Cerpen A.Warits Rovi (Padang Ekspres, 21 Januari 2018)

Pohon Tembuni ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Pohon Tembuni ilustrasi Orta/Padang Ekspres

P ohon itu besar dan tinggi dengan rerimbun daun seperti membelai langit. Tumbuh memayungi makam keramat, sambil sesekali meluruhkan daun atau bunganya ke datar nisan, seolah sedang mengirim surat kepada arwah yang jauh bermukim dalam kesunyian.

Pohon itu berkulit kasar, berceruk dan berlekuk, diparam warna hitam lembap mirip gambar peta, dan koloni-koloni semut asyik membuat lintasan ke jalur yang dipadati sisa-sisa sesajen di antara kulit yang hitam lembap. Lalu bergerombol semakin ke atas, dan menyebar ke dahan-dahan belukar, sebelum akhirnya mengerubung periuk-periuk berisi tembuni yang bergelantungan di dahan-dahan. Semut-semut itu lantas keluar dari periuk, mengusung kepingan-kepingan benda halus mirip retakan kulit kayu. Kompak semua koloni semut mengusung benda halus itu menuju sarangnya, di celah apitan akar belukar, tepat pada pangkal yang dipunggungi batu besar.

Rakso mengamati hilir mudik semut-semut itu hingga ia rela mengintip sarangnya dari dekat. Kadang kala ia mendongak pada puluhan periuk berisi tembuni yang bergelantungan di dahan-dahan. Lalu bola matanya pindah lagi ke bawah, fokus ke semut-semut yang mengusung makanan ke sarangnya.

“Anakku!” ia memungut satu kepingan benda yang tengah diusung beberapa semut sambil berurai air mata. Setelah berhasil meniup hempas semut-semut yang mengerubungi benda yang ia pungut, Rakso langsung menciumnya sembari menangis. Bahunya berguncang-guncang, wajahnya merah, dan ia merasakan sebuah tikaman dalam dadanya. Ia harus bisa memastikan posisi periuk bercat biru di bagian bawahnya yang pernah Lin serahkan kepada petugas Buju’ Tamoni [1] dua tahun lalu, dan Rakso harus berhasil mengambilnya dengan segera.

***

Kabar perihal pohon tembuni bermula dari bibir Ki Sahruni, sebelum akhirnya mendekam di kepala Lin hingga Lin membuat keputusan-keputusan. Pagi itu Lin sengaja datang ke rumah kakeknya untuk menanyakan tentang pohon tembuni yang pernah didengarnya beberapa tahun lalu. Lin berharap pohon itu bisa jadi jalan keluar bagi masalah yang tengah ia pikul.

Setelah dengan cakap pembuka yang begitu lihai Lin karang, akhirnya Ki Sahruni—dengan tanpa diminta—bercerita tentang pohon besar rumah tembuni itu. Ki Sahruni khusyuk bercerita, sambil bertelanjang dada di bawah naung capil pandan yang ia kenakan, sembari duduk dan bersandar ke cagak bambu. Sedang Lin duduk di dekatnya, pada bangku tua, menyingkap rambutnya ke belakang kepala, matanya nyaris tak berkedip menatap sang kakek, bibirnya tampak terbuka pertanda ia sangat antusias mendengar cerita kakeknya.

“Pohon itu umurnya sudah ratusan atau bahkan ribuan tahun. Sejak dari zaman nenek moyang, pohon itu memang digunakan sebagai tempat menggantung tembuni,” Ki Sahruni mengambil sejumput tembakau dari dalam kaleng bekas, melintignya dengan kertas rokok, menyalakan dan mengisapnya beberapa kali.

“Pohon tembuni itu menjadi lebat dengan gelantungan periuk-peiuk berisi tembuni yang kian hari kian meningkat. Para orang tua biasanya bernazar jika anaknya lahir dengan selamat, maka tembuninya akan digantung di pohon itu,” lanjut kakek itu dan matanya menyipit oleh embusan asap rokoknya yang menggumpal.

“Kalau mau digantung di sana caranya bagaimana, Kek? Apa langsung digantung sendiri?”

“Ah, tidak, Lin. Orang yang hendak menggantung tembuninya di pohon itu, terlebih dahulu harus menghubungi petugas buju’. Biasanya tembuni yang sudah ada dalam periuk itu diserahkan kepada petugas. Petugas itu nanti yang akan menggantung periuk berisi tembuni itu.

“O.. jadi begitu ya, Kek?”

“Iya. Kenapa kamu menanyakan hal itu, Lin?”

“Oh, hanya ingin tahu saja, Kek. Kelak kalau saya melahirkan dengan selamat, saya berencana akan menggantung tembuni saya di pohon itu,” jawab Lin sedikit gugup dengan wajah yang setengah lesup. Lekas ia alihkan tatap matanya ke halaman, melihat capung berkejaran. Sedang tangannya mengelus perutnya yang mulai membuncit.

“Aku harus menggugurkan bayi ini, dan jasadnya akan kumasukkan ke dalam periuk, nanti akan kuserahkan kepada petugas buju’ pohon tembuni. Tentu aku harus lihai, agar petugas tidak curiga kalau isi periuk itu bukan tembuni,” gumam Lin dalam dadanya.

***

Rakso dan Lin yang masih sebagai pengantin baru, sangat khawatir jika mereka punya anak. Mereka tidak berpikir bahwa bayi yang lahir punya rezeki masing-masing yang tidak perlu dikhawatirkan oleh kedua orang tuanya. Tapi yang diingat Rakso dan Lin hanya perihal keadaan ekonomi mereka yang masih tidak stabil. Sehingga mereka beranggapan bahwa kehadiran bayi di tengah-tengah mereka akan membuat masalah ekonomi semakin semrawut.

Tiga bulan setelah pernikahan, Rakso dan Lin terkejut ketika perawat mengabarkan kalau Lin sudah hamil. Lantas keduanya bingung mau diapakan janin dalam rahim Lin itu, jika tidak digugurkan, bayi itu nanti akan minta biaya ini itu di tengah keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Tapi kalau digugurkan, keduanya tak tega melihat bayi itu mati begitu saja dan tentu dosa besar akan jatuh kepada orang tuanya.

Rakso dan Lin selalu membicarakan hal itu siang dan malam, di berbagai tempat dengan obrolan lirih dan rahasia. Obrolan mereka berdua dari satu waktu ke waktu yang lain melahirkan beberapa pertimbangan. Tak jarang keduanya terlihat mengernyitkan dahi, memandang ke atas sembari bertopang dagu, sedang lelehan peluh membanjiri kening dan lehernya, pertanda mereka berpikir keras mencari jalan keluar untuk janin di rahim Lin. Hingga mereka akhirnya setuju pada satu keputusan; menggugurkan janin itu, tapi dengan cara-cara yang manusiawi.

“Jadi kamu harus rajin berpijat perut ke Bu Mina, dia itu secara diam-diam memang spesialis dukun aborsi. Kalau janinnya sudah gugur, nanti kita masukkan ke dalam periuk dan selanjutnya kita serahkan ke petugas buju’ pohon tembuni. Toh dia tidak akan tahu kalau periuk itu berisi janin. Nah, dengan cara seperti itu maka janin kita aman, ia akan digantung di dahan pohon tembuni, dan kita bisa melihatnya setiap saat. Aku yakin dengan seperti itu, janin kita tidak akan murka kepada kita,” kata Rakso kepada Lin, matanya berdenyar dan ia tersenyum semringah. Lin mengannguk setuju. Rambutnya berurai disapu angin.

“Agar peiuk itu tidak tertukar dan mudah kita amati, maka harus diberi tanda di bagian bawahnya,” usul Lin, lalu menggigit bibir, lalu tersenyum dan merebahkan kepalanya di bahu Rakso.

Dua puluh lima hari setelah Lin berpijat ke Bu Mina—akhirnya janin itu gugur. Rakso dan Lin sangat bahagia. Mereka memasukkan janin itu ke dalam periuk. Menandai bagian bawah periuk dengan cat warna biru. Lalu mereka serahkan kepada petugas buju’ pohon tembuni. Dan oleh petugas, periuk itu digantung di pangkal dahan yang menjulur ke arah barat.

***

Hari-hari setelah mereka menggugurkan janin dan menyerahkannya kepada petugas buju’ pohon tembuni, kenyataan yang mereka rasakan tidak sama seperti apa yang diharapkan sebelumnya. Meski tak ada bayi yang lahir di tengah-tengah mereka tetapi persoalan ekonomi yang mereka hadapi jauh lebih rumit dari sebelumnya. Hampir setiap hari mereka tertimpa musibah. Lilin dipatuk ular hingga pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit dengan biaya yang sangat mahal. Rakso terkena penyakit kencing batu yang mengharuskan ia dioperasi

Bulan berikutnya, pohon beringin yang ada di sisi barat halaman rumahnya tiba-tiba tumbang menimpa rumah mereka hingga hancur. Binatang piaraan mereka mati satu demi satu. Di tengah tekanan keadaan yang seperti itu, fitnah pun bermunculan, seketika warga digemparkan oleh kabar tentang Rakso punya sihir. Guncangan hidup yang mereka rasakan membuat keduanya sadar, bahwa janin yang digugurkan akan menimbulkan tula dan bala. Hingga keduanya sepakat untuk mengambil kembali janin dalam periuk yang digantung di pohon tembuni itu. Mereka bermaksud untuk merawatnya baik-baik dengan cara dimakamkan dan didoakan sesuai ajaran Islam.

“Untuk mengambil periuk di dahan pohon tembuni itu tidak mungkin diminta baik-baik kepada tugas, karena setiap periuk yang sudah digantung tidak diperkenankan untuk diambil kembali, Mas,” ucap Lin kepada Rakso yang tampak tengah berpikir serius dengan sedikit mendongak ke datar langit.

“Satu-satunya cara hanyalah dengan mencurinya di malam hari,” respon Rakso sambil menoleh kepada Lin. Dan keduanya saling pandang dalam kesunyian. Sebelum akhirnya Lin mengangguk, tepat ketika gelap melayari wajah dusun.

***

Pukul 01.22 dini hari,. Malam digiris sunyi, langit sangat gelap, sesabit bulan telah lenyap ke dalam kepungan awan. Rakso mulai memanjat pohon tembuni di sisi barat. Di bagian itu lumayan gelap sehingga aman dari pantauan petugas, selain itu ia akan mudah menempuh jalur ke dahan yang menghadap ke arah barat, tempat periuk bertanda cat biru itu digantug.

Survei saat siang sebelumnya membuat Rakso hafal keadaan pohon itu, kini ia sangat mudah melewati lekukan kayu dengan gerak kaki yang begitu lincah. Sedang tangannya cekat memegang tunastunas yang kekar, sambil lalu ia menghindar jalur yang dilewati semut, sesekali wajahnya muram, teringat benda-benda halus yang diusung semut siang sebelumnya. Rakso menduga, itu jasad janinnya. Setelah tangannya berhasil menggapai periuk bercat biru, Rakso langsung menariknya agar tali gantungannya putus. Tapi sial, “Brakkk!!”

Rakso terjatuh, tubuhnya terbaring di tanah dan periuk yang ia pegang hancur berkeping-keping hingga isinya berhamburan ke mana-mana. Rakso panik sambil meringis kesakitan.

“Jangan menolak anugerah Allah yang berupa bayi, sebab bayi itu akan membawa rezekinya sendiri, ia juga membawa kemudahan segala urusan yang bisa dinikmati juga oleh orang tuanya,” seketika seseorang berjubah putih berkata di dekat Rakso. Mata Rakso terbelalak memandangnya, ia bingung, apakah makhluk itu malaikat atau hantu.

 

Gaptim, 12.17

 

Catatan:

[1] Tempat makam keramat yang terletak di Desa Batuan Sumenep, di dekat makam itu tumbuh pohon besar yang dahan-dahannya digunakan untuk menggantung periuk-periuk berisi tembuni

 

A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal antara lain: Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Esquire, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Majalah FEMINA, Tabloid Nova, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Bali Post, Solopos,basabasi.co, Sinar Harapan, Padang Ekspres, Riau Pos, Banjarmasin Post, Haluan Padang, Minggu Pagi, Suara NTB, Koran Merapi, Radar Surabaya, Majalah Ummi, Majalah Sagang, Majalah Bong-ang, Radar Banyuwangi, Radar Madura Jawa Pos Group, Buletin Jejak, basa.basi.co, Harian Waktu dan beberapa media on line lainnya. Juara II Lomba Cipta Puisi tingkat nasional FAM 2015. Juara II Lomba Cipta Cerpen Remaja tingkat nasional FAM 2016. Juara I Lomba Cpta Puisi Hari Bumi FAM 2017.

Advertisements