“Dengar, Marni. Ibu tidak akan sudi untuk datang ke surau Kyai Hasan! Dia tidak akan mampu mengusir kekuatan setan ini!”

“Mengapa ibu sangat yakin?”

“Hanya ada satu senjata gaib yang mampu mengusirnya, dan setelah itu tubuhku akan hancur tanpa sisa.”

Sampai di sini, Tinah menghentikan percakapannya dengan Marni. Ia kembali bergegas menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Marni hanya bisa geleng-geleng kepala.

***

Tasbih di tangan Kyai Hasan bergetar hebat. Ia tahu benda inilah yang dulu digunakan gurunya, Kyai Jamal, untuk mengusir tujuh roh jahat yang menghuni badan almarhum istrinya, Siti Rohmah. Dan tasbih ini pulalah yang mampu menangkal racun gaib yang ditebarkan puluhan dukun berilmu tinggi dari kampung sebelah ketika kampung Ujung Tanduk sedang dalam perayaan musim panen.

Kyai Hasan yakin, tasbih ini jugalah yang akan membantunya untuk mengusir kekuatan setan dalam tubuh Tinah, ibu Marni. Tetapi ia merasa was-was, adakah tasbih bertuah ini masih berguna sebagaimana biasa? Sebab menurut Kyai Jamal, tasbih ini akan hilang pamor ketika usianya sudah memasuki empat dekade. Sekarang ia tak tahu, sudah di rentang usia berapa tasbih ini.

“Tasbih ini adalah kepunyaan-Mu juga ya Rabb, jika kekuatannya hilang, ia hanya pulang ke haribaan-Mu.”

***

Setiap datang maghrib, dan adzan sudah menggema di pelosok desa, tubuh Tinah selalu mengejang di atas ranjang. Matanya mendelik kesetanan, dan ia selalu menjerit dengan suara yang tak biasa. Bila keadaannya sudah begini, Marni akan memanggil pak Marto, untuk membacakan ayat kursi ke telinga Tinah. Setelah itu Tinah pun tertidur dengan nyenyaknya.

Peristiwa ini akan berulang pada malam harinya, ketika dentang jam sudah menunjukkan pukul 24.00. Tubuh Tinah kembali mengejang dengan mata mendelik ke langit-langit kamar. Tinah meracau kepada Marni dengan suara yang parau, “Bakar kalung ekor monyetnya! Bakar! Bakar! Atau kuhancurkan seluruh keluargamu!”

***

Kyai Hasan mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Marni. Ia terdiam beberapa lama, lalu berkata dengan suara lirih, “Ibumu harus segera dibawa ke surau di pesantren. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan juga padanya. Ibumu harus ikhlas membuang ilmunya!”

Advertisements