Cerpen Latif Fianto (Radar Surabaya, 21 Januari 2018)

Perempuan yang Duduk di Dekat Jendela ilustrasi Radar Surabaya
Perempuan yang Duduk di Dekat Jendela ilustrasi Radar Surabaya

Ini kali kedua aku melihat dia ikut kuliahku, di ruang sangat besar, di gedung D lantai empat. Dia tidak datang tergopoh-gopoh atau datang sembunyi-sembunyi, karena semester ini dia memang terdaftar sebagai mahasiswaku. Dia barangkali masuk kelas dengan langkah biasa, duduk di kursi di dekat jendela dengan sepasang matanya yang selalu dilemparkan ke pemandangan di luar.

Ketika aku masuk dan duduk di depan kelas, dia membetulkan posisi duduknya. Lalu sepenuhnya mencurahkan tatapannya padaku. Begitulah terus setiap kali ikut kuliahku.

Aku pikir, semua mahasiswa di kelas menatapku demikian karena hanya aku satu-satunya orang yang duduk di depan kelas. Mereka yang mengobrol dengan teman di sebelahnya, segera berhenti. Tetapi tidak semuanya. Kadang, masih ada beberapa yang mengobrol sembunyi-sembunyi sambil menundukkan kepala di balik punggung temannya. Aku tahu, mereka hanya pura-pura diam demi menghargaiku. Atau barangkali, mereka takut nilai mata kuliahnya menjadi mimpi buruk yang mengharuskannya mengambil lagi mata kuliah yang sama di semester depan.

Menurutku, dia sangat pendiam. Berbeda dengan salah satu temannya yang selalu berceloteh ketika aku memintanya memberikan pendapat, dan aku terpaksa harus memotong ucapannya agar temannya itu berhenti berbicara. Barangkali ada banyak orang di luar sana yang akan menganggapku sebagai dosen yang sewenang-wenang. Tak apa. Aku melakukannya agar semua mahasiswaku di kelas dapat menyampaikan pendapatnya secara merata, tanpa ketakutan, tanpa merasa kecil di hadapan yang lain. Dan tentu saja, tanpa didominasi mahasiswa tertentu.

Aku sendiri bukan dosen tetap. Dosen yang lebih senior di fakultas humaniora menyebutku sebagai dosen luar atau dosen terbang. Kadang aku berpikir, barangkali kehidupanku tidak jauh berbeda dengan seekor burung, sehingga dalam mengajar pun predikat dosen terbang perlu disematkan padaku. Ya, dosen terbang. Dosen yang tidak memiliki meja tetap di ruang fakultas, dan hanya pergi ke kampus bila ada jadwal mengajar, atau bila ada panggilan darurat dari dekan. “Tak apa. Sebuah tempat memang harus diperjuangkan,” kata dekan padaku suatu ketika.

Setiap kali mengajar, aku selalu mendapati perempuan itu duduk di dekat jendela. Dia memang menyimak penjelasanku. Tetapi ketika perhatianku tercurah pada salah seorang mahasiswa yang menyampaikan pendapat di sela-sela penjelasan, dia memilih membuang muka ke luar jendela. Kadang, aku pura-pura menyisir seisi kelas, mencari mahasiswa yang sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal yang sebenarnya, aku ingin memperhatikan perempuan itu. Saat dia melempar pandangannya ke luar jendela, aku bisa memperhatikan hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tebal dengan pahatan sempurna.

Kalau kebetulan aku menatapnya dan dia juga kebetulan memperhatikanku, tampak dari kejauhan sepasang matanya yang cerlang. Bola matanya hitam pekat, dikelilingi warna putih yang bersih. Tetapi, kecerlangan matanya seakan menyimpan banyak rahasia. Dan keindahan wajahnya seolah menyembunyikan ribuan kesedihan.

Jujur, meski seorang dosen, aku juga seorang manusia. Hatiku tidak terbuat dari batu. Jadi, aku bisa merasakan detak jantungku ketika diam-diam memperhatikan wajah perempuan itu. Hanya saja aku tidak bisa dengan sengaja memanggilnya demi urusan lain selain urusan kuliah. Lagi pula, aku bukan tipe lelaki yang berani terus terang. Aku bisa menjelaskan banyak hal di depan banyak orang dengan baik, tapi tidak dengan perkara-perkara yang menyangkut perempuan.

Untuk urusan begini, kadang aku merasa tidak tahu diri. Tidak pantas seorang dosen memperhatikan diam-diam mahasiswanya. Apalagi jika sampai mengajaknya kencan di Sabtu malam. Hal-hal semacam ini banyak sekali terjadi, dan menurutku itu tindakan yang tidak etis. Dan pada kesempatan-kesempatan tertentu, aku bahkan merasa lebih tidak tahu diri lagi. Untuk membuktikan bahwa aku dosen yang pantas dihormati, misalnya, aku dengan sangat egois menjelaskan sesuatu panjang lebar di depan kelas, sementara sebagian besar mahasiswaku hanya melongo di kursinya. Tak peduli mereka mengerti atau tidak, aku tetap saja menjelaskan, seakan-akan akulah satu-satunya sumber pengetahuan.

Aku merasa, barangkali semua orang memiliki sifat dan sikap yang sama sepertiku, berbusa-busa di depan banyak orang hanya supaya dianggap memiliki pengetahuan luas. Manusia memang sangat egois. Demi mengejar kepentingannya sendiri, mereka dengan tanpa beban mengesampingkan kepentingan orang lain. Yang penting urusan gaji lancar. Citra diri meningkat. Massa semakin banyak. Hidup membuat kelompok-kelompok. Berkubu-kubu. Lalu saling hujat dan menjatuhkan.

Manusia-manusia egois sudah menghuni seluruh sudut bumi. Dan aku, aku yang hanya memiliki ilmu tak sampai seujung kuku ini, merasa telah menjadi bagian dari mereka. “Tak apa. Seorang dosen memang harus terlihat pintar di depan mahasiswanya,” kata salah satu rekan dosen saat kami sedang mengobrol di ruang fakultas.

Aku hanya tersenyum.

“Bagaimana, sudah ada mahasiswimu yang kecantol?” tanyanya kemudian sambil menggerakkan alis.

Sekali lagi aku hanya tersenyum sambil mengambil ponsel dari dalam saku. Aku tidak terlalu kaget mendengar pertanyaannya. Kendati seorang dosen dan usiaku sudah mendekati kepala tiga, aku masih setia sendiri. Rekan-rekanku yang lain di warung kopi sering menganggap bahwa aku tidak berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu. Dari bayang-bayang seorang perempuan yang hampir aku nikahi, tapi gagal karena masalah ketidakpercayaan pada masa depan. Orang tuanya tidak yakin aku memiliki masa depan yang cerah. Maka perempuan itu, masa laluku itu, dikawinkan dengan lelaki lain yang sudah memiliki gaji dari pekerjaannya sebagai karyawan pabrik.

“Coba kau lihat ini!” kataku sambil menyodorkan ponsel. Di layarnya terpampang wajah seorang perempuan.

“Siapa?” tanyanya seraya memperhatikan lekat-lekat gambar wajah perempuan itu.

Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum dan membatin, “Dia seorang perempuan yang selalu duduk di dekat jendela di kelasku.”

Aku tidak tahu apakah di kelas lain, dia juga melakukan hal yang sama. Duduk di dekat jendela sambil memperhatikan pemandangan yang jauh di luar. Tetapi di kelasku, dia selalu melakukannya. Aku penasaran, rahasia apa sebenarnya yang ada di balik matanya yang cerlang itu. Kedua mata itu seperti mengandung kisah-kisah. Seolah sepasang mata yang ingin bercerita.

“Kau tahu cara membuka tabir rahasia yang tersembunyi di balik mata?” tanyaku dengan suara sangat pelan.

“Rahasia?”

Aku mengangguk. “Ya, rahasia yang tersembunyi di balik pancaran mata.”

“Itu sulit. Tapi, coba kau tatap matanya dalam-dalam. Mungkin bisa membantu.”

“Apakah akan berhasil?”

“Aku tidak tahu. Tetapi, tak ada satu rahasia pun di dunia ini yang tidak dapat terkuak.”

Seperti biasa, kuliah hari Sabtu hampir selalu membosankan. Semestinya hari ini tak ada kuliah. Tetapi kelas tambahan selalu membuatku tak bisa melakukan lebih banyak hal di akhir pekan. Aku sendiri sejak gagal menikah belum pernah menghabiskan malam minggu atau merayakan hari libur. Aku tak merasa perlu merayakannya. Demi apa? Toh, bagi seorang lelaki sepertiku menghabiskan malam minggu berarti merayakan sebuah kehilangan. Toh, merayakan hari libur bukan jaminan bahwa seseorang tidak sedang sebatang kara.

Seusai kuliah kelas kedua aku meninggalkan kelas. Aku turun lewat tangga yang menghubungkan gedung D dengan gedung C. Dari sana aku melihat perempuan itu berdiri di dekat tangga menghadap arah utara. Dia mengenakan kerudung warna hitam kombinasi putih motif bunga-bunga. Hidungnya mancung menikung. Bibirnya yang tebal berwarna merah delima. Aku mencoba mendekatinya sambil menyunggingkan senyum ketika tiba-tiba dia menyadari kedatanganku. Dia membalas senyumku. Senyum yang hangat.

“Kau tidak pulang?” sapaku lebih dulu.

“Belum, Pak,” balasnya. Lagi-lagi senyumnya tersungging dari bibirnya yang merekah.

Aku melirik kerudungnya, yang entah kenapa begitu serasi dengan warna wajahnya. Kami berhadap-hadapan. Aku yakin dia melakukannya sebatas karena ingin menghormatiku. Kutelisik wajahnya sesamar mungkin. Sepertinya tak ada yang berubah. Wajah itu masih tetap sama. Begitu melankolis, serupa wajah yang mengabarkan kesedihan sebuah kota. Ya, sebuah kota yang dibangun lalu diruntuhkan. Dibangun lagi, lalu dihancurkan lagi. Hidungnya semacam puncak Bukit Kuil yang diperebutkan. Pipinya adalah sungai darah dan air mata yang mengalir tanpa lelah.

Dan matanya, ya, matanya itu, jelas sekali mengandung kisah-kisah. Mungkin kisah kelam. Atau juga semacam ketakutan-ketakutan. Tidak begitu jelas memang apa yang ada di balik pancaran matanya. Aku hanya menangkapnya sebagai kesedihan yang tak berujung. Dia yang selalu termenung. Dia yang selalu merasa sendiri. Dia yang selalu menunggu, tanpa tahu siapa yang harus ditunggu. Dia yang kadang merasa kehilangan tanpa tahu apa yang telah benar-benar terenggut dari dirinya.

“Pak, Bapak,” dia melambai-lambaikan tangannya padaku. “Kenapa Bapak melihat saya seperti itu?”

Aku terkesiap dan segera menggelengkan kepala dengan cepat dan tegas. Kusunggingkan senyum getir bercampur malu. Entah bagaimana raut mukaku sekarang. Barangkali semerah kepiting rebus. Tetapi, segera aku kuasai keadaan. Dengan wajah ragu-ragu aku perhatikan kembali wajahnya, berusaha menelisik matanya yang tajam.

“Apakah kau punya kisah kelam?”

Perempuan dengan wajah indah itu kaget mendengar pertanyaanku. Kemudian dia menggeleng setelah menyadari aku masih menunggu jawabannya. Aku tersenyum. Dia membalas senyumku. Mungkin dia ingin berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Tetapi, kebeningan matanya itu, keindahan lekuk wajahnya itu, tak dapat menyembunyikan perkara-perkara pilu yang melilit hidupnya. Saat itulah aku menyadari sesuatu. Setiap orang memiliki kisah kelamnya masing-masing. Dan dia, agaknya, tidak mau aku mengetahuinya. (*)

 

Malang, 2017

*Penulis adalah pengajar di Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang.

Advertisements