Cerpen Setia Naka Andrian (Tribun Jabar, 21 Januari 2018)

Riwayat Sakit Hati ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Riwayat Sakit Hati ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

AKU ingin suatu saat menemukan orang yang menjual hati. Merelakan salah satu organ terpenting dalam tubuhnya untuk dijual kepadaku yang kali ini sangat membutuhkan. Tentunya hati yang belum terluka seperti hatiku ini. Berapapun harganya pasti akan kubeli. Karena setidaknya aku masih memiliki sisa warisan rumah beserta tanahnva, itu satu-satunya. Apa pun taruhan untuk mcndapatkan hati yang baru, pasti akan kukorbankan. Aku pun mau bila orang itu menghendaki tukar tambah dengan hatiku, walaupun nantinya orang itu akan menanggung beban hatiku.

Sungguh, aku harus segera menemukan hati, ke mana pun akan kucari. Karena kali ini aku merasa tak punya pilihan lain. Sakit hatiku telah terlampau akut. Tak ada yang mampu menyembuhkan. Beberapa kali berkunjung ke bermacam-macam ahli psikologi, hasilnya tetap saja nihil. Beberapa kali hinggap di tempat-tempat hiburan dengan berbagai macam minuman keras termahal yang kutenggak hingga ke sebuah lokalisasi dengan sejuta perempuan label atasan, namun semuanya tak mampu mengobati. Karena hati, aku telah kehilangan hatiku. Termasuk kedua orang tuaku dan seorang adikku, mereka mati terbunuh perempuan yang sempat mengaduk-aduk hatiku.

Perempuan itu telah menggondol seluruh isi rekening dan surat-surat tanah milik keluargaku yang sebelumnya telah dipercayakan semua kepadaku. Harta yang seharusnya digunakan untuk pengobatan bapakku yang sedang mengidap kanker mata yang sangat ganas. Akhirnya bapakku meninggal.

Selanjutnya ibuku sakit-sakitan akibat tertekan hatinya, lagi-lagi karena hati. Ibuku mati karena tertekan akibat kematian bapakku dan karena belum bisa menerima setelah kehilangan seluruh harta benda yang telah lama dikumpulkan, yang sebelumnya diniatkan pula untuk naik haji bapak dan ibuku. Karena ibuku terlampau memikirkan itu dengan hati, akhirnya ibuku menyusul bapakku.

Setelah itu giliran adik perempuanku yang sejak lahir mengidap keterbelakangan mental, dan karena sudah tidak ada lagi yang mengurus. Maka ia dibawa oleh tetangga ke sebuah panti asuhan. Namun sungguh malang nasib adikku, setelah beberapa bulan dititipkan, panti asuhan itu terlibat kasus penjualan anak.

Akhirnya adikku pun resmi hilang, hingga sekarang belum ada kabar yang jelas. Ada yang bilang dijual di luar negeri, dijadikan apa aku kurang tahu. Yang pasti kepolisian pun tak becus mengusut kasus tak berduit itu. Karena keseluruhan korbannya adalah anak dari orang-orang terpinggirkan dan bahkan anak-anak yang sudah tidak memiliki keluarga atau sanak saudara. Aku pun akhirnya mencoba ikhlas kehilangan bagian hidupku yang terakhir dan satu-satunya itu.

***

SUATU hari aku mencoba keluar rumah, berjalan mengikuti langkah yang entah menuju ke mana. Yang pasti, tujuan utamaku adalah menemukan hati. Setiap menemui orang, aku menanyakan di mana ada toko, warung, atau apa saja yang menjual hati. Namun mereka malah menganggap aku gila dan mengumpat yang macam-macam kepadaku. Aku tidak memedulikannya, aku terus berjalan dan makin menjauh dari rumah, terus berlari meninggalkan makin jauh.

Setelah berjalan cukup jauh, aku melihat kerumunan orang. Aku pun langsung mendekati. Siapa tahu di situ sedang ada perhelatan tawar-menawar hati. Benar, ramai sekali. Aku makin yakin kalau di situ sedang ada tawar-menawar hati. Benar sekali, aku mendengar mereka meneriakkan hati, “Hatimu rusak! Kau sungguh rusak! Kau taruh di mana hatimu, Kakek?”

Ternyala benar, kakek tua itu terluka. Darahnya mengucur di sekujur tubuh dan membasahi bajunya di sekitar dada. Ia pasti sedang ada masalah mengenai hatinya. Mungkin ia senasib denganku atau mungkin ia sedang mempertahankan hatinya yang hendak dirampas orang-orang itu. Ya, aku harus segera berbuat sesuatu untuk menyelamatkan kakek tua itu.

“Maaf, Tuan-tuan! Mau kalian apakan kakek tua tak berdaya ini? Apa salahnya hingga ia diperlakukan seperti ini?”

“Hai, bocah ingusan, tahu apa kau ini? Jangan ikut campur urusan kami!”

“Ya, kau tidak tahu apa-apa! Mending kau pergi jauh dari sini! Sebelum kami akan mencelakakanmu juga!”

“Ya, cepat lekas pergi!”

Sial, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku harus cari cara untuk dapat menolong kakek tua ini. Tanpa banyak pikir, aku langsung membawa lari kakek tua itu. Kuseret dari mereka dan langsung kubopong di bahuku. Untungnya berat badannya ringan, tubuhku juga masih kekar. Jadi aku dapat leluasa membawanya lari. Walaupun dengan sedikit tergopoh, aku lari dan mereka tetap mengejarku. Sampai di tikungan aku langsung menyelinap di semak. Aku mengendap-endap sambil menyibak jalan agar menghindar dari kejaran mereka.

Syukurlah, aku telah lari jauh dari kejaran mereka. Walaupun tergopoh dan sungguh terengah-engah. Kududukkan kakek tua ini di suatu tempat yang cukup aman dari kejaran mereka. Ia nampak gemetaran dan nyaris tak mampu berbuat apa-apa. Darah masih juga mengucur dan membasahi sekitar dadanya.

Hingga itu membuat aku tak tega untuk menanyakan sesuatu kepadanya. Sepertinya aku harus mencari sesuatu agar dapat menenangkannya. Mingkin ia lapar. Benar, sepertinya begilu. Wajahnya terlihat begitu pucat. Bibirnya memutih dalam giginya yang menggigil. Hingga ia tak mampu mengucap sepatah kata pun untuk merespon kehadiranku yang mungkin cukup asing baginya. Ya, aku harus segera mencarikannya makan. Apa saja, yang penting dapat mengganjal perutnya.

***

TERNYATA benar, ia begitu kelaparan. Tanpa keluar kata atau sekadar sapa, ia langsung melahap beberapa pisang yang kubawakan dari memetik di pohon sekitar. Setelah itu ia terdiam dan memandangiku dengan penuh tanya yang aneh. Sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu, bibirnya tampak bergeming. Benar sekali, ia ingin berkata sesuatu. Ya, tubuhnya makin mendekatiku dan tangannya berusaha meraih tubuhku.

“Anak muda,” datar suaranya menyapaku.

“Ya, Kek.”

“Kenapa kau menolongku?”

“Karena Kakek sedang membutuhkan perlolongan, maka aku berhak untuk menolongmu, Kek.”

“Sederhana itukah?”

“Sebenarnya tidak juga, Kek.”

“Lalu?”

“Awalnya aku tertarik ingin mendekati kerumunan waktu itu karena aku mengira saat itu sedang ada perdebatan tawar-menawar hati, maka seketika aku langsung berniat untuk mendekat.”

“Adakah sesuatu tentang hati yang kau maksud?”

“Aku sedang ingin mencari hati untuk menggantikan hatiku, Kek.”

“Maksudmu, hati yang termasuk salah satu organ tubuh manusia atau hati tentang perasaan manusia?”

“Keduanya, Kek.”

“Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha.”

“Kenapa Kakek tertawa?”

“Kau gila!”

“Aku gila, Kek?”

“Ya, kau gila yang akut.”

“Maat Kek, bukannya kata mereka hati kakek juga gila?”

“Ya, benar katamu. Hatiku memang gila. Tapi kenapa kau mau menolongku? Yang ternyata kau sudah tahu kalau hatiku gila. Apakah kau ingin mencari hati yang gila? Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha.”

“Sebenarnya tidak, Kek. Aku ingin mencari hati yang masih bersih. Hati yang mampu memberiku ketenangan, hati yang mampu meneduhkan hidupku. Intinya, ya, hati yang tidak seperti hati yang kumiliki sekarang ini, Kek. Sakit hatiku terlampau akut. Tak ada yang mampu menyembuhkan. Beberapa kali berkunjung kepada bermacam-macam ahli psikologi, hasilnya tetap saja nihil….” Lalu aku bercerita tentang penyakit hatiku.

“Ya, aku cukup paham dengan masalahmu. Maukah kau menukar hatimu dengan hatiku?”

“Kakek yakin mau memberikan hati itu untukku?”

“Bila kau mau, ambillah. Silakan, aku juga sudah terlalu tua dan aku rasa kau yang lebih membutuhkan hatiku yang sudah terlampau renta ini. Hidupku pun pasti tidak akan lama lagi.”

“Tapi Kakek tidak memiliki penyakit hati, kan? Selain hati yang gila itu, Kek?”

“Ya, tak ada. Aku hanya memiliki penyakit itu saja, hati yang gila, itu pun hanya kata orang saja.”

“Ya, kalau begitu aku mau, Kek.”

***

AKU sangat bahagia. Langsung saja Kakek dan aku sepakat untuk bertukar hati. Terasa tak pcrcaya dan tak sadar, aku merobek dadaku dan dada Kakek itu dengan sebilah batu tajam. Lalu kami saling bertukar hati. Kakek itu merasa sangat kesakitan setelah kucongkel hatinya, begitu pula aku. Setelah hati kami bertukar, tubuh dan perasaanku terasa ringan dan melayang-layang. Sepertinya ada sesuatu yang aneh, begitu pula yang terjadi di sekitarku.

Pohon-pohon dan segala tumbuhan berubah menjadi wama-warni yang menyala indah dengan beraneka wewangiannya. Kakek itu pun tiba-tiba lenyap entah ke mana, dan tiba-tiba banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru. Mereka mendekatiku, tangan mereka mencoba meraihku dan sepertinya hendak mengambil hatiku. Mereka meremas-remas dadaku. Semakin keras dan menggila, terus meremas dan mengeroyok berebut tubuhku, mereka berteriak, “Beri aku hati! Hatiku kesakitan! Aku ingin memiliki hati yang sehat! Beri aku hatimu! Aku ingin memiliki hati yang suci! Hati itu ada di tubuhmu!”

 

Sanggargema, Desember 2016-2017

Setia Naka Andrian lahir di Kendal, Jateng, 4 Februari 1989. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Cerpennya tergabung dalam antologi Bila Bulan Jatuh Cinta (2009), Bukan Perempuan (2010), Antologi Cerpen Festival Bulan Pumama Majapahit Trowutan (2010), Tanda (2010), Tatapan Mata Boneka (2011), dan Perempuan Bersayap di Kota Seba (2011). Meraih Penghargaan Acarya Sastra 2017 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Advertisements