Cerpen Ainun Najib (Rakyat Sumbar, 21-22 Janauri 2018)

Gadis yang Menunggu di Tepi Hujan ilustrasi Rakyat Sumbar
Gadis yang Menunggu di Tepi Hujan ilustrasi Rakyat Sumbar

NAMAKU Naya. Nayla nama kecilmu. Ibumulah yang memanggilmu begitu. Di kampus nama Naya lebih familiar di telingamu. Setelah kau lulus, kau menikah dengan kekasihmu. Tentu saja kau sangat mencintainya. Dinda Naya.

Malangnya, bagaimana kau bersedih hari ini?

Barangkali kau tak akan bercerita denganku. Tentu. Bagaimana mungkin? Tentu kau tak mengenalku. Bertemu pun barangkali tidak. Terlebih bercakap. Kecuali aku, aku tahu tentangmu. Tuhan telah mempertemukan kita di sini. Dengan cara ini.

Aku terlalu banyak tahu tentangmu. Maaf. Dari kecil kau suka boneka india. Betul? Ayahmu selalu memanjakanmu. Mungkin aku tak tahu berapa banyak koleksi bonekamu saat ini. Ditambah satu boneka yang dibeli suamimu untuk hadiah ulang tahun pernikahanmu. Tahun lalu. Rupanya ulang tahun yang kedua. Maka kau terlihat bahagia sekali. Aku terkesan, kau cantik sekali.

Matamu berbinar. “Terima kasih, Sayang,” ucapmu mengecup keningnya.

Aku baru melihatmu kemaren sore meski sebenarnya sudah lama aku mengenalmu. Benar. Kau manis sekali.

Mengapa kau menangis?

Hari itu kita berdiri berdekatan. Bersebelahan hampir beradu bahu. Kita tidak saling bicara. Diam. Meski sebenarnya stasiun tak pernah diam. Bising. Ketika kau melirik ke arahku dan aku berusaha tersenyum berharap kau juga membalasnya. Setidaknya begitu. Namun tak semudah itu. Sikapmu dingin. Dan itu tak pernah terjadi. Kau hanya memperlihatkan matamu yang basah. Matamu yang merah. Matamu yang kaulempar ke arah kereta api yang datang. Barangkali kau sedang menunggu seseorang. Tidakkah kau mengulang melirikku sekali lagi? Tidakkah kau ingin mengenalku? Aku sungguh berharap. Itu saja. Kau mengenalku.

Kau menunggu suamimu? Ya, benar. Aku baru ingat itu.

Kemarin, beberapa bulan yang lewat, suamimu pamit padamu. Tengah malam. Tentu saat itu burungburung masih mendengkur meni mati mimpi yang belum usai. Pesan singkat yang diterimanya membuatnya terburu-buru. Kau tahu isinya?

“Urusan kantor. Mendadak,” katanya membenahi kancing bajunya.

“Apa tidak bisa menungu besok?” tanyamu setengah berseru.

“Penting, sayang. Satu minggu paling lama,” katanya, “baik-baik di rumah,” pesannya meninggalkan jejak ciuman di pipi dan keningmu.

Kau hanya mendesah. Menatap derap langkahnya yang semakin jauh mendekati pintu. Lalu kau menutupnya kembali dan meredupkan lampu. Kau melanjutkan tidurmu. Betapa kau tak peduli bintang-bintang harap-harap cemas di atas sana. Dan sebentar lagi fajar menyingsing. Bisakah kau ingat mimpi apakah malam itu?

Hingga jam lima sore, siang begitu cepat menghitam. Bongkahan awan hitam menggantung di atas langit. Harusnya aku masih bisa melihat rambutmu yang terurai sebahu. Ah, akhirnya gerimis menyayat udara di depan kita. Semua menjadi remang-remang. Tapi tenanglah, mataku masih bisa menangkap bayangmu. Hujan semakin deras. Kita berlari menembus hujan mencari tempat berteduh. Disana! Ya, di bawah pohon perdu kita sama-sama menepi.

Lalu kau mulai merogoh isi tasmu. Kau mengeluarkan jaket bulu berwarna cokelat tua lalu memakainya untuk berlindung dari dinginnya percikan hujan. Saat itu aku mulai menyadari kau sedang mengandung.

Aku tambah iba melihatmu.

Aku semakin sedih, kau sedang hamil sedang suami tak bersamamu.

Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke rumah. Rumahku tidak jauh dari stasiun. Kau dapat melihatnya dengan jelas andai saja hujan reda. Di sana rumahku. Bersebelahan dengan toko butik yang cukup terkenal di daerah ini. Nah, itu dia! Rumah berpagar besi dengan cat kuning keemasan. Hujan reda, kau bisa beristirahat di sana. Atau kau mau bermalam? Sungguh. Sungguh aku akan merasa senang. Akan kusuguhkan teh hangat untukmu. Kau pasti kedinginan.

“Tidak. Terima kasih,” katamu menolak. Kau melangkah. Kau memutuskan untuk pulang daripada menerima tawaranku (tak usah cemas, aku tidak marah kau menolaknya). Karena kau memang belum tahu.

Besoknya kita kembali bertemu. Rupanya lebih awal dari kemaren. Matahari baru saja mencorong lebih ke barat di atas kepala. Kau masih menunggu suamimu?

Aku senang sekali kau jauh lebih berbeda hari ini. Kau menatapku dengan tersenyum seolah kau mengenalku. Meski aku tahu sebenarnya matamu masih terlihat sedih. Aku harap kali ini kau akan terbuka, kita berkenalan begitu. Akan bercerita denganku betapapun sudah banyak kutahu tentangmu, Naya. Sekali lagi kutanya, adakah kau tak ingin mengenalku?

Aku menatap parasmu dari samping, tak sepatah kata pun yang mencoba keluar dari bibirmu. Hanya saja lipstik merah di bibirmu membuatmu tampak lebih segar. Aku tekesan, kau benar-benar mempesona, Naya. O, ya, tentang suamimu, sudahkah ia menghubungimu, atau kau menghubunginya? Mengabarkan kapan ia akan pulang. Ah, kurasa percuma menanyakan padamu. Kau tetap tak menanggapi satu pun yang kutanyakan.

Terhitung dari kepergian suamimu, sudah delapan bulan kiranya ia tak kunjung pulang. Aku tahu kecemasan yang kaurasakan sangat menyiksamu, terlebih kau mengandung janin di rahimmu.

Sore ini tak kelihatan akan turun hujan. Lihat saja langit begitu cerah sampai nanti akan memerah jingga di ujung langit. Dan begitu mudah bagimu menyelidiki satu demi satu orang yang turun dari kereta. Barangkali suami yang kautunggu akan tiba hari ini. Mungkin saja ia pulang dengan membawakanmu boneka india. Boneka kesukaanmu. Lalu tersenyumlah sekali lagi. Kau pasti kelihatan lebih cantik daripada senja yang sebentar lagi akan mengurap dinding langit.

Suara derit kereta terdengar. Tiga kali peluit dibunyikan pertanda kereta akan segera berhenti. Jelas saja pandanganmu segera tertelan olehnya. Kau tampak sibuk mengamati mereka yang tiba hari ini. Aku tak begitu yakin dan menerka-nerka apakah suamimu akan tiba hari ini. Aku berdiri tepat di sampingmu. Sejenak, aku menatap wajahmu dari samping, berusaha mengamati sisa-sisa rindu di matamu. Jangan sampai meleleh. Kita masih sama-sama diam. Hingga beberapa saat mendung kembali terurai di matamu membentuk sayatsayat di pipimu. Kau kembali menangis, Naya?

Betapa aku harus iba terhadapmu. Dan kau harus tahu tentangku, Naya.

Namaku Laela. Hari itu aku mendapati seonggok boneka di gudang belakang. Kau tahu? Itu boneka India. Sama persis dengan boneka yang kau punya. Boneka yang mengenalkanku padamu. Aku tidak bisa menahan penasaran yang tiba-tiba mengairi di kepala. Tak ada kanak-kanak di rumah ini. Seorang pun, aku tahu tak ada yang suka boneka di rumah ini. Suamiku? Kurasa tidak. Bi Nah? Kusangka bukan. Atau aku? Dengan jujur kuakui tidak.

Aku memutuskan menanyakannya pada siapa pun di rumah ini. Semua menjawab tidak tahu. Lantas? Kembali aku amati boneka asing tak bertuan. Kubolak-balik barangkali ada tanda pengenal di sana. Pada saat itulah mataku dengan jelas mendapati sebuah nama di bagian punggungnya. Dinda Naya. Dadaku berdebar keras. Tangisku pecah membaca surat yang terselip gaunnya. Selamat ulang tahun, sayang, aku telah membacanya sebelum kau. Lima tahun aku bersamanya, aku tak pernah tahu hubunganmu dengannya.

Sekarang, setelah sekian lama aku menyembunyikannya, haruskah aku membencimu? Ah, kurasa percuma menanyakan padamu. Kau tetap tak menanggapi satu pun yang kutanyakan. Kau lebih suka berdiam diri meratapi kesesalanmu. Kita tidak saling bicara. Tepatnya, kita hanya menunggu kereta yang akan membawanya pulang. Suami kita.

Hari sudah gelap, mari kita pulang. Ingin aku berbisik di telinganya, “Sampai jumpa besok, Dinda Naya.”

Suara derit kereta terdengar. Tiga kali peluit dibunyikan pertanda kereta akan segera berhenti. Akankah ia pulang sesore ini?

 

AINUN NAJIB. Lahir di Gili Raja, 26 Januari 1996. Saat ini aktif bergiat di LPM At-Tsaqafah STIQ Nurul Islam.

Advertisements