Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS (Padang Ekspres, 14 Januari 2018)

Water Fall ilustrasi Google.jpg
Water Fall ilustrasi Google

Tentang Bayang dan Hilang

 

maka tahulah aku kau hanyalah bayang

dan aku bakal hilang, di lengkung langit

di tikungan ujung jalan dekat taman

lalu, entah kapan, bayang dan hilang

kembali menyatu: serasa mewujud

seperti aniani dengan bulir padi

sebelum akhirnya tercerai — orangorang

mencatat sebagai perpisahan

sementara: ingatlah saat adam dan hawa

turun di tanah beda, masih ingatkah? — luka

sesaat tumbuh di kedua tubuh itu, meski

tiada darah

padi menjadi beras, aniani pulang

sebagai benda yang terus melukai. di depan

mata menari, mau pula pada leher kita

 

lalu, bila saatnya, hilang dan bayang bertemu

sebagai sepasang kekasih yang merindu

sambil melupakan bahwa keduanya pernah

berpisah karena musim. sebab harus terjadi

agar orangorang tahu merawat waktu

 

bukan kematian — walau sampai juga di

tikungan dalam sebuah halaman berupa

taman beraroma sunyi. pohon wangi

menaungi. bayang dan hilang berjodoh lagi

kaukah itu saat aku rindu?

 

27 Desember 2017

 

Di Kedai Nasi Goreng

: adelia

 

kita kunjungi juga tempat ini

seperti malammalam silam. kaupesan

nasi goreng dan aku memandangimu

dari balik gelas ini. kau serupa ikan,

wajahmu tetap menawan;

tanpa senyuman

“wajahmu matahari siang,” bisikku

 

2017

 

Ajari Aku Laut, Cara Merindukan Pantai

 

ajari aku laut, cara merindukan pantai

dan bukan menghantam

daratan. sudah lama aku lupa pada lidah

saat menjilati pasirpasir, karang, dan

betis di situ: begitu menggigitgigit

inginku bersama

 

aku begitu tahu saat kau mencintai pantai

lalu mengantar perahuperahu sampai

dermaga. atau menunjuk arah kapal

pesiar ke bandarbandar akbar

maka kuingin ajari caramu merawat

cinta dan rindu

bukan amarah hingga kaululuhkan

kampungkampung, kautenggelamkan kota

hingga tersisa sedikit orang. ini pun cara

engkau mencintai kami dan tanah ini

 

ajari aku laut, cara menempuh maut

dengan penuh pelayaran itu

 

2017

 

Pagi, Menjemur Pakaian

 

pagi, belum pula ada matahari

di halaman telah berkibar jemuran

bagai bendera negerimu

menyambut kebebasan: “ah,

apakah aku sudah merdeka?”

 

pagi-pagi kubentangkan pakaian

seperti menaikkan layar di tiang

sebelum meninggalkan pantai:

“tapi apakah aku punya laut

agar bisa melukapan daratan?”

 

di perahu ini aku hanya penumpang,

dan kaulah nakhoda. ke laut luas

atau karam, aku turut di buritan

“aku lelaki, cuma tak ahli berenang,

agar kembali ke pantai.”

 

kain-kain sudah berkibar

tak ada kabar dari lautan

 

daratan masih sunyi, begitu kabut

jam kian surut, tiada ribut

: perahu pun siap lepas

layar berdansa

 

25 12 2017

 

Kisah dari Kamar Hotel 1105

 

satu daun jendela terbuka: dari dalam

kamar asap rokok

berebut ingin terbang. dari luar angin

ingin berpeluk mesra, ini malam

 

“kalau aku terjun, ini lantai 11,

apa nasib angin dan asap rokok?” tanyamu

sambil hendak melepas pakaian dalam

 

“kenapa tak kau lepas yang menutup

kelaminmu? apakah kausisakan untuk

lelaki yang mengaku sudah lama

tak tidur dengan istrinya?” kata teman sekamar

yang telah kehilangan ingatan, sejak ia pilih

lantai 11 hotel bintang lima di kota tanpa

pernah tidur itu — tak tahu apakah malam

ataukah ini siang — sebab matahari maupun

bintang-bulan begitu malu sekadar mengintip

apalagi tersenyum untuk yang hidup

 

begitu pelit. bahkan untuk mengucap salam:

“selamat pagi” ataupun “selamat tidur”

untuk jamjam melindur — suara dengkur

juga cinta habis di pucuk sangkur – begitulah,

ini kota bikin kita tak kenal kitab, tulisan di buku

tentang sopan santun, sapa keliwat basi,

juga senyum hanya terlihat di wajah

air itu. sebuah cincin sumur seperti membentuk

lorong panjang dan sangat temaram

 

ya, dari lantai 11 hotel bintang 5 di tengah kota

sangat riuh, bahkan jerit kematian dari tamu

bunuh diri di dalam kamar atau melompat

bersama angin yang ingin berebut tidur

di ranjang, sama sulitnya didengar. orangorang

lebih suka menguping musik ataupun suara

langkah masuk ke kamar. kemudian tawa,

kemudian erang. lalu lengang

 

dari lantai 11 kamar 1106 tak akan kautahu

ada yang diamdiam memuja kematian

setelah bercinta matimatian. “karena kematian

begitu terasa sempurna saat hening,” bisikmu

 

aku membersihkan bekas jejaknya

aku menghapus pita suaranya

 

entah di sini atau di mana…

 

Jkt 13-14/12—Lpg 19-21/12/2017

 

 

Isbedy Stiawan ZS lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai saat ini masih tinggal di kota kelahirannya. Pada 2017 ini buku puisinya yang terbit yakni Kepada Puisi Beri Aku Lagi Cinta dan Anak Kunci di Kepala (Siger Publisher, Lampung, 2017). Buku puisi Isbedy yang lain Kota, Kita, Malam (Basabasi.co/Diva Pers, Yogyakarta) masuk 10 besar kategori buku puisi Kusala Sastra Khatulistiwa Literary Award 2017. Saat ini ia sedang menyiapkan buku puisi terbarunya yang diterbitkan 2018, Di Alun-alun Itu Ada Kalian, Kupu-kupu, dan Pelangi yang masih memilih penerbit.

Advertisements