Cerpen Ramadira (Jawa Pos, 21 Januari 2018)

Secangkir Kopi Luwak ilustrasi Bagus hariadi - Jawa Pos
Secangkir Kopi Luwak ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

RUSLAN berpikir, malam ini akan menjadi malam pertama baginya sebagai pembunuh dan menjadi malam terakhir kehidupan bagi Gazali sebagai korban.

***

GAZALI, lelaki yang sebentar lagi tiba itu adalah kekasihnya. Sudah enam tahun mereka menjalin hubungan setia penuh gairah. Namun, semuanya menguap dan kini menumbuhkan sakit hati yang tak bisa dibendung Ruslan. Gazali berkhianat. Gazali jatuh cinta pada orang lain, seorang perempuan. Roslia namanya.

Di dapur apartemennya, Ruslan mengasah pisau perlahan-lahan. Gesekan konstan mata pisau dengan batu asah itu menggema, gema lirih yang meneror seisi ruangan.

Ruslan baru saja menelepon Gazali, mengajaknya makan malam dan Gazali menyanggupi untuk datang tepat pukul delapan. Sudah seminggu mereka tidak bertemu. Gazali baru saja pulang dari tugas di Semarang. Ruslan berjanji akan memasak sup asparagus kepiting kegemaran Gazali. Gazali senang dan berujar bahwa ia merindukan masakan spesial Ruslan.

Hubungan mereka bermula dari sebuah wawancara kerja. Sebagai manajer HRD, Ruslan berkesempatan mewawancarai Gazali yang melamar untuk mengisi posisi yang tengah lowong. Ruslan terpesona seketika pada Gazali. Aroma dari tubuh atletis Gazali begitu menggodanya. Wajah khas campuran Jawa dan Eropa pada Gazali membuat Ruslan berani mengatakan bahwa inilah lelaki tampan dengan kesempurnaan utuh yang dicarinya selama ini.

Gazali tentu saja berhasil mulus mendapatkan pekerjaan di perusahaan consumer goods multinasional itu. Pada kenyataannya Gazali tidak memenuhi kualifikasi untuk menduduki posisi yang dilamarnya. Namun, Ruslan mengabaikan profesionalitasnya kali ini. Pesona Gazali membuat Ruslan tak sanggup mengabaikannya. Gazali pun akhirnya bekerja dalam bimbingan dan perhatian penuh dari Ruslan.

Hasilnya, karier Gazali melesat mulus. Saat ini, ia menduduki posisi sebagai manajer pemasaran wilayah Pulau Jawa. Sejak semula, Gazali tahu dan sadar sepenuhnya bahwa ia bisa mendapatkan semua itu berkat jasa Ruslan. Tanpa penolakan, Gazali menerima cinta Ruslan setelah tiga bulan bekerja di perusahaan itu.

***

SORE tadi Ruslan berbelanja bahan untuk membuat sup asparagus di sebuah supermarket. Sehabis mengambil tiga ekor kepiting, tanpa sengaja ia melihat berbagai macam pisau yang dipajang di ujung peralatan dapur. Ia pun mengambil salah satunya: pisau berukuran panjang dua puluh senti, lebar empat senti dengan bagian tajam sisi bawah sekitar satu setengah senti.

Sebelumnya, Ruslan tak punya rencana membunuh Gazali. Namun, rekaman video Gazali mencumbu Roslia, yang juga karyawan di perusahaan itu membuat Ruslan murka. Rekaman dalam keping DVD itu ia peroleh dalam sebuah amplop tanpa nama pengirim. Selain rekaman video, amplop itu juga berisi foto-foto Gazali dan Roslia tengah berdua di pantai dengan kemesraan tiada tanding.

Ruslan belum tahu pasti apa motif si pengirim misterius. Meski begitu, perselingkuhan Gazali adalah sesuatu yang menyakitkan dan tidak bisa di terima dengan dalih apa pun. Tak hanya itu. Perjalanan hubungan mereka selama enam tahun dengan pengorbanan habis-habisan dari Ruslan, cukup membuat Ruslan merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia. Gazali telah berhasil mengelabuinya. Gazali menerima cintanya cuma karena ingin memuluskan kariernya di perusahaan, murni demi kepentingan pribadinya sendiri.

Ruslan dan Gazali adalah pasangan yang memiliki bakat dalam bersandiwara sehingga sampai saat ini tidak ada orang di perusahaan mengetahui bahwa mereka berdua memiliki hubungan spesial. Kedekatan mereka dianggap sebagai pertemanan biasa oleh orang-orang kantor. Dan Ruslan meyakini seutuhnya bahwa sampai kapan pun dirinya mampu menyembunyikan hubungan mereka berdua.

Adanya rekaman video dan foto perselingkuhan Gazali itu membuat Ruslan menjadi ragu. Jangan-jangan hubungan mereka telah diketahui oleh sesorang atau beberapa orang. Atau bisa jadi kiriman video dan foto Gazali dengan Roslia itu hanyalah akal-akalan Gazali untuk mengakhiri hubungan mereka. Pemikiran terakhir ini membuat Ruslan semakin murka.

Bisa dibilang ia adalah tipe laki-laki yang serius dalam menjalin hubungan. Ia akan memberikan apa pun demi mempertahankan pasangannya. Ia tak pernah luput memberikan hadiah dan kesenangan kepada Gazali. Setiap akhir pekan, ia selalu memasak dan menyajikan jenis makanan yang menjadi kesukaan kekasihnya itu. Walaupun awalnya Ruslan tidak menyukai semua masakan yang disukai Gazali namun lama-kelamaan ia manjadi suka. Apa pun itu, ia lakukan demi menyenangkan kekasihnya karena Ruslan merasa, Gazali terlahir di dunia memang untuk menjadi miliknya semata.

Mereka melewati hari di kantor sebagaimana biasa selaku profesional dan melewati malam dengan penuh gairah selayaknya hubungan sepasang kekasih yang saling mencinta di apartemen Ruslan. Mereka biasa menghabiskan malam saling mendekap sambil menonton TV atau sekadar menikmati pemandangan di luar, dari ketinggian apartemen. Apa pun itu, kopi adalah teman setia mereka.

Ruslan adalah seorang penggemar berat kopi. Mulanya Gazali tak menyukai kopi. Namun, berkat Ruslan, Gazali berubah menjadi pencinta kopi. Ruslan senang bukan kepalang mendapati kenyataan itu. Gazali rutin membawakan kopi luwak dari Lampung kesukaan Ruslan. Ia sangat mudah mendapatkannya, bahkan langsung dari kebun kopinya. Ia punya paman yang memiliki kebun dan pengolahan kopi tradisional di Lampung.

Dalam menikmati kopi, Ruslan selalu menggunakan cangkir kesayangannya: cangkir berbahan porselen hadiah dari Gazali. Gazali percaya bahwa kenikmatan kopi bergantung pada wadah yang digunakan. Cangkir berbahan porselen adalah wadah terbaik yang mampu mengikat aroma dan rasa original kopi yang dihidangkan. Dan Ruslan setuju itu. Baginya, aroma dan cita rasa kopi termahal di dunia itu akan terganggu jika menikmatinya dengan menggunakan wadah plastik atau stainless.

Namun, kini, semua kebersamaan itu akan segera berakhir. Semua rasa sayang, rasa memiliki, menguap entah ke mana. Jika memang kiriman video dan foto itu akal-akalan Gazali berarti Gazali memang ingin mencampakkan Ruslan, orang yang telah berjasa menyelamatkan dan membuat indah kehidupan Gazali. Habis manis, sepah dibuang! Dan untuk itu, Ruslan akan membuat perhitungan. Ia tak lagi memikirkan konsekuensinya. Baginya, semua ini harus segera diakhiri. Mengakhiri semuanya dengan satu-satunya cara: membunuh Gazali!

Kini, apartemen itu dipenuhi oleh bunyi gesekan pisau dan aroma sup asaparagus kepiting yang mulai mendidih di panci. Sementara itu, Ruslan terus saja mengasah pisaunya dan baru akan berhenti jika bel pintu berbunyi. Sebenarnya pisau itu sudah teramat tajam. Tapi tetap saja ia merasa belum mendapatkan ketajaman yang pas untuk membunuh Gazali.

Dalam rencananya, Gazali akan ia sambut dengan baik. Ia akan persilahkan Gazali duduk dan menyantap sup asparagus kepiting kesukaannya. Ia akan bertanya dengan nada yang sedapat mungkin tak mengandung amarah. Setelah Gazali selesai dengan santapannya, ia akan menanyakan mengapa Gazali bisa jatuh cinta pada orang lain. Apa kekurangan yang ada pada diri Ruslan hingga membuat Gazali berpaling. Ruslan meyakini semata bahwa Gazali tak akan memberikan jawaban yang diharapkan, ia akan pura-pura mengelak sampai Ruslan memperlihatkan video atau fotonya bersama Roslia.

Masih dalam bayangannya, setelah melihat video dan foto, Gazali akan mengakui semua dan dengan terpaksa meminta Ruslan untuk memutuskannya karena dia telah bersalah, mengkhianati hubungan mereka. Jika itu yang terjadi maka tak ada lagi yang menghalangi Ruslan untuk menghadiahkan kematian pada Gazali. Gazali sungguh pandai bersandiwara dan menganggap Ruslan bagian dari tokoh dalam sandiwara yang bebas dia permainkan. Ruslan menganggap itu suatu kekejaman yang harus segera dihentikan.

Pertama-tama, ia akan mengarahkan pisau itu langsung ke batang leher Gazali. Selanjutnya, Gazali akan mendapatkan hujaman pisau pada bagian-bagian lain sampai ia tak lagi bernapas.

Ruslan masih mengasah pisaunya. Suara azan Isya tiba-tiba berkumandang di TV dan sempat menyiutkan nyali Ruslan untuk membunuh karena mendadak terbayang neraka jahaman yang akan disediakan untuknya karena melakukan dosa besar. Ia menjadi gelisah. Ia tinggalkan pisaunya, ia matikan kompor di mana di atasnya sup asparagus sudah matang sempurna. Ia menuju ke sofa depan TV, mengambil kotak rokok dan mengeluarkan sebatang dari dalamnya untuk kemudian dia isap dalam-dalam. Asap rokok itu terus diisapnya kemudian diembuskannya bergulung-gulung memenuhi ruang apartemennya hingga aroma asap itu menyatu dengan aroma sup asparagus.

Ia belum bisa tenang. Untuk itu, ia bergegas mengambil cangkir porselen kemudian menyeduh kopi luwak kegemarannya. Kopi itu tersisa hanya cukup untuk satu porsi, secangkir kopi terakhir. Ia segera menuangkan kopi dan gula kemudian menyeduhnya dengan air panas. Ia lalu kembali ke sofa tempat duduknya sambil membawa segelas kopi panas. Baru ia merasa lumayan tenang meski masih menunggu detik-detik tragedi yang bakal menjadi berita terbesar sepanjang sejarah kotanya. Selama ini Ruslan dikenal sebagai orang baik, namun mendadak berubah menjadi pembunuh berdarah dingin yang menjadikan orang yang dikasihi sebagai korban. Untuk menghalau keraguan, ia kembali mengingatkan dirinya sendiri bahwa apa yang akan menjadi anggapan orang kota nanti tak perlu ia pedulikan karena bagaimanapun mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Ini hanyalah urusan antara dia, Gazali, dan Tuhan. Sehabis membunuh Gazali, ia akan bertobat.

Kopi luwak bisa menenangkan hatinya. Ia meneguk cairan terakhir dari cangkir ketika tiba-tiba bel kamarnya berbunyi. Ia bergegas membukanya dan tampaklah Gazali dengan wajah berseri membawa setangkai mawar dan kopi dalam sebuah paper cup.

“Kubelikan kopi luwak dari Kedai Kopi Cinta untukmu,” katanya sambil menyebut tempat langganan mereka jika ingin menikmati kopi luwak pada saat stok kopi dari Lampung milik mereka habis. Rasa dan aroma kopi luwak di tempat itu hampir menyamai kopi luwak racikan mereka sendiri.

Gazali memeluk Ruslan dan Ruslan membalas ciuman Gazali pada pipinya. Gazali membaca kekhawatiran di wajah Ruslan saat ia mempersilahkan Gazali duduk. Gazali sempat bertanya ada apa dan Ruslan menjawab tidak ada apa-apa. Ia lalu bergegas ke dapur menyiapkan sop asparagus di meja makan. Gazali memuji aroma sup yang masih mengambang di udara ruangan sambil menuangkan kopi dari paper cup ke cangkir porselen kesayangan Ruslan.

Ruslan kembali dari dapur dan duduk di sofa berhadapan dengan Gazali. Gazali memberinya senyuman, sebuah senyum yang selalu merontokkan hati Ruslan. Selalu seperti itu. Ruslan mencoba menguatkan diri untuk tetap menjalankan aksi yang sudah dirancangnya dengan matang. Namun, tiba-tiba ia menjadi ragu.

Untuk mengalihkan kegugupannya, Ruslan menyambar cangkir porselen yang sudah terisi lagi. Dia mulai menyeruput kopi istimewa pemberian Gazali. Di saat bersamaan, Gazali minta izin untuk ke luar sebentar. Katanya mau membeli rokok. Gazali pun meninggalkan Ruslan yang tengah menikmati secangkir kopi yang sudah ia taburi serbuk arsenik. ***

 

Samarinda, 20–21 November 2017

RAMADIRA, menetap di Samarinda. Menyelesaikan studi formalnya di jurusan ilmu hubungan internasional. Belajar menulis dan mengarang cerita secara otodidak. Bukunya yang telah terbit kumpulan cerita Kucing Kiyoko (2011).

Advertisements