Cerpen Siti Maulid Dina (Analisa, 21 Januari 2018)

Bahri ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Bahri ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Seperti danau tanpa angin

Aku terpaku, mati rasa

Merangkai kata demi kata

Sepenggal kalimat rindu

Untuk kuhadiahkan kepadamu

Kau syairkan pada semesta

 

LAGI. Uli masih menggoreskan tinta di kertas. Bercerita pada alam tentang kerinduan pada kekasih hati, Samsul Bahri. Menghadirkan kekasihnya lewat penantian sunrise. Hembusan angin bagaikan nafas Bahri yang meniup pelan di pipi mulus Uli. Tiada hari tanpa menanti.

Uli acuh sama sekali dengan keadaan. Kesehariannya hanya duduk di tepi danau. Berharap Bahri kembali setelah setahun meninggalkan Uli, merantau ke Bandung, mengejar cita-cita dan mengumpuli uang untuk sinamot Uli.

“Mengapa harus Bandung?” tanya Uli.

“Uli, aku ingin kuliah musik di sana. Janji, dalam setahun aku akan kembali untuk melamarmu” gumam Bahri.

Uli hanya menunduk bercermin pada danau. Hatinya seperti ditusuk saat mendengar ucapan Bahri. Tanpa terasa keluar butiran hangat dari sudut matanya. Bahri mengangkat dagu Uli. Mata mereka saling beradu.

“Uli. Lihatlah! Sunrise selalu hadir walaupun kabut hitam memeluk gunung. Anggaplah aku seperti sunrise itu” kata Bahri sambil menunjuk raja cahaya tepat di depan mereka.

Setahun tanpa Bahri, namun aroma tubuhnya masih tercium jelas pada Uli, itu sebabnya dia tetap menanti Bahri. Uli percaya, Bahri akan menepati janjinya. Dia paham betul dengan sifat Bahri. Uli bahkan lebih percaya pada Bahri, daripada mamaknya sendiri. Bagaimana tidak? Jika Bahri tidak kembali, maka mamak siap menikahkannya pada paribannya. Inilah alasan Uli selalu menanti kekasihnya di tepi danau.

***

Masih pagi yang sama. Uli lompat dari tempat tidur, berlari ke tepi danau tanpa mencuci muka. Uli sengaja meminta kamar kepada mamaknya tepat di depan danau. Tidak boleh pelanggan memakai kamar itu.

Ya, orangtua Uli memiliki usaha penginapan di kota pariwisata. Terlalu berat buat Bahri meminta Uli pada orangtuanya. Selain adat yang berbeda, orangtua Bahri hanya petani biasa. Dia terlahir dari keluarga yang bertahan hidup. Kerap sekali Uli meminta pada Bahri untuk Mangalua, namun kekasihnya menolak, marah. Bahri tidak mau ada murka dalam pernikahannya. Bahri menginginkan dua perbedaan menyatu menjadi keindahan. Itu sebabnya dia memperjuangkan Uli.

Uli menanti sunrise. Berdiri lamat-lamat melihat sindar, menebak raja cahaya terbit tepat di depannya. Dia melihat gunung di seberang ditutupi kabut hitam, sindar menebar di depannya. Hatinya bergembira, itu pertanda Sunrise hadir di depannya. Dalam hitungan menit, wajah Uli terlihat masam, kecewa. Sindar itu berpindah tempat, persis di sebelah barat, berpindah lagi sebelah timur.

“Bahri. Sebenarnya kau hadir dari arah mana?” lirih Uli.

Uli terduduk sambil menulis sajak buat Bahri. Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang Uli. Mamaknya merepet sambil berjalan menuju Uli.

“Oh, Boru. Tidak ada lagi kerjaanmu selain menulis di tepi danau. Mau jadi gadis pemalas kau, hah,” teriak Mamak

“Mak. Aku menanti Bahri datang. Aku menulis buat Bahri,” ujar Uli.

Muka Mamak memerah, darahnya mendidih. Wanita separuh baya itu mendekati Uli. Dia menarik tangan Uli dan menyeretnya ke hotel agar membantu Mamaknya di dapur. Uli menangkis tarikan Mamak. Matanya melotot. Uli bosan diperlakukan seperti robot oleh Mamaknya. Dia juga berhak memilih jalan hidupnya, Bahri.

“Kau mau melawan Mamak, hah!” Bentak mamak

Dari arah barat bapak berlari mendekati Uli dan mamaknya. Bapak, melerai mereka. Percuma, mamak terus merepet tiada henti. Mulutnya seperti ikan mas yang sedang mencari makan. Berkomat-kamit sampai lelah. Akhirnya mamak berhenti mengomel. Habis kata-kata terkuras dalam hatinya. Dia merasa puas setelah memarahi Uli.

“Kau urus anakmu ini, Pak,” kata mamak.

“Mengapa setiap pagi ribut? Malu pada tetangga.” Kata bapak.

“Sudah gila anakmu ini. Si Bahri Jawa itu, yang buat anakmu gila? Setiap pagi duduk di tepi danau, menulis puisi untuk Bahri. Katanya, sunrise itu si Bahri.” Celetuk mamak.

“Biar Uli memilih jalan hidupnya. Dia sudah besar, Mak.” Kata bapak.

“Apa kau bilang? Mau jadi apa anakku, kalau nanti menikah dengan orang Jawa? Apa mereka tahu adat kita, hah?” Tanya mamak sambil membentak bapak.

“Bersabarlah kau. Kita akan mengajari Bahri tentang adat kita.”

“Persetan dengan kalian. Bapak dan anak sama saja. Aku tunggu bulan depan, kalau Bahri tidak datang, aku akan menikahkan anakmu dengan paribannya. Biar tahu kau!” gumam mamak lagi.

Bapak menggelengkan kepala. Dia mendekati Uli. Menyuruh Uli agar membesarkan hatinya melihat sikap mamaknya, terlalu mencintai materi. Mamak berlalu meninggalkan mereka, pergi ke ruang reception. Bapak tahu persis perasaan anaknya dan juga Bahri. Lelaki separuh baya itu tidak mau anaknya menikah dengan keterpaksaan.

Kini, bapak menemani Uli duduk di tepi danau. Uli masih saja termenung sambil menggenggam buku dan pena. Mereka masih menatap cakrawala. Bapak memulai cerita masa lalunya mengenai asmara. Bapak juga pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Bahri. Mencintai gadis yang berbeda adat.

Bapak berdiri meninggalkan gadisnya, membiarkan Uli terus menulis. Kabut dan gunung masih betah bersenggama. Mendung melukis cakrawala. Rinai turun membasahi kulit Uli. Segera dia menutup bukunya. Menjulurkan tangannya, bermain dengan rinai. Tiada gelombang yang menemaninya. Hanya rinai.

Adakah hal yang lebih membosankan dari menanti? Bagi Uli, tiada bosan menanti. Dia merasa, dirinya tidak menanti. Dengan adanya sunrise, Uli tidak merasa kesepian. Saat Uli memejamkan mata, terdengar suara klakson kapal penyebrangan. Uli masih menutup matanya.

Kapal berlabuh. Ada sosok lelaki yang turun dari sana. Seperti ada bisikan dalam hati Uli, agar membuka matanya, pun Uli membuka mata dan menoleh ke belakang.

Dia terkejut bukan main. Bibirnya tertarik tipis, matanya berkaca-kaca. Sosok yang selama ini ditunggu-tunggu telah kembali. Lelaki berbadan kekar itu berjalan menghampiri Uli. Mata teduh Bahri menyapa Uli.

“Uli. Aku menepati janji.”

Uli masih terpaku. Dia menatap Bahri lamat-lamat. Apakah ini sebuah mimpi bagi Uli? Benarkah yang ada di hadapannya kekasih hati yang selama ini dirindukannya?

“Betulnya kau ini Bahri-ku?”

“Iya.”

“Bahri, betulnya kau itu? Bahri yang mengajariku menulis sajak setiap pagi, Bahri yang selalu hadir setiap pagi memberi kejadian indah dalam hari-hariku? Bahri yang menyanyikan lagu indah buatku?”

Bahri mengkerutkan alis, dia terheran dengan kalimat Uli. Sejak kapan wanitanya menjadi seorang yang puitis. Bahri meraih tangan Uli, sambil mengecup kening.

Tangan kiri Bahri sibuk merogoh kantongnya, mencari sebuah cincin buat Uli. Lelaki yang memiliki tinggi seratus enam puluh sentimeter itu berjongkok di hadapan Uli sambil menunjukkan cincin.

“Uli. Aku datang menepati janji. Aku ingin mengikatmu pada lingkaran emas di jari manismu. Apakah kau mau menerima?”

Uli tak bisa berkata. Diam. Tangan kirinya menutup mulut dan hidungnya. Uli menangis haru. Penantiannya terbayar.

Benar, Bahri menepati janji. Tidak sia-sia Uli memperjuangkan Bahri dalam keluarganya. Walaupun dia tahu adat menjadi jembatan pemisah cintanya. Uli tidak gentar, terus melangkah demi Bahri. Akhirnya Uli mengangguk, percaya. Bahri sudah di hadapannya.

“Bahri, bagaimana sekolah musikmu?”

“Sekarang aku seorang musisi, banyak artis membeli karyaku.”

Uli memperlihatkan bukunya pada lelaki bergigi saing itu. Bahri membuka halaman demi halaman. Saat dia membuka halaman terakhir, dia memeluk wanita berlesung pipi dan mengecp lembut kepalanya. Bahri meminta kepada Uli agar semua tulisannya dijadikan buku antologi puisi dan sebagian dijadikan lagu. Wanita berkulit kuning langsat itu mengangguk gembira.

Tiba-tiba mamak datang lagi. Menjerit memanggil Uli, agar membantunya di dapur. Betapa terkejutnya mamak saat melihat kehadiran Bahri dalam keadaan jongkok sambil memegang cincin. Kebecian mamak semakin marak.

“Oh, begini cara adat Jawa melamar. Tanpa ada pertemuan keluarga. Kau pikir, anakku murahan ya, Bahri. Kalau kau tidak sanggup melamar anakku, lebih baik kau pergi.” Celetuk mamak.

Bahri berdiri, berjalan mendekati mamak Uli. Dia menjelaskan kedatangannya untuk meminta Uli dan ingin hidup di Bandung. Kerasnya pemikiran Mamak memang tidak terkalahkan di rumah. Mamak hampir menolak lamaran Bahri.

“Bah, bah, bah. Kau mau melamar anakku, hah.” Kata mamak.

“Kau saja tidak tahu tata acara Batak melamar. Bagaimana kau mau melamar anakku.”

“Baiklah, Bu. Lusa, aku dan keluarga datang ke rumah untuk marhori-hori dinding.” Kata Bahri lembut

“Bah, darimana pula kau tahu Marhori-hori dinding?”

“Bu, saya memang bersuku Jawa, tapi anak Ibu banyak mengajari saya tentang Batak.”

“Sudahlah. Jangan banyak cakapmu. Aku tunggu kedatanganmu, lusa,” balas mamak.

Bahri mengangguk sembari tersenyum pada Uli. Tangannya menggenggam Uli, mamak melepaskan tangan mereka dan menarik tangan Uli. Membawa Uli masuk ke dalam rumah dan mempersilakan Bahri kembali pulang. Uli terus menolehkan kepalanya, dia tidak mau melepaskan pandangannya pada Bahri.

 

Siti Maulid Dina, mahasiswi Pendidikan Matematika UIN SU semester VII sekaligus penggiat KSI DS. Cerita ini terinspirasi dari Novel Idris Pasaribu berjudul Nikah (Lagi).

Advertisements