamnya.”

Aku tersenyum melihat ia yang tertawa riang. Meski ia kadang berbicara dengan penuh kerewelan, tapi setidaknya ia adalah kawan dan suami yang membuatku bahagia. Rambutnya yang mulai memutih, rupanya tetap bisa membuatnya dimabuk cinta. Seolah semua tempat seperti tanah, ubin, aspal, tangga, dan meja adalah nostalgia merajut cinta.

“Ini adalah kado yang sempurna,” kataku. “Ini kado yang kau maksudkan untuk mengucap terima kasih, tapi dengan bahasa yang sederhana.”

Ia tersenyum dengan lesung pipit, “Apa yang bisa diberikan seorang penyair kepada kekasih, kecuali kado berupa puisi?”

“Puisi yang menceritakan Jakarta yang kumuh? Yang setiap hari macet? Yang selalu penuh oleh para pencari kerja?”

“Tak selamanya seperti itu. Kita hidup di sini mungkin sampai mati. Lihat Ciliwung. Lihat sampan kayu di kali itu. Lihat ondel-ondel di sana. Terlalu banyak tempat yang tak bisa kita datangi.”

“Apakah kau akan tetap mengajakku berkeliling Jakarta?”

“Ya, tentu. Jakarta tetap berada di tempatnya, dan kita tak akan kemana-mana.” Ucapnya yakin.

Ia memegang tanganku. Ia menatap penuh dengan sorot matanya yang tajam. Pada saat itu kurasa waktu telah terhenti di tempat kami. Seperti tak ada suara dari air mancur di taman belakang, tak ada suara derit bangku yang sering mengganggu, dan tak ada cicit burung di dahan mangga. Waktu seperti terhenti. Viola! Ia adalah penulis yang baik sekaligus pemuja yang ulung. Aku tak ingat berapa banyak bualan yang ia lontarkan dari kata-kata yang ia tuliskan. Mungkin benar ia adalah manusia yang tercipta lihai memainkan kata yang romantis dan dramatis. Kata-kata yang bermunculan dari pikirannya, ia semaikan ke dalam buku-buku yang sudah terjual beratus ribu.

Cinta menemukan jalannya sendiri tanpa kami berkomunikasi lewat gawai dan teknologi. Tak perlu melalui pesan dan jaringan sinyal seperti yang orang-orang sering lakukan. Hal-hal tak wajar yang ternyata kami jauhi dari percintaan urban sekarang ini. Kami lebih sering menyampaikan rindu dengan bahasa langsung. Suara dan wajah kami tak pernah bisa menggantikan digdayanya aplikasi.

Buku yang sebentar lagi akan ia luncurkan di taman utama ibu kota berisi kesaksian jujurnya dalam mencintai dan mengayomiku. Ia menuntunku mengembara, melancong dan mengisi sisa usia. Ia menerjemahkan umur sebagai angka yang mewakili peristiwa. Dan bersamaku, ia ingin menuju destinasi yang bahkan tak tertera di peta. Ia ingin membawaku bersamanya menuju semua tujuan yang tak mungkin dipikirkan manusia.

Aku memandangi buku itu ketika perasaan gamang menggelayut seperti mendung yang tiba-tiba datang. Aku didera perasaan bosan yang menyeruak, lekat, dan dalam. Sepertinya sekarang aku lelah dan mungkin saja aku perlu menyiapkan jalur lain yang kutandai di peta. Aku hanya ingin hidup damai tanpa bualan kata-kata. Aku ingin mengakhiri kata-kata dengan kehadiran cawan dan piring di rumah yang lainnya. Sungguh, aku ingin terbang dan lari dari kata-kata yang sudah ia tuliskan, hingga hidupku mereda.

Advertisements